logoblog

Cari

Tutup Iklan

Rama dan Sekuntum Edellways (Bag. 3)

Rama dan Sekuntum Edellways (Bag. 3)

Waktu terus berjalan tanpa sedektikpun dapat dihentikan, hari pengumuman kelulusan tibalah jua. Pagi-pagi sekali Rama bersiap untuk pergi ke sekolah. Dengan

Cerpen

KM. Sukamulia
Oleh KM. Sukamulia
20 Desember, 2014 21:23:28
Cerpen
Komentar: 0
Dibaca: 3456 Kali

Waktu terus berjalan tanpa sedektikpun dapat dihentikan, hari pengumuman kelulusan tibalah jua. Pagi-pagi sekali Rama bersiap untuk pergi ke sekolah. Dengan hati yang berdebar-debar anak itu menunggu pengumuman kelulusan bersama kawan-kawan seperjuangannya. Anita juga hadir pada hari itu sebab ia tidak mau melewatkan saat-saat terahir untuk bertemu dengan Rama sebab jauh-jauh sebeumnya Rama sudah bercerita bahwa tamat dari SMA, orang tuanya akan mengirimnya belajar ke luar Lombok. Waktu yang dinanti tibalah jua, dengan hati yang berdebar-debar Rama menerima pengumuman kelulusannya dan alhasil anak itu lulus.

Selesai menerima pengumuman, Anita langsung menemui Rama di depan kelasnya sebab ia sudah berjanji untuk menemani Rama coret-coretan di hari kelulusannya. Hari itu mereka menghabisakan waktu dengan berkeliling kota besama kawan-kawannya yang lain. Kini hari mulai senja, mereka sudah capek berkeliling kota sambil bersorak sorae gembira. Ahirnya mereka memutuskan untuk pulang dan Rama langsung mengantarkan Anita ke tempat kosnya.

Berat rasanya mereka untuk berpisah. Ketika Rama hendak meninggalkan kosnya, Anita memegang tangan Rama dengan erat seolah ia tidak ingin ditinggalkan. Di pandangnya wajah Rama dengan matanya yang bulat seolah saat itu adalah saat terahir mereka akan bertemu. Anita meminta Rama untuk sering mengirim kabar kepadanya, Rama-pun demikian. Mereka berjanji untuk terus menjalin persahabatan meski dalam ruang dan waktu yang berbeda.

Rama telah pulang dan tinggallah Anita yang merenungi keprgian sahabatnya. Saat itulah, Anita mulai menyadari bahwa sesungguhnya ia juga sangat mencintai Rama. Rasa sesal juga terbersit dalam benaknya, mengapa ia tidak menerima cinta Rama ketika itu namun apa hendak dikata Anita tidak mungkin akan menyatakan bahwa dirinya mencintai Rama.

Sesampai di rumah, Rama juga merasakan hal yang sama dengan apa yang dirasakan oleh sahabat karibnya itu. Pemuda berkulit putih itu menyendiri di kamarnya, seharusnya malam itu ia akan sangat bahagia sebab ia bisa lulus dengan predikat yang baik namun sayang perasaan cinta yang ia miliki untuk Anita membuat pemuda itu terkurung di dalam penjara kegelauan. Malam itu semua kisah yang pernah dilewati bersama Anita membayang dalam benaknya, masa-masa indah bersama Anita terus menghantui pikiran anak muda itu dan betul-betul larut dalam kegalauan.

Aku tidak mungkin seperti ini terus, aku tidak mungkin mengharapkan bulan jatuk ke pangkuan ku, aku harus melupakan semua itu, harus !!! demikianlah gumam pemuda itu untuk memotivasi dirinya supaya tidak terus-terusan larut dalam bayang-bayang hasrat hatinya untuk mendapat cinta dari Anita.

Beribu kali ia mencoba untuk membuang bayangan Anita dari benaknya, namun ribuan kali pula bayangan gadis itu kembali dan memenuhi ruang sukmanya. Rama terus berusaha untuk melupakan semua kisah yang telah ia lalui bersama Anita namun kisah-kisah it uterus saja bermain dalam hati dan pikirannya.

 

Baca Juga :


Pada lampu pijar ia mengadu, pada dinding-dinding kamar ia bercerita dan pada gambar-gambar yang menempel di dinding kamarnya ia berterus terang bahwa ia tidak akan pernah bisa melupakan Anita dan ia juga tidak akan pernah bisa menghapus rasa cinta untuk Anita yang telah terpahat rapi dengan tinta emas di palung hatinya.

Aku akan tetap mendambakannya, aku akan berusaha untuk mendapatkan cintanya namun bukan saat ini. Aku yakin suatu saat ia akan menerima aku sebagai kekasihnya, gumam Rama sambil terus menatap gambar-gabar saat ia masih bersama Anita.

Di sela-sela kegelisahannya itu, Rama teringat akan hasrat Anita yang ingin diberikan sekuntum Edellways oleh seseorang yang mencintainya. Kegelisahan yang diarasakannya seolah-olah terhapus oleh angin, kini Rama memahat harapan baru dalam benaknya. Ia berjanji akan mendapatkan sekuntum Edellweys dari gunung Rinjani dan akan mempersembahkan bunga itu kepada Anita. Pemuda itu kemudian memutuskan untuk tidak lagi bertemu dengan Anita sebelum ia mendapatkan sekuntum Edellweys. Rama berharap dengan sekuntum Edellweys itu ia akan mendapatkan cinta Anita.

Hari-hari teru berlari tiada sedikit berhenti, Rama menjalani hidupnya tanpa kekasih, ia menunggu waktu yang tepat untuk mendapatkan Edellweys dan cinta Anita. Sementara itu Anita juga terus berharap supaya sahabat karibnya itu menemuinya untuk sekali lagi mengungkapkan rasa cinta yang ia miliki. Sebulan setengah telah berlalu dari hari pengumuman kelulusan Rama dan sebulan setengah pula Anita terkapar dengan alunan rindu yang hampa, gadis ayu itu juga memutuskan untuk hidup tanpa kekasih sebab ia telah menyadari bahwa dirinya sangat mencintai Rama.

_By. Asri The Gila_



 
KM. Sukamulia

KM. Sukamulia

Nama : Asri, S. Pd TTL : Sukamulia, 02 Januari 1985 Jenis Kelamin: Laki-laki Agama : Islam Pekerjaan : Swasta Alamat, Dusun Sukamulia Desa Pohgading Timur Kec. Pringgabaya No HP : 082340048776 Aku Menulis Sebagai Bukti Bahwa Aku Pernah Ada di Dunia

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan