logoblog

Cari

Tutup Iklan

Tua-tua Keladi

Tua-tua Keladi

TUA-TUA KELADI MAKIN TUA MAKIN JADI Sederetan jalan telah dikerumuni masa, pejabat dan pegawai negeri hilang begitu saja. Orang miskin

Cerpen

Tua-tua Keladi


Hendrawansyah (SIMON)
Oleh Hendrawansyah (SIMON)
12 Desember, 2017 12:29:50
Cerpen
Komentar: 0
Dibaca: 2016 Kali

TUA-TUA KELADI MAKIN TUA MAKIN JADI

Sederetan jalan telah dikerumuni masa, pejabat dan pegawai negeri hilang begitu saja. Orang miskin dipandang hina lantaran mengadahkan tangan pada penguasa. Pacaran di dunia maya memang bebas bergaya. Atas, bawah, kiri, kanan dianggap sama. Rata-rata di antaranya remaja tua renta dan lanjut usia. Atas nama simbolitas keangkuhan di anggap kemewahan. Dunia begitu indah bila di tata dengan etika. Semua terasa nikmat tapi banyak yang tidak suka. Pikiran buruk tetap mengakali otak busuk merupakan kebiasaan hidup pragmatis serta titipan demokrasi. Politik-politik cinta telah menebarkan sayap sampai ke tempat para pejabat, istri teman menjadi mangsa adalah target utama. Instruksi kantor menjadi alasan logis pada anak dan isteri.

Luar negeri alasan untuk berdikari tapi yang pasti ingin beristeri lagi. Aku tak ingin seperti mereka yang pandai bersilat lidah. Masih banyak orang baik di dunia tapi seringkali dibantai di meja perundingan. Sepatu licin dan berdasi alasan mereka punya posisi, padahal hasil dari korupsi.

Ajang pacaran telah menjadi simbol kekerasan, belum akad nikah sudah mulai kasar dan nekad. Tusukan jarum di tangan masih bisa ditahan tapi tajamnya hinaan membuat dunia menjadi goyah. Bila dalam hubungan sampai berbadan dua, tak satupun dari mereka yang didera, malah hanya dibiarkan begitu saja.Tidakkah ada rasa bersalah sehingga janin kecil harus dibuang. Di mana orang-orang beragama? Mengapa mereka hanya berani di atas mimbar padahal tebaran dosa-dosa telah mewabah hingga ke lorong-lorong gang. Apa mungkin hal ini terjadi karena kehendak Tuhan, atau sengaja dibiarkan. Bila pendekatan Teori Pengetahuan tak lagi mampu menerobos ke dalam menemukan solusinya. Maka hal ini bisa diasumsikan sebagai azab Tuhan.

Pergaulan bebas tak lagi dipandang sebagai satu kejahatan moral, malah sering kali dibiarkan di ruang kantoran lebih-lebih di tempat hiburan. Apa lagi di daerah pinggiran. Kalkulasi kasus kriminal atas nama pelecehan sexsual tiap tahun terus meningkat. Semua tak bisa diubah kalau masih meraba. Sebab yang dibutuhkan bukan solusi tapi revolusi. "Jatuhnya buah tak pernah jauh dari pohonya." Aku tak kuasa bila melihat mereka yang beriringan tangan tanpa ada ikatan yang sah.

 

Baca Juga :


Manusia mana yang tega melihat bila kekasih berjalan berduaan di depan mata apa lagi buat orang yang sudah berumah tangga. Bukan persoalan cemburu dengan keadaan, tapi separuh dunia telah terisi oleh orang-orang tua, bukan salah remaja. Bila mereka sering bermain cinta di pinggiran taman atau di tempat-tempat yang gelap, sebab mereka telah melihat orang tua pun melakukan hal yang sama. Kalau salah satu dipersalahkan maka itu tidaklah seimbang karena dalam pergaulan kita punya hak yang sama. Di berbagai tempat kita bisa melihat, ajang pacaran tak lagi mengenal usia, tawar-menawar di berbagai tempat, tak ada penolakkan yang penting punya uang. Hotel mewah jadi sasaran, salome(satu lubang rame-rame) adalah menu utama. Penampilan setengah badan menjadi bidikan. Tarian telanjang menjadi tontonan yang memang sengaja di tampakkan, agar mendapat pujian dari pada kerabat. Uang sakupu ikut terbuang, ujung-unjung isteri di rumah banyak yang ditelantarkan.

Fakta sosial tak mampu lagi dijawab dengan kata-kata, tapi lebih kepada suntikan gagasan, sehingga bisa menutup segala kebohongan. Luntang-lantung berjalan, dasi, dan sepatu mecing berkilauan. Tanpa sadar aku berteriak. Kenapa ini semua? Semua berlarian dari kamar yang sama lantaran ku lihat empat kaki yang sejajar. Aku mulai kebal dalam penglihatan karena terlalu keseringan mencuci mata, bagaimana aku tidak kepanasan bila amarah liar yang keluar.

Mereka hanya diam dan memandang apa yang terjadi sebelumnya. Ternyata ada iblis yang menggoda sehingga pantas mereka berdusta. Sempat aku berjalan mengikuti alur gendang dan tarian. Sebab hanya itu yang bisa di perbuat ketika menuntut keadilan. Tapi terlalu lama dalam keadaan yang berbeda dengan kenyataan sama halnya menjerumuskan diri dalam penjara.Pembunuhan terhadap manusia kini banyak dibuat oleh tangan mafia, entah apa sebab dan musababnya. Tapi sungguh aku yakin bahwa hal itu dimotivasi oleh harapan yang tidak sampai.

 



 
Hendrawansyah (SIMON)

Hendrawansyah (SIMON)

Nama Lengkap Hendrawansyah Ds, Lahir tahun 1996, Status sebagai Mahasiswa di salah satu perguruan tinggi Islam Negeri Mataram, jurusan Sosiologi Agama, Fakultas Ushuludin.

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 

Artikel Populer

Komentar Terbanyak

 

image
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan