logoblog

Cari

Menanti Mentari di Malam Hari

Menanti Mentari di Malam Hari

Lihatlah sosok pemuda yang satu ini, ia yang berasal dari kalangan keluarga bawah namun mampu membius banyak orang, hanya dengan bermodalkan

Cerpen

eva lestari
Oleh eva lestari
13 November, 2014 10:55:11
Cerpen
Komentar: 0
Dibaca: 37919 Kali

Lihatlah sosok pemuda yang satu ini, ia yang berasal dari kalangan keluarga bawah namun mampu membius banyak orang, hanya dengan bermodalkan semangat dan tekad. Walau dari segi retorika yang belum pas dan belum tertata, namun semangat untuk menciptakan sebuah perubahan tak pernah ia padamkan sedikitpun.

Tak melihat hasil yang diperoleh, namun mencari sebuah proses atau alur sebuah cerita hidup. Ia adalah sosok pemuda yang berani mengambil  seribu langkah, tak penting mau jadi apa yang terpenting baginya adalah menjalani kehidupan apa adanya dan hidup merakyat  walau tanpa sandang jabat.

Inilah ia seorang pemuda dengan tubuh kurusnya, tatapan mata yang tajam, sebut saja namanya Ery. Hidup di sebuah desa yang jauh dari hiruk piruk masyarakat kota. Melalang buana menyusuri setiap dusun,desa dan kecamatan se kabupaten Lombok Barat. Tak penting baginya lirikan pemerintah, selama masyarakat meluangkan waktunya untuk melirik usahanya itu dirasa sudah cukup. Antara pemerintah dengan masyarakat itu memang perlu, namun hal yang  pertama kali dilakukan untuk menaklukkan sebuah pemerintahan adalah menaklukkan hati rakyat. Lihatlah bagaimana rezim Soeharto yang tumbang, dan bagaimana rezim-rezim sebelumnya runtuh tiada berbekas.

Menyusuri jalan setapak nan terjang, berkerikil dan berduri tak menjadi alasan untuk berhenti peduli terhadap masyarakat, terutama masyarakat lingkar kawasan gunung  sasak. Siapalah yang menilai dirinya kecuali hanya Tuhan semata. Dengan hati yang tulus tanpa menggantungkan harap pada pemerintah, tetap mengayunkan langkah kakinya walau terkadang merasa letih. Ditemani sang istri yang selalu memberikan support untuk terus melangkah dan menatap masyarakat banyak, masyarakat adalah harta berharga yang tiada ternilai harganya dengan apapun.  

Pernah suatu ketika orangtua mempertanyakan masalah pekerjaan dan hasil, hanya bisa terdiam membisu, entah mau menjawab apa. Ia hanya bisa menundukkan wajah dan berkata bekerja untuk rakyat. Dengan nada keras orangtuanya berkata “haha memang kamu mau jadi apa kalau hanya ngurusin rakyat, belum waktunya kamu ngurusin rakyat karena itu bukan tugasmu…biarkan pemerintah yang ngurus rakyatnya, kamu tidak usah ikut-ikutan kayak pejabat saja, memang kamu Jokowi apa? Dan apa yang  kamu dapatkan? Tidak ada yang kamu dapatkan kecuali hanya lelah dan menguras tenagamu saja, terjun ke masyarakat itu tidak gampang, kamu urus istrimu saja dulu”.

Mendengar kata-kata seperti itu, sempat air matanya keluar…..oh Tuhan kasihan suamiku, kadang ku bertanya pada_MU mengapa kau berikan jiwa sosial yang tinggi terhadap suamiku? Kadang kala ku tertawa memperhatikan tingkahnya yang ku anggap itu sangat lucu sekali. Sosialisasi dan sosialisasi, sempat ku bertanya padanya, “untuk apa kau lakukan semua ini? Mengapa tidak kau lepaskan saja masyarakat, itu terlalu sulit menaklukkan masyarakat, dan apa yang kau dapatkan sekarang? Tidak mendapatkan apa-apa sama sekali, kecuali badanmu yang termakan oleh waktu dan debu. Apa yang dikatakan ibumu itu benar, biarkan pemerintah menjalankan tugasnya, karena memang itu tugasnya pemerintah, ngapaen kita yang rempong”.

Dengan nada rendah suamiku menjawab, biarlah waktu yang menentukan, untuk saat ini bukan hasil yang kulihat, namun yang terlihat dalam pandanganku adalah masyarakatku, mungkin aku bukan siapa-siapa dan bukan pegawai pemerintahan, namun aku melihat bagaimana cara Nabi Muhammad mencintai umatnya, menjalin hubungan silaturrahim dan membangun masyarakat yang madani”

 

Baca Juga :


“tapi beliau itu Nabi, sedangkan kamu manusia biasa? Haha mau makan apa kita besok, makan rakyat atau makan pemudanya saja?, ingat para Nabi itu semuanya bekerja untuk menafkahi istrinya, bukan hanya bisa memberikan nafkah batin tanpa zahir. Percuma membuang banyak waktu jika pemerintah kita saja pada buta semuanya. Mereka tuli dan buta, jangan hanya bisa bersosialisasi tanpa adanya hasil yang diperoleh, itu sama artinya menzalimi diri sendiri. Lihat diriku, aku tak meminta apa-apa padamu, yang ku mau cukup kau jadi orang sukses. Kalau memang kamu tetap memilih rakyat, besok biarkan saya yang mencari nafkah, terserah mau kerja apa, kamu urusin saja rakyat semumu itu” (dalam lubuk hatiku yang terdalam ku menangis karena merasa berdosa telah mengatakan seperti itu pada suamiku, oh Tuhan jadikan aku istri yang soleha dan maafkan atas ucapan hamba, lindungi suamiku, beri ia kemudahan dalam mendapatkan pekerjaan, dan ku berharap bisa diterima bekerja, oh Tuhan….sudah berapa banyak  lamaran kerja ku masukkan ke setiap dinas dan sekolahan, namun sampai saat ini belum juga ada panggilan kerja. Kini gelar sarjana yang kuperoleh terasa tiada guna)

Keesokan harinya, suamiku terlihat sibuk menyiapkan berkas dan terlihat rapi, ku menyapanya “mau kemana, rapi amet bapak presiden kita yang satu ini?” (sambil tertsenyum), “aku mau melamar kerja, do’akan saja semoga diterima” jawab suamiku. “nggeh selalu ku do’akan dirimu suamiku, tanpa kau meminta sekalipun” ucapku. Oh ya, saya ikut ya..saya juga mau masukin lamaran kerja, bila perlu ke semua instansi pemerintahan hehe…sambungku.

Kamipun berangkat bersama, menuju kota Mataram yang terkenal dengan slogannya “Mataram Maju, Religius dan Berbudaya” dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim…. [] - 01

_____________________________Bersambung___________________________

 



 
eva lestari

eva lestari

nama Eva Lestari, alamat Lingkungan Kebun Duren, Kelurahan Selagalas, Kecamatan Sandubaya, Kota Mataram. No. Handphone 085333915894. disarankan oleh KM Narmada.

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 

Artikel Populer

Komentar Terbanyak

 

image

Tipi Kampung

 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan