logoblog

Cari

Tutup Iklan

Misteri Gunung Rinjani

Misteri Gunung Rinjani

Sejak kecil ayah sering menceritakan ku tentang Gunung Rinjani yang mistis. Beliaiu mencerita bahwa Gunung Rinjani adalah tempat berkumpulnya Jin yang

Cerpen

KM. Sukamulia
Oleh KM. Sukamulia
11 Mei, 2014 11:50:35
Cerpen
Komentar: 2
Dibaca: 56257 Kali

Sejak kecil ayah sering menceritakan ku tentang Gunung Rinjani yang mistis. Beliaiu mencerita bahwa Gunung Rinjani adalah tempat berkumpulnya Jin yang ada di gumi Lombok. Konon di puncak Rinjani terdapat istana Dewi Rinjani dan sebuah Masjid tempat berkumpulnya Para Wali. Banyak lagi cerita mistis yang sering ayah ceritakan sebagai dongeng pengantar tidur bagi ku dan saudara-saudara ku. Aku masih ingat betul ayah mengatakan bahwa di Gunung Rinjai terdapat dua segara/danau yang sangat indah. Danau Segara Anak di lembah Gunung Rinjani dan Segara Muncar di puncak tertinggi Gunung Rinjani. Danau Segara Anak bisa ditemukan oleh siapa saja yang datang ke sana. Berbeda dengan Segara Muncar yang tidak semua orang dapat menemukannya.

Ayah ku juga kerap bercerita bahwa bagi masyarakat penganut paham tarekat menunaikan ibadah haji ke Gunung Rinjani. Orang-orang sakti dan mandera guna juga menyempurnakan ilmunya di sana. Mereka juga mengetes kekuatan keris dan senjata di beberapa pemandian/pengkereman yang ada di sekitar Danau Sagara Anak. Dan tidak jarang pula masyarakat Lombok yang melakukan tapaberata di tempat-tempat yang dianggap suci ditempat itu dan banyak lagi cerita-cerita tentang nilai mistis Gunung Rinjani yang sering beliau ceritakan kepada ku.

Mendengar cerita itu, aku kerap berangan-angan untuk menapakkan kaki ku di atas Gunung Rinjani. Aku juga sering bermimpi bermain-main bersama ratusan bidadari di pinggir telaga yang luasnya sepanjang pengelihatan. Puluhan tahun angan-angan dan mimpi itu aku dekap dalam asa di pusaran dada. Puluhan tahun juga aku pendam rasa penasaran tentang keindahan dan misteri Gunung Rinjani. Sejak SMA kelas 2 aku sering membuat rencana dengan teman-teman ku untuk berekpedisi ke Rinjani, tapi selalu saja ada yang menghalangi. Dan pada pertengahan tahun 2013, angan-angan dan mimpi itu terjawab. Tampa persiapan yang matang aku bersama 5 orang kawan ku berangkat menuju Rinjani.

Awalnya Azmi menghubungi ku pia handpone. Sebenarnya ia hendak minta izin untuk tidak datang ke sekolah selama satu minggu sebab ia telah kami tugaskan sebagai Panitia Penerimaan Siswa Baru di sekolah. Alasannya minta izin adalah karena Ia hendak liburan ke Gunung Rinjani. Mendengar alasannya itu, akupun menawarkan diri untuk ikut bersama mereka dan ia menyetujui keinginan itu.

Aku langsung bergegas menyusul Azmi ke rumahnya di Bawak Nao Desa Sajang. Laju sepeda motor ku pacu dan 30 menin diperjalanan ahirnya aku sampai di rumahnya. Setelah shalat Djuhur dan makan siang, kami berangkat melalui jalur pendakian Bawak Nao. Ahirnya tanggal 24 Juli 2013 angan-angan dan mimpi ku untuk berdiri di atas Gunung Rinjani terwujud jua.

Sepanjang perjalanan aku terheran-heran menyaksikan kekuasaan Allah yang sungguh megah. Betapa indah dan megah ciptaan Tuhan ku, hanya puja dan puji yang dapat digumamkan lidah dan hati ku saat menyaksikan semua itu. Har sudah senja, kami tiba di Bukit Bentotok, aku melihat padang ilalang yang terhampar luas dengan hutan lebat yang berdiri kokoh di sekitarnya. Satu misteri ku temukan di ujung hutan itu. Saat kami istirahat di ujung jalan menuju hutan, sekelompok orang datang mendekati kami. Mereka mengaku berasal dari Selaparang, salah seorang diantara mereka kemudia bercerita bahwa mereka telah tiga kali menyusuri hutan itu, katanya mereka di bawa oleh sesosok orang tua yang berjubah putih dengan janggot dan rambut yang berwarna putih pula. Namun mereka tidak kunjung menemukan jalan raya dan selalu kembali ketempat itu. Setelah beberapa lama bertukar cerita, ahirnya kami menunjukkan mereka jalan alternative untuk menuju Bawak Nao, sedang kami melanjutkan perjalanan.

Pukul sebelas malam, aku dan 4 orang teman ku sampai di Pelawangan. Kami memutuskan untuk bermalam di sana. Udara yang dingin dan hembusan angin malam yang cukup kencang memaksa kami untuk segera bergegas membuat api unggun dan mendirikan perkemahan. Setelah semuanya selesai, kami tidur lelap di dalam tenda. Sekitar jam 2 malam terdengar jerit histeris dari dekat perkemahan kami. Jeritan itu berasal dari tenda kelompok pendaki dari Surabaya yang didirikan di bawah pohin cemara. Mereka bergegas masuk ke tenda kami, kemudian mereka bercerita bahwa sesosok bayangan laki-laki berwajah garang hendak mencekik leher seorang temannya. Mendengar cerita itu, kami juga merasa ketakutan. Setelah kami bercerita panjang lebar, Azmi bercerta bahwa di bawah pohon cemara tempat mereka mendirikan tenda terdapat makam pendaki yang memang keberadaannya menjadi misteri.

Jam tiga pagi kami melanjutkan perjalanan menuju Danau Sagara Anak bersama kelompok pendaki yang mengaku dari Surabaya itu. Jam 9 pagi hari, sampailah kami di tepi Danau yang terhapar biru membelah pegunungan Rinjani. Angin pagi dan riuh nyanyian burung yang berkejaran di atas pohon cemara yang berjejer rapi ditepi danau membuat ku terpaku. Aku kemudian bersujud sebagai tanda syukur atas nikmat Allah yang tiada terkira untuk ku. Angan-angan ku telah tergapai, kini aku dapat berdiri dan menyaksikan kekuasaan Tuhan yang tiada pernah ku lihat sebelumnya.

Sungguh aku sangat bahagia menikmati keindahan alam dan indahnya suasana pegunungan. Kala mata hari mulai bergegas siang, Azmi mengajak ku untuk menyusuri pinggir danau untuk mencari ikan. Hingga sore kami memancing ikan di dekat Gunung Baru, saat kami sedang memancing, sebuah misteri ku temukan lagi. Saat itu kabut hitam menutupi Danau, namun cuaca masih cerah. Sekelompok pemuda yang mengaku diri berasal dari Peringga Sela bergegas menghampiri kami. Seorang di antara mereka member peringatan supaya kami tidak sekali-kali berkata bahwa hujan akan turun. Mendengar peringatan itu, tidak seorangpun diantara kami yang berani berkata seperti yang diperingatkan oleh orang tadi. Naasnya, gerombolan pemuda yang datang dari arah timur tiba-tiba berteriak “Hujan,,,,Hujan…..” dan tiba-tiba saja hujan deras turun mengguyur hingga dua jam lamanya. Entah itu memang suatu kebetulan ataukah memang itu suatu mistik di Gunung Rinjani.

Hari beranjak malam, suasana semakin dingin. Setelah selesai makan dan shalat isa, aku dan Azmi berdiri di tepi danau sambil melihat kemerlap lilin yang sengaja dilepas oleh para pengunjung. Malam itu cukup ramai, puluhan tenda berjejer di pinggir danau. Nyanyian serangga malam dan dentingan gitar serta alunan lagu yang berasal dari beberapa tenda menambah indahnya suasana. Aku dan Azmi tetap berdiri di pinggir danau dan tiba-tiba dua orang Pemuda yang mengaku diri dari Jakarta Timur mendekati kami. Ia bertanya “…maaf bung, sejak kapan bung berdiri di tepi danau ini ?”

aku menjawab “sejak sejam yang lalu, memang ada apa bung ?.

apakah bung tidak melihat dua ekor ika sebesar kapal, seekor berwarna hitam dan satu ekor lagi berwarna putih. Katanya sambil terbata-bata.

Ah mungkin saudara salah lihat. Ungkap ku sambil kebingungan sendiri.

Nga’ mas, kami betu-betul melihat dua ekor ikan besar. Jawab mereka dengan penuh keyakinan.

Lalu Azmi bercerita tentang Ikan yang mereka maskud tadi. Konon dua ekor ikan besar itu adalah penunggu Danau Sagara Anak dan memang sudah banyak orang yang melihatnya. Azmi juga bercerita bahwa pada tahun 2005 yang lalu ada seorang pemancing dari Bawak Nao yang mati karena menemukan ikan itu. Ceritanya ketika pemancing itu sedang memancing di sebelah selatan perkemahan, umpannya dimakan oleh ikan Besar yang berwarna hitam. Saking kagetnya, pemancing itu kemudian lari terbirit-birit dan keesokan harinya ia bergegas pulang. Seampai di rumahnya, ia beristirahat dan tiba-tiba tubuhnya kejang-kejang dan tidak lama kemudian ia meninggal dengan tubuh membiru.

Satu misteri ku temukan lagi di Gunung Rinjani. Mendengar cerita tadi aku semakin penasaran dengan Gunung Rinjani yang penuh dengan misteri. Dalam hati aku bergumam, misteri apa lagi yang akan aku temukan di gunung ini. Rasa dingin menusuk tulang, aku dan Azmi kemudian masuk ke perkemahan. Tapi rasa dingin itu tidak terkalahkan, sedangkan api unggun yang kami nyalakan di depan tenda sudah padam sebab kayu bakarnya telah habis menjadi abu.

Kami kemudia memutuskan untuk turun ke pengkereman/pemandian air hangat yang berada sekitar 500 meter di sebelah utara perkemahan. Aku, Azmi, dan Hamdi bergegas menuju pengkereman. Sesampai di sana, kami langsung bersalin dan membaringkan badan di tebing-tebing bebatuan yang berada di tepi pengkereman. Seketika rasa dingin yang menusuk tulang diganti rasa hangat dan kesejukan. Ketika mata ku terkatup karena rasa kantuk. Antara sadar dan tidak, aku melihat sesosok perempuan berpakaian gemerlap dengan mahkota yang bertengger di atas rambutnya yang terurai panjang duduk bersila di atas bongkahan batu yang berada di sebelah kanan ku. Ia hanya mengucapkan salam saat menatap ku dan akupun hanya menjawab salamnya. Aku mencubit-cubit kulit tangan ku seakan tidak percaya bahwa itu adalah kenyataan. Melihat aku kebingungan, sosok wanita cantik itu berkata ini adalah kenyataan, kamu tidak perlu bingung. Setelah itu ia mengucapkan salam lalu menghilang bersama sinar kuning yang terbang menuju angkasa.

Aku terperanjak dan keluar dari pengekereman/telaga air hangat, lalu duduk di atas batu tempat duduk sosok perempuan itu tadi. Yang tersisa hanya aroma harum yang begitu khas. Aku terpaku menatap rembulan yang bersinar terang. Sedang teman-teman ku dan orang-orang yang masih berendam di dalam telaga air hangat masih lelap dalam mimpi mereka. Aku sungguh tidak percaya dengan kejadian tadi, kemudian berlahan aku membangunkan Hamdi dan Azmi. Bebrapa saat kemudian mereka bangun dari tidur lelapnya. Aku kemudian menceritakan apa yang telah aku lihat tadi kepada mereka dan mereka hanya berkata “kamu sangat beruntung bisa bertemu dengan sosok wanita itu, kemungkkinan besar ia adalah sosok Dewi Rinjani”. Aku bilang, itu tidak mungkin, mungkin itu hanya sosok bayang-bayang semu yang menghantui ku akibat mimpi-mimpi yang telah lama aku pendam dalam hidup ku. Namun tetap saja mereka berkata bahwa sosok wanita yang mendatangi ku tadi adalah sosok Dewi Rinjani. Inilah salah satu misteri yang juga ku temui di Gunung Rinjani, apaka sosok itu memang benar-benar sosok Dewi Rinjani ataukah hanya imaji dari otakku yang begitu lama dipenuhi oleh cerita-cerita misteri Gunung Rinjani dari ayah ku.

Pagi datang kembali, berlahan sinar sang surya mengsir embun dari pucuk-pucuk rerumputan yang terhampar luas di tepi danau. Kami segera kembali ke perkemahan. Seampai di sana, kami menemukan kawan-kawan lainnya sedang duduk di depan perapian sambil menikmati beberapa cangkir kopi dan roti tawar yang mereka bawa sebagai bekal selama perjalanan. Kami bertiga langsung nimbrung di antara mereka. Tenda kami dipenuhi gelak tawa sebab cerita-cerita lucu yang tiada henti dipaparkan oleh si Azmi.

Ketika sinar mentari mulai terasa hangat di kulit, kami bergegas menyiapkan sarapan dan setelah selesai sarapan Azmi dan 3 orang teman lainnya mempersiapkan kali dan umpan, mereka bergegas pergi memancing ikan menyusuri yepi danau. Sedangkan aku, Cabe, dan Hamdi pergi menyusuri jalan setapak menuju Gua Payung dan Gua Susu yang berada sekitar 1.300 meter di sebelah selatan Danau Segara Anak. Sepanjang perjalanan kami sibuk mengambil dokumentasi. Setelah sekitar satu jam di perjalanan, sampailah kami di Gua Payung yang begitu indah dengan kosnstruksi yang sengaja ditata rapi oleh tangan manusia. Gerbang masuk gua itu dihiasi oleh batu-batu yang terhampar seperti permadani. Sungguh kekuasaan Tuhan sangat mengagumkan. Rasanya aku tidak percaya dengan semua itu, namun itulah salah satu kekuasaan Tuhan yang tidak dapat ku temukan di tempat lainny.

Karena rasa penasaran akan cerita orang-orang yang berada di mulut gua, aku dan kawan-kawan ku masuk ke dalam gua. Hawa di dalam gua cukup panas, kami hanya bertahan selama lima menit berada di dalamnya. Setelah itu kami masuk di Gua Susu, konon mandi di Gua Susu dapat menyebabkan orang awet muda. Namun terlepas dari semua itu, aku memasuki Gua Susu dan berendan cukup lama di dalamnya untuk menikmati anugerah Tuhan yang entah kapan akan dapat ku datangi lagi.

 

Baca Juga :


Hari sudah cukup siang, sang surya sudah mulai condong ke arah barat. Kami melanjutkan perjalanan menuju pengkereman/telaga air hangat lainnya. Kami menghentikan perjalanan di pengekreman Cikar Rarat yang lokasinya tidak jauh dari Gua Payung dan Gua Susu. Cikar Rarat adalah tempat pemandian yang terkenal dengan airnya yang sangat panas, sehingga jarang-jarang orang yang bisa bertahan berendam di telaga itu. Di Pengkereman Cikar Rarat itu biasa digunakan sebagai tempat untuk memandikan pusaka keramtat dan di sana pula seseorang biasa mengetes kedikjayaan logam pusaka yang mereka miliki. Dan tidak jarang orang yang sengaja datang ke sana untuk menyempurnakan ilmu kedikjayaan dan ilmu kebal.

Hari itu aku melihat puluhan orang yang mengenakan seragam hitam. Mereka bergiliran masuk dan menyelamkan tubuhnya pada air Cikar Rarat yang terlihat seperti air mendidih. Aku tidak mau melewatkan momen itu, aku juga mencoba masuk dan merendam tubuh ku pada telaga yang panasnya sangat tersohor itu. Setelah beberapa lama di sana, kami melanjutkan perjalanan menuju pemandian Wong Menak dan pemandian/pengkereman Umar Maya yang berada sekitar 300 meter di bawah pengkereman Cikar Rarat. Aku bersama Hamdi dan Cabe hanya mandi beberapa saat saja di tempat itu sebab hari itu kami juga harus bisa sampai di Gua Urip yang konon merupakan pemandian Denda Dewi Rinjani.

Gua Urip berada sekitar 500 meter di sebelah selatan pemandian Wong Menak dan pemandian Umar Maya. Setelah menghabiskan waktu sekitar 30 menit, sampailah kami di mulut gua itu. Di depan mulut Gua Urip telah disediakan tembasak (pakaian ganti) yang berupa helain kain kapan, ikat kepala dari kain kapan, dan benang katak yang biasa digunakan sebagai kalung. Segera kami mengganti pakaian dan menggunakan tembasak yang telah disiapkan itu.

Aku masuk terlebih dahulu dan kawan-kawan lainnya mengikuti. Mulut gua yang hanya berukuran tinggi sekitar 40 cm dengan lebar sekitar 55 cm menyebabkan setiap orang yang hendak memasuki gua itu harus merangkak pelan-pelan. Suasana di dalam gua cukup gelap dan di dalam gua terdapat telaga kecil yang hanya bisa dimasiki oleh 2 orang. Untuk itu, kami berendam secara bergiliran. Sekitar 40 menit kami berada di dalam gua, kami-pun keluar dari pintu gua lainnya. Gua itu memiliki dua pintu, satu pintu masuk dan satu pintu keluar.  Setiap pengunjung tidak diperbolehkan keluar masuk lewat satu pintu. Pintu keluar gua ini cukup sempit, lebih sempit dari pintu masuknya, hanya saja pintu keluar ini bentuknya memanjang ke atas. Untuk keluar gua ini memang kelihatannya cukup susah, sebab luas pintu itu hanya sekitar 25 cm dengan stalaktit dan stalakmit gua yang menjepit di kanan kiri mulut gua.

Dengan susah payah, satu persatu kami keluar dari gua itu. Luar biasa kuasa Tuhan yang telah aku temukan hari itu. Semua pemandian yang ada di sekitar Danau Sagara Anak sudah kami kunjungi dan kami kemudian kembali ke perkemahan. Kini semua mimpi ku sejak kecil sudah terbayar lunas, rasa penasaran ku sudah terjawab. Alhamdulillah, sujud syukur aku haturkan kehadirat Allah Azawajalla atas kesempatan dan nikmat serta karunia besarnya kepada ku.

Sekitar jam setengah lima sore hari, sampailah kami di perkemahan. Kami langsung memasak untuk persediaan makan malam. Setelah semuanya siap, kami makan bersama-sama di depan tenda sambil bertukar cerita tentang pengalaman kami hari ini. Ini adalah malam kedua kami berkemah di pinggir Danau Sagara Anak dan besok setelah shalat Subuh kami harus meninggalkan tempat itu sebab masih banyak pekerjaan yang menunggu di rumah.

Malam terahir itu kami habiskan dengan penuh kebahagiaan. Kami bernyanyi riang di sekitar perapian yang kami buat bersama kenalan-kenalan kami di sana. Waktu seakan begitu cepat berjalan dan purnama sasih telah merunduk ke arah barat sebagai pertanda bahwa pagi akan segera tiba. Setelah api unggun mulai padam, satu persatu di antara kami masuk ke dalam tenda untuk beristirahat. Sedang aku bersama Azmi dan Cabe berencana menghabiskan malam di pengkereman.

Kami segera mengambil salinan dan membuat kopi untuk menghangatkan badan selama di sana. Setelah semuanya siap, kami bertiga turun berlahan-lahan melintasi jalan setapak yang basah oleh embun malam. Sesampai di sana, kami melihat puluhan orang sedang melakukan semedi di pengkereman yang airnya paling panas. Sedangkan pada dinding-dinding tebing terlihat kepulan asap yang berasal dari puluhan kemenyan yang sengaja dinyalakan oleh orang-orang yang bersemedi di pengkereman itu. Semakin kuat aroma kemenyan, semakin panas air pengkereman itu yang menyebabkan orang-orang yang bersemedi itu haru beranjak eluar akibat tidak kuasa menahan panas air pengkereman.

Aku, Cabe, dan Azmi kemudian masuk ke pengkereman. Kami menyandarkan badan pada batu-batu yang ada dipinggir pengkereman. Aku hanya bisa berzikir dan membaca Salawat Nahdatain hingga mata ku terkatup. Ketika mata ku mulai mengatup, aku melihat cahaya kuning kemerahan turun dari atas tebing dan bercokol di atas batu pertapaan yang tidak jauh dari tempat ku berendam. Cahaya itu kemudia berubah menjadi sesosok manusia, aku betul-betul melihat sosok Almagfurullah TGKH. Zainudin Abdul Majid berdiri dengan tongkat di tangan kanannya.

Aku menggosok-gosok mata ku dan beberapa kali mencubit pipi ku. Aku sedang dalam keadaan sadar dan tidak sedang bermimpi. Itu memang betul-betul sosok Almagfurullah, ia hanya mengucapkan salam dan berkata bersyukurlah kamu atas nikmat Allah. Setelah aku menjawab salamnya, Ia menghilang begitu saja bersama cahaya yang terbang seperti kilapan kilat. Malam itu aku kembali menemukan sebuah misteri yang entah itu hanya ilusi dari angan-angan ku yang telah lama bermimpi bisa menapakkan kaki di Gunung Rinjani dan atas cerita-cerita misteri Gunung Rinjani yang diceritakan oleh sang ayah semenjak aku kecil dulu.

Waktu subuh telah tiba, kami segera meninggalkan pengkereman dan kembali menuju perkemahan. Sesampai diperkemahan, kami langsung berse-beres dan bersiap untuk meninggalkan Rinjani yang penuh dengan kenangan. Sebelum aku berangkat meninggalkan tempat itu, aku berjanji untuk kembali lagi dan bermalam di sana. Pelan-pelan namun pasti, kami berjalan menyususri jalan setapak. Sekitar jam 9 pagi hari, kami sampai di Pelawangan. Kami beristirahat di bawah pohon cemara yang berjejer rapi dengan pucuknya yang menjulang tinggi. Di sana kami bercanda gurau dan tertawa gelak sambil menghilangkan letih setelah berjalan tiga jam lamanya.

Susasana cukup panas, sinar sang surya memang cukup terik hari itu. Kami terus tertawa girang sebab banyak cerita-cerita lucu yang kami temukan selama perjalanan. Dari arah yang tidak kami ketahui, tiba-tiba datang tiupan angin yang cukup kencang seiring hujan lebat yang turun tanpa kami duga-duga. Sejenak kami terdiam sambil memperhatikan keadaan di sekitar, ternyata angin dan hujan hanya terjadi di sekitar kami, sedangkan sekitar 10 meter dari tempat kami beristirahat itu tidak ada apa-apa. Melihat situasi itu, kami segera berlari menuju Pos Ekstra yang berada sekitar 15 meter dari barisan pohon cemara itu. Di sana tidak ada hujan dan bahkan angin hanya bertiup sepoi-sepoi. Aku merasa penasaran atas situasi itu, lalu bertanya kepada Azmi yang sudah pengalaman dengan berbagai situasi di Gunung Rinjani.

Tidak beberapa lamai, Azmi berkata. Pantas kita dilanda angin dan hujan yang datang entah dari mana, tadi kita telah bermain dan tertawa girang di atas makam keramat yang ada di bawah cemara itu. Katanya di sana sesorang tidak boleh bermain-main, apalagi tertawa girang. Jika ada orang yang bermain-main di sana, maka penghuni makam akan marah dan biasanya pertanda kemarahannya adalah topan dan hujan.

Mendengar cerita itu, kami langsung melanjutkan perjalanan untuk turun dari Pelawangan. Sepanjang perjalanan kawan-kawan ku terus bertukar cerita tentang pengalaman-pengalaman misteri yang mereka sampan temui selama perjalanan kami beberapa hari ini. Mereka juga bercerita tentang pengalaman misterius yang pernah ditemukan oleh para pendaki Gunung Rinjani yang sempat sampai ditelinga mereka. Aku hanya bisa mendengarkan saja sambil mengingat beberapa pengalaman mistis yang sempat ku temui sejak hari pertama ku injakkan kaki di sekitar Gunung Rinjani.

Tidak terasa haris sudah menjelang sore dan kami-pun tiba di Bukit Bentotok. Tinggal sebentar kami sampai di perkampungan Bawak Nao. Karena hari sudah cukup sore, kami memutuskan untuk beristirahat dulu di bukit yang di penuhi dengan hamparan ilalang itu. Sekitar 15 menit sudah berlalu, ahirnya kami melanjutkan perjalanan untuk pulang. Saat adzan magrib berkumandang sampailah kami di rumah Azmi dan malam itu kami memutuskan untuk menginap di rumahnya. Keesokan harinya kami pulang ke rumah masing-masing membawa kenangan yang tidak mungkin pernah terlupakan hingga kami tuan nanti.

Kini mimpi-mimpi dan imajinasi ku atas cerita-cerita ayah ku semasa aku kecil dulu telah ku gapai. Sungguh aku percaya bahwa Gunung Rinjani benar-benar menyimpan banyak misteri dan aku yakin bahwa setiap pengunjung Rinjani juga akan menemukan cerita-cerita misteri yang berbeda dengan yang lainnya. Setelah perjalanan itu aku lakukan, aku berharap Allah memberikan aku kesempatan lagi untuk menapakkan kaki ku di Gunung Rinjani yang sangat dikagumi oleh jutaan orang dari dalam dan luar negeri. []- 05

 

_asri van rama_



 
KM. Sukamulia

KM. Sukamulia

Nama : Asri, S. Pd TTL : Sukamulia, 02 Januari 1985 Jenis Kelamin: Laki-laki Agama : Islam Pekerjaan : Swasta Alamat, Dusun Sukamulia Desa Pohgading Timur Kec. Pringgabaya No HP : 082340048776 Aku Menulis Sebagai Bukti Bahwa Aku Pernah Ada di Dunia

Artikel Terkait

2 KOMENTAR

  1. KM Kaula

    KM Kaula

    11 Mei, 2014

    apa yang pelungguh alami itu benar adanya, saya jadi kepingin sekali bisa menikmati keindahan itu, tapi masih taku dengan misteri-misteri itu. ini penting dipublikasikan supaya orang lain melakukan penelitian untuk menjadi jawaban atas rasa penasaran kita.


    1. KM. Sukamulia

      KM. Sukamulia

      29 September, 2014

      Makanya kapan pelungguh naik ke Rinjani,,, nanti kita berangkat sama-sama.


 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 

Komentar Terbanyak

 

image
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan