logoblog

Cari

Bukan Sakit Biasa.1

Bukan Sakit Biasa.1

Aku, Perawat dan Dokter Sama-Sama Bingung KM. Sukamulia – Sabtu malam (25 April 2015) selepas merayakan ualang tahun ke-4 M. Tegar Wirama

Cerpen

KM. Sukamulia
Oleh KM. Sukamulia
30 April, 2015 17:39:24
Cerpen
Komentar: 0
Dibaca: 7936 Kali

Aku, Perawat dan Dokter Sama-Sama Bingung

KM. Sukamulia – Sabtu malam (25 April 2015) selepas merayakan ualang tahun ke-4 M. Tegar Wirama Firdaus, saya dan segenap keluarga berkumul di kediaman saya. Saya masih ingat betul, betapa malam itu kami sangat bahagia dan di tengah-tengah kebahagiaan itu kami sekeluarga meminta Suhardi (kakak misan saya)  untuk mendongeng. Atas permintaan itu, Suhardi membawakan sebuah dongeng yang berjudul “Pengembaraan Srigading”.

Saya tidak mau melewatkan dongeng itu begitu saja sebab dongeng Pengembaraan Srigading adalah dongeng pavorit kami di waktu kecil. Hampir setiap malam, ayah mengulang dongeng itu sebagai pengantar tidur saya dan saudara-saudara saya. Sayangnya, ahir-ahir ini dongeng tersebut sudah dilupakan oleh sebagian besar warga kami di Sukamulia. Itulah sebabnya saya tidak menyianyiakan kesempatan saat kanda Suhardi mengisahkan isi dongeng dengan kronologis dan lengkap.

Ketika Suhardi bercerita, diam-diam saya menulis dongeng yang ia ceritakan itu dan bahkan bagian pertamanya adalah tulisan terahir saya di halaman Kampung Media pada beberapa hari yang lalu. Dongeng “Pengembaraan Srigading” yang dikisahkan oleh kanda Suhardi menemukan ending-nya pada pukul 23.30 Wita.

Pukul 23.45 Wita, Suhardi dan keluarga yang lainnya berpamitan. Selepas kepergian mereka, saya masuk ke kamar tidu dan langsung membaringkan badan. Tidak seperti biasanya, malam itu saya langsung tertidur pulas. Entah karena telah mendengar dongeng dari kanda Suhardi ataukan mungkin karena saya memang betul-betul letih sebab sejak pagi saya melakukan perjalanan yang cukup jauh dan melelahkan.

Saya tidak salah ingat, sewaktu saya tidur pulas, saya bermimpi seseorang dengan wajah garang menghampiri saya dan langsung menghunjamkan mata tombak pada bagian kiri dada saya. Beberapa kali orang itu menghunjamkan mata tombaknya dan saya langsung terbangun sambil merengek kesakitan.

Seharusnya saat saya terbangun rasa sakit itu tidak terasa lagi. Namun saat saya terbanun saya merasakan hal yang sangat berbeda, dada saya terasa sangat sakit dan rasanya masih dihunjami tobak berulang-ulang, kepala saya juga sangat pusing, sedangkan badan saya terasa sangat panas. Hendak berteriak, namun nafas saya tidak bisa keluar. Dalam keadaan itu saya hanya ingat Syhadat dan AL-Fatihah serta kalimat Lahualawalakuataillabillah.

Kalimat-kalimat dan ayat itu hanya saya baca di dalam hati sebab saya tidak bisa berucap nyaring, pasalnya lehersaya terasa dicekink dan dada saya terasa ditusuk-tusuk. Selepas mengucapkan kalimat-kalimat toyibah itu, saya bisa bergerak dan langsung menyalakan lampu. Saya melihat jam sudah menunjukkan pukul 02.32 Wita. Dengan rasa kesakitan yang tidak karuan, saya bergegas membangunkan istri saya yang menemani kedua putra saya tidur di kama-nya.

Hadian Sartika (istri saya) kaget dan merasa panik melihat saya meronta-ronta kesakitan. Tanpa banyak bertanya dia langsung membuka pintu dan keluar memanggil ibu dan saudara-saudara saya yang tinggal di rumah lainnya. Mereka semua kebingungan melihat saya yang meronta-ronta sambil memegang dada saya yang terasa ditusuk secara terus menerus. Setelah semuanya berkumpul di dekat saya, saya meminta Badri (adik saya) untuk memijit punggung saya. Setelah dipijit, rasa sakit di dada saya agak mendingan dan saya meminta ibu beserta saudara-saudara saya kembali beristirahat.

Sekitar 30 menit saya tertidur, sosok yang tadi kembali lagi dan dengan garangnya ia menusukkan mata tombak-nya pada bagian kiri dada saya. Saya kembali meronta-ronta kesakitan dan terbangun dari tidur pulas yang sebentar itu. Rasanya semakin sakit, saya hampir tidak bisa bernafas sebab alur pernaafasan saya serasa dihalangi oleh sesuatu yang cukup besar. Melihat hal itu, ibu dan saudara-saudara saya berkumpul lagi. Mereka bingung, akan memberi saya obat apa.

Setelah selesai shalat Subuh, Kadri dan Badri langsung membawa saya ke Puskesmas Batuyang. Sesampai di sana, saya langsung dibawa ke ruang IGD, di sana seorang perawat muda memeriksa saya. Sambil memegang-megang tangan saya, perawat itu berkata, "darah bapak normal, 110, setelah itu ia melontarkan beberapa pertanyaan dan saya langsung menjawabnya. Perawat itu kebingungan mendengar keterangan saya yang mengataan bahwa ulu hati saya terasa ditusuk-tusuk, saya kesulitan dalam bernafas dan kepala saya sangat pusing. Namun demikian, tidak lama berselang, perawat muda itu membawakan saya tiga butir obat, Antasida Doen, Dexametason, dan Ibufropen.

 

Baca Juga :


Ketiga butir obat itu saya minum, namun sedikitpun rasa sakit yang saya rasakan tidak berkurang. Saya dan kedua orang saudara saya masih bingung dengan penyakit yang menimpa saya. Sekitar pukul 06.45 Wita, perawat tadi menanyakan keadaan saya dan saya memberi tahunya keadaan yang saya rasakan. Sambil manggut-manggut ia berkat,” iatirahat sudah pak, nanti bu dokter yang periksa lagi”.

Hingga pukul 07.30 Wita Saya masih tergeletak di ranjang perawatan ruang IGD, namun si perawat masih bingung untuk memberikan tindakan. Sambil berbaring menahan rasa sakit, saya terus melihat jam yang tergantung di atas Rajang tempat saya berbaring.  Pukul 07.53 Wita, ibu dokter datang jua, beliau menghampiri saya dan bertanya, “bapak sakit apa ?”, ”sakit dada bu”, jawab saya sambil menunjukkan bagian yang sakit. “Sejak kapan sakit-nya ?”, Tanya buk dokter, “sejak pukul setengah tiga tadi bu”, jawab saya.ibu dokter bertanya lagi, “Bapak merasa mual-mual ?,”, “tidak bu”, jawab saya sambil merintih kesakitan. “Terus bapak sudah minum obat ?”, “sudah bu”, jawab saya. “kapan ?”, tadi sekitar jam setengah enam”. “Terus bagaimana reaksinya”, “rasa sakit di dada saya tidak berkurang bu”, jelas saya. Sambil kebingungan ibu dokter menyuruh saya beristirahat dan belum berani mengambil tindakan untuk saya.

Pukul 08.30 Wita, seorang perawat laki-laki menghampiri saya lagi. Ia memeriksa saya sambil melontarkan beberapa pertanyaan yang tidak jauh berbeda dengan apa yang telah dilontarkan oleh ibu dokter. Mendengar keterangan saya, perawat itu juga bingung dan hanya menyuruh saya beristirahat d Rajang itu seraya menunggu ibu dokter melakukan tindakan pengobatan untuk saya.

Setelah perawat itu meninggalkan saya, Kadri berkata, “sudah dua orang perawat dan satu orang dokter yang memeriksa, tetapi mereka belum jua memberikan tindakan. Sepertinya mereka bingung terhadap penyakit mu”, ujar saudara tertua saya. “Entahlah kanda, endatr dah kita lihat… kalau sampai jam 09.00 saya tidak diapa-apakan, ea bawa saja saya pulang. Nanti kita berobat di tepat lain sebab adik sudah tidak tahan dengan rasa sakit ini”, jawab saya.

Pukul 09.00 Wita tiba jua, seorang perawat perempuan menghampiri saya dan bertanya, “bagaimana perasaan bapak ?”, saya langsung menjawab, “saya bingung sebab sudah tiga kali saya diperiksa namun saya hanya disuruh beristirahat di tempat ini tanpa ada tindakan apapun dari teman-teman ibu”. Dengan raut wajah yang bingung, perawat muda itu menjawab, “Ia saya juga bingung pak, mungkin mereka bertiga masih mendiskusikan hasil diagnose mereka terhadap penyakit bapak. Bakap yang sabar ea, istirahat saja di sana sambil menunggu hasil diagnosanya”, katanya cengengesan dan kemudian berlalu.

Sejak pukul 05.42 Wita hingga pukul 09.17 Wita saya terbaring di ranjang perawatan ruang IGD itu, namun ibu dokter dan perawatnya tidak kinjung memberikan tindakan perawatan kepada saya. Melihat hal itu saya dan saudara saya tidak marah, namun kami bingung dan bertanya-nya. “Sebenarnya penyakit apa yang menimpa saya ?”. Ketimbang berlama-lama pusing di tempat itu, saya mengajak Kadri dan Badri untuk pulang dan setelah beberapa menit berdebat bersama ibu dokter dan perawatnya, ahirnya Kadri dimintai untuk membayar uang administrasi sebesar Rp. 20.000 dan barulah mereka memberikan izin untuk pulang.

Ahirnya, kedua orang saudara saya itu membawa saya pulang dengan perasaan kecewa sambil tertawa terpingkal-pingkal sebab saya, perawat dan ibu dokter serta mereka berdua kebingungan akan penyakit apa yang sesungguhnya membuat dada saya terasa ditusuk-tusuk. Tepat pukul, 09.42 Wita kami sampai di rumah. Kami menceritakan hal itu kepada keluarga dan merekapun ikut bingung. Sedangkan saya masih meronta-ronta kesakitan sebab dada saya terasa seperti ditusuk secara terus menerus.

Heheeeeee, jika anda bingung dengan penyakit apa yang membuat dada saya terasa ditusu-tusuk maka nantikanlah kisah selanjutnya. Insyallah anda akan menemukan jawaban akan kebingungan perawat, ibu dokter dan kami sekeluarga. () -01

_By. Asri The Gila_



 
KM. Sukamulia

KM. Sukamulia

Nama : Asri, S. Pd TTL : Sukamulia, 02 Januari 1985 Jenis Kelamin: Laki-laki Agama : Islam Pekerjaan : Swasta Alamat, Dusun Sukamulia Desa Pohgading Timur Kec. Pringgabaya No HP : 082340048776 Aku Menulis Sebagai Bukti Bahwa Aku Pernah Ada di Dunia

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 

Artikel Populer

Komentar Terbanyak

 

image

Tipi Kampung

 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan