logoblog

Cari

Tutup Iklan

Rama dan Sekuntum Edellways (Bag. 4)

Rama dan Sekuntum Edellways (Bag. 4)

Malam itu purnama bersinar terang, bintang-bintang tersenyum renyah, angin malam bertiup sepoi menenangkan hati. Seperti biasa, suasana kampung halaman Rama riuh

Cerpen

KM. Sukamulia
Oleh KM. Sukamulia
21 Desember, 2014 21:19:36
Cerpen
Komentar: 0
Dibaca: 3421 Kali

Malam itu purnama bersinar terang, bintang-bintang tersenyum renyah, angin malam bertiup sepoi menenangkan hati. Seperti biasa, suasana kampung halaman Rama riuh oleh suara anak-anak yang berkejaran di bawah terang rembulan, orang-orang berlalu lalang, pasangan kekasih berjalan bergandeng-gandengan menuju pantai untuk menikmati susana purnama dan deburan ombak yang mendamaikan jiwa. Rama duduk menyendiri di dalam kamar kelam yang dipenuhi aura kerinduan, cahaya purnama menembus sela-sela dinding kamarnya, riuh suara orang yang berlalu lalang menembus liang telinganya namun itu tidak sedikitpun ia pedulikan. Hanya gambaran kenangan yang mengusik alam pikirannya, album gambar saat masih bersama Anita berulang kali ia buka. Pemuda itu menikmati malam dengan seganp rasa kerinduan.

Rembulan sudah mulai tinggi, sepertinya Rama sudah bosan menghabiskan waktu di dalam kamar, berlahan ia keluar membawa gitar yang selalu menemaninya dalam segala keadaan. Di depan teras, Rama duduk tanpa seorang teman, jemarinya berlahan memetik tali-tali senar gitar, bibirnya bergerak mengalunkan syair mengikuti irama jemarinya yang menari memetik senar gitar. Pemuda itu mencoba melepaskan kegelisahan dengan nyanyian-nyanyian syahdu namun tetap saja, ia terkapar dalam kegelisahan. Lagu-lagu sumbang mulai ia dendangkan, suaranya yang keras terus diteriakkan, senar-senar gitar dipukulnya kencang namun tetap kesepiannya tiada hilang. Hanya Anita yang terus membayang di pelupuk matanya, hanya Anita yang terus bermain di dalam pikirannya dan hanya Anita yang tergambar dalam sucinya cahaya rembulan. Semuanya kosong, hidup Rama betul-betul hampa. Pada lampu jalan ia bercerita, pada angin malam ia titip salam, pada bintang-bintang ia mengadu dan pada alam raya ia berterusterang akan kegelisahan yang ia rasakan.

Sang ayah terus memperhatikan putranya yang terasing dalam penjara kerinduan, orang tua yang bijak sana itu merasa sedih melihat putranya. Pelan-pelan sang ayah keluar dari kamar tidurnya, ia menghampiri putranya yang menyandarkan badannya pada teras rumah dengan gitar di pangkuannya. Lama ia berdiri di depan pintu sambil terus menghayati lagu-lagu kerinduan yang didendangkan oleh putranya sedangkan Rama sedikitpun tidak menyadari hal itu. Sang ayah kemudian mendekati anaknya dan berlahan beliau menepuk punggung Rama.

Anak ku, ada apa dengan mu? katanya pelan.

Rama kaget, ah… ayah bikin Rama kaget saja.

Rama berhenti bernyanyi, ia meletakkan gitar yang tadinya berada dalam pelukannya. Sang ayah kemudian duduk di sampingnya, laki-laki setengah baya itu memandang wajah putranya dengan seksama. Rama hanya terdiam dan sepertinya anak itu malu sebab ayahnya memperhatikannya dengan seksama.

Rama, ayah mengerti dan sudah tahu semuanya.

Eeee, ayah ada-ada saja, kata Rama malu-malu.

Aku adalah ayah mu Rama, seorang ayah selalu tahu dan mengerti tentang apa saja yang dirasakan anak-anaknya. Ayah tahu bahwa saat ini kamu sedang jatuh cinta, jelas sang ayah.

Tidak kok, Rama biasa-biasa saja ayah, Rama juga tidak sedang jatuh cinta, sangkal anak itu.

Heheeeheee, tatapan mata mu, dengus nafas yang kamu hembuskan dan pancaran aura wajah mu tidak bisa membohongi ayah. Ayah memang tidak bisa membaca hati mu tetapi ayah tahu semuanya.

Rama tetap tidak mau jujur kepada ayahnya, ah… ayah bisa saja, aku tidak sedang jatuh cinta kok.

Ia sudah, kalau kamu tidak mau bercerita juga tidak apa-apa kok, tapi ayah sudah tahu kalau kamu sedang merindukan Anita.

Emmmm ia ayak, aku memang sedang jatuh cinta kepada Anita namun ia tidak mau menerima cinta ku, Rama terdiam dan menundukkan kepala malu.

 

Baca Juga :


Sudahlah anak ku, janganlah kamu terus-terusan larut dalam masalah itu, cinta bukan hanya dia, dunia ini tidak selebar daun kelor, masih banyak gadis cantik yang menunggu untuk kamu cintai. Kamu tidak perlu berputus asa sebab cintamu ditolak oleh Anita.

Tapi aku sangat mencintainya ayah, kata Rama.

Penuh kasih sayang orang tua itu berkata, ayah mengerti perasaan mu itu anak ku namu ayah harap kamu jangan terlalu larut dalam kesedihan dan jika kamu betul-betul mencintainya maka berusahalah untuk terus mengejar dan mendapatkan cintanya.

Ayah setuju jika suatu saat Anita bisa menjadi kekasih ku.

Jika Anita adalah yang terbaik bagimu maka ayah juga akan sangat bahagia melihat kalian, kata sang ayah.

Rama betul-betul bahagia mendengarkan jawaban dari ayahnya, sepertinya kegelisahan yang sudah lama melanda jiwanya hilang seketika. Wajah pemuda itu berseri-seri dan bola mata yang tadinya sayu seketika bercahaya. Sang ayah juga sangat bahagia melihat putranya yang sudah tidak murung dan gelisah. Mereka terus bertukar cerita dan bahkan Rama menceritakan tentang keinginan Anita atas sekuntum Edellweys. Menedengar cerita itu sang ayah memberikan motivasi kepada putranya supaaya berusaha mendapatkan bunga Edellweys dan cinta Anita.

Purnama sudah di atas kepala dan sebentar lagi akan bergegas turun kea rah barat, tibalah waktunya untuk beristirahat. Setelah lama bertukar cerita dengan putranya, sang ayah merasa tenang untuk beristirahat demikian juga dengan Rama. Ahirnya mereka berdua masuk ke kamar masing-masing untuk menjemput mimpi dan menyongsong hidup esok pagi.

Di tempat yang berbeda Anita juga merasakan hal yang sama dengan perasaan Rama, sejak selesai menunaikan shalat Isa gadis ayu itu duduk menyendiri di halaman kos-kosannya. Hanya kertas-kertas using pemberian Rama yang menjadi temannya menikmati indah cahaya purnama di malam itu. Tulisan-tulisan yang tercoret di halaman kertas it uterus ia baca sambil membayangkan wajah sang penulis kata-kata itu. Di halam kos itu, Anita betul-betul sendiri dan hanya bertemankan perasaan yang tiada menentu. Bagaimana tidak sebab di halaman itu ia biasa menikmati purnama sambil bercerita dan bercanda manja dengan Rama namun sayang sudah hampir dua bulan ia tidak pernah bertemua ataupun berkomunikasi dengan sahabatnya itu.

Malam itu Anita betul-betul rindu kepada Rama, ia tidak tahu dan tidak pula mengeti akan perasaan yang ia rasakan itu. Sambil membaca puisi-puisi karya Rama, gadis itu bergunam dalam hatinya, apakah aku betul-betul jatuh cinta, inikah namanya rindu yang sesungguhnya dan inikah yang disebut dengan asmara? Malam itu Anita betul-betul menyesali penolakannya terhadap perasaan Rama namun ia yakin bahwa suatu saat Rama akan datang dan menyatakan cintanya kembali.

Di bawah cahaya rembulan yang gemilang, Anita larut dalam perasaan yang sama dengan perasaan yang dirasakan oleh Rama. Mereka memang berada di tempat yang berbeda namun sesungguhnya Anita dan Rama satu di dalam rasa, rasa rindu dan damba. Hingga purnama di atas kepala, Anita masih menyendiri memikirkan Rama seraya menghayati arti segenap bahasa hati Rama yang tertuang dalam kumpulan kertas usang yang ia buka di atas pangkuannya. Saat purnama condong kea rah barat, Anita masuk ke dalam kamar-nya, ia menyimpan kumpulan puisi yang tadi ia baca dengan rapi di laci lemarinya kemudian membaringkan badannya di atas dipan dan gadis itu memasuki dunia mimpi dengan segenap asa yang berkecamuk di dadanya. (to be continue).

_By. Asri The Gila_



 
KM. Sukamulia

KM. Sukamulia

Nama : Asri, S. Pd TTL : Sukamulia, 02 Januari 1985 Jenis Kelamin: Laki-laki Agama : Islam Pekerjaan : Swasta Alamat, Dusun Sukamulia Desa Pohgading Timur Kec. Pringgabaya No HP : 082340048776 Aku Menulis Sebagai Bukti Bahwa Aku Pernah Ada di Dunia

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan