logoblog

Cari

Aku Dan Kota Bandung 1

Aku Dan Kota Bandung 1

Hari jumat sesaat setelah menyelesaikan kuliahku tepatnya jam 11 aku langsung meluncur kembali ke pondok tercinta, di pondok aku lihat kumpulan

Cerpen

Jurnal Alfarizi
Oleh Jurnal Alfarizi
23 Mei, 2014 20:46:41
Cerpen
Komentar: 3
Dibaca: 20228 Kali

Hari jumat sesaat setelah menyelesaikan kuliahku tepatnya jam 11 aku langsung meluncur kembali ke pondok tercinta, di pondok aku lihat kumpulan teman teman ku yang di pimpin orang yang selama ini aku banggakan, mamik khol, aku menyebut mamik karena sudah sepantasnya dia memamakai gelar itu, melihat apa yang dia miliki (ilmu) dan apa yang sudah ia perbuat untuk pondok ini. Aku ucap salam dan mencium tangannya berjabat, jejeran Koran di depannya menggerakan kan ku untuk ikut membaca berita hari itu, dengan teliti aku melihat ia membalikan setiap halaman sambil melingkari setiap nama yang ia kenal di halaman itu dengan polpen yang ia pegang di tangan kanannya, Koran hari jumat tanggal 14 juni di halam 10 dengan topic  besar di atas halaman  itu, NAMA CALON SEMENTARA LEGISLATIF , setelah beberapa menit aku baru sadar kenapa ia hanya membolak balikan halaman yang hanya memiliki judul yang sama itu.

Di temani oleh salah satu kawan ku Mr. maun. ia mencari nama nama calon legislatif yang menjadi sasaran undangan pada acara pergantian OSDH yang akan kami laksanankan nanti pada tanggal 22 bulan itu, dari nama calon sebanyak itu, ia hanya melingkari nama nama yang menurutnya dekat dari lokasi dan pantas untuk di undang. Mr maun yang saat itu di tugaskan untuk menulis ulang ke buku pribadinya dengan cekat menuliskan nama nama yang akan di kirimi surat undangan, lalu pergi meninggalkan kami setelah selesai menuliskan nama nama itu di bukunya untuk membuat surat yang di maksud secepatnya.

Koran yang berceceran kini perlahan bukan menjadi focus perkumpulan pagi menjelang siang itu, galak tawa mulai keluar dari mulutnya seperti perkumpulan yang biasa kami lakukan, selalu ada tawa di sela perkumpulan serius membahas tentang perkembangan pondok. Mata ku menatap arah duduknya berharap ia menyinggung tentang keberangkatanku ke bandung, ia menatap aku cemas seolah bisa membaca hati ku, lalu ia membukanya dengan bertanya,”sudah pernah di kontak dari kantor” dengan halus ia mengutarakan pertanyaan itu, “ dengan hati hati dan mencoba mengatur kata kata aku menjawab, “ belum mik” sedikit kecewa dan khawtir karena satu hari lagi dari keberangkatan sedang tiket belum aku lihat, ia memang pintar membaca hati orang, seolah ia tahu perasaan kawatirku, ia mencoba meyakinkan ku dan berkata “ di tunggu aja mungkin nanti jam 3 antum di panggil”, aku sedikit lega karena ada kepastian walaupun aku tak tahu apakah kata kata itu hanya bertujuan untuk menghibur ku.

Kami masih duduk bersama di depan kantor sederhana bersekatkan bedek, di sela keteganganku, hape yang ku simpan di saku tiba tiba berbunyi, berharap itu dari salah satu staff kantor kemenag yang mamik tadi maksud, satu massage di terima, tanpa aku pedulikan siapa yang mengirimi pesan, aku langsung membaca isinya, dan Alhamdulillah harapan ku benar, kecemasan ku hilang, ia menyuruhku datang mengambil tiket dan surat tugas ke kantornya jam 3 sore nanti. Aku tak membalasnya panjang, sampai salam pun aku lupa karena kebahagiaan ku membeludak sehingga hanya membalas bilang “Nggih pak”. Ingin rasanya pergi dari tempat duduk itu, dan bersujud syukur karena ini adalah kepergian pertamaku keluar kota di tambah dengan tidak ada biaya yang harus aku keluarkan, tapi aku tak seceroboh itu, kesenangan itu aku simpan dengan rapat-rapat dalam hati dan tetep bertahan duduk bersamanya.

Jam menunjukan pukul 12 siang itu, suara lantunan ngaji di setiap masjid terdengar dengan indahnya, menyadarkan kami kalau hari itu adalah hari jumat, ia terlihat bergegas dan menyuruh kami bersiap-siap untuk jumatan. Setelah itu ia mengucapkan salam lalu pergi meninggalkan kami. Aku langsung masuk kamar dan sujud sukur sambil beberapa kali mengucapkan Alhamdulillah di sana.

Tak terasa azan shalat jumat sudah di komandangkan, aku bangkit dan segera bersiap-siap  untuk memenuhi panggilannya. Dengan pakian sederhana ku hidupkan mesin si kuning (sebutan sepeda motor ) yang sudah beberapa tahun ini menemani perjalanan ku. Tiba di masjid aku ambil air wudhu karena tadi gak sempat ambil air wudhu di pondok takut telat. Setelah urutan wudhu selesai aku lakukan lalu menaiki masjid dan shalat dua rakaat di sana.*

Khutbah telah selasai di bacakan, salah satu warga yang bertugas hari itupun mengomandangkan iqomah pertanda shalat jumaat akan segera kita mulai. Dengan pakian serba putih Kiyai yang selama ini di percayakan masyarakat untuk memimpinya dengan mantap mengambil posisi di depan makmum sebagai imam. Seperti biasa sebelum ia mulai shalatnya ia tak pernah lupa mengingatkan mamkmumnya untuk merapikan dan merapatkan shafnya.

Jam dinding masjid itu menunjukan jam 01.30 amalan shalat jumat telah selasai kami baca, masjid yang terletak di dasan desa tanak beak ini memang memiliki keunikan dalam berjamaah shalat jumat, ia masjid yang paling cepat menyelasiakan jumatannya. Sepertinya ia bisa membaca keadaan masyarakatnya yang kian hari sudah tidak terlalu senang dengan jumatan yang prosesnya lama seperti halnya di masjid masjid besar di kota.

*****

Siang itu entah kenapa nafsu makan ku gak ada, aku juga gak tahu kenapa satu minggu belakangan ini badan ku terasa gak fit, sehingga  tak jarang pak zul kepala sekolah ku yang juga salah satu orang yang saya banggakan di pondok ini mengeledek ku bilang “gak sah tegang naik pesawat, naik pesawat itu santai ja gak lebih seperti naik mobil” aku hanya merespon dengan mengembang kan mulut sambit ternsenyum manis padanya. Saat itu memang wajah ku terlihat sedikit pucat tapi bukan karena aku takut akan naik pesawat walaupun ini adalah pertama kalinya aku akan terbang menyebrangi lautan menggunakan pesaawat.

Matahari perlahan bergeser kearah barat, ku lihat jam di hape ku sudah menunjukan pukul 02.30 teringat kalau hari ini, aku ada janji dengan salah satu staff yang mengurus keberangkatan ku, dengan cepat aku memecet tombol hape dan mencari kontak teman yang akan bersama ku pergi ke bandung, ust yusron aziziyah namanya, lalu mengirimnya pesan dan mengajak ia ketemu nanti di kantor kemenag NTB, karena sebelumnya aku gak pernah ketemu dengannya. Ia hanya memberitahu ku via handphone kalau keberangkatan kebandung bersama dengannya. Setelah pesan pendek aku kirim, tak  lama kemudian ia membalas dan menyetujui perjanjian itu.

 

Baca Juga :


Kurang lebih 30 menit aku habiskan perjalanan dari pondok ke mataram, di perjalanan hape ku bordering. satu panggilan masuk, karena saat itu aku berada di lampu merah dan kebetulan sedang menyala merah, aku ambil hape yang ku letakan di kantong celana sebelah kiri dan melihat ternyata teman yang di aziziyah, langsung saja aku menekan tombol warna hijau di hp ku dan mengucapkan salam untuknya “ assalmukum tad, napi?  Ku awali percakapan via handphone itu, dengan suara lembut dan sopan. ia menjawab salam ku, “ walaikumslam, saya udah di kantor ini, antum di mana?” sambil sedikit bergegas karena klakson mobil yang berada di belakang ku sudah mulai berbunyi “ ana di jalan tad bentar lagi nyampe, tunggu aja bentar” kayaknya dia paham kalau dalam perjalanan pasti gk aman untuk keselamatan jika melanjutkan pembicaraan lewat telpon, lalu ia akhiri percakapan pendek itu dengan mengucap salam dan menyuruhku hati hati.

Ku paksakan si kuning untuk berlari lebih cepat lagi, karena takut membuat ia kecewa menunggu lama,  tak samapi 10 menit dari jarak kami ngomong, akhirnya sampai juga di kantor wilayah kemenag NTB tepatnya di utara kantor imigrasi depan sebalah selatan kantor DPRD NTB, sementara si kuning aku suruh istrihat, aku beranikan diri memasuki kantor yang cukup mewah itu, dan bertanya di security yang bertugas hari itu, “ assalamualaikum pak, ruang tempat mengurus kepergian ke bandung untuk pengembangan KTSP pondok pesantresn salafiyah di mana ya”? aku seolah melihat ada tanda Tanya di atas kepalanya “ maaf pak, kalau yang itu saya tidak tahu, cobak masuk aja ke dalam nanti bertanya di sana”?.

pede saja aku masuk walaupun sebenarnya tidak tahu mau masuk ke ruangan mana, tiba tiba terbesit di kepalaku kalau teman sekepentinganku itu sudah sampai duluan di sana, lagi lagi aku mencari kontaknya di hapeku dan menelponya, “ tad ana udah nyampe kantor ni, antum di mana”?  Suara angin ternyata mendominasi sehingga suaranya agak kabur, beberapa kali aku bilang hallo namun suaranya tetap tak jelas, perlahan suaranya mulai kedengaran, nampaknya tadi ia berjalan kearah bawah karena sebelumnya ia sudah berada di tempat pengambilan surat tugas di lantai 2, “ saya sedang  menuju ke lantai satu ini” antum di mana”? hehe dalam hati aku ketawa, ternyata bukan aku yang menghampiri tapi memang kebetulan saja dia ke lantai satu dan akhirnya bertemu di sana.

“ ust yusron ya”? ku awali percakapan langsung  pertama dengannya  dan menjabat tangannya, “ nggih saya yusron” dia tak bertanya banyak tentang ku saat itu, dalam hati aku bergumam, ooo ini toh namanya ust yusron, ternyata orangnya sudah lebih berumur dariku, tapi ia tetap sopan dan menghormati kala aku ngomong dengannya, itu lah yang membuat aku juga segan dengannya.

Setelah menaiki beberapa anak tangga, kami berdua akhirnya sampai di ruangan tempat pengambilan surat tugas, salah seorang laki laki yang juga merupakan staff kantor itu memberiku sebuah amplove berisi tiket pulang pergi, dengan ternsenyum aku mernerima amplove itu, lalu kami pergi meninggalkan ruang ber AC itu dengan tujuan bandung di benak kami.

Di sela perjalanan menuju tempat parkir,  kami bercakap cakap sehingaa kami sedikit saling tahu satu sama lain, tak terasa anak tangga yang kami lewati sudah habis kami pijaki tempat parkirpun sudah terlihat di depan mata, aku tak bisa banyak ngobrol, dia pun sama, akhirnya kami akhiri pertemuan sore itu, dengan berjabat tangan dan berharap esok kami ketemu di bandara soekarno- hatta di Jakarta.

Malam terlihat sunyi semua santri sibuk dengan buku yang ada di depannya, sesekali suara kodok menghibur kami dengan suaranya yang sedikit menggelitikan telinga, tas ransel warna hitam sudah siap aku bawa, karena habis pulang dari kantor kanwil tadi sore aku langsung menyiapkan pakian dan kebutuhan yang harus di bawa, rasanya pingin malam itu cepat cepat tidur supaya perjalanan esok tidak ada kendala soal tenaga, tapi mata ini tetap tak bisa tertutup, masih membayangkan bagimana cara menaiki pesawat dan prosedur masuk bandara, karena selama ini aku hanya tau teori kalau berpergian menggunakan pesawat harus melalui check in, dan menuggu di waiting room setelah mendapat boarding pas di tempat check in.

Malam semakin larut, ku paksakan mata ini tertutup dan melayang ke dunia kapuk, mimpi malam itu tidak ku hiraukan. setelah pukul 04.00 pagi, teman sekamar membangunkan ku dari mimpi itu, dan menyuruhku siap siap untuk berangkat ke BIL. [] - 05

***Bersambung



 

Artikel Terkait

3 KOMENTAR

  1. KM Kampung Naga

    KM Kampung Naga

    24 Mei, 2014

    Bahasa Ringan dan cerita fakta, lanjutkan


  • KM Kaula

    KM Kaula

    24 Mei, 2014

    mantab sekali gaya bahasa penuturanya, saya senang bacanya. dari itu perbanyaklah tulisan dan kisah-kisah anda biar saya bisa belajar banyak dari tulisan-tulisan anda. Trim.


    1. Jurnal Alfarizi

      Jurnal Alfarizi

      24 Mei, 2014

      terima kasih atas apresiasinya, saya akan terus berusaha dan belajar demi hasil tulisan anak kampung yang tak kampungan


  •  
     

    TULIS KOMENTAR

    Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
     

    Artikel Populer

    Komentar Terbanyak

     

    image

    Tipi Kampung

     
    Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
     
    Tutup Iklan