logoblog

Cari

Tutup Iklan

Pelangi di Langit Kota Praya - Bag 3

Pelangi di Langit Kota Praya - Bag 3

Cerbung : Lalu Pangkat Ali Bagian 3 Lamunan Alex terhenti ketika sebuah bis biru besar berhenti di pelataran terminal. Para penumpang berhamburan turun.

Cerpen

Pangkat Ali
Oleh Pangkat Ali
01 Agustus, 2017 11:08:27
Cerpen
Komentar: 0
Dibaca: 3679 Kali

Lamunan Alex terhenti ketika sebuah bis biru besar berhenti di pelataran terminal. Para penumpang berhamburan turun. Alex mengarahkan matanya kesemua penumpang. Ia melihat Ibunya melambaikan tangannya. Wanita itu telah sangat tua. Garis-garis yang malang melintang diwajahnya menandakan perjalanan waktu yang telah ditempuhnya. Berbagai pengalaman pahit dan manis kehidupan, empedu dan racun sejarah telah dikenyamnya. Garis-garis di wajah itu adalah kematangan hidup, ketabahan dan sukses.

Berkali-kali Alex memperhatikan Ibunya dari kejauhan. Tapi siapa gadis di sebelahnya? Apakah itu anak gadis Pak Hadiwinata? Ah, belum sebesar itu. Anaknya yang sulung, Lina masih SMP kelas satu, sedangkan yang itu? Seorang gadis yang setidaknya telah menamatkan SMA-nya. Lagi pula, wajah elips khas pulau Jawa. Siapa sebenarnya? Alex menerka-nerka mungkin salah satu keluarganya. Tapi ia tidak pernah melihat wajah seperti itu.

Telunjuk Ibunya mengarah padanya. Dan gadis itu mengangguk-angguk. Ibu mengatakan ini anaknya yang bungsu. Dulu bekerja di Jakarta, tapi sekarang lebih senang menyepi di  Lombok Tengah, di kota Praya ini.

Lelaki muda itu tersenyum saja. Ia segera menghampiri Ibunya dan mencium pipinya beberapa kali, barulah mengangkat travel bag ke pinggir.

    “Lex, ini kenalkan dulu. Ini Nak Lasmeyta. Panggilannya Meyta. Sama-sama Ibu berangkat satu bis. Dia dari Kemayoran mau ikut kakaknya di Mataram. Ada alamatnya, nanti bisa Alex cari alamatnya ya? Antar dulu nak Meyta besok atau lusa”. Ibu memperkenalkan gadis itu.

Alex segera menjabat tangan Lasmeyta. Gadis itu tersenyum. Lesung dipipinya sangat kentara membuatnya semakin cantik. Giginya yang putih berbaris rapi, sama seperti tentara yang sedang defile. Perawakannya agak tinggi, kulitnya yang kuning gading, seakan menandakan budaya Jawa yang anggun. Keramahannya mengingatkan Alex pada beberapa gadis Jawa yang dulu dikenalnya di Jakarta.

     “Mas sendirian?” Suara Lasmeyta bagaikan syair-syair alam yang tak henti-hentinya mengagumkan kebesaran mayapada.

     “Iya…..Eh, kan itu banyak orang”, Alex menunjuk kearah orang-orang di terminal itu. Alex tersenyum sinis. Lasmeyta langsung saja tertawa. Nada suaranya sangat akrab. Sepertinya mereka telah berkenalan sepuluh tahun silam dan baru sekarang mereka bertemu kembali setelah berpisah.

 

Baca Juga :


     “Saya kira sama Mbak Larasati”

     “Larasati?” Alex berpura-pura. Ia berusaha menyembunyikan kepura-puraannya itu. Tapi Lasmeyta menangkap lewat matanya. Konon menurut para ahli psykologi, mata selalu jujur mengatakan hal yang sebenarnya, meskipun mulut kita berbohong berbelit-belit. Mata kitalah yang mengatakan hal yang sebenarnya. Barangkali teori inilah yang dikuasai oleh Lasmeyta.

     “Jangan berpura-pura dong, Mas. Lasmeyta menepuk pundak Alex dan lelaki itu kaget. Inilah keluwesan orang Jawa. Inilah kesupelan mereka dalam bergaul, tidak kaku!.

    “Saya sudah banyak mendengar dari ibu selama dalam perjalanan di atas bis. Kan lumayan ceritanya” Lasmeyta masih melanjutkan perkataannya. Bagi Alex, Lasmeyta telah menawarkan satu sisi lain kehidupan di kota Praya ini. Melihat tingkah laku Lasmeyta, menatap wajahnya dan berusaha memahaminya lebih jauh, Alex teringat kembali masa-masa di Jakarta. Masa-masa ketika ia bergelimang dengan uang yang akhirnya bermuara pada wanita. Segala kehidupan yang putih maupun yang kelam, di Jakarta telah ditempuhnya. Lasmeyta membuatnya teringat akan gadis-gadis Jakarta yang urakan, gadis-gadis yang lincah sekaligus yang nakal. Seandainya banyak gadis seperti Lasmeyta di kota Praya ini, apakah mereka juga akan merubah tatanan kehidupan masyarakat disini yang sakral, suci dan damai?

Tapi, apapun juga, Lasmeyta kini berada di kota Praya. Sebentar lagi ia menjadi salah seorang penduduk kota ini. Alex menatap Lasmeyta lurus-lurus seakan hendak mencari dimana cacat gadis itu. Setiap kali matanya berpapasan, Alex seakan menemukan pusat gairah hidup. Seakan hidupnya digerakkan dalam sorot matanya yang bening dan bibirnya yang merekah tanpa make up. Matanya yang bening itu menjanjikan kehangatan, sedangkan bibirnya menjanjikan kegairahan. Alex menarik napas dalam-dalam. Ia mengagumi gadis itu. (bersambung)



 
Pangkat Ali

Pangkat Ali

Save Our Gumi Paer...LOMBOK Lalu Pangkat Ali, kesehariannya sebagai ASN -Pejabat Fungsional Pranata Humas Permkab.Lobar. Tinggal di Desa Kopang-Lombok Tengah. CP & WA: 081907941070. Fb: Fotografer Kopang & Eliza Agniya

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 

Komentar Terbanyak

 

image
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan