logoblog

Cari

Tutup Iklan

Kepak Sayap Merpati

Kepak Sayap Merpati

AULIA ISLAMIATI             Mendung tak selalu berarti akan hujan, gelap tak selalu membinasakan, api tak selalu membakar, terkadang hanya menghangatkan. Aku adalah

Cerpen

Pangkat Ali
Oleh Pangkat Ali
14 Desember, 2016 15:38:35
Cerpen
Komentar: 0
Dibaca: 7951 Kali

AULIA ISLAMIATI

            Mendung tak selalu berarti akan hujan, gelap tak selalu membinasakan, api tak selalu membakar, terkadang hanya menghangatkan. Aku adalah wanita muslim berjilbab, yang berasal dari pulau dengan julukan seribu masjid; Lombok. Tepatnya desa Perampuan, Kecamatan Labuapi, Lombok Barat. Yaahh, aku bisa dikatakan cukup berusia. Aku adalah wanita yang selalu ingin menjadi hamba Allah yang dicintainya, aamiin. Kehidupan yang kujalani adalah suatu harapan yang selalu kutekankan dalam batinku. Ya, aku adalah seorang petualang yang ingin menjadi sayap bagi negeriku. Petualanganku dimulai dari pulau Dewata- Bali .

            Bali, pulau yang terkenal dengan international tourism dan menjadi inspirasi bagi para wisatawan untuk mengunjungi tempat-tempat favorit disana.  Jika kalian berfikir aku dalam perjalanan wisata atau bersantai ria, kalian tentu salah! Aku datang dalam mengemban tugasku sebagai seorang reporter dan penulis artikel tentang “bagaimana perbandingan kehidupan masyarakat muslim dengan non muslim di Bali”. Aku tentu merasa kegirangan dan ingin mencari tahu tentang topik yang diamanatkan kepadaku.

            Dalam misiku ini, aku tidak sendiri, tetapi bersama sahabat karibku yang beragama non muslim, tetapi walaupun begitu, dia sangat baik dan menghargai perbedaan kami. Sebut saja namanya Tinus. Hehe, sebutannya  memang sedikit lucu sih. Tapi, kalian perlu tau, nama lengkapnya itu kereen loh “Julio Stefan Satianus”.  Sebelum menuju misi impian, aku dan Tinus pergi untuk berjalan-jalan dan melihat sekeliling masyarakat.

                                                                        ***

            Ini adalah hari pertama kami menjalani misi impian kami. Disini, masyarakatnya terkenal sangat ramah, baik dan disiplin.  oleh karena itu aku dan Tinus bergegas mendatangi “World Office” untuk mendapatkan rekomendasi yang akan kami gunakan sebagai suatu syarat untuk menjalani misi impian. Tidak sedikit diantara mereka, para pegawai  world office yang berlaku ramah terhadap kami. Kamipun tak segan membalas mereka dengan sikap yang tak menyinggung perasaan mereka. Sesaat kemudian, kami bertemu dengan manager kantor dan mendapatkan rekomendasi yang… ooohhh it’s great and make us happy smile. Langkah pertama sudah kami tempuh, sungguh kebahagiaan yang tak terkira.

                                                                        ***

It’s the great next day. Yaaa ini adalah hari kedua kami terdampar di pulau ini. Hari kedua ini merupakan surga bagi aku dan fikiranku, tidak menjadi maksud jika pekerjaanku tidak ada atau ini adalah hal yang tidak terlalu penting untukku telusuri kebenarannya. Tetapi ini tentang sebuah masalah yang memang harus dituntaskan, sebuah fenomena budaya di tanah pertiwi yang harus didamaikan. Aku dan rekanku Tinus menelusuri beberapa rumah yang direkomendasikan kepada kami. Untuk misi  Pertama, kami menelusuri rumah dengan ‘cristian family’, ciaahhh. This is real, sesampainya kami disana, kami disambut hangat oleh beberapa anggota keluarga tersebut, yaaah walaupun mereka melihatku sebagai sosok muslim dan berjilbab. Di dinding putih mereka, terpampang beberapa gantungan salib sebagai rasa pengabdian dan pengakuan kepada Tuhan mereka. Tak lama setelah menatap ornamen-ornamen penuh arti, aku menanyakan topik yang yang seharusnya kusampaikan kepada mereka, dan salah seorang laki-laki tua bernama Samuel menjawab dengan penuh senyum tulus, “ini adalah Indonesia! Indonesia memiliki semboyan Bhineka Tunggal Ika,  yang berarti, berbeda-beda tetapi tetap satu. Jadi sebesar apapun perbedaan itu, kita sebagai warga masyarakat yang baik seharusnnya menghargai dan menjadikan semua perbedaan itu sebagi sesuatu hal yang indah” ….

            Aku tercengang. Wow, its very amazing. Jawaban yang begitu tegas dan tak pernah kufkirkan sebelumnya. Beberapa saat setelah kami berbincang-bincang panjang dengan keluarga tersebut, kamipun memutuskan untuk melanjutkan misi kami dengan mengunjungi rumah keluarga Muslim dan Hindu disana.

            Perjalan kedua kami, aku memutuskan mengunjungi rumah keluarga muslim di Bali. Dia adalah seorang pegawai swasta dari Jawa yang telah menghabiskan waktunya selama berpuluh-puluh tahun ditanah Bali ini. Sebut saja namanya Pak Muis.

   “Assalamu’alaikum” aku menucap salam

   “Waalaikumsalam,” tampak pak Muis kebingungan.

   “Apakah betul ini rumah Pak Muis?” tanyaku kemudian. Namun orang yang kutanyakan hanya menjawab dengan senyu.

   “Oh, iya betul. Apakan adik-adik ini yang akan mewawancarai saya toh?”

   “Iya betul pak, kami kesini ingin mewawancarai bapak tentang kehidupan antar umat beragama di Bali?”

            Mendengar kalimat itu, Pak Muis dengan ramah mempersilahkan kami masuk, “oh, mari masuk Ndok,” ucapnya seraya merentangkan tangan dengan nada sopan.

            Setelah bercakap panjang lebar, pak Muis membacakan kami satu ayat Al-qur’an yang berisi tentang kehidupan antar umat beragama yang harus di terapkan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu Q.S AL-KAFIRUN yang berisi bahwa antar umat beragama seharusnya saling menghormati satu sama lain dan kita seharusnya membiarkan mereka beribadah sesuai agama yang mereka yakini. Tetapi jangan sekali-kali mempermainkan aqidah yang selama ini kita jalani.

   “Oke dik, apakah adik-adik sudah paham dengan perkataan bapak tadi?”

   “Siap paham,” Tinus menjawab dengan tegas. Tapi aku tiba-tiba merenung dan mulai menyadari bahwa, Islam adalah sebuah agama sederhana  yang sangat menghargai perbedaan, sekalipun itu adalah pebedaan antar umat beragama.

   “Bagus, sepertinya kita perlu tenaga untuk melanjutkan aktivitas, hehehe. Kalau begitu mari kita makan siang bersama,” ajak pak Muis sembari menunjuk ke arah ruang makan sederhana.

 

Baca Juga :


            Awalnya kami malu untuk menerima ajakan pak Muis, tetapi dia tetap saja memaksa  agar kami menerima ajakannya. “Ayo, rezeki tidak boleh ditolak,” ajaknya lagi. Mendengar kalimat yang dilontarkan pak Muis, kami pun bersedia menerima ajakannya.

            Beberapa lama kemudian, kami menjalankan satu misi menuju misi terakhir. Kami dengan semangat dan rasa pantang menyerah bersedia mengunjungi rumah keluarga yang berkeyakian hindu disana. Ketika kami manyampaikan topik yang sama, mereka menjawab sama seperti apa yang di sampaikan oleh pak Samuel tadi. Aku sejenak berfikir dan merenung tentang bumi pertiwi ini. Apa yang ku fikirkan ternyata sebuah kesalahan besar. Banyak orang mengira bahwa, kehidupan berbeda agama itu adalah sesuatu yang akan menimbulkan permsuhan dan perselisihan. Tetapi ini adalah sesuatu yang realistis, dimana orang-orang bijak berfikir, perbedaan adalah hal  normal dan seharusnya dijalani dengan cara yang normal pula.

            Perasaan damai begitu terasa dibenakku. Aku mulai berfikir panjang tentang kehidupan masa depan yang di bangun dengan keindahan dan kedamaian.

                                                                        ***

            Lima menit lepas dari pukul 15.00, aku dan Tinus memutuskan untuk segera begegas menuju Hotel yang kami tempati. Dalam perjalanan kami melihat sekumpulan pemuda yang sedang mabuk di emperan samping Gereja. Mereka terlihat begitu ling-lung. Aku dan Tinus mencoba menghindarinya, berusaha mencari jalan lain untuk kembali ke Hotel, tapi tidak ada jalan lain, kecuali itu yang menuntun kami menuju Hotel.

            Tiba-tiba, “aaaaaaaaaaaaaaaaaaaa, tolooooong,” mereka menghajar Tinus hinggga terluka. Aku mencoba melarikan diri untuk mencari pertolongan kepada warga sekitar, tetapi tanpa fikir panjang, mereka menarikku dengan kasar dan membawaku ke dalam sebuah gedung yang aku sendiri tidak tau itu gedung apa. Cuma pertanyaan dalam hati selalu terucap, apa yang akan mereka lakukan padaku?. Aku tak tau kemana Tinus pergi, kenapa dia tega meninggalkan aku sendiri dalam situasi darurat seperti ini?. Aku hanya bisa ketakutan dengan semua hal busuk ini dan menangis tanpa suara. Aku memejamkan mataku, seakan aku akan lenyap hari ini. takut akan hal-hal buruk yang akan menimpa diriku. Mereka dengan pelan mendekatiku dan....ya Allah, mereka akan melecehkan aku disini, apa yang harus aku lakukan?.

            Hal tak terduga lainnya pun menghampiri setiap detikku, dengan suara yang begitu lantang seorang wanita tua memakai pakaian kebaya putih datang dan meneriakki para pemuda mabuk tersebut, “hei, sedang apa kalian disini? Apa yang akan kalian lakukan kepada gadis malang ini? “ (kata wanita itu). Para pemuda tersebut tanpa ragu mendorong dan menedang wanita tua tersebut hingga tersungkur lemah.

            Ini adalah doa setiap hembusan nafasku, tiba-tiba banyak sekali orang yang datang dan berusaha menyelamatkan gadis malang ini. “Braaaakkk”, seorang pemuda mabuk tersebut terjatuh kaku karena terkena hantaman seorang bapak-bapak tua yang tinggal disekitar sana.

“Brusssshhh”, siraman air menyirami wajah kotor mereka, dan saat itu pula mereka mulai menyadari, dimana keberadaan mereka dan merasa malu kepada semua pihak yang ada dihadapannya.

            Wanita tua yang memakai kebaya putih itu dengan sigap dan penuh kasih sayang langsung mengangkat bahu dan tanganku dengan jari-jari keriputnya. Akupun langsung memeluknya hangat seraya menangis dan rasa takutku seketika lenyap bagai angin menghembuskan debu. Sahabat yang aku kira menghianati dan tidak perduli lagi kepadaku, ternyata dialah yang telah memanggil para warga dan orang tua disana untuk menolongku, karena dia sadar dengan kebersamaan, semua hal bisa dituntaskan dengan mudah.       Para pemuda yang tadinya ling-lung itu pun dibawa ke kantor polisi untuk diintograsi lebih lanjut.

            Kemudian aku dibawa ke luar dari tempat menjijikan itu, orang-orang disana beruaha menenangkan perasaan gundahku dengan hal-hal lucu dan menghibur, seperti bernyanyi , melawak, dan semacamnya. Subhanallah, inilah sebuah anugerah tuhan yang dinamakan sehabis  hujan datanglah sang warna-warni yaitu pelangi. Sungguh mereka tidak mengenal perbedaan yang tampak diantara kami, tetapi hanya adan kebersamaan yang menyatukan segalanya.

                                                                        ***

            This is the last day in Bali. Tetapi sebelum kami meninggalkan pulau Dewata ini, kami menyempatkan untuk berkumpul dan menghabiskan waktu bersama dengan orang-orang bijak yang sangat perduli terhadap sesama. Siapa lagi kalau bukan orang-orang yang telah meluangkan waktu mereka untuk menolongku.

            Disini kami berbagi cerita suka maupun duka, kami berfoto ria  dan tertawa bersama. Sungguh pengalaman yang tak pernah akan terlupakan. Kini, aku yakin dengan perbedaan yang kami hadapi, kami dapat memunculkan suatu kebersamaan menuju Indonesia sejahtera.

                                                                        ***

            Yah, ini adalah misi terakhirku, aku akan menulis sebuah artikel tengang topik yang telah kusampaikan tadi. Tidak hanya itu, aku akan menulis kisah suka dan duka yang ku alami di pulau dewata ini dan menjadikannya sebagai pelajaran hidup yang sangat bermakna untuk menyongsong kehidupan yang lebih baik dan hampir sempurna.

 



 
Pangkat Ali

Pangkat Ali

Save Our Gumi Paer...LOMBOK Lalu Pangkat Ali, kesehariannya sebagai ASN -Pejabat Fungsional Pranata Humas Permkab.Lobar. Tinggal di Desa Kopang-Lombok Tengah. CP & WA: 081907941070. Fb: Fotografer Kopang & Eliza Agniya

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan