logoblog

Cari

Senja di Pelabuhan Lembar

Senja di Pelabuhan Lembar

Angin sore seperti berjalan menampakkan dirinya pada gelombang tenang di selat lombok. Cahaya yang binar adalah untaian emas yang seolah menari-nari

Cerpen

Wahyu Azis Faradi / WAZIDI
Oleh Wahyu Azis Faradi / WAZIDI
23 November, 2014 01:47:08
Cerpen
Komentar: 0
Dibaca: 8511 Kali

Angin sore seperti berjalan menampakkan dirinya pada gelombang tenang di selat lombok. Cahaya yang binar adalah untaian emas yang seolah menari-nari di perairan itu. Setiap kali datangnya senja siapa yang terduduk, termenung seorang diri di dermaga pelabuhan itu ? sosok pemuda yang selalu berhadapan dengan senja, seiring dia selalu melihat kapal penyebrangan yang berlayar sampai pada titik kecil dari kejauhan. Sebab disanalah ada sebuah harapan, cita-cita yang mengarung di samudera lepas.

Adzan maghrib telah berkumandang, pemuda itu masih terduduk di darmaga. Apa sebenarnya yang ia pikirkan? Tubuhnya kurus dan badanya lunglai ketika berjalan.Tak seperti pemuda pelabuhan pada umumnya selalu ceria, penuh canda meramaikan pelabuhan. Tiba-tiba seorang teman menghampirinya dengan membawa gitar. Temannya adalah seorang pengamen di pelabuhan, selalu bernyanyi tentang segala perasaan hidup tat kala kapal datang ataupun sedang sepi.

“ Wen, ayo kita pulang dulu, nanti kita kesini lagi !” ucap temannya mengajak dia pulang untuk mandi dan juga makan malam. Setelah itu biasanya mereka akan menghabiskan malam dengan berjaga sampai dini hari di pelabuhan. Dia berjalan pulang dengan temannya ,namun ia tidak berbicara sepatah katapun. Karena memang begitulah ia. Wen, panggilan setiap orang kepadanya. Pemuda yang patah hati terhadap kampung halaman dan selalu merindu deburan samudera di lautan lepas. Sampai ia belum berlayar,mungkin kecerian akan langka terpatri di senyuman wajahnya.

Bagaimana wajah sang ibu melihat anaknya, kondisi Wen kini dan bagaimana masa depannya ? Dia begitu sangat faham apa yang di cita- citakan Wen sejak pertama kali Wen tersentuh oleh angin lautan. Namun ibunya tak bisa berbuat apa-apa. Kecuali ia hanya berdoa dan selalu teringat detik mengesalkan kenapa anaknya menderita penyakit asma semacam itu. “Wen kalau mau makan , ibu sudah siapkan lauk pauk di dapur.” Setelah Wen mandi, dia langsung kedapur karena merasa lapar. Ibunya memang telah memasak lauk ikan bandeng goreng kesukaannya. Namun pada waktu itu Wen hanya menatap ikan bandeng goreng itu. Nafsu makannya tiba-tiba menjadi hilang. Ibunya menyaksikan Wen hanya memandang ikan bandeng itu dalam tatapan yang begitu dalam. Tiba-tiba air mata ibunya terjatuh dengan sendirinya. Satu persatu bulir air mata ibunya berjatuhan dari sorot kedua matanya melihat Wen. ia tidak berbicara apa-apa, seolah ia ingin membiarkan bulir-bulir air matanya itu menjadi lautan hingga Wen bisa berada di atasnya dan melambaikan tangan kepadanya untuk berlayar ke ujung dunia.

Ayah Wen pulang dari kantor, ia bekeja sebagai salah satu pengurus kapal penyebrangan di pelabuhan. Hanya pada saat malamlah ia bisa berkumpul bersama keluarga. Dia kembali mendapati istrinya menangis melihat Wen. Sungguh hal yang tidak pernah di inginkan oleh seorang kepala keluarga ketika seharian bekerja namun sampai di rumah selalu menjumpai hal yang menyedihkan. Ayahnya berpikir sejenak di beranda depan rumah. Dia sudah mulai jemu dengan apa yang dia lihat dan rasakan di rumah. Apa yang kini dia harus lakukan untuk mengobati anaknya?. Tentu ia tak akan pernah mau melepas anaknya pergi ke samudera lepas, berlayar dan jauh dari keluarga. Siapa yang akan mengurus anaknya yang penyakitan ini nantinya ? “ aduh Wen anakku semata wayang” Gumam hati si Ayah yang tak habis pikir tentang sikap anaknya selama ini. Adalah sebuah kebahagian besar ketika orang tua melihat anaknya menggapai mimpi dan cita-cita. Namun bagaimana caranya memberikan kebahagiaan untuk Wen sendiri ? Berkali-kali Wen di suruh dan di bujuk oleh ayahnya untuk berobat, Wen selalu tidak mau dan setelah itu mengunci diri di kamar atau pergi berlari ke pelabuhan. Di usianya yang hampir menginjak 20 tahun, hanya satu kali ia bersentuhan dengan dokter. Itu ketika ia masih SD dan menderita penyakit demam.

 

Baca Juga :


Si ayah masih termenung di beranda bersama pikirannya yang terbang melayang mengikuti asap rokok yang ia hisap. Wen kembali pergi ke pelabuhan, begitulah rutinitasnya setiap malam. Ayahnya sebenarnya sudah letih dengan kekhawatiran akan gaya hidup anak mudanya. Dia mula-mula tak pernah mengizinkan anaknya untuk pergi ke pelabuhan malam hari. Itu ia lakukan untuk kebaikan kesehatan Wen sendiri. Namun apa daya Wen selalu berkeras kepala tidak pernah mengikut perintah sang ayah. Kendati demikian ayahnya selalu cinta, tak sedikitpun rasa cintanya berkurang, begitu pula rasa cinta ibunya. “Bu, apa Wen tadi sudah jadi makan ?” “ Ndak pak, dia cuma minum air putih saja” Mendengar Wen belum makan, dia semakin ingin mengakhiri ini semua. Mengubah keanehan anaknya, memberikan apa yang memang ia inginkan. Namun perasaannya masih ragu untuk itu. Dua tahun yang lalu, ketika Wen pernah menaiki kapal dan ikut berlayar bersama temannya selama dua hari. Sepulangnya dari pelayaran itu, ayahnya segera menyeretnya dari pelabuhan sampai tiba di rumah. Lalu Wen di marahi dan dikurung untuk beberapa minggu. Sejak saat itu Wen tidak pernnah berbicara sepatah katapun kepada ayahnya.

Sudah hampir jam 12 malam, Wen pulang dari pelabuhan. Di dapatinya ayahnya masih duduk di beranda. Wen hanya terdiam sembari membuka pintu rumah. Tiba-tiba ayahnya memegang tangannya dan menyuruhnya duduk. Dan kemudian Wen di peluk. Menangislah Wen. “ Maafkan aku anakku, bapak hanya tidak ingin melihatmu menderita” ujar si ayah. Wen hanya menangis rintih, menundukkan kepala. “ Wen besok atau kapanpun kamu boleh berlayar, nanti bapak usahakan kamu agar bisa bekerja di kapal”. Begitulah, akhirnya Wen menjadi salah satu petugas kapal, ia begitu bahagia setelah itu. Penyakit asma yang ia derita seolah-olah hilang terhapus keceriaan-keceriaan hari di atas lautan. Entah ia nantinya akan mati di tengah lautan atau selalu ceria , tak pernah ia pikirkan karena ia tau bahwa Ibu dan ayahnya akan selalu berdoa untuknya dan menyertainya selama-lamanya.[] - 01



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 

Artikel Populer

Komentar Terbanyak

 

image

Tipi Kampung

 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan