logoblog

Cari

Tutup Iklan

Rama dan Sekuntum Edellways (Bag. 5)

Rama dan Sekuntum Edellways (Bag. 5)

Hari itu mentari bersinar cerah, pagi-pagi sekali Rama bersiap-siap untuk pergi mendaftarkan diri ke sebuah universitas yang ada di kota Denpasar

Cerpen

KM. Sukamulia
Oleh KM. Sukamulia
23 Desember, 2014 14:52:47
Cerpen
Komentar: 0
Dibaca: 2299 Kali

Hari itu mentari bersinar cerah, pagi-pagi sekali Rama bersiap-siap untuk pergi mendaftarkan diri ke sebuah universitas yang ada di kota Denpasar Bali. Hari itu, penutupan pendaftaran mahasiswa baru tinggal 3 hari, Rama bergegas pergi sebab sang ayah terus memaksanya untuk melanjutkan studi, ia berangkat bersama seorang kawannya yang juga hendak mendaftar bersamanya. Sore harinya Rama dan kawannya itu sampai di kota Denpasar, untuk sementara mereka tinggal di kos-kosan temannya yang juga sekampung dengan mereka.

Keesokan harinya, Rama mendaftarkan diri, anak itu membeli tes UMPTN dan mengambil jurusan sesuai dengan keinginan ayahnya, yaitu jurusan seni. Dua hari kemudian, Rama mengikuti tes bersama teman-teman lainnya, selesai mengikuti tes ia langsung pulang ke Lombok. Selama dalam perjalanan menuju pulang Ia teringat kepada pujaan hatinya. Rama sudah tidak tahan lagi untuk bertemu dengan sahabat yang dipuja-pujanya itu, bahkan ia lupa dengan janjinya untuk tidak menemui Anita hingga ia mendapatkan Edellways dari puncak Rinjani. Ahirnya ia memutuskan untuk menemui Anita jika nanti ia sampai di Lombok. Sesampai di rumah, Rama menaruh barang-barangnya dan mengganti pakaian, setelah itu ia menghidupkan motor bututnya untuk pergi menemui Anita di kos-kosannya.

Pelan-pelan Rama membuka gerbang kos-kosan yang ditempati Anita bersama kawan-kawannya yang lain. Beberapa kali ia mengucapkan salam dan mengetuk pintu kos Anita namun tidak ada juga yang menjawab salamnya. Rama kemudian bertanya kepada teman kos Anita dan katanya sudah dua hari Anita tidak pernah di sana dan bahkan selama dua hari itu Anita juga tidak kelihatan di sekolah. Mendengar keterangan dari teman kos Anita, pemuda itu bingung akan mencari sosok yang sangat ia rindukan itu. Satu-satunya jalan adalah ia harus mencari Anita ke kediamannya, bersama rindu yang begitu besarnya, Rama mengendarai motor bututnya menuju rumah Anita dan ternyata di sana juga ia hanya menemukan ibunya Anita.

Rasa rindu yang berkecamuk dalam dadanya membuat Rama semakin bingung, katanya sich Anita pergi bersama bapaknya untuk menghadiri cara pernikahan misannya yang ada di Lombok Tengah dan mereka akan pulang dua hari lagi. Mendengar keterangan dari ibunya Anita, Rama langsung pulang membawa segumpal rindu yang tidak bisa tercairkan, dengan harapan yang hampa ia mengendarai motor bututnya sambil terus membayangkan wajah wanita yang sangat ia dambakan itu.

Di sepanjang perjalanan menuju pulang, Rama terus menghayalkan sosok wanita yang ia dambakan itu, pemuda itu larut dalam imajinasi sehingga ia lupa bahwa dirinya sedang mengendara. Brukkkkkkk, Rama menabrak sebongkah batu besar yang bercokol di pinggir jalan. Anak itu terkapar di pinggir jalan, badannya berlumuran darah sebab kepala bagian depannya terbentur dengan batu tadi sedangkan motor bututnya terpental jauh dari batu yang ditabraknya. Hampir 15 menit anak itu terkpar barulah ada orang yang menemukannya sebab jalan yang dilaluinya ke rumah Anita cukup sepi, orang itu langsung membawanya ke sebuah puskesmas yang jaraknya lumayan jauh dari tempat itu sedangkan motor bututnya dititip pada sebuah bengkel yang tidak begitu jauh dari tempat kejadian.

Syukurnya Rama sudah punya KTP sehingga orang yang menemukannya bisa memberitahukan kejadian yang dialaminya kepada keluargannya di rumah. Setelah keluarganya sampai di puskesmas itu, Rama dirujuk ke Rumah Sakit Umum sebab keadaannya cukup parah. Luka di kepala bagian depannya cukup lebar, belum lagi tangan dan kakinya yang babak belur dan yang paling parah, Rama harus mengidap patah tulang pada kaki kanannya. Kejadian itu membuat Rama harus menjalani pengobatan cukup lama, tiga minggu lamanya pemuda itu menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum namun Anita tidak pernah mengetahui akan kejadian yang menimpa sahabatnya. Memang sich, selama Rama menjalani pengobatan, ia sering menyebut nama Anita, sayangnya keluarganya tidak tahu harus mencari Anita ke mana.

Tiga minggu sudah berlalu, keadaan Rama sudah agak membaik, luka-lukanya sudah sembuh dan tulang kakainya yang patah juga sudah pulih sehingga ia dibawa pulang. Di rumah Rama masih harus menjalani perawatan supaya nantinya ia tidak berjalan pincang. Dalam keadaan yang seperti itu Rama tetap saja merindukan Anita, ia selalu murung dan menyendiri di kamar tidurnya. Melihat keadaan anaknya yang seperti itu, sang ayah tetap memberikan motivasi dan memperingati Rama supaya mengutamakan kesehatannya dulu ketimbang ia terus-terusan memikirkan Anita. Untuk menghibur putranya, sang ayah dan ibu meminta Lita untuk menemani dan menghibur Rama.

Lita adalah saudara misan Rama yang usianya lebih muda satu tahun dari Rama, ea usai Lita sama dengan Anita. Sesuai dengan petunjuk dari paman dan bibiknya, Lita menemani Rama supaya ia bisa melupakan Anita. Setiap hari Lita merawat dan menghibur kakak misannya itu. Setelah seminggu menemani Rama, Lita merasa semakin dekat dengan misannya itu dan diam-diam ia menaruh rasa kepada misannya. Lita jatuh cinta kepada Rama namun ia malu untuk mengutarakan rasa itu kepada Rama. Setiap Rama bercerita tentang Anita, wajah Lita selalu masam dan selalu mengalihkan pembicaraan namun Rama belum juga mengerti akan perasaan Lita terhadapnya.

 

Baca Juga :


Setelah dua minggu menjalani perawatan di rumah, ahirnya kondisi Rama pulih total dan pengumuman hasil UMPTN juga keluar, ternyata Rama tidak lulus tes yang artinya ia tidak jadi melanjutkan studi di kotan Denpasar Bali. Lita sangat bahagia sebab mengetahui bahwa Rama tidak lulus UMPTN di Bali sebab saat itu ia sangat mengharapkan Rama untuk menjadi kekasih hatinya. Melihat Rama tidak lulus di Bali maka orang tuanya menyarankan supaya tetap melanjutkan studi pada perguruan tinggi yang ada di daerahnya namun Rama memutuskan untuk tidak melanjutkan studi.

Mendengar jawaban dari putranya, sang ayah tidak berani memaksakan kehendak namun ia tidak mau melihat putranya menjadi pengangguran. Ahirnya beliau kembali meminta Lita untuk membujuk Rama supaya ia mau melanjutkan studi. Lita yang sedang jatuh cinta kepada Rama senang sekali sebab ia punya kesempatan untuk berlama-lama bersama pujaan hatinya.

Berhari-hari Lita membujuk Rama supaya mau melanjutkan studi di salah satu perguruan tinggi yang ada di daerahnya dan ahirnya Lita bisa menaklukkannya, Rama mau melanjutkan studi pada salah satu perguruan tinggi yang ada di kota selong. Mendengar keinginan anaknya, orang tua Rama sangat bahagia, maklum–lah Rama adalah satu-satunya anak laki-laki keluarga itu. Orangtua dan kedau adik perempuan Rama juga sangat bangga kepada Lita sebab ia bisa mempengaruhi Rama supaya melanjutkan studinya.

Beberapa hari kemudian, pergi mendaftarkan diri ke sebuah perguruan tinggi yang ada di kota Selong, di sana ia mengambil jurusan Pendidikan Ilmu Sosial dan minggu depan ia harus mengikti tes untuk masuk di perguruan tinggi itu. Selama menunggu waktu tes masuk, Lita tinggal di rumah Rama sebab orang tua Rama memberinya tugas untuk memotivasi anaknya agar nantinya ia bisa lulus masuk perguruan tinggi tempat ia mendaftarkan diri. Selama itu juga Rama ditugaskan untuk mengantar dan menjemput Lita ke sekolah sebab saat itu Lita masih duduk di kelas tiga SMA. Lita dan Rama kelihatannya semakin dekat saja, itulah sebabnya Lita menganggap bahwa Rama juga memiliki perasaan yang sama dengan apa yang ia rasakan.

Ahirnya Lita memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaan cintanya kepada Rama dan sayang seribu sayang, ternyata Rama menolak cintanya. Pemuda itu hanya menganggap Lita sebagai saudara saja dan saat itu juga Rama memberitahukan kepada Lita bahwa ia hanya mencintai Anita dan akan terus berharap untuk mendapatkan cintanya. Rama juga bercerita kepada gadis manis itu bahwa suatu ketika ia akan menapakkan kaki di puncak Rinjani dan memetik sekuntum Edellweys untuk diberikan kepada Anita. Mendengar jawaban itu, Lita tentunya merasa kecewa dan langsung meninggalkan Rama, sejak itu pula ia tidak mau lagi menemani Rama dan berpamitan untuk pulang kepada paman dan bibiknya. Orang tua Rama yang tidak mengetahui apa-apa tentang mereka berdua mengizinkan Lita untuk pulang dan ia juga menyuruh keponakannya untuk sering-sering bermain ke sana dan Lita-pun pulang dengan perasaan kecewa sebab jawaban Rama atas perasaan cintanya. (Nantikan Bagian Berikutnya,,,hehee) - 05

_By. Asri The Gila_



 
KM. Sukamulia

KM. Sukamulia

Nama : Asri, S. Pd TTL : Sukamulia, 02 Januari 1985 Jenis Kelamin: Laki-laki Agama : Islam Pekerjaan : Swasta Alamat, Dusun Sukamulia Desa Pohgading Timur Kec. Pringgabaya No HP : 082340048776 Aku Menulis Sebagai Bukti Bahwa Aku Pernah Ada di Dunia

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 

Komentar Terbanyak

 

image
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan