logoblog

Cari

Tutup Iklan

Cita-Citaku Bersama Bidikmisi

Cita-Citaku Bersama Bidikmisi

Pagutan 6 Desember 1993 matahari belum mau menampakkan dirinya namun saat itu suara tangisku sudah menggema di sela-sela kumandang adzan. Ibuku

Cerpen

SAIFUL HADI
Oleh SAIFUL HADI
03 Februari, 2014 23:03:32
Cerpen
Komentar: 3
Dibaca: 13796 Kali

Pagutan 6 Desember 1993 matahari belum mau menampakkan dirinya namun saat itu suara tangisku sudah menggema di sela-sela kumandang adzan. Ibuku menangis bahagia seperti lupa akan sakit yang di deritanya, ayah yang selalu disampingnya tak dapat berkata apa-apa hanya ucapan syukur yang keluar dari dirinya yang bijaksana dan pendiam. Itulah aku “SAIFUL HADI” anak yang lahir dari lima bersaudara dan dari keluarga yang sederhana.

***

Kedua orang tuaku berkerja sebagai penjual Gerabah, pekerjaan yang terus melawan pengkikisan zaman untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, dan aku saat ini telah memasuki usia 20 tahun, dan aku di desa ini “Pagutan” menyimpan sebuah harapan yang suatu saat nanti dapat kuraih. Dan apa yang kutulis selanjutnya adalah salah satu langkah yang telah kulewati untuk menggapai harapan itu.

Selepas SMA, aku berniat untuk melanjutkan pendidikanku ke jenjang yang lebih tinggi. Aku ingin kuliah untuk memperbaiki masa depanku. Bukan untuk mencari pangkat melainkan untuk menambah wawasanku karena kuliah adalah mimpi terbesarku karena aku berharap suatu saat nanti aku dapat meringakan beban keluargaku.

Sebenarnya ku ragu untuk menyampaikan keinginanku kuliah tapi aku memberanikan diri untuk menyampaikannya ke orang tuaku, dan aku tahu tanggapan mereka bahkan sebelum aku menyampaikannya aku telah tau dan aku merasa patah dipersimpangan jalan mimpiku tapi aku mencoba bangkit, ku yakin Allah tidaklah buta melihat hamba-Nya dan Allah tidaklah tuli mendengar doa hamba-Nya dan aku yakin Allah akan membuka pintu hati kedua orang tuaku.

Aku terus meminta ridho orang tuaku karena akau tahu bahwa ridho Allah adalah ridho orang tua, namun sampai pendaftaran dibukapun orang tuakupun masih tidak mengizinkan diriku dan aku sudah merasa seperti diambang jurang keputusasaan, akan tetapi motivasi dari teman- temanku menarikku kembali untuk bangkit dan aku percaya bahwa Allah akan memudahkan jalanku.

Allah memang tidak pernah buta dengan hamba-Nya, setelah berbagai cara aku lakukan akhirnya aku bisa meyakinkan mereka dengan hati bahagia, aku bersujud dan berterimakasih kepada kedua orang tuaku. Air mataku jatuh, aku menangis bahagia karena Allah SWT yang telah membuka hati kedua orang tuaku.

***

Tiga  puluh  juni  dua ribu  tiga  belas  akhirnya  tiba,  aku  dengan  tidak  sabar  langsung berangat ke Lombok barat ditemani teman dekatku untuk mengikuti kuliah di Universitas Imam Syafi’i Jember-Jawa Timur. Selama tiga hari aku menginap disalah satu kos temanku untuk menunggu hasilnya, dan setelah tiga hari berselang aku mendengar kabar yang mengecewakan dari  Kepala  Sekolahku  bahwa  aku  gagal  dalam  mengikuti  tes  tersebut,  namun  aku  tidak menyerah, aku percaya bahwa Allah akan mengganti dengan yang jauh lebih baik.

Setelah hari-hari berlalu, aku mencoba mengikuti SMUD untuk masuk di Unversitas Mataram, aku sangat berharap akan lulus di Universitas tersebut. Dan harapankupun dikehendaki oleh Yang Maha Kuasa. Saat itu waktu sangatlah singkat, dengan keadaan tergesa-gesa membuat aku harus bolak-balik dari Pagutan ke Mataram untuk memenuhi persyaratan-persyaratan setelah lulus SMUD. Salah satu dari persyaratan tersebut adalah menyerahkan surat keterang kesehatan dari poliklinik UNRAM. Akhirnya pada saat itu tanpa berpikir panjang saya langsung pergi ke poliklinik UNRAM untuk mengambil surat keterang kesehatan.

*Suasana dan kisah ditempat yang baru pertama kali saya menginjakkan kaki

Jam 09.00 pagi sayapun tiba ditempat yang lumayan menegangkan itu ditemani dengan wakil kepala sekolahku, ditempat itu hal yang pertama kali saya lakukan adalah mengisi biodata, dan setelah itu disuruh untuk melakukan hal yang tidak pernah saya lakukan sebelumnya yaitu “tes urin” selama hidup saya, saya tidak tahu Apa itu tes Urin??? Akhirnya dengan sikap yang tidak karuan, sikap yang tidak baik dari sayapun keluar, yaitu “sok tau”. Secara tiba-tiba panitia tersebut  memberikanku  sebuah  tabung  kecil  untuk  menampung    air  kencing,  saya  bingung tingkat provinsi. Ketika memasuki kamar kecil, pikiranku hanya untuk kencing-kencing biasa tanpa menaruh air kencing itu didalam botol yang telah diberikan, dan disitulah letak kebodohanku,  anehnya  setelah  keluar dari  kamar kecil  wakil kepala sekolahku  menanyakan apakah botol tersebut sudah terisi atau tidak..??? setalah beliau melihat botolnya belum terisi, dia kaget dan saat itu pula aku mulai menyadari bahwa air kencing yang buang sia-sia ternyata sangat penting untuk menentukan hasil tes kesehatanku. Dengan wajah yang begitu kaget, takut dan malu, aku berusaha mencari alasan yang logis untuk menutupi kesalahanku. Dengan tergesa- gesa aku kembali ke kamar kecil untuk berusaha mengeluarkan kembali air kencingku dengan usaha yang keras, hampir aku tidak bisa mengikuti tes urin tersebut. Beruntungnya usahaku tidak sia-sia. Air kencingku keluar walaupun hanya sedikit. Dengan itu akhirnya aku bisa mengikuti tes kesehatan.

Sambil menunggu hasilnya, aku dan teman-teman seperjuanganku mencari tempat kos yang menyewakan dengan sewa yang murah. Tanpa memerlukan waktu yang lama, akhirnya kami mudah mendapatkan kos yang layak dan dengan sewa yang lumayan murah.

Waktu terus berlalu, mengantarkan aku pada titik yang sangat menegangkan. Hari pengumumanpun telah tiba, dengan hati yang mencemaskan aku mencoba untuk menguatkan hatiku. Apapun hasilnya itu yang terbaik, dan akhirnya hasilnyapun ditempelkan di dinding kampus. Dengan hati yang bahagia, terharu, lega, bercampur diwajahku,,,,karena hasilnya sangat mengharukan. Selain aku diterima di Universitas Mataram, aku juga mendapatkan nilai yang memuaskan.

Setelah aku tau tahu hasilnya, aku langsung memberi tahu keluargaku di rumah tentang kelulusanku. Aku bahagia setelah semua aku korbankan membawa hasil yang membanggakan, tapi ini bukanlah akhir dari perjuanganku, karena perjalananku masih panjang.

 

Baca Juga :


Bulan telah berganti tahun, tanpa disadari waktu telah banyak berlalu, mengantarkan aku pada hari-hari yang sangat melelahkan. Di kos yang sangat sederhana dengan peralatan seadanya aku lalui dengsn penuh semangat bersama teman-teman seperjuanganku makan dengan lauk seadanya menjadikan sebuah pengalaman dalam hidupku.

Ketika memasuki hari pertama kuliah, aku baru tau ternyata biaya SPP meningkat pertahun, dengan hati yang cemas karena takut tidak bisa membiayai dan membebani orang tuaku. Beberapa hari setelah kecemasan itu berlalu, hatikupun sedikit lega, karena dari ribuan anak  aku  adalah salah  satunya  orang  yang  mendapatkan  beasiswa  Bidikmisi.  Aku  sangat bersyukur Allah selalu membukakan jalan kepadaku.

***

Kuliah yang kujalani saat ini, tanpa motor dan keadaan yang sederhana tidak membuat aku semakin lemah, aku bangga aku sudah berada pada titik seperti saat ini. Mengambil jurusan P.IPS Prodi PPKn dengan kemampuan yang lumayan baik.

Hari-hari yang ku lalui di kos-kosan yang sederhana menyimpan suka dan duka, aku sedih jauh dari keluarga, aku merasa sudah menyusahkan mereka, merasa menjadi beban dalam keluargaku. Selain itu, menjadi dukanya ketika beras habis, uang habis, aku malu jika pulang untuk meminta lagi, dengan rasa yang sedikit terpaksa aku melaluinya dengan keadaan yang seadanya.

Menjadi  sukanya  ketika  kumpul  bersama  teman-teman,  saling  berbagi  dan  tentunya mendengan keadaan keluarga dirumah tetap sehat dan senantiasa berada dalam selimut Rahmat-Nya.

Ribuan cara telah ku coba untuk mempertahankan hidup di kota besar ini, cemo’ohan dari orang-orang seperti sudah menjadi kebiasaanku, karena tidak sedikit orang yang mungkin tidak menginginkan aku untuk menjadi lebih baik. Tapi aku bersyukur, aku masih punya sahabat yang selalu ada disaat aku membutuhkan mereka.

***

Di UNRAM aku mengikuti banyak kegiatan-kegiatan terutama dalam bidang keagamaan yang diadakan oleh panitia-panitia yang sudah senior sehingga banyak dari teman-temanku yang mengenaliku, bahkan menganggap aku sebagai seorang ustadz. Bukan menjadi sebuah kebanggaan melainkan membuat aku merasa sangat malu dengan gelar yang diberikan mereka. Dalam sebuah kegiatan yang aku ikuti, aku pernah mendapatkan penghargaan sebagai peserta mentoring terbaik FKIPUNRAM pada tahun 2012 yang diselenggarakan oleh Lembaga Da’wah Kampus UNRAM. Alhamdulillah semua itu tidak membuat aku merasa puas, malah menjadikan aku terus ingin belajar, dari beasiswa yang aku dapatkan akhirnya aku membiayai kuliahku sendiri, dan sedikit bisa meringankan beban keluargaku.

Di kota yang sangat panas in, ku lalui hari-hari dengan rasa bangga, hadir ditengah-tegah ribuan orang yang hebat, bias berbagi pengalaman dan tentunya bias menambah wawasan. Aku sangat bangga dengan presatasi yang aku dapatkan saat ini, meskipun hadir dari sekolah yang belum  di  akreditasi,  tapi  dengan  izin  Allah  swt,  aku  bias  membawa  nama  baik  sekolahku. Sampai saat ini aku selalu teringat setiap hari-hari yang aku lalui untuk memperjuangkan sebuah cita-cita muliaku.  Air mata  telah  menjadi  saksi  sebuah  pengorbanan,  dengan  mengandalkan sebuah keyakinan, aku mampu berthan setelah berbagai cara untuk meyakinkan keluargaku. Alhamdulillah dengan keinginan yang besar aku bisa menunjukkan kepada kedua orang tuaku bahwa aku mampu menjalani hari-hari tanpa menyusahkan mereka.

Aku bersyukur kepada Allah swt, karena memudahkan impian ku untuk mewujudkan impianku, meskipun impianku yang sesungguhnya belum sepenuhnya tercapai, yaitu “membuat orang tuaku meneteskan air   mata rasa bangga, yang pada saatnya nanti melihat aku bertoga dengan selendang yang bertuliskan IPK Cumlaude”, tetapi atas kehendak Allah SWT akhirnya aku bisa sampai pada pertengahan kuliahku. Aku sangat berharap Allah SWT akan selalu memudahkan setiap jalan dan meridhoi setiap perjuanganku.

Dari  itu  semua  aku  bisa  memetik  hikmah  yang  sangat  besar  yaitu  ketika  kita menginginkan sesuatu, jangan pernah menyerah untuk mendapatkannya karena Allah akan membukakan jalan kepada orang-orang yang memiliki kemauan besar dengan usaha dan do’a.



 
SAIFUL HADI

SAIFUL HADI

Seorang pria kelahiran 06 Desember 1993 yang beralamatkan di desa pagutan kecamatan batukliang kabupaten lombok tengah. sekarang sedang menduduki bangku kuliah semester III di FKIP UNRAM

Artikel Terkait

3 KOMENTAR

  1. harnadi hajri

    harnadi hajri

    04 Februari, 2014

    kereeen


  • Abu Macel

    Abu Macel

    03 Februari, 2014

    Kisah realita yang menarik semoga menjadi inspirasi, motivasi dan pelajaran yang mengandung hikmah bagi lainnya.


    1. Syaidinil Aksa

      Syaidinil Aksa

      21 April, 2014

      Inspiratif, Sobat! Saya juga mau menginjak 20, nih. Ingin kuliah juga, bosan dua tahun menganggur (hehe). Boleh saya koreksi dikit? Ceritanya sudah bagus, menginspirasi. Tapi, menurut saya terlalu banyak "serangan aku/ku". Maklum POV 1 (Point Of View 1). Seperti di pargaraf ini: Sebenarnya ku ragu untuk menyampaikan keinginanku kuliah tapi aku memberanikan diri untuk menyampaikannya ke orang tuaku, dan aku tahu tanggapan mereka bahkan sebelum aku menyampaikannya aku telah tau dan aku merasa patah dipersimpangan jalan mimpiku tapi aku mencoba bangkit, ku yakin Allah tidaklah buta melihat hamba-Nya dan Allah tidaklah tuli mendengar doa hamba-Nya dan aku yakin Allah akan membuka pintu hati kedua orang tuaku. SEMANGAT! Mari sama-sama belajar. Maaf, saya sok tahu. Hehe


  •  
     

    TULIS KOMENTAR

    Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
     
    Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
     
    Tutup Iklan