logoblog

Cari

Tutup Iklan

Aku Dan Guru-guru

Aku Dan Guru-guru

Pagi yang, dingin rintik hujan yang enggan berhenti membuat tubuh malas beraktifitas, jam dinding berdetak pelan jarum panjang dan pendek nampak

Cerpen

Chairil Anwar
Oleh Chairil Anwar
27 November, 2017 10:04:25
Cerpen
Komentar: 0
Dibaca: 2631 Kali

Pagi yang, dingin rintik hujan yang enggan berhenti membuat tubuh malas beraktifitas, jam dinding berdetak pelan jarum panjang dan pendek nampak saling tindih di atas angka Enam pagi, matahari sebentar bersinar kemudian kembali diselimut awan hitam tipis, 25 november 2017 pagi itu anak-anak sudah sarapan selepas subuh tadi, nonton film kesayangan mereka upin-dan ipin dan bersiap mandi kemudian berangkat sekolah.

Sekitar pukul 07.15 setelah selesai mempersiapkan diri untuk berangkat ke sekolah, ditengah jalan aku diminta mengantar ibu menuju Universitas Hamzanwadi untuk menghadiri acara wisuda adik yang nomer tiga dari istriku, tak berfikir lama aku ikut saja, sampai di sana setelah 30 menit duduk di atas motor tua yang bergetar dengan kecepatan mendekati 80km/jam.

Sampai dilokasi sekitar 07.56 sembari melihat keadaan dan jumlah tamu undangan yang hadir, aku raba ponsel dan menghubungi sahabat saya, diujung telephon teman saya menjawab acara kita sekarang di mushalla Al Abror, saya sekarang menuju kesana tunggu ya, jawabku singkat, sembari mengambil jalan memutar karena semua jalan keluar dari lokasi wisuda telah dikonci agar tidak ada aktivitas lalu lalang di lokasi wisuda,

Sampai di depan mushalla mataku melihat sekeliling mencari dimana teman yang tadi menelpon, sebentar melirik kekanan,melirik kekiri hingga mataku menubruk baliho besar berwarna kuning bertuliskan selamat hari guru nasional 25 november 2017 dirangkai dengan ziarah makam pahlawan nasional Almagfurullahu TGKH.M Zainuddin Abdul Majid, karena aku tidak menjumpainya kutelpon kembali dengan harapan bisa bertemu namun panggilanku tidak dijawab akhirnya kupilih kembali kelokasi wisuda di GOR Sitti Rauhun sebelah timur gedung Lantai tiga Birrul Walidain.

Selang 70 menit setelah kembali dari makam pahlawan handphone dengan nada dering sukohati versi melayu kelantan berteriak nyaring membuat tamu yang bersebelahan denganku memandangiku, ku jawab dan ternyata teman yang tadi kutelpon membalas panggilanku, lagi dimana ini? Sapanya, kesal dengan panggilannya kujawab tunggu sejamlagi aku kembali jawabku pelan.

Saat ku balik tanganku untuk melihat jarumnya ternyata kedua jarum arlojiku sudah saling tindih di atas angka 10, lalu kuputuskan untuk meninggalkan arena wisuda ketika pembawa acara berteriak kepada semua wisudawan-wisudawati dimohon mempesiapkan diri untuk di wisuda, kontan saja semua hadirin berdiri melihat para wisudawan dan wisudawati yang dipanggil namanya satu persatu itu berjalan kedepan rektor universitas yang jelita itu dan aku diam-diam meninggalkan kursi tempatku duduk sejam lalu kemudian berangkan menuju baliho besar kuning yang kuceritakan diawal tadi.

Awalnya aku enggan karena semua gerbang dikonci kucoba lobi petugas jaga dengan harapan supaya mereka mau membuka gembok gerbang ternyata gagal, aku pasrah hendak keluar tidak diizinkan maka tidak ada cara lain kecuali mondar mandir sembari menelpon balik kepemilik nomor yang menelpon sejam tadi, di sana dia hanya menjawab oh begitu ya jawabnya sambil terdengar cengengesan mendengar ceritaku yang tak lolos dari penjagaan pengawal pintu gerbang.

 

Baca Juga :


Amat beruntung aku saat itu, karena bertemu dengan Almukarram Tuan Guru H. Muh Yusuf Makmun yang menjabat sebagai Ketua Dewan Musytasyar PB NW, lain saya lain beliau, saat beliau berjalan kearah salah satu gerbang, penjaga gerbang terlihat saling pandang sebentar, melihat beliau yang kembali karena berjumpa dengan gembok besar dijalan keluar Auditorium, aku yang dari tadi kebingungan tak tahu harus bebuat apa untuk dapat keluar dari lokasi, seperti mendapat asupan energi baru dan aku menziarahi Almukarram, walaupun Harus menanggung Konsekwensi dari jabat tangan yang aku lakukan, karena biasanya almukarram pasti bertanya kenapa ada disni??? Pertanyaan singkat namun tak bisa di jawab asal-asal saja karena sosok beliau yang sangat bewibawa di depanku.

Akhirnya, aku bisa lolos dari kurungan besar itu menuju lokasi acara hari guru nasional meskipun acaranya tinggal satu sambutan kemudian penutup, waktu ku hadir disana seorang berdiri di depan mimbar mushalla sambil membaca puisi yang berjudul guru sang pencerah, disusul kembali dengan seorang peserta dengan membaca riwayat dan sejarah perjuangan maulana syeikh, kemudian seorang kembali membaca puisi yang berjudul jasa guru begitulah acara yang sempat saya ikuti setelah mendengar penjelasan mantan rektor STKIP yang sekarang Menjabar sebagai kepala Dinas Dikpora Provinsu NTB, Drs Muhammad Suruji, MPd.

Acara kemudian di tutup dengan acara photo-photo, sesekali aku menjadi kameramen di waktu yang lain temanku yang aku telfon bergantian menyuruhku berdiri di depan baliho besar kuning dan menjepret tubuhku diantara seorang professsor dan pengurus pusan PGNW yang hadir di situ.

 

Pantjor 25 November 17



 
Chairil Anwar

Chairil Anwar

Menjadi tua adalah sebuah kebiasaan, sedangkan menjadi dewasa adalah sebuah pilihan, dari KMKrens untuk NTB yang berdaya saing. HP 087763256047

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 

Komentar Terbanyak

 

image
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan