logoblog

Cari

Tutup Iklan

Sekuntum Edellways

Sekuntum Edellways

Bertahun-tahun aku mendamba. Mendamba cinta dari sosok bidadari yang betul-betul membuat ku gila. Hanya pintanya yang selalu menghantui jiwa. Sekuntum Edllways

Cerpen

KM. Sukamulia
Oleh KM. Sukamulia
15 Desember, 2014 22:10:59
Cerpen
Komentar: 0
Dibaca: 3636 Kali

Bertahun-tahun aku mendamba. Mendamba cinta dari sosok bidadari yang betul-betul membuat ku gila. Hanya pintanya yang selalu menghantui jiwa. Sekuntum Edllways dari puncak Rinjani, itulah yang ia minta. Sekuntum Edellways itulah yang akan membuatnya member ku cinta. Lama sudah ku damba dan ahirnya Penguasa Semesta member ku waktu untuk melunasi damba.

Ku awali niat dengan membaca nama Yang Maha Kuasa. Ku buka semua pintu minta dan sua. Aku yakin setiap langkah ada suaratannya, aku yakin setiap pinta ada jawabannya. Mulai ku ayunkan langkah dengan sejuta harapan cinta. Semangat menyala membias cahaya menyusur tapak demi tapak demi segengam asa. Pucuk-pucuk cemara menari rancak, arak-arakan gelombang awan putih berkejaran, lembayung senja yang tipis membisikkan kekuatan bagi jiwa. Setapak demi setapak, kaki melangkah menapaki pelataran Rinjani, dengus nafas hembuskan kerinduan sejati.

Rembulan keluar, bersinar pucat sepenggalan, langkah terus ku pacu dan terus ku pacu, renyah senyuman bintang-bintang menyusupkan keberanian di jantung ku, desir angin dan senandung serangga gunung itulah ringkikan asa cinta yang aku bawa, dingin Pelawangan adalah saksi, saksi abadi akan kebesaran tekat ini. Hanya bayang-nya sebagai teman ku mengarungi malam. Letih dan lelah tiada pernah aku perdulikan. Sendiri, aku ikuti langkah para pendaki menuju puncak Rinjani. Mulut ini tiada henti memuji Ilahi, hati ini tiada henti menyebut nama dara yang membuat ku memberanikan diri ke puncak Rinjani. Hanya bayangnya di pelupuk mata ini, hanya pintanya yang terngiang menghiasi liang telinga ini. Sekuntum Edellways dari puncak Rinjani, itulah yang ia ingini, sekuntum Edelways dari puncak Rinjani, itulah yang harus ku bawa untuk mendapat cintanya.

Peluh tiada terasa, udara dingin tiada ku pedulikan, angin pagi berdentum deru menderu memantul di seluruh ruang tebing gunung Rinjani. Asa cinta membawa ku sampai jua. Sujud syukur aku gelar di Puncak Rinjani. Aku berdiri dan teriakkan namanya berkali-kali. Kepada penguasa semseta dan pemelihara Rinjani ku ungkapkan segenap isi hati, duhai Allah Aza Wa Zalla, duhai Batara Guru yang mendapat keramat-Nya, duhai Dewi Rinjani yang berhati mulia, Izinkalaha aku membaca matera purba dari rahmat Yang Maha Kuasa, Izinkanlah aku membaca aksara cinta untuk dia yang ku damba, izinkanlah aku memetik sekuntum bunga Edellways yang engkau pelihara dengan cinta bertuah kalam mu yang berenda, izinkanlah aku memetiknya dan membawanya pulang untuk dirinya yang aku damba.

Berlahan tangan ku yang kaku memetik Edellways, ku cium dan peluk bunga yang bertabur permata yakut berkemilau itu. Aku tapakkan kaki ini di atas kelemahan dan rasa syukur yang tiada terkira. Sesampai di bawah, angin menghempas ku hingga tersungkur dan bersujud atas rahmat-Nya. Asa cinta terus berkecamuk dalam sukma, rasa rindu menyusup di lorong hati, hasrat pulang melilit angan. Tiupan angin serasa lirih siulkan pesan cinta dari nya. Aku betul-betul mabuk rasa, gila karena mendamba cinta dari si dia, aku suad tidak sanggup lagi mengintip liang-liang siang di Pelawangan. Beranjak kaki aku ayunkan. Merangkak turun, setapak demi setapak kaki menyusuri jalan setapak ku arungi nikmat ilahi dalam perjalanan tidak bermaya.

Di pertengahan Zuhur jantung ku berdegup terkapar, keringat tercucur memandi badan. Ku teguk air sebagai pereda haus yang melepuh. Rindu dan cinta terus berpadu sering langkah yang terus ku pacu. Edellways yang ku bawa seola berkata "cepatlah, aku sudah tidak kuasa menanti lama, cepatlah, aku ingin segera mekar di tangan-nya".

Langkah semakin ku pacu hingga awal Ashar menghentikan ku. Selendang Bayan ku gelar menjadi sajadah, sejenak aku lupakan segala cinta dan rindu untuknya. Ku serahkan segenap hidup ku untuk Ilahirobbi, ku bawa bibir ku mengucap kalam-kalam Ilahi. Rasanya lelah sudah tiada sudah berkurang, mentari yang hendak pulang membawa ku menuju belantara. Jalan setapak terarungi jua. Desiran angin membuat dedaunan bergesek mengeluarkan irama.

Perjalanan menuju pulang hampir usai, ketika malam mulai mengepakkan sayapnya, rembulan dan bintang bersinar terang. Lentera cinta menuntun ku menuju perkampungan. Langkah ku semakin pasti, memuja bayangnya dalam cinta sebesar semesta. Akulah sang pendamba, menapaki hutan dan pegunungan demi mendapat cintanya. Wujudnya terus berkecamuk dalam benak, suara hati terus jeritkan damba.

Tengah malam membawa ku ke pelataran kediaman, aku tunggu pagi dengan sejuta damba. Ku ikat sekuntum Edellways yang akan menjadi senjata ampuh mendapat cintanya, ku ikat dengan penuh harap. Dan pagi datanglah jua, tenang kaki melangkah, kukuh ia menjejak. Ku tuju rumahnya tuk meminta pertanggung jawaban atas janjinya. Sesampai di sana, wajah sucinya menyambut mesra, senyuman manis dan lembut budi bahasanya membuat ku semakin terpesona.

 

Baca Juga :


Lama sungguh saat-saat ini aku impikan. Berlahan sekuntum Edellways ku keluarkan dari tempatnya. Tanpa sedikit keragu-raguan aku ucapkan cinta untuk-nya. Ia seakan tidak percaya, pucat pasi wajah sucinya. Ku pandangi ia dengan satu titik azimat cinta. Begitu juga dirinya, menatap wajah ku dengan raut bahagia.

Biduk cinta sudah siap untuk ku pacu bersamanya. Pelan-pelan bibir ku berucap "ribuan hari permintaan mu membuat hidup ku menjadi gila, ribuan hari rinduku tiada terjawab oleh masa, ribuan hari cinta ku mengambang tanpa dikau mengetahuinya dan kini tibalah saatnya sekuntum Edellways dikau terima sebagai ungkapan cinta yang dulu kau damba. Aku harap dikau tiada menyai-nyiakan segenap daku punya usaha, aku harap dikau tidak lagi membuat layu taman asmara yang aku punya, aku harap dikau terima sudi memberi jambangan bagi sekuntum Edellways yang aku bawa sebagai ungkapan cinta. Terimalah agar sisa-sisa harap ku tiada sia-sia".

Sepi, tiada kata yang terucap dari bibirnya. Hanya air mata yang tercucur dari pipi indahnya. Berlahan tangannya mengambil sekuntum Edellways yang aku bawa. Ia cium bunga itu dengan perasaan yang sedemikian dalamnya dan ia bisikan kata cinta di liang telinga kana ku "maafkan aku, sesungguhnya aku juga sangat mendamba mu sejak waktu itu. Sungguh aku juga sangat mendamba kehadiran mu. Ribuan hari aku menunggu kedatangan mu, ribuan hari aku mencoba melupakan bayang mu namun sungguh sulit engkau ku lupa, ribuan kali aku mencoba menghapus cinta untuk mu namun ribuan kali pula cinta itu menjerat ku. Aku pasrah menanti mu dan hari ini tiada kusangka dikau datang dengan segenap cinta. Tiada ku sangka, dikau datang memberikan sekuntum bunga yang lama aku damba. Maafkan aku yang membuat dirimu dan diriku tersikasa dalam belantara kerinduan yang begitu lama. Hari ini sekuntum Edellways menjadi bukti keabadian cinta kita. Aku mencintai mu, aku juga sangat mendamba mu, mulai saat ini bawalah aku mengarungi lautan dengan biduk cinta mu".

Kata-kata itu meruntuhkan gunung-gunung kerinduan ku. Kata-kata itu membuat sukmaku hidup kembali, setelah ribuan hari raga ku serasa tanpa nyawa. Kini bidadari yang ku damba menerima cinta suci yang aku punya, kini bunga-bunga di taman asmara bermekaran jua. Sekuntum Edellway menjadi bukti kebesaran cinta. Sekuntum Edellways ahirnya mengabadikan cinta ku dengan dirinya.

Terimakasih duhai Tuhan Penguasa Semesta, terimakasih duhai Batara Guru yang mendpat karomah-Nya, terimakasih Dewi Ratna Rinjani yang berhati mulia. Sisa-sisa harap yang layu bersemi lagi dan kini cinta terpatri abadi dalam jambangan suci  yang diridhai oleh Ilahi.[] -n 01

_By. Asri The Gila_



 
KM. Sukamulia

KM. Sukamulia

Nama : Asri, S. Pd TTL : Sukamulia, 02 Januari 1985 Jenis Kelamin: Laki-laki Agama : Islam Pekerjaan : Swasta Alamat, Dusun Sukamulia Desa Pohgading Timur Kec. Pringgabaya No HP : 082340048776 Aku Menulis Sebagai Bukti Bahwa Aku Pernah Ada di Dunia

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 

Komentar Terbanyak

 

image
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan