logoblog

Cari

Tutup Iklan

Putri Mestika Kerajaan Sanggar

Putri Mestika Kerajaan Sanggar

Putri Mestika Kerajaan Sanggar Oleh: Aksa Ahmad 1/ "Mada[1] bersedia, Ayahanda. Mada sudah siap!" Dalam dekapan istriku, ibundanya, lantang Dae La

Cerpen

Aksa Ahmad
Oleh Aksa Ahmad
11 Desember, 2017 06:32:37
Cerpen
Komentar: 0
Dibaca: 7483 Kali

Oleh: Aksa Ahmad

"Mada [1] bersedia, Ayahanda. Mada sudah siap!" Dalam dekapan istriku, ibundanya, lantang Dae La Minga menyatakan kesiapan perihal upacara kemalangan yang segera ditimpakan padanya.

Mendengar kesiapannya itu, hatiku bak teriris-iris. Jiwaku menyusut. Pedih dan sedih rasanya. Aku bergidik, merasa lemah. Dosakah aku? Tanya itu menggebu-gebu di relung hatiku. Terus mendesak agar kulontarkan saja lewat lisan. Namun, lidahku kaku. Kelu. Bukan karena banyaknya air mata yang tak sanggup kubendung lantas membuatku kesulitan berkata-kata. Bukan. Jikapun air mataku tumpah dan bersatu padu, barangkali mampu menyaingi luasnya samudra di ujung sana. Lidahku kelu karena...

"Mada tak mengapa, Ayahanda," ucapnya lagi, tegar. Padahal, sebentar lagi proses upacara kemalangan itu benar-benar dilangsungkan. Dan, akulah---selaku seorang raja di Kerajaan Sanggar--yang mengeluarkan kebijakan itu; hasil musyawarahku dengan para petinggi istana. Sekali lagi, dosakah aku?

***

Sebelum tiba di puncak Gunung Tambora dan kini kami di Pantai Lahalo, ribuan rakyat mengantar proses upacara ini dengan tarian dan lagu Inde Ndua yang mendayu-dayu. Itu serasi dengan mendayunya tarian dan nyanyian alam di sekeliling. Entah siapa yang memberi alam kabar, aku tidak mengerti. Dalam hal ini, aku merasa tidak pernah memerintahkan rakyatku untuk menyerukannya. Ah, aku lupa. Putriku, Dae La Minga, memanglah tersohor. Bahkan ia mengalahkan kesohoran kepemimpinanku selama ini.

"Izinkan mada mengucap pesan terakhir, Ayahanda," pinta Dae La Minga santun disertai ketegaran yang kian kukuh.

"Tidak sekarang, Anakku. Jangan sekarang!" Spontan, akhirnya aku bisa membuka suara, menimpalinya. Ya, semata-mata lontaran kata yang bahkan membuat aku sendiri terkejut itu akibat dorongan keras dari rasa 'tidak siap' yang menggebu di relung hati sejak tadi.

"Tapi, mada harus mengatakan sekarang, Ayahanda. Sudah tiba waktunya."

Aku menepis, memalingkan wajah. Setaat dan sepasrah itukah Dae La Minga terhadapku? Terhadap titahku? Lihat, kesiapan dan keikhlasannya sudah tak bisa tergoyahkan, tak bisa ditunda lagi bahkan oleh aku sendiri, ayah sekaligus baginda raja baginya. Ah, alangkah egoisnya aku. Demi---yang kataku---kebaikan Kerajaan Sanggar dan kerajaan-kerajaan lainnya, aku sampai hati membuat keputusan memilukan seperti ini. Oh, kepadamu wahai putriku, Ayah merasa sangat berdosa. Ayah sungguh-sungguh meminta maaf.

"Tak usah disesali, Ayahanda. Titah Ayahanda sudah benar. Keputusan ini sudah tepat," ujarnya santun, menangkup hormat lalu memelukku.

Keadaan telah berbalik seratus delapan puluh derajat. Jika kemarin-kemarin kami yang merayu dan meyakinkan dirinya, hari ini justru ia yang meyakinkan kami. Malah pun ia yang beralih memberi kami semangat, napas keikhlasan, ketegaran.

"Ini bukanlah sebuah dosa, Ayahanda. Bukan kesalahan. Bukan salah Ayahanda. Bukan pula salah Ibunda. Bukan salah siapa-siapa. Lebih-lebih Yang-Maha-Esa, Dia tidak bisa dipersalahkan. Semata-mata ini anugerah-Nya. Percayalah, tidak ada yang salah dengan setiap ketetapan-Nya."

Aku terharu sekaligus tergugu mendengar untaian kalimat yang dituturkannya itu. Terus terang, betapa aku kian membanggakannya. Makanya hatiku kian berat melanjutkan rencana memilukan ini. Namun, karena hari kian terik, perlahan aku memantapkan hati, membangkitkan ketegaran, berpasrah pada keputusanku. Ikhlas.

"Baik," timpalku, "kau sangatlah benar, Putriku. Ayahanda adalah seorang raja. Pantang bagi orang seperti Ayahanda menarik kembali titah, apa lagi yang telah disepakati jauh-jauh hari. Katakanlah, apa pesan terakhirmu, Nak?"

 

Baca Juga :


Dae La Minga menyungging senyum. Sebuah senyuman keikhlasan yang amat menawan. Seraya tersenyum begitu, ia menangkupkan kedua tangannya, memberiku hormat. Ia mengambil sikap lalu berdiri di atas batu bersusun tujuh. Bukan lagi suatu keraguan, alangkah cantik dan anggunnya anakku. Sangat serasi dengan pakaian terakhir yang dikenakannya. Adalah pakaian berselendangkan sutra, yang tertiup-tiup angin nun menyejukkan. Ya, dengan cara mereka, mungkin angin pun turut memeluk Dae La Minga untuk kali terakhir. Atau boleh jadi itu merupakan kali pertama mereka bisa leluasa menerpa-nerpa kulit putriku. Walau dalam keadaan sendu, tentunya, kesempatan terakhir itu dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh angin. Mungkin saja. Dan itu tidak masalah.

Kemudian lantang seruannya, "Wahai warga Kore-ku! Dengarlah! Biarlah aku yang ditimpa nasib begini---jangan lagi kalian. Sesempurnanya kecantikan akan kubawa serta. Akan kularungkan bersamaku di tengah ataupun di dasarnya lautan. Jikapun kalian cantik, itu sekadar cantik, tidak serta dengan keanggunan. Dan, jika kalian anggun, cantik tidaklah kalian semai. Berpegang teguhlah pada falsafah, norma yang baik adalah titah orang tua!"

Bak hujan lebat yang mengguyur tiba-tiba, ribuan pasang mata yang menyaksikan seruannya itu meluruhkan air mata. Mereka terisak-isak, sesenggukkan, meraung, menjerit, saling memeluk, saling menguatkan. Oh, betapa sosok putri mestika istana yang dicintai, dibanggakan, agungkan, dan mereka segani harus ditimpa nasib malang seperti itu. Mengenai perasaanku dan istriku, jangan ditanya lagi. Kami benar-benar berada di puncak kesedihan dan tangisan yang mendalam.

Ia turun dari batu itu, bersujud di kakiku dan istriku. Berkata ia tanpa sebulir air mata pun menetes di pelupuknya, "Mboto kangampu mada ta[2]. Salam hormat mada."

Dengan perasaan haru, duka, dan kesedihan yang menyayat, aku dan istriku mencium dan memeluknya untuk kali terakhir. Lama. Kami mencurahkan segala emosi. Mencurahkan segala-galanya kasih sayang, yang mungkin saja selama ini masih teledor kami berikan. Tidak sampai kami berikan sepenuhnya sebab kesibukan, kewajiban memimpin dan menjaga takhta kerjaan dengan semestinya. Maka, kami keluarkan semuanya di saat terakhir itu. Terakhir, aku dan istriku berbisik kata maaf bersungguh-sungguh di telinganya. Ia hanya mengangguk tegar lalu masuk ke peti yang sudah dipersiapkan, berbaring pasrah di ruang yang sesak itu. Dan, tangisnya mulai pecah seiring dengan ditutup dan dihanyutkan peti itu. Ia terus menangis, terus, sampai suaranya menghilang, seiring menghilangnya peti itu dari pandangan. Ah, aku sungguh-sungguh tidak sanggup membayangkan akan di mana putri kebanggaanku itu benar-benar berakhir.

2/
Peti yang berisikan Dae La Minga telah dilarungkan. Kemudian dibawa dan dihantam ombak. Terombang-ambing di tengah dan birunya samudra. Kawanan burung yang penasaran memandangnya di udara. Setelah mereka tahu itu Dae La Minga, mereka mengikutinya. Terus mengikuti. Tapi, kian lama mengikuti, kawanan burung itu kelelahan. Mereka berhenti. Dan, dari sudut pandang mereka, di tempat mereka berhenti, peti yang kian jauh itu mengecil dan mengecil. Tak berdaya. Sehingga sulit dipercaya bahwa ada mestika Kerajaan Sanggar bersemayam di sana. Dalam keadaan pasrah. Tegar. Ikhlas.

3/
Oh, menangislah, Wahai Putri Mestika Kerajaan Sanggar. Kau berhak untuk itu. Sudah saatnya isakan dan air matamu pecah. Kau perdengarkanlah saja itu. Biar langit, matahari, awan, pohon, burung-burung, atau segala yang menghuni samudra mendengar tangisanmu. Berbagilah dengan mereka. Mereka pasti bersedia akan itu. Karena mereka juga bisa melihat, mendengar, dan kelak pasti sama-sama mengenang sosokmu. Dan tenanglah. Harus kau tahu, ada air mata yang memang patut untuk dikeluarkan, digemericikkan, bila perlu dengan suara tangis yang menyayat. Dan, itulah arti air matamu kini. Jadi, tak perlu kau sembunyikan berlama-lama. Kau pun tak harus risau. Air mata yang berumpah ruah dan membasahi pipi dan gaun cantikmu itu bukan serta merta menaklukkan bukti ketegaranmu. Itu sama sekali bukanlah peretasnya. Sebagai seorang putri kerajaan, dalam hal ini, sejauh ini, kau sangatlah tegar. Terpuji. Bijaksana. Bahkan kau terlampau bijaksana menghentikan kisruh dan kegentingan yang selama ini terjadi. Menghentikan pertikaian atas dirimu. Menghentikan pertumpahan darah! Ya, ketegaran dan pengorbanmu itu akan menghentikan pertumpahan darah! Adalah darah-darah para pangeran yang selama ini senantiasa berebut mempersuntingmu.

Selamat jalan, Mestika Emas Kerajaan Sanggar. Kau putri istana yang sungguh-sungguh berbudi pekerti baik. Cantik wajahnya sepancar dengan kecantikan dan keluhuran hatimu. Maka tak heran bila para pangeran rela berkorban nyawa demi mendapatkanmu.

Senantiasa yakinlah, atas kebaikan dan segala keikhlasanmu, selamanya kau akan dikenang baik.

Bima, September 2017

[1] Mada: saya, halus (umumnya diucapkan oleh yang lebih muda kepada yang lebih tua)
[2] Mboto kangampu mada ta: Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya)

Referensi: https: //ompundaru.wordpress.com/2009/01/02/legenda-dae-la-minga/

Gambar by Google.



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan