logoblog

Cari

Aku Dan Kota Bandung 4

Aku Dan Kota Bandung 4

Read Here Before Karena jujur saja ini adalah kali pertama aku menginjak kan kaki di Jakarta, jadi semua terlihat awam dan tentunya

Cerpen

Jurnal Alfarizi
Oleh Jurnal Alfarizi
26 Mei, 2014 19:18:03
Cerpen
Komentar: 1
Dibaca: 7029 Kali

Read Here Before

Karena jujur saja ini adalah kali pertama aku menginjak kan kaki di Jakarta, jadi semua terlihat awam dan tentunya aku butuh kawan untuk mengobrol.

Aku tak mikir panjang lagi, ku tekan tombol memanggil setelah nama arief aku temukan di kontak hape. Sambil menengok mereka dari jendela atas, hape  tetap ku posisikan di telinga sebelah kiri, mereka baru saja keluar dari jebakan antrian panjang keluar pesawat namun panggilan ku tak juga di angkat, ia kelihatan sibuk dengan barang bawaanya hingga tak sempat mengambil hp yang entah di mana ia taruh. Aku paham dengan kondisinya  dan memutuskan untuk  memberanikan diri di mana gerbang yang akan ia tuju. Bermaksud bertemu di sana. Ternyata tuhan tahu bagaimana kami saling membutuhkan sehingga kami di pertemukan di gerbang lantai satu menuju terminal 1B.  

Ia melambaikan tangan ke arahku, tapi aku tak membalas dengan hal yang sama aku hanya membalasnya dengan senyum. dengan logat khas bimanya ia awali percakapan seasion kedua setelah pertemuan pagi di BIL, “ apa abang langsung berangkat ke bandung” ? nampaknya abang adalah panggilan khas kota bima yang sering ia lontarkan ketika menyapa orang yang lebih tua darinya, “ ndak aku mau tunggu teman dulu” kataku sambil berjalan beriringan keluar dengannya, di terminal  aku baru tahu setelah melihat tiket transitnya kalau tujuan aslinya adalah Kalimantan, tapi transit di Jakarta.

Belum sempat kami sampai di pintu kedatangan Seorang petugas bandara sambil melambaikan tangannya menginstruksikan penumpang yang transit untuk segera di data sesuai dengan tujunanya.Ia tak memperhatikan orang yang menggunakan sergam merah itu, perhatiannya ternyata cukup focus ke arah ku.  Untungnya aku tahu kalau ia juga salah satu penumpang yang transit di sana, ku ambil tiketnya dan mendafarkannya, sambil mengerutkan dahinya petugas itu bertanya “ apa ada barang cargo ”? aku tak tahu persis jawabannya karena itu bukan tiket milikku, karena ia di sampingku dan mendengar pertanyaan yang di lontarkan sepontan saja ia menjawab, “ ia ada” petugas itu  lalu melanjutkan pertanyaan  yang berbeda, “ barang cargonya mana”? kali ini muka cerianya tiba tiba berubah menjadi expersi yang tak pernah  aku ingin lihat, wajahnya  tiba tiba merah dan ia kelihatan panic, ternyata cargonya belum sempat ia ambil, aku yang di belakangnya berdiri sambil menekan nekan tombol hape sedang smsn dengan kawan ku di Lombok sudah tahu kenapa ia pasang expresi seperti itu, aku akhirnya mengambil alih pembicaraan dan bertanya, “kalau cargo yang belum sempat di ambil, ngambilnya di mana mba”? dengan senyum ia menjawab “ mas harus balik lagi ke terminal di mana mas turun dari pesawat”. Waduhhh dalam hati aku terkejut,gimana tidak  jarak terminal tempat aku turun dengan tempat aku berdiri  saat ini lumaya jauh, kira kira 500 meter yang di tempuh sekitar 15 menit dengan jalan kaki, aku sembunyikan keluhan hati itu dan mengajaknya kembali ke terminal yang di maksud.

 

Baca Juga :


Langkah kakiku sengaja ku percepat, karena takutnya nanti teman yang ku tunggu malah sudah datang dan pergi meninggalkan ku sendirian. Sampai di terminal IA. Nampaknya ia engos engosan karena tak biasa jalan secepat saat itu. Tanpa ku pedulikan keadaanya karena yang terpenting adalah barangnya ia temukan dan terrsenyum kembali, ku beranikan diri mengahadapi salah satu petugas bandara saat itu dan bertanya bagaiamana mengambil Cargo yang tak sempat di ambil ketika turun dari pesawat tadi, dengan sebuah HT di tangannya ia kelihatan sangat sibuk sedang berkomunikasi dengan sejawatnya, sehingga ia tak menggubris pertanyaanku, tanpa putus asa  ku ulangi pertanyan yang sama dan sedikit perlembut bahasanya, akhirnya setelah sekian menit kami keliling barangnya sudah kami temukan, di sanalah akhir pertemuan ku bersamanya.

***Bersambung [] - 05



 
Jurnal Alfarizi

Jurnal Alfarizi

Suka hal baru, senang dengan tantangan, hoby menjelajahi setiap sudut dunia,

Artikel Terkait

1 KOMENTAR

  1. KM Kaula

    KM Kaula

    27 Mei, 2014

    aku masih seperti kemarin, masih setia menunggu tulisan berikutnya.


 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 

Artikel Populer

Komentar Terbanyak

 

image

Tipi Kampung

 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan