logoblog

Cari

Tutup Iklan

Empat Kecoak Jantan Ku "4th Slide" Bagian Empat

Empat Kecoak Jantan Ku

KM. POKER_Kutemukan diriku pada padang yang tandus nan gersangbutir-butir keringat yang bercucuran melalui balik helaian kain yang ku kenakan. Lima meter

Cerpen

KM. Pondok Kerakat
Oleh KM. Pondok Kerakat
05 Desember, 2016 14:25:05
Cerpen
Komentar: 0
Dibaca: 13370 Kali

KM. POKER_Kutemukan diriku pada padang yang tandus nan gersangbutir-butir keringat yang bercucuran melalui balik helaian kain yang ku kenakan. Lima meter di depan rumah, terdapat pohon besar yang begitu rindang untuk berteduh. Ku langkahkan kaki menuju pohon itu yang berada di tepi sungai. Angin dan kesejukan menghampiri badan kurus ku yang ditutupi oleh kain berwarna putih yang ku kenakan. Air sungai yang mengalir pada sela-sela bebatuan menghampri kedua daun telinga ku dengan sengaja.  Dari kejauhan, ku pandangi tumbuhan ilalang yang bertengger di atas bebatuan kokoh dengan indahnya bergoyang mengikuti terpaan angin yang meniup batang dan daun mereka.  Kicauan burung dan sanpansa nakal membuat ingatan ini hilang akan keberadaan diri ini yang sedang berdiri di perbatasan. Rerumputan yang tumbuh di sekitar pondok derita penuh kebahagian seperti iri melihat ku yang sedang menenangkan diri di bawah rindangnya pohon kesambik.

Aku dan keempat kecoak jantan ku tak mampu mengelak dari panasnya siang di dalam pondok. Pelat seng di atap rumah tak mampu menahan panasnya sinar matahari dan gersangnya tanah tempat rumah dibangun membuat suasan di dalamnya serasa di panggang. Namun malam begitu dingin hingga menembus selimut lusuh yang kami kenangan. Tidur keempat kecoak jantan ku bagaikan perwira yang sedang berada dalam peperangan. Tidur hanya berbantalkan sebelah tangan dan berselimut hanya dengan kain tipis yang tak mampu menahan dinginya malam di perbatasan.

Onyos datang menghampiri ku, menemui ku di bawah rindangnya pohon kesambik. Ditawarkan kopi kepada ku sambil menenteng gitar dengan tangan kirinya. “Mau di buatin kopi pak?” ujarnya sambil tersenyum. Dengan segera tawarannya langsung ku terima.”Tunggu sebentar aku buatin, pegangin gitarnya dulu” sambil memberikan gitar kepada ku.

Sambil menunggu kopi buatan si Onyos, akupun mencoba untuk memainkan gitar dan menyanyikan lagu yang sesuai dengan keaadan sekarang. Gitarpun mulai ku petik, suara yang tak begitu merdu ku coba tuangkan pada setiap gesekan gitar yang di mainkan oleh tangan kanan ku. Angin semakin bersemangat menerpa ku seolah-olah ia senang dengan petikan gitar dan lagu ku. Air sungai yang mengalir di antara sela-sela bebatuan serasa turut serta dalam mengindahkan irama nada gitar ku. Ilalang yang bergoyang karena tiupan angin seperti penari yang mengiringi vokalis yang sedang menguntaikan lagu-lau asmaranya. Aku semakin terkesima menatap indahnya alam yang disuguhkan oleh sang Pencipta.

Hingga dua lagu ku nyanyikan dengan selesai, Onyos belum saja menghampri suara gitar ku dengan kopi yang dijanjikannya. Empenk tiba-tiba muncul dengan wajah dan rambut yang semerautnya. Sepertinya ia baru saja terbangun karena tidak tahan dengan panas dibawah seng dalam rumah. Dia duduk disamping ku ikut bernyanyi dan menikmati teduhnya di bawah pohon yang meneduhi ku. Dari bawah pohon, terlihat seorang laki-laki menenteng gelas yang berisi kopi. Kopi buatan Onyos telah sedia dan siap untuk diminum sambil menikmati kicauan burung di bawah rindangnya pohon Kesambik. Kopi buatan Onyos menghentikan suara gitar dan lagu dengan tiba-tiba. Tembakau yang ku kantongi menjadi pasangan serasi bagi kopi hitam ku di siang ini.

Sinar sang surya melemah dengan perlahan. Panas didalam pondok sederhana perlahan mengikis meninggalkan kesejukan. Debu-debu yang tertiup angin memaksa Agul untuk mengambil sapunya dan membersihkan tiap ruangan. Sedangkan Kacun sedang asyik dengan pekerjaan rumah yang didapatkan tadi pagi dari guru biologinya. EmpenK dan Onyos bergegas meninggalkan ku yang sedang dalam lagu kegalauan sebab piring-piring dan perabotan dapur yang berserakan dan kotor  butuh untuk di bersihkan.

Akupun bergegas meninggalkan tempat duduk ku dengan menenteng gitar yang menyisakan serak di tenggorokan ku karena beberapa lagu telah ku nyanyikan dengan sedikit teriakan kegembiraan. Gitar ku gantung pada benjolan paku yang sengaja dijadikan pengait pakaian. Keempat kamar tertata rapi oleh si Agul. Suara piring yang Onyos dan Empeng telah bersihkan bertabrakan terdengan nyaring sampai ke telinga ku. Kacun yang tadinya sibuk dengan tiugas dari sekolahnya kini terlihat lega karena sudah menyelesaikan tugasnya dengan sempurna.

Hari sudah lewat waktu asar, keempat kecoak jantan ku panggil dan ku ajak untuk mandi serta melakukan sholat asar mumpung matahari belum sampai ke waktu magrib. Ember sabun dan handuk siap untuk dibawa mandi. Maklum mandinya ke sungai namun tidak begitu jauh dari pondok baru kami. Empenk, Onyos, Agul dan Kacun mandi bersamaan sambil saling usilin. Sedangkan tempat saya mandi tidak begitu jauh dari posisi mereka. “Mandinya cepetan, nanti keburu magrib lho” tegur ku pada mereka. Dengan segera mereka membersihkan diri dan bergegas mengambil air wudhu setelah melihat ku usai mengelap badan dengan handuk dan mengambil air wudhu.

Usai solat ashar, kamipun langsung bergegas pulang. Sebentar lagi matahari akan tenggelam. Persiapan makan malam belum disediakan. Sedangkan beras tadi sebelum pergi mandi di masak menggunakan penanak nasi listrik, mungkin belum mateng kali. Sesampai di rumah, Onyos, Agul dan Empeng dengan segera mengecek isi dapur mungkin ada yang tersisa untuk dimasak untuk persiapan makan malam.

 

Baca Juga :


Adzan magrib pun menyapa pondok kami. Sambal tempe ala Empenk sudah siap untuk dijadikan lauk makan malam. Dengan segera ku ajak mereka untuk mengambil air wudhu dan mengenakan kain sarung untuk melakukan sholat magrib. “sholat dulu, nanti usaik sholat kita makan” ujar ku pada mereka. Usai sholat magrib, lalu ku ajak mereka untuk makan malam. Mengingat mereka akan melanjutkan kegiatan belajar kelompok rutin yang telah kami jadwalkan sehingga makan malam harus disegerakan. Malam ini akan ada diskusi pelajaran biologi.

Suasana hening dan terpaan angin gunung yang turun ke lembah menyapa tempat tinggal kami. Malam menyelimuti, gelap membatasi pandangan sedangkan air sungai selalu menyisakan suara yang sampai pada telinga kami. Usai diskusi, keempat kecoak jantan yang ada di rumah ku dengan segera merapikan buku dan menyiapkan perlengkapan sekolahnya kedalam tas sekolah mereka. Mereka smelakukan sholat isya sebelum pergi ketempat tidur mereka masing-masing.

Pondok sederhana yang kami tempati memiliki empat ruangan dengan tampak yang sedehana. Antara kami dan keempat kecoak jantan menempati ruangan yang berbeda agar mereka dengan mudah mengaturb diri untuk melakukan kegiatan mereka masing-masing.

Malam semakin larut, panas dan tandus kini tergantikan dengan gelap dan dinginnya angin malam. Hari yang panas telah menyisakan debu dan cerita bagi kami yang bermukim di atas tepian sungai. Kelap-kelip lampu kapal di tengah laut mengabarkan malam semakin larut. Suara jangkrik dan burung malam mengantarkan keempat kecoak ku kedalam mimpi yang semu. Dinginnya malam membuat mereka tak melepaskan jaket dan menyertakan selimut di badan mereka. Ke empat kecoak jantan ku, selamat tidur esok hari menunggu kalian dengan matahari dan cerita yang berbeda..

_By: Calliem Sanir

Slam dari KM. POKER untuk Segenap warga Kampung Media.



 
KM. Pondok Kerakat

KM. Pondok Kerakat

Nama : Sahlim TTL: Sukamulia, 31 Desember 1990 Jenis Kelamin: Laki-laki Agama: Islam Pekerjaan: Swasta Alamat; Sukamulia Desa Pohgading Timur Kec. Pringgabaya Kab. Lotim No HP: 085-337-389-991/081918295283

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan