logoblog

Cari

Tutup Iklan

Bukti Terpisah Dusta Mu

Bukti Terpisah Dusta Mu

BUKTI  Terpisah Dusta Mu Tak....creng....suara dari dalam kamar tidur yang berukuran 5 meter kali 4 meter, disusul kemudian dengan brakkkk suara bantingan

Cerpen

KM SMAN 1 SIKUR
Oleh KM SMAN 1 SIKUR
17 Desember, 2014 23:11:32
Cerpen
Komentar: 1
Dibaca: 3367 Kali

BUKTI  Terpisah Dusta Mu

Tak....creng....suara dari dalam kamar tidur yang berukuran 5 meter kali 4 meter, disusul kemudian dengan brakkkk suara bantingan pintu disusul suara.... aaaakkkkk, penghianat..... duk...duk..duk... suara hantaman tembok....disusul kembali dengan suara,....kejammmmm, hianat...., di ruang keluarga di atas hamparan hambal duduk dua orang anak satunya sudah remaja (sekitar kelas X sekolah menengah) dan satunya masih anak-anak (sekitar masih duduk di sekolah dasar) dalam kondisi ketakutan, dan cemas. Seketika keluar sesosok pria dengan wajah memerah sedang meneteskan air mata. Tampaknya sesosok pria ini bukan marah, tetapi wajah itu menampakkan kekecewaan, dan keterhinaan. 

Dengan tidak menghiraukan yang duduk di atas hamparan hambal, dia berjalan menuju ruang tamu lalu dia menghempaskan tubuhnya diatas sofa, sambil melontarkan pertanyaan “inikah makna semua ini?” (suara ini hampir tidak terdengar). Kemudian dia membaringkan tubuhnya, terlihat ada dua-tiga sisa tetesan air mata menghiasi di pipinnya. 

Beberapa saat suara dari sosok tubuh itu sudah tidak terdengar, lalu dua orang anak yang duduk di hamparan hambal itu saling berbisik, kemudian mereka melangkah dengan hati-hati menuju ruang tamu dan mendekat sosok tubuh yang terhempas di sofa yang berbaring tengadah memandang langit-langit. Kedua anak itu duduk diatas permadani sebagai alas sofa di ruang tamu, tepat di samping kaki tubuh yang berbaring itu. 

Kedua anak ini hanya berdiam diri sambil memandang sosok tubuh yang berbaring tersebut. Sekitar 15 menit dalam kebisuan seketika sosok tubuh yang terbaring di sofa itu membalikkan wajahnya, dia terperanjat sambil mengusap bekas tetesan air mata di wajahnya (seperti dia kaget). nak! (dia menyapa kedua anak itu). Ya pak! (jawab kedua anak tersebut). Kalian sudah pulang sekolah ya?, ya pak (jawab kedua anak tersebut hampir bersamaan), kemudian bapaknya bertanya lagi kepada anaknya ke dua “ Egi kamu tadi mampir di inaq kake mu ?”( kakak perempuan bapaknya). ya pak. Jawab Egi. 

Maklum selama ini setiap ibu mereka tidak ada di rumah Egi mampir di rumah inaq kakenya untuk mengambil sayur dan lauk-pauk untuk dimakan bersama di rumah setelah bapak pulang kantor dan kakanya pulang sekolah. Kebetulan kalau Egi pergi atau pulang sekolah lewat depan rumah ibu denya. Kemudian bapaknya bertanya kalian sudah makan? Belum pak jawab anak itu serempak. Lo.... kenapa belum makan ini kan sudah sore. Coba lihat jam didinding itu (sambil telunjuknya mengarah ke jam dinding itu) lihat itu jam 16.00, kalian tentu lapar sekali. Tomi menjawab itu baterai jam sudah mati sejak seminggu yang lalu pak!. Jadi sekarang jam berapa ? (tanya bapaknya). Sekarang baru jam 12.00 pak jawab Tomi. Kenapa kalian cepat pulang sekolah ? (tanya bapaknya). Tadi ada bersih-bersih kelas pak, karena lusa hari senin kami mid semester, jadi bapak guru memulangkan kami untuk persiapan mid semester. (jawab tomi), ya pak saya juga pulang lebih pagi tadi lalu saya ke rumah inaq kake, tetapi karena kak tomi jembut dan mengajak pulang makanya saya bersamaan pulang ke rumah. (jawab egi). Bapak kok tidak masuk kantor? (tanya tomi). Oh ya bapak tadi pusing sekali. (jawab bapaknya). Pak kenapa sih mama sering pergi terus pulangnya lamaaaa......sampai dua tiga minggu baru pulang, lalu setelah dua tiga hari paling betah seminggu di rumah pergi lagi!. Memangnya mama kerja apa pak ? (tanya egi), ya pak memang mama kerja dimana pak (Tomi memeperjelas pertanyaan adiknya). 

Bapaknya terdiam (dalam fikiranya si bapak “tidak mungkin saya menjelaskan masalah ini kepada anak-anak, karena anak-anak saya akan terganggu fikrannya kalau dia sampai tahu masalah saya dengan istri saya). Karena lamanya bapak terdiam. Tomi bertanya lagi “bapak punya masalah sama mama ya”? (bapaknya kaget dan terbata-bata menjawab) “ ti...ti...dak nak. Lalu kenapa tadi bapak teriak-teriak dan membanting sesuatu dalam kamar tidur membanting pintu saat bapak keluar dari kamar ? (tanya tomi). Bapak juga tadi wajahnya merah dan meneteskan air mata (kata egi). Ah tidak....(kata bapaknya sambil melemparkan senyum yang dia paksakan). 

 

Baca Juga :


Bapaknya tidak sadar kalau Tomi sudah berusia hampir 16 tahun, jadi Tomi sudah sedikitnya tahu perbedaan senyum yang seseungguhnya dengan senyum yang di paksakan, karena Tomi di sekolahnya sudah belajar teater. Jadi dia paham makna orang lagi bersandiwara dengan kejadian sesungguhnya. Bapak juga tidak memahami kalau anak keduanya sudah berumur hampi 12 tahun, karena si Egi sekarang akan naik ke kelas VI Sekolah Dasar. ........

 

ke episode berikutnya.

 



 

Artikel Terkait

1 KOMENTAR

  1. KM Sambalia

    KM Sambalia

    18 Desember, 2014

    bagus ceritanya, tapi masih penasaran utk mengetahui solusi dari masalah tsb.yang jelas ceritanya mantappp...!!!


 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 

Komentar Terbanyak

 

image
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan