logoblog

Cari

Tutup Iklan

JANJI GYURI

JANJI GYURI

Gyuri dengan segera meletakkan tasnya di meja belajar. Baju seragam sekolahnya pun di gantung, lalu ia menggantinya dengan baju biasa. “Bu... ayah

Cerpen

Muhammad Madun Anwar
Oleh Muhammad Madun Anwar
13 Juni, 2014 11:00:35
Cerpen
Komentar: 4
Dibaca: 7359 Kali

Gyuri dengan segera meletakkan tasnya di meja belajar. Baju seragam sekolahnya pun di gantung, lalu ia menggantinya dengan baju biasa.

“Bu... ayah sudah pulang?” jerit Gyuri menghampiri Ibu di meja makan.

“Belum, Ri. Emang ada apa?” tanya Ibu

Gyuri tidak menjawab Ibu, malah ia menarik kursi dan duduk. Lalu menuangkan semangkuk sup kesukaannya.

“Ada apa, Gyuri...?” tanya Ibu lagi.

Gyuri tetap tidak menjawab Ibu. Ia lebih memilih menyantap sup kesukaannya. Ibu mengerti, mungkin Gyuri lagi lapar. Ibu membiarkannya.

“Gyuri ada tugas di sekolah, Bu. Ini tentang peribahasa. Tapi, ada sebagian yang belum aku pahami.” Gyuri menjelaskan Ibu setelah ia selesai menyantap sup.

Ibu hanya mengangguk-angguk, “Ibu bisa bantu?”

Mendengar tawaran Ibu, Gyuri menatap Ibu seolah ragu. Gyuri ragu, karena Ibu memang tidak pernah membimbingnya belajar dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Ibu biasanya membimbingnya dalam pelajaran IPA saja.

“Kamu meragukan Ibu?” simpul Ibu seolah tahu akan keraguan Gyuri. Gyuri hanya bisa cengengesan. Garuk-garuk kepala.

“Ini tentang peribahasa, Bu. Apa Ibu bisa?”

Ibu mengangguk.

“Baiklah. Peribahasanya seperti ini, Bu.... Seperti punguk merindukan bulan. Nah, peribahasa ini yang belum aku paham, Bu...!”

 

Baca Juga :


“Oh... yang itu. Kalau itu, Ibu tahu, kok. Makanya, jangan remehkan Ibu. Meremehkan orang tidak baik tahu.”

Gyuri hanya cengengesan saja.

“Peribahasa yang tadi tertuju pada orang-orang yang berkeinginan tinggi, tapi keinginanannya tidak tercapai,” tutur Ibu.

“Emang, kita tidak boleh berkeinginan tinggi, Bu?”

“Boleh. Asal sewajarnya saja.”

“Sewajarnya itu seperti apa, Bu?” tanya Gyuri lagi, membuat Ibu harus menarik nafas dulu sebelum menjawab.

“Ya... sewajarnya saja. Misalnya, keadaan orang tua kita sederhana, maka kita tidak boleh berkeinginan yang sulit dijangkau oleh orang tua kita, apalagi memaksa. Makanya, jika kamu berkeinginan, jangan tinggi-tinggi. Belum tentu Ibu bisa menjangkaunya.”

Mendengar keterangan Ibu, Gyuri kembali cengengesan. Lalu ia menghampiri dan memeluk Ibu. Gyuri sadar, bahwa selama ini, ia suka memaksa Ibu untuk membelikannya barang-barang yang mahal. Gyuri jadi merasa bersalah pada Ibu. Diam-diam, dalam hati Gyuri berjanji tidak akan seperti itu agi.

“Aku sayang Ibu...,” kata Gyuri sambil memeluk Ibu lebih erat lagi.

“Ibu juga sayang kamu, Ri.”

Ibu dan Gyuri cengengesan.



 
Muhammad Madun Anwar

Muhammad Madun Anwar

Bertekat membahagiakan kedua orang tua dan keluarga. Sekarang berprofesi sebagai guru honorer di salah satu sekolah Negeri pinggiran di Kecamatan Sambelia, Lombok Timur, NTB. Dapat dihubungi ke: 085-903-157-401. E-mail: muhammadadoeen@yahoo.co.id.

Artikel Terkait

4 KOMENTAR

  1. Muhammad Madun Anwar

    Muhammad Madun Anwar

    14 Juni, 2014

    Harus bersambung kah? Ini memang cerpen anak, dan cerpen anak memang tak harus panjang. Kritik dan Saran.... Ditunggu!


  • KM Kaula

    KM Kaula

    13 Juni, 2014

    saya sebetulnya mau bilang, "andai saja cerita ini bersambung", tapi saya tidak jadi bilang begitu, karena saya keburu sadar ini adalah cerita pendek. kalau bersambung maka namanya cerita bersambung.


    1. Muhammad Madun Anwar

      Muhammad Madun Anwar

      14 Juni, 2014

      Hraus bersambung kah, Pak? Ini Cerpen anak, harus pendek. Hehe... minta kritik & saran yang membangun, Pak. NB : Masih dalam tahap belajar.


    2. Muhammad Madun Anwar

      Muhammad Madun Anwar

      14 Juni, 2014

      Harus bersambung kah? Ini adalah cerpen anak. Masih belajar, Pak... Sekiranya kririk & saran di haturkan. ^_^


  •  
     

    TULIS KOMENTAR

    Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
     
    Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
     
    Tutup Iklan