logoblog

Cari

Tutup Iklan

Bukti Terpisah Dusta Mu episode 4

Bukti Terpisah Dusta Mu episode 4

Episode empat Kukruyuk....kukruyuk....kukruyuk....terdengar suara ayam bersahutan di kejauhan, menemani Danasibal dalam kegetiran dan kegalauan hatinya malam ini. Dia melihat jam beker di

Cerpen

KM SMAN 1 SIKUR
Oleh KM SMAN 1 SIKUR
22 Desember, 2014 13:05:19
Cerpen
Komentar: 2
Dibaca: 7339 Kali

Episode empat

Kukruyuk....kukruyuk....kukruyuk....terdengar suara ayam bersahutan di kejauhan, menemani Danasibal dalam kegetiran dan kegalauan hatinya malam ini. Dia melihat jam beker di meja samping ranjang tempat tidurnya, menunjukkan jam 02.45 dini hari. Rupanya dia belum tertidur sampai larut malam ini. Memang malam ini adalah malam minggu, malam minggu yang kelabu sekaligus malam yang kelam bagi seorang suami yang sering kali ditinggal oleh istrinya dalam rentang sekian lama. Kita bisa membayangkan jika seorang istri meninggalkan suami setiap bulan, dan hanya bertahan dua, tiga hari di rumah. Lalu dia pergi lagi. Ini bisa menimbulkan pemikiran yang bermacam-macam persepsi, bahkan bisa menimbulkan kecurigaan. 

Pemikiran seperti ini mulai menghantui otak Danasibal. Mulai timbul kecurigaan itu dalam otaknya seraya bertanya, apakah istri saya selama ini berusaha sungguh-sungguh, ataukah istri saya.....(dia berhenti sejenak).....apa mungkin dia sudah tidak setia kepada saya.......... (dalam otaknya lahir pemikiran), mustahil dia kan sudah memiliki dua orang anak bersama saya (kembali pemikiran kontardiksi di otaknya). Masa dia tidak memiliki rasa mencintai anaknya? (pertanyaam yang timbul dalam benaknya). Atau bisa saja karena di hidup bersama saya selama ini sepertinya tidak sesuai dengan kebiasaannya, bisa jadi. (membenarkan kecamuk pikirannya), tetapi bukankah usaha yang dijalankan ini dilakukan atas kemauannya sendiri? (mengingatkan Danasibal tentang keinginan istrinya dulu), tetapi kalau usaha seperti ini kata Sulisman (nama teman kerjanya) tidak harus meninggalkan rumah lama-lama. (Danasibal mengingat kata temannya saat dia berbincang-bincang di kantor). Kebetulan istri Sulisman juga bisnis garmen bahkan sampai membuka toko di rumahnya. (Danasibal mengingat seminggu yang lalu ada acara teman sekantor dan saat hendak pulang dia sempat mampir di rumah Sulisman). 

Dalam pemikiran ini terus berkecamuk antara kemungkinan benar apa yang dicurigai tentang perbuatan istrinya atau kemungkinan salah. Auuuuum suara keluar dari mulut Danasibal. Rupanya rasa ngantuk mulai menyelimuti dirinya, tetapi jiwanya juga terus berkecamuk, sehingga membuat otaknya berfikir bolak balik antara kebenaran atau kesalahan.

Toktok.....toktok....disusul dengan suara panggilan bapak!...pak!...pak!..... rupanya panggilan ini bersumber dari suara Egi. Seketika suara terdengar, ya...ya...ya.... ada apa?. (jawaban sekaligus pertanyaan dari dalam kamar, menggambarkan seperti suara orang panik). Rupanya Danasibal kaget dibangunkan oleh anaknya. Ia bangkit lalu tekk...tekkk suara kunci. Rupanya Danasibal langsung membuka daun pintu sambil menongolkan kepalannya seraya mengulang pertanyaannya, ada apa Egi?, kita solat subuh pak! (jawab Egi), oh ya! Ini sudah jam berapa? (tanya bapaknya), karena dia merasa baru saja lelap sehingga kelihatan bola matanya agak memerah. Sudah jam 05.00 pak ! (jawab Egi). Kakak mu di mana ? (tanya Danasibal) sudah nunggu di ruang shalat pak! (jawab Egi).

Danasibal segera mengambil kain dan masuk ke kamarnya untuk cuci muka sekaligus berwudhu untuk menjalankan shalat subuh berjamaah, bersama kedua anaknya. Disinipun terasa kesepian di hati Danasibal karena istrinya tidak ada, sudah sekian kali dia tidak shalat berjamaah dengan istrinya dalam kurun kurang lebih tiga tahun, meskipun disela-sela kurun waktu itu dia hadir tatkala dia pulang.

 

Baca Juga :


Begini perjalanan hidup yang di alamai oleh Danasibal seorang suami sekaligus ayah dari dua orang putranya setiap saat. Tetapi Danasibal adalah seorang yang sabar dan tidak pernah bertindak kasar kepada istrinya maupun kepada anaknya. Dia rela menjalankan kegetiran dalam kehidupanya, meskipun berkecamuk berbagai macam kecurigaan, dia senantiasa tidak mau menuduh isterinya secara langsung tentang kejanggalan yang terjadi selama ini menurut perasaannya. Dia selalu memohon kepada tuhan semoga apa yang dicurigakan kepada istrinya semua itu tidak benar. Begitupun harapanya kepada anaknya agar tidak mencurigai macam-macam kejelekan kepada mamanya.

Di suatu malam sekitar jam 20.45 setelah dia menyaksikan peristiwa bapaknya yang membanting pintu sambil berteriak. Si Egi menunjuk kelayar telivisi nyerocos berkata pada bapaknya, pak tempo hari bapak seperti itu ya di dalam kamar, bapak membanting foto perkawinan bapak ya? (tanya Egi). Bapaknya terdiam sejenak rupanya sangkaan anaknya benar. Kenapa bapak diam? (tanya Tomi). Berarti benar bapak membanting foto pernikahan bapak, pantas saja saya tidak melihatnya tergantung lagi di kamar bapak (Tomi memperjelas kecurigaannya ke bapaknya). Kapan kamu masuk kamar bapak tanpa izin bapak !( Danasibal menanya sambil menyampaikan kata larangan kepada anaknya). Saya tidak masuk kamar! (Tomi menyangkal tuduhan bapaknya) , tetapi saat jendela kamar bapak terpercik kotoran burung, saya mengelap daun jendela bapak, secara kebetulan jendela bapak terbuka dan tirainya menepi. (jawab tomi sambil menjelaskan peristiwa kejadian). Ya nak, maafkan bapak! (jawab danasibal sambil melontarkan kata harapan kepada anaknya).

Egi menonton sinetron di televisi tentang seorang istri meninggalkan suaminya bersama lelaki lain, Egi menyampaikan kata tanya kepada bapaknya, Jadi mama meninggalkan bapak bersama laki-laki lain selama ini, sehingga bapak membanting foto perkawinan bapak ya? . (bagai disambar petir Danasibal kaget mendengar ungkapan anaknya yang masih sekolah dasar), karena selama ini Danasibal menyangka kalau anaknya yang sekecil itu tidak memahami masalah rumah tangga. Danasibal lupa kalau sekarang jangankan anak sudah mau kelas enam, kelas tiga saja sudah mulai mengerti masalah-masalah seperti itu. Di televisi sudah banyak sinetron yang mencontoh kehidupan rumah tangga seperti yang di alami oleh keluarga mereka. Mam....mam...mamamu tidak begitu nak! (Danasibal terbata-bata menjawab pertanyaan anaknya). Sementara Tomi yang sudah remaja mulai curiga kepada jawaban bapaknya. Ia pun mulai penasaran atas apa yang mamanya lakukan selama ini. [] - 05

 



 

Artikel Terkait

2 KOMENTAR

  1. KM JONG CELEBES

    KM JONG CELEBES

    23 Desember, 2014

    apa maksukna "bukti terpisah dustamu}...anu kapang bettuanna iyyare caritata...REALITA DI ATAS DUSTA...magello iyyae judul pak daeng....


  • KM JONG CELEBES

    KM JONG CELEBES

    23 Desember, 2014

    berapa episode pak daeng ceritata.....jadikanki saja novel itu..bagus sekali ///..dari KM.MIGRASI (Km. BUGIS LOMBOK)


  •  
     

    TULIS KOMENTAR

    Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
     
    Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
     
    Tutup Iklan