logoblog

Cari

Tutup Iklan

Wanita Paru Baya

Wanita Paru Baya

      WANITA PARUH BAYA Sumber gambar : saatchiart.com Engkau berdandan tak kalah jauh dengan usia para remaja. Kedipan matamu memercik

Cerpen

Wanita Paru Baya


Hendrawansyah (SIMON)
Oleh Hendrawansyah (SIMON)
13 Desember, 2017 00:05:17
Cerpen
Komentar: 0
Dibaca: 1007 Kali

    

Sumber gambar : saatchiart.com

Engkau berdandan tak kalah jauh dengan usia para remaja. Kedipan matamu memercik mutiara seorang janda kembang. Di tempat pelarian engkau datang berhamburan. Pondok tua adalah kisah pertama yang kau terjal dalam alur perdebatan. Aku surutkan langkah bukan ingin berjauhan, tapi ada cerita yang tak kuasa bibirku bicara. Harapan itu tetap ada, namun logika sehatku tak pernah bisa terima. Kata-kata mesra yang sering kita tebarkan bukanlah kejadian yang tiba-tiba, tapi atas kehendak dari yang maha kuasa. Aku terka apa yang bersemayam dalam pikiran serta keinginan mu masih terhalang akan dunia.

Bukan aku ragu engkau tak beriman, tapi kategorinya masih dalam tahap rendah. Masih ingatkah engkau akan pesan dan petuah orang tua tak satu manusia pun yang ingin hidup susah. Tapi hal itu adalah penghalang di antara segalanya. Kau pernah mengucap kata cinta "Dapatkah Engkau Merasakan Kehadirannya." Naluri mu benar tapi akal mu yang tak jalan. Sehingga memaksaku ku harus bicara apa adanya. Sesuatu yang di paksa pasti berakhir dengan kecewa dan sesuatu yang tak berpunya mustahil memberi.

Piramida terbalik seorang tokoh ternama tak mampu engkau telaah makna dan tujuannya. Malah seringkali membuatmu tak terarah. Gaya hidup yang serba mewah adalah perebutan setiap manusia dalam hati kecilnya. Ia senyap tanpa suara itulah makna orang cerdas dan dewasa, walau porsi rejeki telah ada. Namun pengingkaran tetap saja ada. Ketakutan itu telah menjadi patology sosial, sehingga tak dapat dibedakan. Walau bapak tua rentan yang bicara (Mahatma Gandhi)’’ alam semesta cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh umat manusia, tetapi tak cukup untuk satu manusia yang serakah’’. Aku tak ingin terjebak dalam perangkap dunia, walau ku terlahir dari rahim biasa. Tapi guruku CARL MARX berpesan ‘’Materi itu hanya penopang kebutuhan saja’’. Bila aku tak cepat kembali dari segala yang terlihat, maka jiwaku akan terpenjara.

Hidup dalam bayang-bayang adalah ilusi yang sesat. Padahal sebentar lagi akan kiamat. Mata bathinku bicara walau mulut telah lama terbungkam. Aku tak butuh gaya yang melampau madona dan artis dunia, sebab pribadi yang ceria dan rajin beribadah adalah harapan terakhir bagi setiap orang sebelum ia kembali menghadap Tuhannya. Permak baju dan celana telah ada penjahit yang bekerja tapi jiwa yang merana tak mungkin bisa diobati oleh dokter di dunia. Semestinya kau sadar dalam ke-egoan yang hanya menyiksamu perlahan. Tidakkah kau merasa ada kepastian yang aku punya. Terlalu lama jika semua harus formal, padahal di ujung mata tak sanggup engkau lihat.

Memang sulit menemukan mutiara yang sholeha dan mau hidup apa adanya. Manusia pilihan yang sempurna dan menjadi teladan semua umat tak pernah ada yang meyakini ajakannya. Padahal restorasi paradigma telah di kumandangkan di atas mimbar pertama. Si Bilal Muazdin pertama telah memberi contoh teladan dimana manusia disuruh berhenti sesaat bila waktu sholat telah tiba. Hari itu engkau pernah bercerita bila disaat suntuk dan tak bergairah maka hanya membaca buku sendirian sebagai penawarnya.

Tepi lautan adalah titipan kenangan yang pernah tercipta, namun disangkal karena tak ingin dianggap hina. Lantaran predikat yang engkau sandang begitu mahal dan mulia engkau seenaknya bicara. Bila polemik kata tidak mampu dilawan maka cara bijak dan sopan akan aku kirimkan lewat tiupan angin malam. Hal ini membuatku berduka dalam cerita, walau senyuman itu ada tapi jiwaku yang terluka.

Pantai KALAKI menjadi saksi pertama untuk merayakan ulang tahunmu kesekian kalinya. Aku hanya bisa berjalan kedalam dan menemukan ikan titipan Tuhan di atas tanah kering tanpa air dan gelombang yang pasang. Hal ini membuatku semakin kebingungan dengan kejadian nyata bukti keajaiban Tuhan. Pasca itu aku mulai sadar dan berharap semua itu akan menjadi ikatan yang mulia, tapi sayang sungguh sayang itu semua hanya permainan wacana. Aku terhempas terjatuh karena mengejar desakkan hati yang bernada. Di depan BANDARA kau tinggalkanku sendirian. Tapi dengan hati yang sabar aku terbangun dan belajar untuk mengejar karena aku ingin jujur aku tak lagi bisa beri alasan. Di depan rumah engkau masuk sekilas tanpa kata aku memanggil dengan jiwa. Alur bicara dan sihir RETORIKA telah tamat aku pelajari di tahun silam. Ungkapan logis penuh magis adalah sihir kata menembus alam bawah sadar wanita setengah baya.

Engkau temukan kata-kata dusta dari isi pesan yang kau baca padahal itu orang lagi ingin menikah. Bukan aku yang bicara tapi ada nada sambung Ustad Jefri berceramah. Di pinggir jalan tempat kita bercerita dalam alur nada dan petikan gitar ada titipan kata dalam setiap ungkapan, tapi itu semua hanya permainan prestisemu yang berlebihan. Bila batas rasa adalah rumah yang megah dan uang yang banyak maka ilmu yang engkau sandang akan gugur dengan sendirinya.

Kemunafikkan adalah bentuk kesesatan yang nyata dari pada kekafiran. Legalitas tetaplah legalitas tapi sampai kapan harus ada pengakuan. Modernitas bukan ukuran kemajuan yang mesti di banggakan kalau kejahatan moral dan sosial bertebaran di mana-mana. Anak TK pun pandai bicara kalau hanya setakat berteriak apa lagi ukuran bagi orang yang berpendidikan. Generasi bangsa yang dibanggakan hanya bisa dipangkas selesai belajar. Ilmu yang ada hanya menjadi alat tipuan untuk meraih kekayaan Negara. Tumpukan proposal atas usulan kepentingan rakyat merupakan kejahatan yang dibenci oleh Tuhan. Ibadah yang kau taburkan di atas sajadah akan meminta pertanggungjawaban, sebab mereka akan bicara tanpa kebohongan. Takkan berlaku bagi yang tak percaya dan punya keyakinan. Karena yang dilihat adalah dunia yang sekarang.

 

Baca Juga :


Mitologi yunani telah diterapkan kembali dimana banyak simbol yang disembah. Kemenangan hegemoni kini di atas awan malah menjadi kiblat dunia. Perebutan kekuasaan menjadi tempat menciptakan dosa. Original sin (dosa asal) dulu hanya di gereja kini merambat menjadi wabah dan alasan mutlak untuk mengecoh paradigma umat. Semua realitas pergaulan yang terlihat di berbagai tempat. Masih adakah golongan penyelamat yang akan datang, agar semua tak lagi berkiprah seenaknya. Kata-kata akan berlalu tanpa makna, tapi tindakan akan mengabdi pada jaman. Cara pandang yang salah telah menghantam sesama, kini bangunan hanya dijadikan lahan untuk bicara, tanpa aturan semua dilanggar, kongsi besar-besaran mulai ditunjukan di balik layar. Sepandai-pandai tupai melompat suatu ketika jatuh juga, sepandai-pandai menyimpan yang busuk berbau juga.

Tak perlu sesali dan tangisi kisah kenangan akan kehidupan Dunia. Engkau pergi tanpa pesan karena orang tua. Kau korbankan jiwa dan raga. Tapi dosa yang pernah tercipta tak seperti logika. Satu takkan mungkin menjadi dua dan mustahil satu bumbung ada tiga cinta. Kegoncangan jiwa tak mampu engkau tahan dengan iman, malah engkau mencari orang yang ketiga. Sesalku mungkin tak bermakna, tapi dosa titipan cinta siapa yang akan bertanggung jawab. Mereka hanya pandai bicara di luar pagar rumah. Mestikah berpisah tanpa sedikit rasa iba. Tipekal yang setia memang susah di dapat apalagi wanita yang sholeha.Karena dunia yang sekarang hanya uang yang berkuasa walaupun Tuhan yang maha ESA.

Bagai mencari jarum di dalam jerami. Semua yang dibeli harus memiliki asuransi serta garansi. Kalau tidak Engkau tak pernah ucapkan salam pada orang yang kau benci. Tanpa benci kau takkan mungkin mencinta karena diantara keduanya kembar tapi beda. Satu yang selalu ku pinta , jagalah pintu terakhir yang ada. Karena akan banyak yang datang menggoda. Sesuatu yang merupakan bagian dari keseluruhan tak mungkin engkau bisa tebar-taburkan kesegala arah. Tapi pintu-pintu menuju tuhan mutlak harus kau jaga. Tak pernah ku memendam rasa yang tak ada gunanya. Orang tuamu hanya bisa mengajar tapi tak punya hak untuk memaksa. Bila kehendak itu bertentangan maka jangan harap ada bahagia. Hal yang lumrah bila kenalan berlaku dalam pergaulan. Cara pandang jaman telah berubah meeting love menjadi serba guna tergantung waktu dan tempatnya.

Ada kenangan di bulan maret tepi pantai menjadi sepenggal cerita setelah manisan india habis terbuang. Bila mereka bicara maka banyak dosa yang tercipta diantara cinta dan nafsu dunia. Sekilas mengupas kembali sejarah silam yang tak dipandang. Tak ada dusta diantara kita. Hukum dunia masih bisa di bayar, tapi hukum tuhan tak dapat dielakkan. Mereka lebih licik dari rubah. Mereka hanya memanfaatkan sumber daya. Karena ciptaan tuhan tak ada yang sia-sia. Sedikit rasa kecewa karena berkelana tanpa kesan. Terhempas napas ku berlari dari kejaran rasa yang tiada duanya. Hanya berharap engkau pulang membawa berkah. Bukan sesuatu yang telah ternoda walau jiwaku yang terluka, getaran cinta tak bisa ku tahan sebab luka itu masih bersemayam. Tak ada kata perhentian hanya saja ku tak mau lagi bicara. Lantaran harta benda engkau telah lupa segalanya. Dosa yang ada takkan hilang tanpa tobat.

Jika satu masa ku dianggap musuh, munafik bila ia terlupa Semua. Durhaka manusia jika lupa sejarah hidupnya. Hanya saja tak bisa di nyatakan terus terang karena rasa malunya yang bersemayam. Cukup sudah ku sandarkan pada tuhan. Tak perlu lagi ada alasan. Bisu tanpa kebohongan adalah pengandaian. Buruk rupa masih baik ketimbang buruk sangka. Nasib kita ada yang menentukan. Tak perlu dihina sebab kita sama. Semakin keras kau mengucap semakin dalam kau terluka. Biarlah ia berlalu dengan sendirinya. Sebagai pecinta mustahil segalanya diceritakan. Cukup menjadi rahasia diantara kita berdua.

Rasa cinta tak pernah memandang usia, sebab uluran tangan Tuhan telah diberikan pada awal perjanjian, semua manusia menerima dengan kadar yang sama. Laki-laki dan wanita menjadi ujung tombak tuhan ingin bercerita. Kisah silam dalam ingatan sebagai tanda ada sesuatu yang tersirat. Semua suara mewakili tafsiran yang sama. Dimana mereka hanya bisa menyebut satu Asma. Rasa cinta yang pernah menggelora hanya tersisa dengan sia-sia.

Lihatlah ... Segi pergaulan tak lagi dapat dibedakan. Atas nama cinta kau telah lebuhkan rasa. Diantara kita ada jurang pemisah, orang tua jadi penghalang. Tak perlu banyak bicara, tembok ratapan masih tersisa. Rintihan bayangan dua orang yang saling berdekatan tak usah dikenang. sebab rasa itu telah lama hilang. Dari jauh aku hanya bisa melihat engkau memakai toga kemenangan, semoga engkau mendapat ketenangan yang tiada tara. Mulailah berkata kita hanya sebatas sahabat yang pernah saling kenal di atas motor tua. Walau banyak kenangan yang tak bisa terlupakan cukup jadikan sebagai hiasan dunia.

Aku bersedih tanpa kata dan menangis penuh luka. Ingin aku sapa dalam jendela namun engkau tidak pernah menoleh kebelakang. Suara itu kembali terngiang lantaran seorang wanita yang berteriak, Kenapa tak datang..!! aku hanya bisa duduk diam mulai pagi sampai siang. Air mata ku kini mulai berlinang kembali bila ku dibawa ke masa silam, tapi sebagai manusia yang punya rasa malu aku selalu mencoba menjadi benalu, seakan tiada masalah padahal Nuraniku tengah berontak. Cak Tam



 
Hendrawansyah (SIMON)

Hendrawansyah (SIMON)

Nama Lengkap Hendrawansyah Ds, Lahir tahun 1996, Status sebagai Mahasiswa di salah satu perguruan tinggi Islam Negeri Mataram, jurusan Sosiologi Agama, Fakultas Ushuludin.

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan