logoblog

Cari

Tutup Iklan

Pelangi di Langit Kota Praya - bag 7

Pelangi di Langit Kota Praya - bag 7

Cerbung: Lalu Pangkat Ali, Bag. 7 “Mas, mau minum sekarang?” panggil Lasmeyta penuh manja dan riang. Suaranya tenang dan membuyarkan pikiran Alex.

Cerpen

Pangkat Ali
Oleh Pangkat Ali
09 Agustus, 2017 19:59:42
Cerpen
Komentar: 0
Dibaca: 1526 Kali

“Mas, mau minum sekarang?” panggil Lasmeyta penuh manja dan riang. Suaranya tenang dan membuyarkan pikiran Alex. Ia memandang ke arah wajah gadis itu. Duh! Kalau dia menjadi istriku, dan setiap saat berdiri disitu memanggilku. Suaranya yang empuk bagaikan senar gitar. Ah! Kehidupan terasa sangat indah. Apalagi hal itu dilakukan di tengah kota Praya yang damai dan menjanjikan seribu ketenangan.

“Melamun ya mas. Ditanya kok nggak jawab!”

“Eh, ya....sorry ya, Meyta. Boleh juga,” Alex mencoba lembut mengimbangi suara lembut gadis berambut sebahu itu. Rasanya tiba-tia dia menjadi sangat sentimentil. Dia juga merasakan, betapa bunga-bunga di halaman itu keheranan memperhatikan tingkahnya.

“Kok Lasmeyta tahu kalau saya suka minum di sini?”

“Ibu sudah menceritakan seribu kebiasaanmu”.

“Oh ya. Kalau begitu, lagi sembilan ratus sembilan puluh sembilan kebiasaan yang belum ibu ceritakan. Aku akan menceritakannya sendiri. Satu hari, satu cerita,” Alex tertawa berderai.

“Berarti, saya memerlukan sembilan ratus sembilan puluh sembilan hari saya harus di sini hanya mendengarkan cerita itu? Lama sekali, berapa tahun, ya?”

“Ya, sekitar tiga tahun lebih kamu tinggal di sini,” Alex merentangkan tangannya. Sedang Lasmeyta tersenyum tipis. Nampaknya, gadis itu mengerti maksud Alex di balik kata-katanya itu. Alex memperhatikan gadis itu sepuas-puasnya. Jemarinya yang lentik dan kukunya yang panjang, terawat dan terprlihara. Bulu-bulu tangannya yang halus tersembul dari pergelangannya yang kuning gading.  

“Gimana kabarnya kakakmu?” Alex mencoba membuka percakapan.

“Baik. Kakak bilang nanti malam ke sini, jemput Meyta sekalian silaturahmi. Udah janji. Meyta kan bilang mau ketemu Mas Alex. Kakak juga bilang nanti jemput ke sini”.

“O, ya itulah kakak yang baik”.

“Baik sih baik, tapi kapan kawinnya? Udah tua begitu…..” Kalau Mas Alex, kan tinggal tunggu tanggal mainnya saja”. Lasmeyta mencoba berkata datar. Seketika Alex jadi tersipu. Ia sendiri merasa akhir-akhir ini sangat peka bila Lasmeyta menyebut perihal Larasati. Seakan-akan ada perasaan yang hilang bila bila harus segera menikah, atau Larasati datang ke sini. Pergaulannya dengan Lasmeyta akan dibatasi. Itu yang dikuatirkan. Ah, persetan! Alex mendesah.

“Kakak, kan nanti datang ke sini. Kita beli lauk buat makan bersama ya, Bu?” kata Alex mengarah pada ibunya.

“Kalau begitu, kamu dan dan Lasmeyta pergi beli lauk”, tegas ibu.

Dua menit kemudian, Alex memacu motornya di tengah jalanan yang mulai menyepi. Hanya beberapa buah cidomo dan kendaraan yang masih melaju satu persatu. Di belakangnya Lasmeyta memeluknya erat-erat seakan tak ingin lepas. Dada gadis itu menempel ketat, dan Alex merasakan aliran-aliran darah yang menggumpal di jidatnya. Wajah gadis itu terasa sangat dekat kewajahnya. Angin semilir terus bergulir teduh mengibaskan rambut Lasmeyta. Setiap kali berbicara, ia mendekatkan bibirnya ke daun telinga Alex. Dan lelaki itu merasa risih. Ia geli tiba-tiba saja. Seandainya Lasmeyta menggigit telinga Alex, pasti Alex jadi merinding. Akh! Kalau sedikit saja aku nakal seperti di Jakarta dulu…..Alex berguman dalam hati.

Bau tubuh dan farfum milik gadis itu menusuk birahinya. Hati Alex menjadi bergetar.

“Kalau ketemu Mbak Larasati, gimana ya? Apakah dia nggak marah?”

“Kenapa marah?” Alex mencoba bersikap lembut.

Baca Juga :


“Yah, melihat kita keluar dan Mas Alex bonceng saya”.

“Apa itu alasan yang kuat, yang membuatnya harus marah?”

“Barangkali saja. Masalahnya saya belum kenal sama Mbak Larasati”.

“Kenal kek, nggak kenal kek nggak apa-apa kok. Orangnya biasa-biasa saja”.

Lasmeyta menepuk pundak Alex dan sesaat motor itu berguncang. Alex seperti siswa-siswi SMA dalam film-film sinetron remaja.

“Kalau Lasmeyta masih jadi siswi SMA, pasti banyak teman yang akan bonceng berebutan”.

“Kemudian saya mau hanya Mas Alex saja yang bonceng saya gimana?” Lasmeyta tertawa berderai. Alex tak mampu menjawab pertanyaan itu. Dan Lasmeyta semakin mempererat pelukannya.

Sehabis membeli lauk, keduanya kemudian meluncur kembali melalui jalan semula. Akhirnya mereka sudah tiba kembali ke rumah. Alex mendorong motornya memasuki halaman rumah.

“Oh, kakak sudah ada, pas sekali” Alex berkata seadanya.

“O ya, Lasmeyta menjawab sekenanya, kemudian berlari menghambur masuk diikuti Alex. Tapi betapa terperanjatnya mereka ketika melihat Larasati duduk di ruangan depan. Ketika matanya berpapasan dengan mata Lasmeyta yang memancarkan sinar kecemburuan, Alex segera menguasai diri.

“Hai Laras!” panggil Alex. “Kenalkan dulu dong, ini Lasmeyta”.

Larasati segera menjabat tangan Lasmeyta.

“Kapan datang Mbak Laras?”

“Baru saja”, Larasati menjawab seadanya.

“Ibu suka tanya sama Mas Alex, kok Mbak Larasati nggak datang-datang juga, eh sekarang ketemu orangnya”, Lasmeyta bercanda mengimbangi sikap Larasati yang mulai bertingkah lain. Namun Larasati tersenyum tipis, namun sangat dipaksakan. Rasanya tidak ada ketulusan  dan kejujuran dalam senyum itu. Lasmeyta langsung menuju ke dapur sambil membawa lauknya.  (bersambung)



 
Pangkat Ali

Pangkat Ali

Save Our Gumi Paer...LOMBOK Lalu Pangkat Ali, kesehariannya sebagai ASN -Pejabat Fungsional Pranata Humas Permkab.Lobar. Tinggal di Desa Kopang-Lombok Tengah. CP & WA: 081907941070. Fb: Fotografer Kopang & Eliza Agniya

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2017 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan