logoblog

Cari

Tutup Iklan

Empat Kecoak Jantan Ku_Bagian Lima

Empat Kecoak Jantan Ku_Bagian Lima

KM.POKER_Mendung menutupi Pondok yang kami tempati membawa Rahmat dari sang pencipta. Tanah yang gersang Nampak tak berdaya lagi mengeluarkan debu dan

Cerpen

KM. Pondok Kerakat
Oleh KM. Pondok Kerakat
07 Desember, 2016 21:27:14
Cerpen
Komentar: 0
Dibaca: 6621 Kali

KM.POKER_Mendung menutupi Pondok yang kami tempati membawa Rahmat dari sang pencipta. Tanah yang gersang Nampak tak berdaya lagi mengeluarkan debu dan ketandusannya. Kesejukan menghampiri tiap-tiap ruangan yang tersekat oleh bedek dan triplek. Nyanyian burung-burung kenari yang menghampiri ranting-ranting pohon tandan begitu merdu dan menyejukkan suasana. Tetesan-tesan embun yang hinggap pada daun-daun bunga di taman seperti enggan meninggalkan taman yang berada di samping rumah. Air sungai yang jernih kini tercampur oleh lumpur belerang yang mengendap di dasar sungai.

Pagi ini, matahari masih bersembunyi di balik gelapnya awan yang membawa rintik-rintik hujan di atap seng pondok-an. Ke empat kecoak jantan ku, satu per satu meninggalkan tikar dan bantal lusuh yang menemani tidur pulas mereka. Dingin yang menusuk tulang membuat mereka enggan melepas kain tebal yang membungkusi badan mereka. Onyos, Empenk, Agul dan Kacun dengan segera menuju sungai. Dibasuhnya wajah dan badan mereka oleh air yang tercampur oleh larutan belerang merapi. Karena sebetulnya tidak ada tempat yang lain untuk mandi selain di sungai. Belerang bukan menjadi masalah bagi mereka. Bahkan belerang dapat menyembuhkan mereka jikalau mereka ada yang terjangkit dengan penyakit itu.

Hari terasa semakin siang, namun matahari yang menghangatkan badan mereka yang kedinginan masih bersemayam dibalik awan hitam yang membawa hujan. Mengingat mereka harus bersekolah, akhirnya mereka melepaskan handuk dan selimut yang menutupi badan mereka terpaksa dilepas. Saya dan kedua saudara saya menyipkan teh bagi mereka dan kopi untuk kami bertiga. Sengaja kami suguhkan untuk mengurangi dingin yang  menembus kulit-kulit kusam mereka. Sarapan pagi telah kami sediakan agar mereka tidak jajanan nanti disekolah-sekolah mereka.

Menu sarapan dan teh yang kami suguhkan kini tinggal wadahnya. Seragam, sepatu, tas dan perlengkapan lainnya telah mereka kenakan dan siapkan. Kini waktunya untuk meninggalkan pondok dimana kami berteduh. Seperti biasa, Onyos dan Agul pergi ke sekolahnya denga si merah yang bising, sedangkan Empeng dan Kacun tetap setia dengan matic putih yang mereka banggakan. “assalamu’alaikum” satu per satu mereka pergi dengan mengucapkan salam. “Berangkatlah nak, hati-hati dijalan” dan beberapa pesan singkat kami sampaikan pada mereka yang hendak menuntut ilmu.

Seusai mereka berangkat dan meninggalkan pondok derita penuh bahagia, saya dan kedua saudara saya mulai merapikan diri bersiap-siap pergi bekerja juga. Piring dan gelas bekas sarapan kami tumpukkan di bak cucian. Sayapun mulai bergegas dan meninggalkan pondok dengan kedua saudara saya. Sang kakak menyembunyikan konci gembok dibawah gelas meja dapur karena kebiasaan kami pulangnya belakangan sehingga konci sengaja kami taruhkan ditempat biasa.

Haripun beranjak siang, matahari masih bersembunyi dibalik awan hitam yang membuahkan hujan. Tak lama kemudian awan hitam mulai tersisihkan oleh oleh bias-bias cahaya sang penerang.  Kecoa-kecoak jantan kupun kembali dari sekolah-sekolah mereka dengan wajah yang gembira. Diambilnya konci pintu yang tadinya kami taruhkan di bawah gelas di dapur. Satu persatu, seragam dan sepatu serta tas mereka lepaskan dan gantung pada penggantungan baju yang terpaku pada bilik-bilik bambu penyekat kamar. Dengan sedikit bercanda dan saling mengusili seraya melepas  tawa riang nan gembira. Onyos yang kelihatan lesu “mungkin lapar” dengan segera membuka penanak nasi listrik lalu mengambil beras untuk dimasak.

Melihat Onyos meninggalkan tawa riang dari tempat duduknya, akhirnya Agul, Empenk dan Kacun juga dengan segera meninggalkan tempat duduk mereka.  Empenk yang ahli dalam bidang pembuatan lauk dengan segera ke dapur mengecek bahan-bahan  yang ada untuk dijadikan lauk makan siang. Sedangkan Agul dan Kacun bergegas ke Sungai dengan menenteng jerigen. Sepulang mereka dari sungai, dengan segera mereka mencuci piring yang masih tertumpuk pada bak pencucian piring yang masih menyisakan remah.

Onyos yang tadinya telah memasak nasi, segera membantu Empenk yang sibuk dengan penguleknya. “Empenk, tempe ini kita iris tipis-tipis ya” ujar Onyos sambil memegang tempe yang masih terbungkus pelastik dari produknya. “oke brow, tu ka nada kater iris saja dia”  tangan kanannya masih sibuk menggiling cabai yang ada di coweknya. Onyos menyambung “tempe ini kita jadiin apa trus brow?” sambil mengiris-iris tempe yang di pegangnya. “kita goreng si brow, kita jadiin sambal pasti enak” sahut Empenk pada temannya.

Usai mengiris tempe, Onyos meninggalkan Empenk yang kini bermain dengan wajan dan minyak goreng panas di kompor gasnya. Agul dan Kacun yang sudah menyelesaikan tugasnya menurunkan nasi dan menyiapkannya pada piring-piring yang telah usai mereka bersihkan.

Kedamaian mengisi pondok sederhana, sambal tempe yang Empeng sajikan mengisi makan siang dengan kenikmatan yang tiada tara. Canda tawa sembari menikmati hidangan makan siang sederhana menyempurnakan nikmat Tuhan  yang maha pengasih dan penyayang.  Tiupan angin yang menembus bedek-bedek sekeliling pondok seolah-olah iri melihat kedamaian yang tersajikan dalam pondok yang kami tempati. Binar-binar cahaya redup mencoba mengintip dari balik bedek pondok yang sederhana menghangatkan suasana pada tiap-tiap ruang yang terisisi dengan canda tawa keempat kecok jantan dan kedua saudara ku.

Makan siang usai, sambal tempe dan nasi putih yang hangat habis tersikat oleh penghuni pondok. Kini lambung telah terisi, badanpun siap untuk melanjutkan kegiatan selanjutnya. Kini tinggal piring-piring kotor yang tersisa. Keempat kecoak jantan ku dengan segera membersihkan tiap-tiap perabotan dapur yang kotor mengingat sore ini mereka harus mnyelesaikan jadwal kursus music yang mereka ambil di sekolahnya. Dengan segera mereka bergegas meninggalkan kami yang sedang menikmati hidangan kopi buatan Empenk.

Satu per satu mereka pergi meninggalkan kami, dengan menggunakan sepeda motor dan memberikan kami harapan. Terpaan angin dan aliran air di sungai menyampaikan irama indah terdengar indah bak irama music yang sengaja di mainkan. Saya meninggalkan kopi yang masih tersisa setengah dalam gelas kaca yang ada dihadapan ku ke dalam ruang yang lain untuk mengistirahatkan badan sejenak. Setelah beberapa menit berlalu, terdengar percakapan dari kedua saudara ku masih enggan untuk meninggalkan gelas kopi dihadapan mereka yang tadinya ku tinggalkan. Percakapan dimulai oleh saudara tertua, tapi entah aku tak tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Bantal yang menutupi telinga ku membuat percakapan mereka samar-samar sampai ditelinga ku. Percakapan mereka masih berjalan, ahirnya ku urungkan niat ku untuk tidur siang ini karena  telinga sepasang telinga yang di kepalaku menginginkan kejelasan dari percakapan mereka. Namun sebelum badan kurus ku bangkit dari tikar yang melapisinya, tiba-tiba saudara kedua menyebut-nyebut nama panggilan ku. Akhirnya dengan segera langkah ku menemui mereka yang sedang dalam perbincangan.

 

Baca Juga :


“be, lekas kemari”  ujar si tua dengan wajah yang lesu. “ya kanda, ada apa gerangan?” sambung ku. Sedangkan lelaki yang mengenakan kaos biru di sampingnya hanya terdiam. Entah aku tak tahu ada apa dengan mereka sehingga suasana yang tak bisa ku lihat dari raut wajah mereka berdua. Singkat kata singkat cerita akhirnya permaslahan ku temukan, namun ternytata bukan itu alasannya memanggil ku keluar dari bilik bedek yang disandari.

Suasana terasa tegang terutama bagi saya dan saudara ku yang kedua. Beberapa percakapan kami lalui, dan akhirnya saudara tertua ku menceritakan semuanya pada kami tentang beberapa kejanggalan yang telah ia lakukan sejak tujuh bulan yang lalu. “Sebenarnya kanda bertingkah tak sewajarnya seperti yang dinda-dinda saksikan sejak tujuh bulan terakhir ini adalah ada alasannya” ujarnya. “Lantas ada apa sehingga kanda seperti itu saudara ku, ada apa dengan mu?” ujar kami berdua. “Hmmmmm… sebenarnya kanda enggan untuk menuturkannya pada kalian berdua, kanda takut akan hal yang saya derita ini menjadi beban bagi bunda dan kalian semua serta isteri dan anak-anak ku” ujarnya sambil menatap kami berdua. “apapun dan seberat apapun itu tolong ceritakan pada kami kanda, mungkin dengan cara menceritakan hal itu kami bisa membantu” pinta kami berdua. Ditariknya nafas dalam-dalam lalu menceritakan sebuah penyakit ganas yang di deritanya.

Mendengar hal itu, matapun menyucurkan air mata yang tak terhingga.  Kami berdua menagis mendengar cerita yang selama ini disembunyikan dari hadapan dan penghetahuan kami. “Kenapa sekarang kanda ceritakan hal ini kepada kami?” kalimat itu kami ucapkan dengan air mata yang tak bisa kami bendung. “tolong jangan ceritakan siapapun kanda mohon pada kalian apa lagi sampai bunda tahu akan penyakit yang kanda derita ini saudara” pintanya pada kami. “kami tidak akan menceritakannya pada siapapun” balas kami. “Kanda harus tegar, insya Alloh kita bisa melaui bersama” kami menyemangatinya.

Matahari tertutup lagi oleh gelapnya  sang awan. Awan tak mampu lagi menampung air, hujanpun turun tak terhingga seperti tangis kami yang mendengar cerita dari orang yang kami kira selama ini sehat-sehat saja akan tetapi dia sedang berada dalam kesulitan. Ternyata diamnya menyimpan kepedihan, senyumnya hanya dibibir saja dan kegigihanya hanyalah caranya dalam menahan rasa sakit yang ia derita. Sungguh tak kami sangka akan hal itu terjadi padanya. Memang sih dia jarang dirumah, kebanyakan melanglang buana dengan si black tunggangannya.

Hari yang gelap, matahari mungkin telah tiba pada gerbang rumahnya. Tak lama kemudian, keempat kecoak jantan ku tiba di pondok, dengan badan yang menggigil kehujanan sambil tersenyum. Mereka dengan segera mengganti pakaian-pakaian mereka usai melontarkan salam pada kami bertiga. Sedangkan saya masih dalam kesenduan, dengan segera ku usap air mata yang menetes dari kelopak mata ku. “gimana bandnya, sudah ada perkembangan? ujar si tua pada mereka. “Alhamdulillah sudah ada perkembangan” ujar si Onyos yang sebagai gitaris di band mereka. “Baguslah kalau begitu, semoga kalian cepat bisa dan jangan pernah berputus asa dalam belajar” sambung si tua memotivasi mereka. “Ya pak!” Onyos sambil mengangguk.

Waktu terus berputar, jarum jam tak mau dihentikan oleh sang hujan. Matahari kini menyuguhkan kegelapan pada penghuni pondok. Lampu-lampu yang terpasang, satu persatu mulai menyinari keempat ruangan yang ada. Cahaya lampu 10 watt yang terpasang di gerbang terlihat terang menyinari jalan masuk ke pondokan. Bunga-bunga dihalaman terlihat bahagia karena hujan tak henti-henti menyirami mereka hari ini. Mengepullah asap dan aroma lezat sampai ke lobang hidung mengundang lambung untuk segera mencicipinya pada hidangan makan malam.  Jangkrik-jangkrik bernyanyi dengan dicampurnya oleh suara bising pelat seng  di atap rumah.

Malampun kian larut, usai makan malam. Para kecoak jantan tak sabar menarik selimut dan bantalnya di atas tikar tipis yang lusuh. Dengan segera mereka bergegas memasuki kamar tempat tidur mereka. Mungkin karena kelelahan akibat latihan dan kena hujan tadi sore sehingga mata mereka tak sanggup lagi untuk melek. Sedangkan aku masih memikirkan hal yang terjadi pada salah satu saudara ku yang di temani dengan nyanyian kumbang-kumbang malam.

Selamat tidur keempat kecoak jantan ku, hari  esok menanti kalian dalam cerita ini…

By_Calliem Sanir

Salam dari KM. POKER untuk segenap warga Kampung Media..  [] - 03



 
KM. Pondok Kerakat

KM. Pondok Kerakat

Nama : Sahlim TTL: Sukamulia, 31 Desember 1990 Jenis Kelamin: Laki-laki Agama: Islam Pekerjaan: Swasta Alamat; Sukamulia Desa Pohgading Timur Kec. Pringgabaya Kab. Lotim No HP: 085-337-389-991/081918295283

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan