logoblog

Cari

Tutup Iklan

Rama dan Sekuntum Edellways (Bag. 2)

Rama dan Sekuntum Edellways (Bag. 2)

Seminggu lamanya anak muda itu larut dalam perasaan yang tiada menentu, lara hatinya tiada terobati. Kawan-kawan dan keluarga pemuda itu sangat

Cerpen

KM. Sukamulia
Oleh KM. Sukamulia
19 Desember, 2014 19:09:31
Cerpen
Komentar: 0
Dibaca: 4278 Kali

Seminggu lamanya anak muda itu larut dalam perasaan yang tiada menentu, lara hatinya tiada terobati. Kawan-kawan dan keluarga pemuda itu sangat khawatir dengan keadaannya, mereka berusaha mencari tahu tentang permasalahan apa yang ia hadapi, mereka juga berusaha mencari tahu hal apa yang menyebabkan Rama seperti itu, maklumlah Rama adalah anak yang tertutup dan sulit menceritakan masalah pribadinya kepada kawan-kawan ataupun keluarganya. Tidak ada satu orang-pun yang menemukan penyebab sehingga Rama seperti itu dan ahirnya berita tentang Rama sampai jua ke telinga Anita. Tentunya Anita sangat terkejut mendengar kabar itu sebab ia juga sudah mengenal Rama dalam waktu yang cukup lama dan bahkan Rama sudah dianggapnya sebaga kakanya sendiri.

Mendengar kabar itu, Anita bergegas untuk menemui Rama di kediamannya. Berulang kali, gadis jelita itu mengetuk pintu kamarnya namun Rama tidak jua membuka pintu pertapaan sendunya. Rama memang mengenali suara Anita tetapi ia sengaja tidak mau membuka pintu sebab di ia malu untuk bertemu sang dambaan yang telah menolak cintanya.

Sudahlah Rama, kamu tidak boleh seperti itu. Semua orang mengkhawatirkan mu, bukalah pintu kamar ini untuk ku. Kata Anita sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar pemuda itu.

Sedikitpun Rama tidak bergeming dari pojok kamarnya, ia tetap pada menyandarkan badanya pada dinding pojok kamar yang penuh makna itu. Anita juga tidak mau menyerah dengan keadaan itu, ia terus mengetuk pintu sambil memanggil-manggil nama sahabat karibnya itu, hingga ahirnya Rama menyerah dan berlahan membuka pintu kamarnya. Tidak satu katapun yang ia ucapkan, lidahnya seakan kaku, bibir manisnya seakan tidak bisa berucap apa-apa, matanya yang sayu tidak pula menatap wajah Anita, ia seolah-olah sedang berada dalam kegelapan tanpa sepercik cahaya. Selesai membuka pintu, Rama kembali menyandarkan badannya pada pojok kamar dimana ia menghabiskan waktunya setelah mendengar jawaban dari Anita.

Melihat keadaan Rama, hati Anita seperti tersayat sembilu yang begitu tajamnya. Pilu, gadis itu terharu biru, dara jelita itu sangat menyesal atas penolakannya terhadap ungkapan cinta Rama. Berlahan ia melangkahkan kaki menuju tempat duduk Rama, dengan jari-jari lentiknya gadis itu meraih tangan Rama yang masih melingkari kedua lututnya.

Sudahlah Rama, cinta bukanlah segalanya. Seharusnya cinta membuat mu kuat dan tabah, bukankah kamu sering memberitahu ku bahwa cinta adalah hiasa dunia yang tiada perlu untuk kita tangisi ataupun sesali. Bukankah kamu juga sering mengatakan bahwa persahabatan lebih berniali dari pada cinta dan bukankah kamu sering mengatakan bahwa cinta tidak perlu ditangisi sebab di dunia ini tidak ada cinta yang sempurna. Rama, kamu adalah sahabat terbaik ku, aku menjadi kuat sebab petuah-petuah suci yang pernah engkau ucapkan pada ku dan sekarang haruskah engkau terus bersedih dan mengurung diri hanya karena aku menolak perasaan mu.

Dengan suara yang begitu lembut, Anita terus memberikan semangat kepada Rama. Gadis itu tiada bosan menarik tangan Rama supaya ia mau bangun dari tempat duduknya. Namun, rasa malu tetap menyelimuti hati pemuda itu. ia betul-betul terpenjara dalam perasaan cinta yang begitu besarnya, ia betul-betul malu dengan penolakan Anita, dan ia juga betul-betul malu sebab gadis yang ia damba itu menemuinya dalam keadaan yang penuh dengan keterpurukan.

Pandanglah aku Rama, tataplah mata ku sekali ini saja. Bukankah kamu pernah berjanji untuk selalu berbagi dengan ku dalam keadaan suka ataupun duka dan dalam segala keadaan. Aku sahabat mu Rama, aku sanga menyayangi mu sebagai sahabat dan kakak ku dan tidak mungkin pula aku menjalin hubungan asmara bersama mu sedangkan engkau tahu bahwa saat ini aku masih menjalin asmara dengannya. Kata Anita dengan nada marah kepada sahabatnya yang tidak kunjung bangun dari tempat duduknya.

Mendengar kata-kata itu, berlahan Rama mengangkat kepalanya dan menujukan matanya yang sayu ke wajah gadis yang ia dambakan itu. Dipandangnya wajah Anita dengan seksama, beberalapa lamanya ia tidak berkedip memandang wajah gadis ayu yang menestakan air mata di hadapannya. Berlahan jemarinya menghapus air mata yang berlinang di pelupuk mata Anita.

Maafkan aku Nita, aku hilap. Aku betul-betul kalap oleh perasaan ku yang gila ini. Maafan aku yang diam-diam mencintaimu dan berbuat sebodoh ini sebab mendengar engkau menolak cinta ku.

Susana semakin haru ketika Anita mendekap tubuh sahabatnya itu dengan linangan air mata. Kamar pengap itu menjadi saksi betapa kuat jiwa persahabatan yang dimiliki oleh Anita dan betapa besar rasa cinta yang rama miliki untuk Anita.

Sudahlah Rama, sekarang aku sudah tahu semuanya dan aku bersyukur kamu berani mengungkapkan perasaan itu kepada ku. Aku juga mohon maaf yang sebesar-besarnya, bukan maksud ku untuk menolak cinta mu dan aku tidak pernah berniat untuk menyakiti mu namu keadaan belum berpihak kepada kita. kamu adalah sahabat terbaik ku dan kamu adalah kakak terbaik bagi ku, aku tidak mau menghancurkan persahabatan itu dengan cinta sebab itulah aku lebih memilih untuk tetap bersahabat dari pada kita harus menjalani hubungan asmara yang nantinya akan membuat kita saling membenci dan berpecah belah. Kata-kata itu ia Anita ucapkan dengan penuh kebijasanaan.

Mendengar ucapan sahabatnya, Rama semakin sedih. Kini dua anak muda itu berpeluk dalam irama ketidak menentuan. Di satu sisi Anita sangat kasihan kepada sahabat terbaiknya, di sisi lain ia tidak mau menghancurkan persahabatan yang sudah lama mereka bina dengan jalinan cinta yang umumnya bersifat sementara. Rama juga demikian, di satu sisi ia sangat mendambakan Anita untuk menjadi kekasihnya namun di sisi lainnya ia berfikir tentang persahabatn mereka. Pelik memang, masalah yang dihadapi oleh sepasang sahabat itu. Namun demikian rasa cinta yang berkecamuk di lubuk sukma Raba mengalahkan semuanya, ia tetap bertekad untuk mendapatkan cinta dari dara pujaan hatinya.

Maafkan aku Nita, kata Rama terbata-bata dengan linangan air mata.

Kamu tidak perlu minta maaf Rama, ini adalah suatu kewajaran dan kita serahkan saja semuanya kepada Sang Penguasa Kala, jawab Anita menenangkan sahabatnya.

 

Baca Juga :


Rama bangun dari tempat duduknya, air mata yang berlinang di pipinya diusap menggunakan baju yang ia kenakan. Tanganya tertuju pada tumpukan kertas buram yang telah ia corat-coret dengan rangkaian bahasa puitisnya. Puluhan helai kertas itu kemudian ia berikan kepada Anita.

Bacalah kata-kata tanpa makna yang telah aku tuliskan selama dalam persembunyian ku di kamar kelam ini, bacalah Nita. Rangkaian kata yang tertulis di kertas buram itu adalah gambaran perasaan ku yang begitu lama ku pendam untuk mu agar dikau betul-betul mengetahui tentang perasaan cinta ku yang begitu dalam.

Rama memberikan kertas itu kepada Anita. Tanpa sepatah kata, Anita menerima puluhan helai kertas itu dari tangan Rama. Satu per satu kertas itu dibacanya dengan helayan nafas panjang, sesekali butiran air mata gadis itu jatuh ke atas kertas yang ia baca. Suasana sedu sedam, tidak ada suara yang keluar dari bibir dua orang insane itu, hanya irama dengus nafas dan isakan tangis yang membuat rama kamar itu. Anita tidak sanggup lagi untuk membaca unatain kata yang tercurah di kertas itu, ia memasukkan kertas-kertas itu ke dalam tas punggung yang selalu menemaninya dari awal persahabatannya dengan Rama.

Aku tidak sanggup membaca semuanya, aku tidak sanggup Rama, kata gadis itu sambil menatap bola mata Rama yang masih berkaca-kaca.

Tidak apa-apa Nita, namun aku harap suatu saat kamu bisa membaca semuanya supaya kamu tahu betapa besar aku punya cinta untuk mu.

Aku tahu kok, aku sudah tahu semuanya tapi kita tidak mungkin untuk merubah persahabatan itu menjadi jalinan asmara.

Tidak ada sesuatu yang tidak mungkin jika Sang Penguasa Alam menghendakinya, tegas Rama sambil merangkul tangan Anita.

Ea… aku tahu, jawabnya singkat.

Aku harap suatu saat takdir akan merubah dunia ku dan dunia mu. Dengarkanlah Anita, sejak saat ini aku akan tegar menjalani hidup dengan segenap rasa yang berkecamuk dalam sukma ku. Aku tidak akan berhenti berharap untuk mendapatkan cinta mu, ingatlah Anita tegasnya!

Teruslah berharap sahabat ku, aku juga akan terus menyayangi mu sebagai sahabat dan akan menemani mu hingga waktu tidak berpihak lagi kepada kita.

Sepasang sahabat itu terlibat dalam percakapan yang syahdu, mereka terus memadu asa, asa sahabat yang berkecamuk dengan asa sang pendamba. Hari sudah menjelang senja, Rama sudah kelihatan agak tenang dan Anita juga sudah lega melihat sahabatnya. Ahirnya, Anita pamit dan meninggalkan Rama. (Bersambung) -05

_By. Asri The Gila_



 
KM. Sukamulia

KM. Sukamulia

Nama : Asri, S. Pd TTL : Sukamulia, 02 Januari 1985 Jenis Kelamin: Laki-laki Agama : Islam Pekerjaan : Swasta Alamat, Dusun Sukamulia Desa Pohgading Timur Kec. Pringgabaya No HP : 082340048776 Aku Menulis Sebagai Bukti Bahwa Aku Pernah Ada di Dunia

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan