logoblog

Cari

Hijrah dari Asam ke Lombok

Hijrah dari Asam ke Lombok

Mentari hadir sangat sumringan dipagi Jum’at tanggal 27 Juni 1997. Hari dimana dia akan meninggalkan tempat kelahiran. Saat itu umurnya baru

Cerpen

KUSNADIN,S.Pd
Oleh KUSNADIN,S.Pd
18 Oktober, 2016 10:58:25
Cerpen
Komentar: 2
Dibaca: 18400 Kali

Mentari hadir sangat sumringan dipagi Jum’at tanggal 27 Juni 1997. Hari dimana dia akan meninggalkan tempat kelahiran. Saat itu umurnya baru genap 13 tahun 2 bulan 6 hari.  Tepat jam 14.00 wita dia memulai perjalanan untuk menggapai cita-cita “bismillahirrahmanirrahim” ucapnya dalam hati yang tak terucap. “Selamat tinggal Ibu, selamat tinggal kenangan masa kecil” demikian gumamnya dalam hati. Awal yang sangat berat dengan umur yang masih amat belia,  namun semua sudah menjadi pilihan hidup. Maju siap menghadapi segala cobaan dan ujian di tanah rantauan atau diam dengan mewarisi cangkul dan parang untuk meneruskan hidup.

Dengan modal ijazah SD dan nilai yang sangat memuaskan, tidak sulit mencari SMP di Mataram saat itu. Pada tahun itu (1997) dengan nilai 37.86 bisa masuk SMPN 1 Mataram atau SMPN 15 Mataram di jalan pejanggik kota mataram. Namun dia dipilihkan sekolah yang sangat jauh yaitu SMPN 14 mataram di jalan brawijaya. Untuk menuju sekolah dari tempat tinggal harus jalan kaki lebih kurang 1 km, lalu naik bemo kuning dan jalan kaki lagi dengan jarak lebih kurang 1 km. Semua dia jalani, karena dia yakin apa yang pilihkan oleh keluarga yang terbaik dan dengan pertimbangan yang sangat matang. Semua ditentukan oleh keluarga karena saat itu dia belum dimintai pertimbangan apapun. Hal itu sangat masuk akal karena saat itu dia bahasa Indonesia belum lancar, wilayah belum kenal dan segudang alasan lainnya. Di tempat dia SMP saat ada guru yang menjadi walinya sehingga diharap beliau bisa langsung mengontrol perjalanan dan proses sekolahnya.

Waktu berputar dia harus mengikuti penataran P4 atau yang dikenal dengan MOS sekarang. Semua berjalan dengan baik meski terasa berat untuk mengikuti semua pelajaran orang kota. Dia harus mengikuti pola belajar yang sebelumnya tidak pernah lakukan, dengan bahasa yang tidak dia paham makna dan artinya, semua bisa dilewati meski harus banyak diam dalam pergaulan di sekolah. Namun hari itu pelajaran Bahasa Indonesia pada jam terakhir dengan guru ibu Salhaeni. Dia disuruh membaca teks pada buku paket kelas 1 SMP yang kulitnya biru langit saat itu. Dalam buku tersebut ada teks yang mengatakan “pesan-pesan” dia membaca (“pesan-pesan” dengan “e” logat orang bima). Dia merasa bingung apa yang salah dari membaca ternyata “e”. Dengan kelajadian itu membuat dia takut, takut untuk bergaul, takut ketika dia disuruh membaca. Saat itu dia hanya ingin cepat tamat dari sekolah tersebut dan akan kembali dengan mengingat kenangan itu.

Tiga tahun berjalan tak terasa tahun 2000, itu artinya waktu ujian “EBTANAS” sudah dekat dan tahun itu pertama menggunakan lembar kerja computer (LJK). Jauh dilubuk hati yang paling dalam dia mengatakan, “aku akan tunjukan jika aku mampu untuk bersaing mendapat nilai yang baik”. Ujian berjalan dengan lancar dia satu ruangan dengan teman-teman yang kelas yang berbeda karena saat itu nomor ujian diurut berdasarkan abjad nama. Dia duduk dikelilingi oleh, kadek, ketut dan komang, dia hanya terdiam ketika mereka menggunakan bahasa yang tidak dia pahami. Pada akhirnya dia mendapat NEM (Nilai Ebtanas Murni) 33,95 dan dia masuk sepuluh besar dari 248 peserta. Dengan modal nilai tersebut dia masuk SMUN 3 mataram yang sekrang dikenal SMAN 3 Mataram.

Masa suram yang bayangi oleh “pesan-pesan” dengan “e” logat orang bima menghantui pikiran dan perasaan saat itu. Namun dengan niat bahwa dia harus bisa tampil, dia berusaha buang logat  “e”  orang bima dengan menggunakan bahasa sasak. Dengan modal bahasa sasak yang terbatas lidah dia mulai mampu membedakan “bengkel” tempat perbaiki kendaraan dengan “bengkel” nama sebuah desa. Di SMA dia mulai berani bergaul dan mengikuti ektrakurikuler “remus” (Remaja Mushala”. Seiring berjalannya waktu nama “remus” (Remaja Mushala” beralih menjadi “Remas” (Remaja Masjid). Nama berubah karena secretariat kami bukan lagi mushala tetapi masjid.  Pada kegiatan ekstra ini kami belajar untuk berbicara, dengan menjadi MC, memberikan Kultum bahkan dijadwalkan untuk menjadi Khatib. Karena saat itu SMA 3 satu-satunya sekolah yang memiliki masjid dan mewajibkan siswa siswinya untuk shalat jum’at disekolah. Semua ini berkat perjuang bapak kepala sekolah (HR. Sribintoro Hadiwijoyo, S.Si) yang mengutamakan kemampuan IMTAQ disekolah tersebut. Pada masa ini dia juga belajar mengelola organisasi secara alami dengan berbagai kegiatan yang diadakan disekolah. Selama tiga tahun di SMA kami wajib terima puasa diseklah dengan kegiatam pesantren kilat selama satu minggu. Dari kegiatan kami belajar mengatur teman-teman siapa yang harus siapkan sahur, berbuka, memberikan materi dan sebagainya. Tiga tahun itu menjadi pengalaman yang berharga buat dia dan teman-teman saat itu, hingga pada akhirnya kami semua sibuk dengan urusan kuliah masing-masing.

Kini bulan Oktober 2016, kurang dari setahun akan menggenapkan dua dekade dia di pulau ini. Masa SMP yang penuh keluguan akan tetap dikenang karena itu awal dari sebuha perjuangan. Masa SMA yang indah dan dipenuh pelajaran berharga akan menjadi kenangan dan masa kuliah yang penuh dengan idealism akan menjadi sejarah. Semua masa itu menjadi pelajaran saat ini, kapan kita harus diam, dimana kita harus berbicara lantang dan kapan harus kita idealis.

Dari perjalanannya ia memetik beberapa pelajaran, pertama bahwa semua yang dikerjakan harus dengan niat yang tulus dan ikhlas. Kata tulus hampir selalu berpasangan dengan ikhlas karena ketika kita tulus melakukan sesuatu insaallah kita ikhlas. Sebagaimana yang pernah dikatakan oleh almarhun dai sejuta umat, bahwa ikhlas itu seperti kita membuang kotoran. Setelah kita buang jangankan menceritakan warna, bentuk dan baunya kepada orang lain menolehpun tidak. (KH. Zaenudin MZ).  

 

Baca Juga :


Kedua, untuk mendapatkan sesuatu harus melewati sebuah proses yang akan menjadi sejarah. Sejarah mencatat bahwa tidak ada satu orangpun yang berhasil diberbagai bidang ilmu tanpa melewati sebuah proses. Semua membutuhkan perjuangan dan perjuangan menuntut kita untuk berkorban, baik itu korban harta, tenaga maupun waktu.

 Ketiga, untuk menghasilakn sesuatu yang berkualitas baik membutuhkan waktu yang lama. Hal ini yang pernah dia alami tulisan ini keluar setelah melewati waktu hampir dua puluh tahun dan setelah kita mendapatkan hasil serta diakui oleh lingkungan kita. Ini juga harus menjadi catatan untuk dia dan teman-teman pembaca yang menjadi pendidik, bahwa anak didik kita akan menikmati hasil didikan itu setelah sepuluh, dua puluh atau tiga puluh tahunyang akan datang. Untuk itu teteplah mendidik dengan hati untuk menanam benih-benih yang baik pada anak didik kita. Yakin dan percaya akan tumbuh anak didik yang baik menjadi kebangkan orang tua dan keluarganya kelak.

 Yang terakhir bahwa ketulusan, keikhlasan, perjuangan dan waktu yang panjang itu akan membuahkan hasil yang manis jika kita mendapat ridho dari kedua orang tua. Sebaliknya jika semua proses dijalani semuan namun ridha orang tidak kita dapatkan mungkin berhasil tetapi tidak manis seperti kata seseorang “dia senang tetapi dia tidak bahagia”. Agama kita mengajarkan bahwa ridha Allah SWT tergantung dari ridha kedua orang tua.

(kusnadin, 4 Oktober 2016) -01



 
KUSNADIN,S.Pd

KUSNADIN,S.Pd

dari Rite hijrah ke pulau seribu masjid 27 Juni 1997

Artikel Terkait

2 KOMENTAR

  1. rato rizal

    rato rizal

    24 Oktober, 2016

    good job man, kita tunggu karya selanjutnya.


  • KM. BEGIBUNG

    KM. BEGIBUNG

    20 Oktober, 2016

    Luar Biasa Pak Kus. sebuah tulisan mengandung pesan pendidikan yang sangat mendalam... Nulis truuussss...


  •  
     

    TULIS KOMENTAR

    Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
     
    Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
     
    Tutup Iklan