logoblog

Cari

Senja di Atas Kampus

Senja di Atas Kampus

Sore itu begitu cerah, secerah perasaan para mahasiswa yang keluar dari kelas kuliah. Terbebas dari tekanan bahasa para dosen yang kadang

Cerpen

Ismail Marzuki
Oleh Ismail Marzuki
06 Februari, 2017 08:45:32
Cerpen
Komentar: 2
Dibaca: 58533 Kali

Sore itu begitu cerah, secerah perasaan para mahasiswa yang keluar dari kelas kuliah. Terbebas dari tekanan bahasa para dosen yang kadang tidak mengasikkan, membuat kepala menjadi pusing, suruh-sana sini, buat ini dan itu. Ya itu lah kenyataan para dosen. Tidak kayak saat SMA atau SD. Tentu Kita sudah tahu saat SD kita kebanyakan main.

Aku selalu menunggu senja di lantai perpustakaan. Di sini aku bisa menyaksikan senja dan langkah para mahasiswa berlalu lalang. Ada yang datang, banyak juga yang pulang.

Sudah beberapa jam aku menunggu senja yang menjadi paporitku. Kalau kau bertanya senja seperti apa yang ku sukai? Aku suka senja yang menyinari mahasiswa!.

Mungkin kau bertanya lagi. Kenapa?

Karena, saat senja menyinari mahasiswa, senja menjadi begitu sangat menawan. Aku selalu jatuh cinta pada senja-senja yang mengiringi langkah para mahasiswa.

Namun, terkadang aku sangat kecewa pada mahasiswa yang tidak bisa mengindahkan senja. Mahasiswa itu sering lari saat pulang. Aku sangat benci itu. Tapi selalu ada mahasiswa yang mengobatiku untuk menyaksikan senja. Ada saja mahasiswa yang masih sabar dengan langkahnya yang rapi dan anggun.

Saat senja, memberikan bayang yang lebih panjang pada mahasiswa di depannya. Hatiku semakin bahagia melihat senja. Kadang tak terasa waktu yang ku habiskan menunggu senja dan menyaksikannya.

Aku selalu menunggu senja di atas kampus. Tapi terkadang aku pulang membawa kekecewaan. Terutama kecewa pada awan yang menutupi senja. Senja begitu berharga bagiku.

Pernah suatu hari, aku mengajak seorang temanku. Dia awalnya mau menemaniku dengan sabar. Tapi senja yang ku maksud tak datang-datang juga. Diapun merasa bosan menunggu senja yang ku maksud. Ujung-ujungnya aku menunggu senja sendirian. Walaupun kenyataan mata yang memandang ke padaku. Aku selalu bersama dengan harapanku untuk menunggu senja yang ku sukai.

Aku pernah bercerita pada temanku. Tentang senja yang pernah kulihat di atas kampus. Dia tertarik pada ceritaku, namun satu yang tidak kusukai darinya dia bukan orang yang sabar menunggu senja. Padahal sudah k katakan padanya “Senja di atas kampus itu harus ditunggu dengan penuh kesabaran baru dia bisa  muncul”.

Saat menunggu senja, terkadang hatiku begitu berdebar saat ciri-ciri senja akan nampak. Namun, terkadang saat aku merasa capek atas ciri-ciri senja akan datang, aku merasa kecewa. Kadang saat kecewa atas penugguanku, aku benci pada senja, tapi kebencianku tidak pernah kulakukan dengan sempurna. Aku selalu kembali pada kerinduan-kerinduanku pada pada senja.

 

Baca Juga :


Terkadang, saat aku tidak bisa menyaksikan senja, aku tidak bisa tudur. “Apakah senja membenciku sehingga ia tidak nampak memberikan bayangan indah kepada para mahasiswa yang sabar dengan langkahnya?” Itu pertanyaan yang selalu mengisi kepalaku saat tidak bertemu senja.

Aku menunggu senja sampai malam menyelimuti hari. Aku melakukan itu hampir setiap hari di atas kampus. Aku selalu menunggunya dengan setia. Karena aku sangat menyukai senja.

Kesendirianku terasa bahagia saat senja menampakkan diri. Dia selalu menyiramkan cahaya lembut pada wajahku. Senyumku pun mengikuti cahaya senja yang jatuh di wajahku. Dengan melihat senja, aku merasa tenang. Seakan masalahku terbuang dan tubuhku terasa ringan. Pikirankupun karuan.

Pernah suatu hari, aku memintanya.

“Senja maukah kau kubawa dan menjadi milikku?”

Dia hanya diam. Dia tidak tersenyum saat aku bertanya padanya, tentang permintaanku. Aku memahami keadaannya, bahwa itu permintaan yang sulit untuk dikabulkan oleh senja, karena ia harus memikirkan orang lain juga.

“Aku minta maaf, aku sudah egois padamu senja!, aku akan selalu setia menunggumu di atas kampus sampai kau memberikan cahaya padaku” kataku meyakinkan senja.

Kamipun berpisah hari itu. Kami berpisah bukan karena keinginan untuk berpisah. Kami selalu dipisahkan oleh gelap.



 

Artikel Terkait

2 KOMENTAR

  1. Ismail Marzuki

    Ismail Marzuki

    09 Februari, 2017

    Tampiyasih sudah memberi komentar Om Pangkat Ali...sangat membantu sekali untuk proses kreatif berikutnya.. Salam kenal Om...


  • Pangkat Ali

    Pangkat Ali

    08 Februari, 2017

    Temanya sederhana, tp alur cerita (plot) prlu diperdalam. Seting & tokoh sudah tampak, tp prlu ada tokoh antagonis spy alur cerita lebih seru. Usahakan penceritaan jangan mendatar, tp juga arus menanjak, kadang turun. Ingat dalam sebuah cerepn, harus ada kejutan2 atau klimaks, supaya pembaca hanyut, sepertinya apa yang sedang dibaca seolah dalam realitas sebenarnya, bukan sebuah cerita fiktif. Ending pun kita harus jujur, menggunakan sad ending, happy ending, atau ending biasa saja. Semoga berkenan Bung Ismail marzuki.....salam dari kampung....


  •  
     

    TULIS KOMENTAR

    Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
     

    Artikel Populer

    Komentar Terbanyak

     

    image

    Tipi Kampung

     
    Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
     
    Tutup Iklan