logoblog

Cari

Tutup Iklan

Dewi Rengganis Bag. 3

Dewi Rengganis Bag. 3

KM. Sukamulia - Di Gunung Argapura, Datu Kiyai alias Batara Guru kebingungan melihat tingkah laku puteri tunggalnya yang tidak bosan-bosan melalng-lang

Cerpen

KM. Sukamulia
Oleh KM. Sukamulia
12 November, 2015 22:49:51
Cerpen
Komentar: 0
Dibaca: 14168 Kali

KM. Sukamulia - Di Gunung Argapura, Datu Kiyai alias Batara Guru kebingungan melihat tingkah laku puteri tunggalnya yang tidak bosan-bosan melalng-lang buana. Setiap pagi, Rengganis pergi menyusuri angkasa dengan kemampuan terbangnya, sementara sang ayah tidak pernah mengetahui ke mana arah dan tujuan puteri kesayangannya itu. Dikisahkan bahwa, selesai menunaikan shalat subuh, Rengganis selalu berpamitan kepada ayahandanya dan ia akan kembali ke pertapaan ayahnya pada waktu menjelang shalat magrib. Ia hanya memberi tau ayahandanya bahwa ia akan bermain-main dan menyaksikan kebesaran Allah Yang Maha Kuasa yang tersirat di dalam segala ciptaan-Nya sambil mencari bunga yang akan dijadikan sebagai makanannya. Hal itu membuat Batara Guru betul-betul bingung atas tingkah puteri kesayangannya yang melang-lang buana seperti anak laki-laki.

Di tengah kebingungan itu, di suatu sore Batara Guru menunggu ke pulangan Rengganis. Ketika Rengganis pulang dari pengembaraannya, sang ayah memanggil puteri nan jelita itu. Dengan perkataan yang halus lembut, Batara Guru memanggil Rengganis supaya duduk di sampingnya. “Duhai anak ku mirah ayu, ke sini-lah, duduklah di samping ayah, manik sang pandita kepada puterinya. Rengganis segera mendekat ke samping ayahnya, dengan sifatnya yang manja, Rengganis bersimpuh dan merebahkan kepalanya di pangkuan ayahnya.

Batara Guru, berkata lirih, “duhai anak ku sayang, dari mana saja dikau berkelana. Dengan nafas teratur, beliau melanjutkan pembicaraan, “anak ku, setiap hari ayah mu ini kesepian, ke mana saja dikau berkelana ?”.

Rengganis menjawab pertanyaan ayahnya dengan bahasa yang halus lembut, “duhai pangeran datu gusti, ayahanda tahu-kan bahwa ananda telah pergi berkelana untuk menyaksikan kekuasaan Allah Yang Maha Kuasa supaya rasa syukur di kalbu ini terus tertanam dan berkembang subur. Sejenak Rengganis terdiam dan kembali lagi bercerita kepada ayahandanya, “duhai gusti batara, gusti juga telah mengetahui bahwa ananda berkelana untuk mencari sari pati bunga yang manis dan dalam perkelanayan itu, ananda telah sampai di taman Datu Mekah”.

“Hamba senang sekali berkelana, hamba berjalan di atas awing-awang sambil menikmati kuasa Allah nan agung dan sampailah hamba di Taman Mekah yang disebut dengan nama Taman Sari yang konon itu adalah milik Pangeran Mekah”. Sambil tersenyum girang di pangkuan ayahnya, Rengganis terus bercerita, “tamain itu sangat indah, mungkin seperti itulah rupa syurga, hamba senang sekali bermain di sana, di sana hamba mandi di telaga yang airnya seperti minyak”.

Mendengar cerita puterinya, sang Batara Guru mengangguk-anggukkan kepala, sedang Rengganis terus bercerita. “Duhai gusti agung, hingga saat ini, belum pernah bertemu dengan pemilik taman itu, hamba merasa penasaran, bagaimana rupa pemilik taman tersebut”.

Sang Batara Guru mengelus-elus dada mendengar cerita dari puterinya, kemudian beliau berkata, “duhai puteri kun an ayau, ayah sangat merasa heran, kamu adalah seorang perempuan, sedang perjalanan mu melebihi perjalanan laki-laki”. Sambil mengelus-elus rambut puterinya yang terurari di pangkuannya, Batara Guru melanjutkan kata, “duhai anak ku sayang, tidak bisakah kamu berhenti berkelana, diamlah dikau di sini, di samping ayah mu yang telah rapuh ini. Penuh harap, Batara Guru meminta, “anak ku sayang, dengarkan-lah perkataan ayah mu ini !”.

“Ayah tidak bisa membayangkan, jika dikau ditemukan oleh pemilik taman itu, ayah tidak mau puteri kesayangan ayah ditangkap dan disiksa sebab pemilik taman itu adalah pangeran tunggal Datu Mekah yang tersohor, jelas Batara Guru sambil terus mengelus-elus kepala puterinya. Dengan aura wajah yang terlihat sangat cemas dan sedih, Batara Guru melanjutkan ceritanya, “Datu Mekah itu bernama Jayengrana yang dijuluki Datu Muter Bumi, istrinya adalah wanita yang sangat tersohor, namanya Ratu Kelan Suwara dan mereka mempunyai putra tunggal yang bernama Raden Repatmaja yang tersohor sebagai putera mustika tanah Mekah”.

 

Baca Juga :


Mendengar cerita dari ayahnya, Rengganis langsung bangkit dari pangkuan ayahandanya. Wajahnya berseri-seri dan ia berkata, “ananda akan pergi lagi ke Taman Sari itu, , biar-pun ananda ditemukan, anada tidak takut, sedikit-pun anada tidak merasa takut sebab anada ke sana hanya untuk mandi dan menikmati indahnya sausana Taman Sari, masak pemiliknya harus marah”, katanya sambil menatap wajah ayahandanya yang terlihat cemas.

Mendengar perkataan Rengganis, Batara Guru semakin cemas dan meminta puteri kesayangannya untuk tidak lagi berkelana di Taman Sari. Dengan suara yang manja, Rengganis melanjutkan perkataan, “ampuni hamba ayahanda, biarpun dia adalah seorang raja yang tersohor, hamba tidak takut, meskipun beliau mengajak hamba bertarung, sedikitpun hamba tidak takut, sebisa mungkin hamba akan menghadapinya yang meskipun ia mengajak ananda bertanding di atas tanah ataupun di atas awang-awang”.

“Sekalipun Repatmaja dan bala tentara Mekah menyerang hamba hingga tempat ini, ananda tidak akan surut menghadapinya”. Batara Guru terheran-heran mendengar perkataan puterinya, dengan suara yang halus lembut beliau bertitah, “duhai puteri tunggal ku, ananda adalah Penghulu Alam Arwan (alam gaib), ayah minta dengan teramat sangat, supaya ananda tidak lagi berkelana ke Taman Mekah”.

“Taman bukanlah taman kesusahan, ayahanda tidak perlu khawatir, tidak akan terjadi apa-apa yang walaupun ananda berkunjung lagi ke taman tersebut, jawab Rengganis atas perkataan ayahandanya. “Pandita, sekarang ananda pamit, hamba hendak pergi untuk mencari sari bunga sebab perut ananda terasa lapar sekali”, kata Rengganis sambil bersalam dan mencium tangan ayahandanya. Dalam sekejap, Rengganis melesat ke awang-awang sedangkan Batara Guru tidak bisa berkata apa-apa, beliau hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil menatap bayang puterinya yang melesat di awing-awang.

Setelah Rengganis tidak terlihat lagi, Batara Guru turun ke telaga kuri. Di sana beliau mensucikan badannya. Setelah itu, beliau mengambil air wuduk, kemudian kembali ke pertapaannya dan melaksanakan shalat hajat sebanyak dua rakaat. Setelah shalat dua rakaat, Batara Guru langsung salam dan melaksanakan dzikir serta memohon ampun kepada Allah Taala atas perbuatan puteri kesayangannya. Beliau juga bermohon supaya, Allah senantiasa melindungi dan memberikan kasihsayang-Nya kepada puteri tunggalnya. Bersambung....

_By. Asri The Gila_ [] - 05



 
KM. Sukamulia

KM. Sukamulia

Nama : Asri, S. Pd TTL : Sukamulia, 02 Januari 1985 Jenis Kelamin: Laki-laki Agama : Islam Pekerjaan : Swasta Alamat, Dusun Sukamulia Desa Pohgading Timur Kec. Pringgabaya No HP : 082340048776 Aku Menulis Sebagai Bukti Bahwa Aku Pernah Ada di Dunia

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 

Komentar Terbanyak

 

image
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan