logoblog

Cari

Tutup Iklan

Pelangi di Langit Kota Praya - Bag 13

Pelangi di Langit Kota Praya - Bag 13

Cerbung: Lalu Pangkat Ali, Bag. 13 Shanty menundukan kepalanya. Sekali lagi Larasati mengucapkan hal yang benar. Sehingga Shanty tetap merasa sulit untuk

Cerpen

Pelangi di Langit Kota Praya - Bag 13

Pelangi di Langit Kota Praya - Bag 13

Pelangi di Langit Kota Praya - Bag 13

Pangkat Ali
Oleh Pangkat Ali
08 September, 2017 09:23:15
Cerpen
Komentar: 0
Dibaca: 994 Kali

Shanty menundukan kepalanya. Sekali lagi Larasati mengucapkan hal yang benar. Sehingga Shanty tetap merasa sulit untuk mengungkapkan maksudnya yang sebenarnya. Larasati memang aneh! Kadang Shanty merasa sulit mengenali watak temannya yang satu ini. Tetapi, ia merasa demikian senang bersahabat dengan Larasati. Sebenarnya Larasati gadis yang lembut. Kalau dia sering bersikap berlebihan, mungkin karena usianya yang tidak bisa dikatakan remaja lagi. Usia Larasati lebih enam tahun dari Shanty. Mestinya Shanty memanggil kakak kepada Larasati. Tapi Larasati tidak senang dengan panggilan seperti itu. Dengan begitu, keakraban akan terbatas, kata Larasari suatu saat. Panggil saja namaku yang lebih Shanty, katanya lebih jauh. Shanti tidak menolak. Sejak itulah ia memanggil Larasati dengan nama saja. Dan Larasati memang benar, mereka berdua tampak lebih akrab.

“Maafkan aku, Shan. Aku sama sekali tidak bermaksud menyinggung perasaanmu. Percayalah!” kata Larasati beberapa saat kemudian, karena Shanty tetap diam menundukkan kepalanya. Ia merasa tidak enak hati melihat perubahan sikap temannya itu.

“Katakan pada Alex, dia tidak pernah melakukan kesalahan padaku. Aku yakin, dia pasti dapat mengerti maksudku”.

“Tetapi, kau selalu mengindar darinya, Laras. Mengapa?” Shanty kembali bicara. Ditatapnya wajah Larasati beberapa kali.

“Aku tidak bisa menjelaskannya, Shan. Tak tahu harus dari mana memulainya. Sulit sekali rasanya”.

“Tetapi dia sangat cemas ejak kau mengelak darinya, Laras”.

Baca Juga :


Larasati malah memalingkan wajah, menatap keluar jendela. Ruangan kerja berukuran tigapuluh meter persegi itu menjadi hening. Lama juga. Hanya mereka berdua di ruangan itu. Apang, Fathon, Ardi dan Oliva entah pergi kemana. Saat jam istirahat, mereka tentu ada di kantin di bagian belakang gedung perkantoran itu. Larasati juga sebenarnya ingin pergi ke kantin, tetapi Shanty mencegah. Ada yang ingin kubicarakan kepadamu, begitu kata Shanty tadi. Sekarang mereka hanya berdua di ruangan ini dan tampaknya tidak akan ada percakapan lagi.

Memang tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, pikir Larasati. Semuanya harus diselesaikan secepatnya. Ya, secepatnya! Percuma diteruskan, tidak akan menguntungkan. Larasati yakin, dia tidak akan merasakan kebahagiaan seperti yang selalu diimpikannya jika kelak dia harus berumah tangga dengan Alex. Tidak! Justru akan banyak persoalan baru yang akan dihadapinya. Masalah demi masalah yang datang secara beruntun tanpa bisa dielakkan. Larasati sangat percaya kalau persoalan-persoalan itu tidak akan bisa diselesaikannya. Ia belum merasa siap menghadapi semua itu, menghadapi rong-rongan dan tekanan yang datang dari pihak Alex.

Tuhan, mengapa harus sepeti ini akhirnya? Larasati menundukkan kepalanya. Tak dipedulikannya lagi Shanty yang tetap setia menemaninya. Shanty adalah sahabat sejati. Dia akan seakan ikut merasakan beban yang dihadapi Larasati. Tapi Larasati tidak mau peduli semua itu. Seperti yang dilakukannya di rumah kepada papa, mama, Dedy dan Tina. Keempat orang yang dikasihinya itupun tidak lagi dipedulikannya. Seakan persoalan itu hanya menjadi miliknya seorang. Siapa pun tidak harus ikut memilikinya. Teramat sulit untuk menjelaskan kepada siapapun, juga kepada papa yang selama ini selalu mengasihi dan memperhatikannya.

Shanty tidah mudah putus asa. Dia merasakan ada yang tidak beres pada hubungan Larasati dan Alex. Dari mana asal persoalan itu, Shanty memang belum bisa memastikan. Sebenarnya dia enggan melakukan semua itu jika bukan Larasati yang mengalaminya. Dari sahabat karibnya itu, dia mau melakukan apa saja. Dan merukunkan kembali larasati dan Alex. Buat Shanty adalah tugasnya juga. Itu sebabnya dia mulai sering datang ke rumah Larasati. Di kamar larasati, mereka bisa bicara lebih leluasa. Namun sampai sejauh ini, Larasati tetap bungkam. Dia belum juga mau menceritakan persoalan yang sebenarnya kepada Shanty, Terlalu sulit memang! (bersambung)



 
Pangkat Ali

Pangkat Ali

Save Our Gumi Paer...LOMBOK Lalu Pangkat Ali, kesehariannya sebagai ASN -Pejabat Fungsional Pranata Humas Permkab.Lobar. Tinggal di Desa Kopang-Lombok Tengah. CP & WA: 081907941070. Fb: Fotografer Kopang & Eliza Agniya

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2017 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan