logoblog

Cari

Tutup Iklan

Aku Ingin Mencintaimu Dengan Caraku Sendiri Part II

Aku Ingin Mencintaimu Dengan Caraku Sendiri Part II

Langit tidak selamanya cerah, Dipagi itu angin meniup subuh dengan sentuhannya yang dingin memaksa embun untuk bertahan lebih lama sebelum menguap tertimpa

Cerpen

Chairil Anwar
Oleh Chairil Anwar
08 Desember, 2016 05:59:37
Cerpen
Komentar: 0
Dibaca: 16340 Kali

Langit tidak selamanya cerah,

Dipagi itu angin meniup subuh dengan sentuhannya yang dingin memaksa embun untuk bertahan lebih lama sebelum menguap tertimpa sinar matahari, sementara kicauan burung-burung masih berdendang didaun rimbun pepohonan yang berjajar diantara sawah menghijau yang telah ditanami padi, rumput-rumput masih basah oleh embun yang menempel dan basah setelah di guyur hujan semalam, Langkah Kaki Su_wangi yang tak beralas terus menjejal diantara kabut pagi yang kian menguap seiring fajar yang semburat dilangit sebelah timur.

Langit tak selamanya cerah

Dalam batin Su_wangi pagi adalah rahmat bagi kehidupan karena disaat pagilah denyut kehidupan alam mulai berdetak, terlambat diwaktu pagi baginya adalah seumpama kehilangan pundi-pundi harta yang paling mahal dan berharga, betisnya yang putih ia biarkan basah oleh embun yang menempel diujung Bendang yang dikenakannya, dalam pagi yang sedingin itu tubuhnya terus menembus dinginnya langit yang masih lembab, satu hal yang paling dibenci oleh Su_wangi adalah tidur setelah subuh, hidup dalam kesulitan mengajarkan tidur setelah subuh adalah kepfoya-foyaan.

Langit tak selamnya cerah yakin Su_wangi Akan Hal itu.

Tangan yang cekatan dengan jemari yang panjang dan lentik terus menggerayangi pematang sawah yang masih kosong yang dipenuhi rerumputan, benih-benih yang dibawanya dari rumah di tebar dengan jarak selebar duakaki orang dewasa, bagi dirinya menanam adalah sebuah pengabdian, sebab hidup diceptakan allah untuk kehidupan, dan hidup harus mampu menciptakan keseimbangan kosmologi, bila manusia serakah maka keseimbangan kosmologi akan terganggu dan manusia akan merasakan akibat keserakahannya.

Langit tak selamnya cerah batinnya

 

Baca Juga :


Dari tangannya yang subur segala jenis tumbuhan dapat hidup dengan subur sehingga orang-orang kampung menyebut Su_wangi dengan tangan MBel, namun bagi su_wangi hal yang di ucapakan masyarakatnya bukan karena tangannya namun karena kesungguhan dalam membagi dan mengabdikan hidupnya untuk kehidupan, itulah ajaran dan Filsafat hidup Su_wangi, dan filsafatnya tidak harus di benarkan cukup dirinya dan tuhan yang berhak tahu akan hal itu,.

Langit tak selamnya cerah gumam Su_wangi

Sebentar lagi Matahari meninggi Su_wangi bersiap pulang untuk menyiapkan sarapan mengurus keberangkatan putra-putranya untuk menuntut ilmu, mereka adalah harapan terbesar bagi Su_wangi karena merekalah hidup yang menghimpit terasa lebar dan luas, letih terasa ringan dan segala cita-cita bisa terwujud, kasih ibu tak terhingga sepanjang hayat, kalimat yang dinyanyikan anak-anaknya malam itu membuat hatinya yang bersih semakin tentram, mereka bagaikan malaikat-malaikat kecil yang polos yang hanya tahu apa yang di dengar dan dilihatnya tanpa harus untuk tahu makna di sebaliknya.

Langit tidak semanya Cerah, begitulah seterusnya… () -03



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan