logoblog

Cari

Tutup Iklan

Bukti Terpisah Dusta Mu..episode 2

Bukti Terpisah Dusta Mu..episode 2

episode dua........  Oh...ya... dimana Egi menaruh sayur dan lauk pauk dari inaq kake tadi? (tanya bapaknya ke Egi). Di meja makan pak.

Cerpen

KM SMAN 1 SIKUR
Oleh KM SMAN 1 SIKUR
18 Desember, 2014 20:47:18
Cerpen
Komentar: 0
Dibaca: 3326 Kali

episode dua........

 Oh...ya... dimana Egi menaruh sayur dan lauk pauk dari inaq kake tadi? (tanya bapaknya ke Egi). Di meja makan pak. (jawab egi). Kalau begitu mari kita makan bersama, bapak sudah lapar ini ! (bapaknya mengajak anak-anaknya makan siang). 

 Mereka menuju ruang makan di dekat dapur (dapur yang jarang ada aktifitas masak memasak di tempat ini, karena jarang sekali istrinya ada di rumah), kemudian meraka menyendok nasi di risecooker, mulai dari bapak yang mengawali diikuti oleh kedua anaknya. Mereka kemudian makan tanpa ada seorang ibu, sambil makan bapaknya memandangi anak-anaknya yang rupanya sedang lapar. Maklum kalau ibu mereka tidak ada anak-anaknya tidak ada yang sarapan hanya di berikan belanja sekolah karena bapaknya pagi-pagi sibuk juga mempersiapkan diri untuk ke kantor, sementara anaknya juga menyiapkan diri berangkat ke sekolah.

 Dikala pagi keluarga ini sepertinya dingin dalam kesunyian, bagaimana tidak? Keluarga ini kurang seorang ibu. Kepergian ibu mereka dengan alasan berusaha mencari tambahan rejeki untuk membantu suami untuk kepentingan anak-anaknya dan keluarga. Usaha istrinya sampai ke luar daerah sehingga sampai berminggu-minggu baru pulang, itupun beberapa hari di rumah dia harus pergi lagi. 

Setelah selesai makan Tomi memindahkan piring bekas makan dan Bapanya merapikan dan menyimpan kembali sisa sayur dan lauk-pauk untuk digunakan nanti ketika mereka makan malam. Sementara Egi membersihkan meja dan membuang sampah kulit sayur ke tempat pembuangan sampah di halaman kemudian bersama kakanya mencuci piring bekas mereka makan siang itu.

Sekarang sudah waktunya kita shalat zuhur, ayo kalian berwudhu! (seru bapak mereka), lalu mereka berwudhu bergantian dan melaksanakan shalat berjamaah. Kegiatan shalat zuhur berjamaah hari ini dapat dilakukan di rumah mereka, karena kebetulan bapaknya tidak ke kantor karena pusing (memikirkan perilaku isterinya yang serba aneh yang tidak masuk logika akalnya), dan kebetulan Tomi dan Egi pulang sekolah agak pagi.

 

Baca Juga :


Setelah melaksanakan shalat lalu ketus ucapan dari Tomi Oh ya pak memang mama kerja apa dan dimana?. Memangnya kalian tidak pernah tanya mama kalian? (tanya balik bapaknya). Pernah sih (jawab Egi). Jawaban mama kalian apa? (tanya bapaknya kembali). Katanya sih pergi beli dan jual pakaian. (jawab Egi). Ya beli pakaian sampai di luar daerah dan menjualnya di daerah sini pak (Tomi memperjelas jawaban yang pernah di dengar dari mama mereka). Tuh kan kalian sudah tahu kok tanya bapak lagi? (jawab bapaknya sambil bergurau). Tapi pak .... (ketika Tomi belum selesai kalimatnya). Langsung bapaknya menapihkannya. Tapi apalagi, sudah sekarang kalian istirahat dulu sana. Biar nanti setelah kalian bangun tidur, kalian bisa belajar dengan baik. kan lusa kalian melaksanakan mid semester, maksud bapak biar nilai kalian baik dan kalian bisa sukses melebihi bapak oke! Yes (sahut anak-anaknya), sepertinya sedikit terlupakan apa yang telah terjadi tadi siang yang menimpa bapak mereka.

Setelah anak-anaknya pergi ke kamar tidur mereka masing-masing, bapaknya pun beranjak meninggalkan ruang shalat menuju ruang tidurnya. Dia mengkunci pintu kamar tidurnya dan dia melihat pecahan kaca dari bingkai foto yang telah dibantingnya tadi siang, ah...biarkan sudah pecahan kaca ini nanti ku urus!!! (Bisik dalam hatinya) dia pun membiarkanya. Tidak dibersihkannya pecahan kaca itu karena dia tidak mau kalau-kalau anaknya mendengar gerincingan pecahan kaca itu, yang mengakibatkan anaknya risau kembali. Dia melangkah menuju tempat tidurnya dan membaringkan tubuhnya sambil dia menyusun bantal sebagai peganjal kepalanya, kemudian menarik guling untuk mengganjal kaki kanannya, sementara kaki kirinya lurus. 

Dalam kesendirianya bergumam dalam hatinya dengan pertanyaan sendiri. Bukankah kamu yang memaksa untuk membangun rumah semegah ini, padahal kamu sudah tahu gaji ku tidak besar?. Mana kesanggupan mu mau hidup dalam kekurangan asalkan rumah kita jadi? Mana ?.....mana? (tanya dalam hati dengan klimak naik). Se olah-olah dia sedang berdialog dengan istrinya. Lalu berlalu pemikirannya kepda kenyataan yang sedang dialami saat ini. Buktinya saat ini kamu pergi meninggalkan kami yang ada di rumah ini untuk memenuhi keegoan mu!, untuk memenuhi gaya hidup mu!, kamu tidak memegang janji mu!, kamu tidak komitmen!, kamu sulit dipercaya!, kamu pembohong!.... pembohong!..... pembohong! (teriak nya dalam hatinya). Sehingga menyebabkan echeeh....echeeh....echeeh suara batuk yang dia lontarkan.

Dia mengingat apa yang pernah diungkapkan tiga tahun lalu oleh istrinya. “pak apakah boleh saya menolong papa bekerja? biar belanja kita cukup dan kebutuhan anak-anak yang sekolah dapat terpenuhi” (pertanyaan sekali gus penjelasan istrinya). Tentu boleh!, memangnya mama mau kerja apa ? (saya memberi jawaban dan sekaligus mempertegas apa yang mau istri saya kerjakan). Saya mau usaha pakaian maksud saya jual beli pakaian pak!. (jawab istrinya). Modal kamu dapat dari mana ? (tanya saya), maaf mama saya tanyakan hal ini karena mama sudah tahu kan? dari gaji tidak mungkin bisa meminjam uang lagi, itulah sebabnya saya bertanya kepada mama. (aku melanjutkan ungkapan ku pada istriku). Ya saya tahu itu pak! (jawab istriku). Saya sudah bicara dengan kakak di luar daerah agar mengirimkan saya barang dan saya jualkan di sini. (kata istri saya), kita kan bisa dapat untung, mudaha-mudahan nanti kakak berikan kita fee juga. (penjelasan istri saya). Kebetulan kakak sudah dua tahun usaha garmen dan saya kemarin di calling sama dia (tambah penjelasan istri saya). Oh ya!, baiklah kalau begitu bapak setuju! (saya memberi dukungan). Terima kasih pak ! (jawab istri saya). Tektektektek... tektektektek.... duk,.... duk,... duk, ...duk. Suara beduk terdengar tanda waktu shalat ashar tiba (maklum di daerah saya masih ada alat tradisional yaitu beduk untuk pemberitahuan sesaat lagi akan terdengar suara azan setiap waktu shalat wajib tiba). Saya baru sadar kalau sejak tadi saya berbaring dan tidak tidur siang untuk istirahat.



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan