logoblog

Cari

Tutup Iklan

Kaca dan Realita Realita

Kaca dan Realita Realita

Aku mengingat, beberapa tahun yang lalu aku mendapat surat dari bibi Suma tentang Tasya yang telah berubah karena sebuah kaca yang

Cerpen

Novita Hidayani
Oleh Novita Hidayani
16 November, 2017 12:20:02
Cerpen
Komentar: 0
Dibaca: 4702 Kali

Aku mengingat, beberapa tahun yang lalu aku mendapat surat dari bibi Suma tentang Tasya yang telah berubah karena sebuah kaca yang ada di kamarnya. Membuatku menjadi begitu tak sabar akan bertemu dengan sepupuku itu untuk melihat perubahan seperti apa yang telah terjadi padanya setelah lima tahun tidak bertemu dan kaca seperti apa pula yang telah mengubahnya itu.

Kunjungan kami sekeluarga ke rumah bibi Suma begitu kunantikan, selain karena perubahan Tasya yang diceritakan mamaknya itu, sudah lama sekali aku tidak mengunjungi kota kelahiranku yang letaknya ratusan kilometer dari tempat tinggalku. Kami menyeberangi sebuah selat selama empat jam menggunakan sebuah kapal. Aku dan meme selalu mabuk laut karena kapal yang terombang-ambing oleh ombak yang besar. Hamparan laut dan langit biru yang menyejukkan mata, tak pernah dapat kunikmati karena harus menahan mual yang bergejolak di perutku.

Aku mengenal Tasya sejak pertama kali dapat mengenali apapun: Meme, seseorang yang di dadanya dapat menghilangkan hausku dan dapat menghilangkan lapar diperutku. Mamiq, seseorang yang biasa menggendongku tinggi-tinggi dan membawa kami kemanapun dengan motornya. Motor, sesuatu yang dapat membawa kami kemana saja, berwarna merah dan bersuara  drrn-drrn-drrn. Tasya, seseorang yang akan menemaniku berlari di halaman mengejar anak-anak kucing, dengan cara berlari dan berjalan yang lucu—karena ia tidak melakukannya sepertiku. Dan orang-orang serta benda-benda lainnya. Kira-kira seperti itulah ingatan pertamaku ketika pertama kali mengenali sesuatu.

Lalu kami, aku dan meme sering mengunjungi rumah Tasya dan aku akan bermain dengannya. Entah pada usia keberapa, mungkin tiga atau empat, aku baru tahu kalau Tasya itu kakinya pincang. Karena teman-teman sebaya kami yang lain sering mengejeknya kepaq. Tasya sering menangis karena itu. Oh dia mudah sekali menangis. Bahkan karena melihat seekor capung yang kepalanya putus, dia akan menangis keras-keras. Karena itu dia juga sering diejek kemboq oleh teman-teman kami. Aku tak membelanya karena teman-temanku yang lain tidak akan menemaniku. Kadang aku juga sesekali mengejeknya. Meski begitu kami tetap bermain bersama dan akan pulang bersama. Tepatnya, Tasya akan tetap bermain bersama kami dan akan pulang bersamaku juga. Di rumah Tasya, kami tetap bermain seperti tak pernah ada yang mengolok-ngoloknya sebelumnya.

Menjelang masuk sekolah dasar, aku dan meme jadi lebih jarang berkunjung ke rumah bibi Suma. Aku jarang bertemu Tasya. Paling hanya beberapa kali di hari-hari spesial. Seperti idul fitri atau acara maulid Nabi. Aku masih bermain dengan Tasya. Kami sedang senang-senangnya bermain peran menjadi putri-putrian saat itu. Terkadang memperebutkan siapa yang menjadi putri tercantik. Tentu saja aku yang selalu menjadi putri tercantik karena Tasya tidak cantik dan rambutnya sangat kriting. Kiting adalah nama ejekannya yang lain.

Saat remaja, banyak jerawat tumbuh di wajah Tasya. Tapi aku tak lagi mengejeknya, aku mulai sering merasa iba dan mengasihinya saat itu. Terlebih dia jadi sangat pendiam dan lebih sering berdiam diri di kamarnya yang sering kali dibiarkan gelap atau tamaram. Ketika datang, aku akan membawa majalah Aneka Yess untuk kami baca atau kami akan membicarakan film Gita Cinta waktu SMA dan mendengarkan lagu-lagu hitz tahun itu, walaupun kami masih SMP. Kami tak lagi memperebutkan siapa yang menjadi tercantik. Tasya menjadi pendiam dan kami lebih banyak tenggelam dalam imajinasi masing-masing memimpikan hari esok yang penuh drama seperti yang kami tonton. Kadang aku juga bercerita tentang kakak kelas yang kutaksir di sekolahku. Tasya hampir tak pernah bicara. Jerawat makin banyak tumbuh di wajahnya.

Ketika kelas tiga SMP aku dan keluargaku pindah ke pulau seberang dan tak pernah lagi berkunjung ke rumah bibi Suma hingga surat dari bibi Suma datang meminta kami berkujung.

***

Dimana Tasya, adalah pertanyaan pertamaku ketika sampai di rumah bibi Suma saat itu. Bibi Suma tergelak mendengar itu dan menjawab Tasya sedang keluar bersama teman-temannya. Aku merasa terkejut mendengar kata teman-teman dan keluar. Itu tidak terdengar seperti Tasya yang dulu.

 

Baca Juga :


“Iya.. Tasya sudah mulai berubah belakangan ini. Semenjak ulang tahunnya awal tahun lalu dan mendapat hadiah sebuah kaca dari pamannya. Awalnya Bibi pikir Tasya tidak akan menyukai barang sejenis kaca ada di kamarnya, dia protes dan meminta mengeluarkan kaca itu dari kamarnya. Tetapi lambat laun dia menyukai kaca itu dan menjadi benda yang paling disukainya. Dia jadi lebih sering berkaca dan menjadi lebih percaya diri dari sebelumnya.”

Aku jadi tak sabar ingin bertemu Tasya. Penjelasan bibi mengindikasikan bahwa sebenarnya tidak ada yang berubah pada Tasya secara fisik melainkan perubahan psikologis. Tasya jadi lebih percaya diri. Oh apapun yang dilakukan kaca itu, dia telah menyelamatkan Tasya dari tidak menerima diri sendiri. Itu Bagus. Aku ingin melihat keajaiban kaca itu secepatnya.

Aku memasuki kamar Tasya. Temaram. Cahaya hanya berasal dari bias matahari yang masuk melalui gorden abu-abu jendela Tasya. Letak barang tak ada yang berubah satupun di kamar itu. Sebuah ranjang dengan kelambu putih masih berada di pojok ruangan. Di samping ranjang, berdiri sebuah lemari kayu dua pintu yang masih kokoh. Dan sebuah meja belajar datar dengan sebuah kursi di dekat pintu. Aku membuka lebar-lebar jendela kamar Tasya yang selalu tertutup. Tepat di samping jendela, sebuah kaca berukuran seperempat pintu bergantung.

Kaca itu satu-satunya benda baru di kamar Tasya. Tidak ada ukiran apapun pada bingkai kaca itu. Kayu polos. Aku berdiri beberapa langkah di belakang kaca itu mengamati apa yang sebenarnya dapat dilakukannya. Tapi aku tak mendapati apapun selain bayanganku yang berdiri disana. Tidak jelas. Aku mendekat dan mendapati kaca itu sangat berdebu. Aku kembali menatap diriku lama-lama, berharap bayanganku dapat berbicara denganku dan mengatakan bahwa aku perempuan paling cantik di dunia ini atau apa. Tapi tak ada yang berubah. Setelah beberapa lama aku menyerah dan memutuskan untuk keluar mengambil kain lap dan segayung air. Lebih baik kubersihkan saja. Mungkin keajaiban kaca itu hanya bekerja pada Tasya. Setidaknya dengan membersihkannya, aku berharap kaca itu akan dapat bekerja semakin baik pada Tasya.

Saat itu, aku tak sabar menunggu Tasya pulang. Aku akan melihat langsung perubahan itu dan jika ada kesempatan bagus aku akan menanyakan apa benar sebuah kaca telah merubahnya seperti kata bibi Suma. Aku mengelap kaca itu dengan semangat. Beberapa menit setelah mengelap kaca itu, bayanganku jelas terpantul disana. Aku menatap bayanganku cukup lama, hingga aku menyadari sesuatu.

Ya Tuhan! Apa yang tlah kulakukan?! Aku telah menghancurkan kaca penyelamat Tasya.



 
Novita Hidayani

Novita Hidayani

email: hidayaninovita@gmail.com facebook: Novita Hidayani twitter: @yfoundme

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan