logoblog

Cari

Tutup Iklan

Pelangi di Langit Kota Praya - Bag.14

Pelangi di Langit Kota Praya - Bag.14

Cerbung: Lalu Pangkat Ali, Bag. 14 “Aku tidak akan mmengatakan kepada siapapun, kalau itu memang rahasia, Laras. Percayalah padaku”, kata Shanty pelan

Cerpen

Pelangi di Langit Kota Praya - Bag.14

Pelangi di Langit Kota Praya - Bag.14

Pelangi di Langit Kota Praya - Bag.14

Pangkat Ali
Oleh Pangkat Ali
11 September, 2017 17:11:57
Cerpen
Komentar: 0
Dibaca: 700 Kali

Cerbung: Lalu Pangkat Ali, Bag. 14

“Aku tidak akan mmengatakan kepada siapapun, kalau itu memang rahasia, Laras. Percayalah padaku”, kata Shanty pelan sekali. Disentuhnya pundak Larasati. “Aku tidak ingin melihatmu bersusah hati seperti ini, Laras. Perasaanku mengatakan, ada sesuatu yang tdak beres. Ceritakan kesulitanmu itu, siapa tahu aku bisa membantumu”.

Larasati menghela napas dalam-dalam. Selalu saja begitu. Ketika Papa bertanya pun, Larasati hanya menghela napas sambil menggelengkan kepalanya. Buatnya, tidak seorangpun mau percaya pada ceritanya. Tak seorangpun mau mengerti perasaannya yang tengah tersayat itu. Bagaimana tidak? Alex lelaki yang dilihatnya jujur, setia, tampan dan bijaksana, ternyata telah mendustainya. Kiranya Alex sama saja dengan lelaki lain, senang menutupi kenyataan buruknya demi memperoleh sesuatu yang diinginkannya. Itulah yang dilakukan Alex. Pada mulanya, Larasati tidak memikirkan hal itu. Alex begitu baik untuk dicurigai. Alex juga sangat bijaksana untuk dituduh. Sulit! Benar-benar sulit untuk melemparkan tuduhan-tuduhan kasar kepadanya. Itulah yang dirasakan Larasati sebagai ganjalan saat ini, setelah semuanya menjadi kenyataan sementara Larasati belum siap untuk menghadapinya.

Siapa yang mau mengerti hal itu? Siapa yang mau mempercayai hal itu? Larasati menggelengkan kepalanya. Tidak!  Tidak seorang pun dapat mempercayai cerita itu. Tidak juga Papa. Sebab, Alex selalu tampil meyakinkan. Tindakannya, sikapnya, bicaranya, semua serba teratur dan terlatih, sehingga apa yang dimunculkan selalu mendapat nilai sempurna dari Papa dan Mama. Di kantor pun Alex tampil sama. Semua pegawai pasti akan sama memberikan nilai sempura atas penampilan sang atasan itu. Kalau semua orang sudah menilai sempurna, siapa lagi yang mau mempercayai ceritanya? Tidak! Hanya dia yang percaya bahwa, pandangan matanya belum lagi rusak. Ya, Larasati sendiri siap percaya bahwa kenyataan buruk memang ada, dan dirinya menjadi korban. Oh, Tuhan, haruskah aku mengeluh lagi kepada orang lain? guman Larasati dalam hati.

“Laras”, panggil Shanty pelan. Larasati menoleh. Shanty menatapnya penuh perhatian. Wajah Larasati begitu lesu, sepertinya sudah kehilangan gairah yang selama ini begitu kentara diwajahnya. Ah, betapa menderitanya engkau Larasati, guman Shanty dalam hati.

“Katakanlah, Laras. Aku akan siap membantu, sungguh!”

Larasati malah menghela napas sepenuh dada. Diedarkannya pandangannya keseluruh bagian kamarnya. Lalu ia menatap beberapa saat keluar jendela. Hanya kesepian dan kelengangan yang dilihatnya. Bagitu menikam hatinya. Begitulah jiwanya sat ini. Sepi dan lengang! Harapan-haran, cita-cita, keinginan-keinginan dan impian-impiannya telah musnah. Semua itu tak pernah lagi menari-nari dibenaknya. Yang tersisa adalah hanya duka. Duka yang panjang yang tak kuasa lagi dihapuskannya dengan begitu saja.

Baca Juga :


“Kesulitanmu adalah kesulitanku juga, Laras. Kau membuatku gelisah dan cemas. Kumohon padamu, ceritakanlah kesulitanmu itu”.

“Tidak! Aku tidak akan menceritakannya kepada siapapun!” Larasati menegaskan hatinya bahwa, hal itu tidak boleh diceritakan kepada siapapun. Cerita duka itu adalah miliknya seorang. Biar ia sendiri yang coba mengatasinya. Kenapa harus melibatkan orang lain pada saat terpojok begini? Bukankah ketika dalam kesempatan, ia tak pernah mengajak siapaun untuk ikut bersama-sama menikmatinya? Ah, tidak! Hanya aku yang merasakan dan menikmatinya, maka sekarangpun aku harus menanggung pahit dan getirnya persoalan itu seorang diri. Ya, seorang diri!

Sia-sia sudah Shanty. Larasati tetap diam. Hanya itu yang dapat dilakukannya. Kepada siapa saja yang coba menghiburnya, Larasati berdiam diri. Ia benar-benar tidak punya niat untuk membagi deritanya kepada orang lain, juga kepada Papa yang tak pernah bosan menyelidiki persoalan itu.

Shanty pulang tanpa membawa hasil. Ia benar-benar tidak memenuhi permintaan Alex, atasnnya itu. Tak tahu apa yang harus dikatakannya kepada Alex. Ia akan berterus terang bahwa, Larasati sama sekali tidak mau membuka mulut, menceritakan persoalannya. Shanty mengangguk-anggukkan kepalanya sepanjang perjalanan pulang ke rumahnya.  Begiru selalu setip kali dia pulang dari rumah Larasati. Entah untuk yang keberapa kalinya Sahnty mengalami kegagalan ini, dia tidak pernah menghitung lagi. (bersambung)



 
Pangkat Ali

Pangkat Ali

Save Our Gumi Paer...LOMBOK Lalu Pangkat Ali, kesehariannya sebagai ASN -Pejabat Fungsional Pranata Humas Permkab.Lobar. Tinggal di Desa Kopang-Lombok Tengah. CP & WA: 081907941070. Fb: Fotografer Kopang & Eliza Agniya

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2017 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan