logoblog

Cari

Tutup Iklan

Pelangi di Langit Kota Praya - Bag 2

Pelangi di Langit Kota Praya - Bag 2

Cerbung: Lalu Pangkat Ali Bagian  2 Reza diam membisu. Ia menenggak kopi dari gelasnya, kemudian menghisap rokoknya yang tinggal beberapa senti. Asap rokok

Cerpen

Pangkat Ali
Oleh Pangkat Ali
01 Agustus, 2017 10:10:00
Cerpen
Komentar: 0
Dibaca: 3909 Kali

Reza diam membisu. Ia menenggak kopi dari gelasnya, kemudian menghisap rokoknya yang tinggal beberapa senti. Asap rokok itu mengepul di udara membentuk lingkaran-lingkaran kecil kemudian lebur bersama angin. Tangannya yang berbulu lebat, memutar-mutar gelas seakan hendak mencari jawaban atau pertanyaan di sekeliling gelas itu.

“Elu sendiri, apa yang elu cari sebenarnya? Elu telah membuat keputusan yang nggak masuk diakal gua. Elu meninggalkan Jakarta, kota kelahiran elu”

“Reza...Reza. Kau masih saja keras kepala seperti dulu. Apakah dua tahun cukup bagimu untuk lebih mengenal segi-segi kemanusiaan? Tentunya tidak. Kau mungkin tidak punya waktu lagi untuk belajar, atau mungkin kau tidak punya teman untuk berdiskusi, mengasah otakmu setelah aku meninggalkan Jakarta. Atau mungkinn juga kau telah larut dalam irama kota Jakarta, sibuk mencari duit?”

“Elu jangan sinis dong, Lex. Gua kira gua cukup reralistis”.

“Oke, bos. Aku ingin menjawab pertanyaanmu tadi. Pertama, aku mengambil keputusan yang  masuk di akalku. Kalau keputusan itu tidak masuk di akalmu, itu bukan urusanku. Keputusan itu telah kugarisbawahi. Yang penting adalah, aku tahu persis apa yang kuputuskan dan lakukan. Jika orang lain tidak tahu, sekali lagi itu bukan salahku. Karena orang lain itu tidak pernah dan tidak akan pernah menjadi diriku. Kedua, aku tidak pernah mencari kota yang besar, juga tidak pernah mencari kota yang indah, tapi Rez ingat! Aku mencari kota yang damai, yang padanya aku menyerahkan diri, hidup dan kemanusiaanku. Banyak teman mengira aku telah menjadi berhasil. Sebagai anak muda, aku memiliki duit yang lebih dari cukup yang sekaligus menjadi racun bagiku di tengah-tengah kehidupan kota Jakarta yang angkuh. Tapi, aku sendiri merasa gagal menurut ukuranku sendiri. Aku telah gagal tinggal di Jakarta. Kedamaian tidak aku peroleh. Aku tidak pernah tahu untuk siapa aku bekerja. Aku tidak pernah sempat untuk memikirkan diri, hidup dan tujuanku. Aku tidak pernah sempat untuk merenungkan sedikit kemanusiaan dan tujuan hidupku. Hidupku di Jakarta telah terkoyak!” 

Reza mengangguk-anggukkan kepalanya. Pandangannya tajam ke arah lelaki yang berada di depannya. Matanya merah dan wajahnya yang kuning mulai berbinar.

“Gua nggak mengira sebelumnya, elu menjadi orang yang amat lemah, elu menjadi orang yang amat cengeng. Di Jakarta gua mengenal elu sebagai sahabat yang tegar, penuh humor, tabah dan intelek. Gua diam-diam pernah mempunyai niat untuk sekali waktu sama dengan elu. Dalam usia yang muda elu disegani. Tapi maaf, Lex. Elu sangat lemah, jiwa elu rapuh, nyali elu amat kecil. Elu tidak sanggup menjinakkan Jakarta!”

“Terserah, apa penilaianmu padaku. Tapi aku tidak pernah ingin memperpanjang kegagalanku di Jakarta. Aku sudah menyimpulkan Jakarta tidak akan sanggup dijinakkan, maka sebaiknya aku mengalah untuk sesuatu tujuanku yang lebih luhur. Dan aku di kota Praya ini telah menemukan semuanya. Ketenangan, kedamaian dan pekerjaan. Aku bekerja bukan untuk mengejar duit sebagai mana kita lakukan di Jakarta. Di Jakarta kita mengorbankan kemanusiaan kita dan mengorbankan manusia yang lain hanya untuk duit. Kita telah menjadi hamba dari duit. Itu bedanya dengan aku lakukan di Praya ini. Terserah kau mau bilang aku sentimental, kuno atau apalah!

Reza kembali menggelengkan kepalanya. Ia menghisap rokoknya dalam-dalam kemudian menelannya bersama kopi. Asap rokok itu mengepul di atas kepalanya kemudian lenyap ditelan angin.

 

Baca Juga :


“Elu udah punya pacar, atau piaraan atau yang lainnya seperti kebiasaanmu di Jakarta? Elu masih mengunjungi lokalisasi WTS?” Reza tersenyum mengalihkan pembicaraan. Ia ingin menguji lelaki di depannya itu.  

            “Mungkin kau akan mengatakan aku telah menjadi Ulama, Pendeta ataupun Pastur. Di Praya ini aku telah menjadi sangat berubah dan berbeda dengan aku di Jakarta dulu. Aku telah menempatkan wanita pada derajatnya yang amat terhormat”.

Ha ha ha ha.....“Elu pernah bilang, wanita itu seperti rokok. Bisa dibeli setiap saat, diisap tidak sampai habis kemudian dibuang. Elu ingat itu kita ngobrol di Gang Dolly?”

“Itulah! Kehidupan seperti itulah yang aku tinggalkan. Kehidupan seperti itulah yang membuatku gagal. Aku berubah di sini, Za. Sungguh mati!. Tapi, kau tak perlu menceritakan perubahan ini buat teman-teman lain di Jakarta”.       

“Yah.....yah! Gua mencoba untuk percaya” Reza tersenyum tipis. (bersambung)

 



 
Pangkat Ali

Pangkat Ali

Save Our Gumi Paer...LOMBOK Lalu Pangkat Ali, kesehariannya sebagai ASN -Pejabat Fungsional Pranata Humas Permkab.Lobar. Tinggal di Desa Kopang-Lombok Tengah. CP & WA: 081907941070. Fb: Fotografer Kopang & Eliza Agniya

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 

Artikel Populer

Komentar Terbanyak

 

image
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan