logoblog

Cari

Tutup Iklan

Bukti Terpisah Dusta Mu episode tiga

Bukti Terpisah Dusta Mu episode tiga

episode tiga..... Istri Danasibal awalnya usaha di sekitar daerahnya, tetapi keuntungan yang di dapatkan tidak dapat mencukupi kebutuhan hidup menurut perhitungannya. Padahal

Cerpen

KM SMAN 1 SIKUR
Oleh KM SMAN 1 SIKUR
20 Desember, 2014 21:57:56
Cerpen
Komentar: 0
Dibaca: 3185 Kali

episode tiga.....

Istri Danasibal awalnya usaha di sekitar daerahnya, tetapi keuntungan yang di dapatkan tidak dapat mencukupi kebutuhan hidup menurut perhitungannya. Padahal menurut Danasibal sudah cukup jika mau hidup sederhana. Memang Danasibal seorang pegawai rendahan dan berasal dari keluarga yang sederhana sehingga terbiasa hidup sederhana, sementara istrinya seorang yang berasal dari pengusaha yang kaya terbiasa melihat harta yang cukup banyak dan menggunakan fasilitas yang serba lux. Itulah yang menyebabkan istinya tidak puas sehingga memaksa dirinya harus berusaha sampai ke luar daerah menjual pakaian yang di ambil langsung dari kakaknya. Bahkan setahun belakangan ini dia pun harus berangkat ke luar daerah untuk membeli langsung ke perusahaan tanpa melalui kakaknya lagi, dalam arti lain dia pun sudah bersaing dengan kakaknya yang dulu membantu dia mengawali usahanya. Ini semua ia lakukan demi mencapai ambisinya untuk mendapat keuntungan yang besar.

Sebelas tahun silam mereka mulai membangun rumah untuk tempat tinggal mereka, karena selama pernikahan mereka sampai memiliki dua orang anak, jika dihitung, hampir lima tahun tinggal bersama mertuanya (orang tua suami). Danasibal adalah anak bungsu dari tujuh orang bersaudara dan semua kakaknya sudah berumah tangga dan sudah memiliki rumah masing-masin dan tinggal terpisah dengan ibu mereka, adapun ibunya Danasibal seorang janda, suaminya telah meninggal waktu Danasibal masih remaja, dan ibunya sudah cukup renta. 

Ibu Danasibal melarang anaknya membuat rumah karena rumah yang dia tempati memang diperuntukan baginya. Masalah bentuk rumah itu sederhana meskipun cukup luas ukuranya, tetapi tempat rumah ibu danasibal di tengah kampung. Karena keinginan istrinya ingin memiliki rumah di pinggir jalan. Adapun alasan istrinya adalah membangun rumah di pinggir jalan bisa membuka toko untuk bisnis atau usaha. Ini wajar menjadi pemikiran istrinya, maklum dia lahir dari seorang pengusaha dan sudah terbiasa dengan kehidupanya itu. Sehingga selama dia tinggal dirumah mertuanya dia merasa terkekang. Disamping itu istri Danasibal beralasan tidak sanggup tinggal bersama mertuanya yang renta dan agak cerewet menurut Sulona (nama istri Danasibal). Sebenarnya ini sudah menjadi sunnatullah semakin tua usia manusia maka akan kembali sifat kekanak-kanakannya. Demi cintanya kepada istri dan anak-anaknya maka Danasibal mengambil keputusan untuk membangun rumah tersebut.

Danasibal membangun rumah berlantai susun dengan ukuran cukup besar, bahkan istrinya meminta Danasibal membayar arsitektur agar memiliki model rumah yang cukup lux. Mulailah Danasibal membangun rumahnya, adapun untuk pembangunan rumah itu tidak sekaligus namun bertahap, karena Danasibal seorang pegawai yang bukan seorang pejabat, sehingga mengamprah gajinya sampai tiga kali, disamping berhutang ketempat lain agar rumahnya selesai meski kehidupannya cukup menyusahkan. Semua ini dilakukan sungguh terpaksa meskipun ada persetujuan dari istrinya.

Berawal dari kondisi tersebut Sulona meras tidak cukup dengan kehidupan keluarganya lebih-lebih dia sudah memiliki anak yang juga membutuhkan biaya sebagai alasan yang ia sampaikan ke suaminya. Danasibal menyadari diri dengan kondisi seperti ini, apalagi alasan istri untuk membantu membiayai anak-anak mereka. Dengan mempertimbangannya dengan matang, Danasibal mengijinkan istrinya untuk berusaha sampai keluar daerah meskipun lebih lama istrinya di luar dari pada di rumah. Memang penghasilan yang dibawa oleh istrinya lumayan dapat membantu Danasibal untuk memenuhi kebutuhan hidupnya bersama anak-anaknya, bahkan sulona sering membelikan anaknya sesuatu yang menurut anak mereka cukup menyenangkan pemberian ibunya.

 

Baca Juga :


Malam begitu bergulir menghantar kesunyian menggiring kelelapan tidur anak-anaknya. Danasibal membersihkan pecahan kaca bingkai foto yang telah ia banting tadi siang dengan sangat hati-hati agar tidak terbangun kedua anaknya. Lalu pecahan itu dia simpan dalam lemari setelah dibungkus dengan kain putih bekas sisa potongan pembuatan baju yang sering digunakan saat dia shalat di rumahnya. 

Udara yang cukup dingin mengiringi malam ini mengantar langkah Danasibal menuju pembaringannya. Ketika dia terhempas di tempat tidurnya bagaikan halintar bergemuruh di jiwanya. Dia sangat gelisah kembali seraya terkenang kembali untaian memori histori di otaknya, yakni apa yang ibunya pernah katakan kepadanya, saat ini dia rasakan bukti apa yang terungkap dari belahan bibir lembut seorang ibu. Dulu di suatu malam, sebelum Danasibal menikahi Sulona, ibunya pernah memberikan suatu pemikiran kepada Danasibal. Nak apakah kamu mampu hidup bersama wanita yang mau kau nikahi sekarang? (tanya ibunya). Sudahlah bu! saya menikahi wanita karena saya sudah pertimbangkan, dan saya sangat mencintainya. (jawab Danasibal dengan nada sedikit merasa kecewa dengan pertanyaan ibunya). Oh ya nak!, sekarang ibu sudah tua, jadi ibu ingin kamu bicarakan juga pada dia, apakah dia mau tinggal bersama ibu. karena kamu tahu kalau saudaramu yang lain sudah berumah tangga dan mereka sudah punya rumah masing-masing, juga tempatnya jauh dari ibu ?( tanya ibunya kembali sambil menasehati anaknya). Ya bu sudah saya sampaikan. (jawab Danasibal menutupi kebohongannya dengan memeluk ibunya sambil melontarkan senyum). Tenang bu, dia wanita baik dan penurut kok! (jawaban tambahan Danasibal). Baiklah kalau begitu. (jawab ibunya). Jangan sampai kamu membuat ibu kecewa lebih-lebih sakit hati ya nak! (ibu melanjutkan kalimatnya). Ya bu! (Jawab Danasibal yang teriring nada kegelisahan di dalam hatinya). Bu.... ibu istirahat dulu sekarang karena malam sudah larut, dan besok saya kan juga mau bekerja.(permintaan Danasibal). Baik nak ! (jawab ibunya sambil bangkit mengangkat tubuhnya dari tempat duduk di atas karpet di ruang keluarga dan dia menuju kamar tidurnya). Dan Danasibal pun beranjak meninggalkan tempat pembicaraan itu menuju kamar tidurnya.

 



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan