logoblog

Cari

Tutup Iklan

Berfikir Sebelum Menyesal (ending)

Berfikir Sebelum Menyesal (ending)

Pertengahan antara waktu Magrib dengan waktu Isya’ adalah waktu ijabah, waktu do’a-do’a diangkat kelangit menembusi batas sidratul Muntaha, waktu malaikat senja

Cerpen

Berfikir Sebelum Menyesal (ending)

Berfikir Sebelum Menyesal (ending)

Berfikir Sebelum Menyesal (ending)

Chairil Anwar
Oleh Chairil Anwar
24 Desember, 2016 04:32:48
Cerpen
Komentar: 0
Dibaca: 6384 Kali

Pertengahan antara waktu Magrib dengan waktu Isya’ adalah waktu ijabah, waktu do’a-do’a diangkat kelangit menembusi batas sidratul Muntaha, waktu malaikat senja mengepak sayap membubung melintasi langit ketujuh dan menerima catatan segala amal manusia, Sami’un Nampak pucat dalam pikrannya bermacam perasaan beraduk menjadi satu mencipta sebuah rasa yang sulit untuk di telan atau dimuntahkan, tangannya dijuntaikan untuk meraih kait pintu rumah pagar yang sudah mulai rusak di makan percikan hujan, hatinya diliputi ketidak menentuan, “Atau Aku beritahukan saja Kalau-kalau rumah ini kosong” Sami’un mencoba mengajak hatinya bediskusi dalam sepi.

“Coba Ucapkan salam barang kali didalam ada orang” Spontan Sami’un terhenyak dari diskusinya dia menoleh di bola matanya Nampak seorang dengan seragam coklat degan topi coklat berkelindan  mengkilat disana.

“iya… iya pak komandan,” Sahut Sami’un

Tangan Sami’un yang dari tadi sudah terjuntai berlanjut degan menarik pintu kemudian mendorongnya kuat namun tak bisa, seperti terkunci dari dalam.

“Buka atau Kami dobrak” tiba-tiba Komandan Berteriak dan semua bergerak maju mendekati pintu degan Gagang laras panjang terangkat sampai di dada siap dihentakkan persis menghantam pintu reot rumah pagar itu.

“Sebentar pak tunggu dulu jangan di dobrak pak, biar kita coba dulu barangkali pemiliknya belum mendengar salam kita” Sambung Sami’un Sambil Mengangkat tangan kanannya hendak menghadang laju laras panjang itu.

Sami’un Melangkah berwibawa meskipun diselimuti Berbagai macam perasaan “Bani!!!! “ Sami’un setegah berbisik di belakang pintu,

“iya… Kenapa banyak orang kemari” Balas Bani dari balik pintu.

“Percayalah Bani ini bukan kehendakku” Balas Sami’un Ingin menyembunyikan Keras Suaranya

“Buktinya Sekarang Mereka Bersama-sama dengan kamu?” Bani Menghentikan Suara.

Baca Juga :


Sepi, Sunyi Hanya desah Nafas Sami’un yang bergejolak dengan hatinya.

” Aku Tidak Seperti yang kamu kira Aku masih tetap sahabatmu Bani” Sami’un mencoba menyibak Konflik namun tiba-tiba.

Gubrakkkkkkkkk……

Pintu terpental Bani Terperanjat Sami’un Hanya mampu memandang tegang, Kamu Kami tangkap karena tuduhan telah mencoba melawan undang-undang.l itu i

“tidak saya tidak melakukan hal itu, itu adalah sesuatu yang dibuat-buat seseorang kemudian memojokkan saya” Bani meronta namun petugas petugas itu terlalu kuat bagi Bani.

“saya akan buktikan besok apapun yang tidak saya pernah perbuat akan terbukti” teriak Bani di depan wajah Sami’un yang Masih Mematung.

wajah sami'un pucat saat Bani berhenti mengucapkan Kata-katanya, terbayang kejadian yang telah dilalui hingga saat yang barusaja selesai di pentaskan Spanduk besar yang dipasang sami'un diatas aliran Sungai Bertuliskan Jangan Membuang Sampah di sungai Bagi yang membuang sampah Berdosa Besar. () -03



 
Chairil Anwar

Chairil Anwar

Menjadi tua adalah sebuah kebiasaan, sedangkan menjadi dewasa adalah sebuah pilihan, dari KMKrens untuk NTB yang berdaya saing. HP 087763256047

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2017 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan