logoblog

Cari

Tutup Iklan

Pelangi di Langit Kota Praya, Bag.27

Pelangi di Langit Kota Praya, Bag.27

“Lepaskan aku! Lepaskan akuuu!” teriak Deddy dengan lantang. “Buang dulu nafsumu yang berlebihan itu, baru Papa lepaskan!” “Tidak! Aku akan membunuh

Cerpen

Pangkat Ali
Oleh Pangkat Ali
16 November, 2017 13:57:26
Cerpen
Komentar: 0
Dibaca: 2352 Kali

“Lepaskan aku! Lepaskan akuuu!” teriak Deddy dengan lantang.

“Buang dulu nafsumu yang berlebihan itu, baru Papa lepaskan!”

“Tidak! Aku akan membunuh lelaki brengsek itu.Dia memang pantas untuk dibunuh!”

Papa semakin mengencangkan cekalannya. Kedua tangan Deddy sudah terkunci dengan kuat sekali. Gerakan Papa tadi membuat Deddy meringis menahan sakit.

“Kenapa Papa membela lelaki bajingan itu?” sengat Deddy dengan sengitnya.

“Tidak ada lelaki bajingan di rumah ini, Ded! Sentak Papa cepat. “Kau tahu Papa kan? Kau kenal watak papamu kan? Papa selalu mengajarkan yang baik kepadasmu, kepada Tina dan Larasati. Ingat itu! Papa ingin kalian menjadi orang baik-baik, bukan malah menjadi bergajulan! Nah, mana mungkin Papa membiarkan seorang lelaki bajingan masuk ke rumah ini”

“Dia memang bajingan!” telunjuk Deddy mengarah pada Alex.

“Bukan dia, tetapi kamu!” Papa tak kalah sengitnya dengan Deddy.

“Lepaskaaaaan!”

“Kalau kau ingin jadi jagoan, lawanlah Papa!”, bentak Papa sambil melepaskan pegangannya. Kemarahan Papa sudah tidak bisa dibendung lagi. Deddy benar-benar sudah tidak berfikir waras lagi. Dia harus diberi pelajaran yang setimpal. Papa berdiri tegar membelakangi Alex dan berhadapan dengan Deddy yang akan mengamuk.

“Ayo! Kenapa diam? Seranglah, seranglah!” sengat Papa dengan ketusnya.

Deddy tidak bergerak. Tetapi sorot matanya masih beringas. Ia tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Papa benar-benar marah padanya. Itulah yang ditakutkan. Selama ini dia memang takut kepada Papa. Meski sudah tua, Papabukanlah lelaki pengecut. Papa berani menghadapi siapapun jika Papa benar. Jangan lagi hanya seorang Deddy, anak muda yang sejak kecil diasuh dan dikasihinya itu. Apa yang perlu ditakuti Papa?

“Ayo serang Papa, Ded! Kau takut? Jangan takut, Ded! Kalau mau jadi jagoan, tidak boleh takut menghadapi siapapun seperti Papa!” kata Papa terus mengejek.

Mana mungkin Deddy berani menyerang Papa? Dia tetap diam pada posisinya.

“Tidak ada persoalan yang tidak bisa diselesaikan anakku!” kata Papa kemudian. Nada suaranya tidak keras lagi

“Kitapun bisa menyelesaikan persoalan Larasati dengan kepala dingin. Mengapa harus memilih jalan kekerasan? Mengapa itu yang kamu lakukan, anakku?”

 

Baca Juga :


Deddy tidak segera menjawab. Ditundukkan kepalanya. Lama dia dalam sikap begitu. Suaranya pelan sekali ketika bicara.

“Larasati.....Larasati telah pergi, Pa….”

“Kita semua telah tahu kalau Larasati telah pergi, Ded!” sambut Papa. “Apa karena itu lantas kita semua harus kehilangan sikap? Apa karena Larasati pergi, lantas kita semua harus gila dan bertindak semaunya? Tidak! Tidak anakku, bukan hanya kamu yang kecewa dan marah. Mama, Larasati, juga Papa. Kita semua marah dan kecewa kepada Alex, kalau memang benar Alex penyebabnya. Tetapi Alex tidak salah, Ded. Dia sama sekali tidak tahu menahu soal penelpon gelap itu. Ada orang lain yang tidak sengaja melakukannya. Dan….”

“Itu disengaja, Pa. Perempuan itu istri Alex. Aku sudah mengetahuinya!” Deddy dengan lantang memotong perkataan Papa. Ia tetp menundukkan kepalanya.

“Itulah salahmu, Ded. Kamu tidak menyelidiki terlebih dahulu duduk persoalannya yang sesungguhnya. Main tuduh seenaknya itu tidak benar!” tukas Papa cepat. Kemudian diceritakan persoalan yang sebenarnya. Satu demi satu dijelaskan Papa secara mendetil, agar Deddy bisa mengerti permasalahannya yang sesungguhnya.

“Nah, bagaimana? Masih mau emosi juga? Masih mau menghajar Alex juga?”

Deddy kaget. Dia benar-benar tidak mengira akan seperti ini keadaannya.Diangkatnya kepalanya, menatap Papa sejenak lalu menatap kearah Alex, seperti meminta kepastian dari Alex.

“Benar, Ded!” kata Alex pelan sekali namun mantap. Hanya itu yang bisa dikatakannya.

“Lalu, kenapa Larasati pergi, Pa?” Tanya Deddy kepada Papa.

“Papa tidak tahu kenapa dia pergi. Tapi kamu harus mencarinya, Ded. Ya, kamu harus mencari Larasati. Cari sampai ketemu!”

“Tap kemana aku akan men….”

“Laki-laki tidak pantas berkata begitu, anakku!” (bersambung)

 



 
Pangkat Ali

Pangkat Ali

Save Our Gumi Paer...LOMBOK Lalu Pangkat Ali, kesehariannya sebagai ASN -Pejabat Fungsional Pranata Humas Permkab.Lobar. Tinggal di Desa Kopang-Lombok Tengah. CP & WA: 081907941070. Fb: Fotografer Kopang & Eliza Agniya

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan