logoblog

Cari

Tutup Iklan

Percakapan di Taman dan Legenda Kupu-Kupu

Percakapan di Taman dan Legenda Kupu-Kupu

Tania sedang menyaksikan sepasang kupu-kupu kuning terbang beriringan mengitari panca warna di sampingnya ketika Moza datang dan langsung mengambil tempat duduk

Cerpen

Novita Hidayani
Oleh Novita Hidayani
28 Desember, 2017 08:46:48
Cerpen
Komentar: 0
Dibaca: 754 Kali

Tania sedang menyaksikan sepasang kupu-kupu kuning terbang beriringan mengitari panca warna di sampingnya ketika Moza datang dan langsung mengambil tempat duduk di hadapannya. Sebuah ingatan tentang legenda kupu-kupu yang pernah didengarnya terlintas seperti bintang jatuh di kepalanya. Berkilau. Mulut Tania hampir terbuka bercerita, ketika Moza mendahuluinya.

“Kau datang terlalu cepat ya? Bukan aku yang terlambat. Di arlojiku masih lima menit sebelum waktu janjian kita.”

Tania tertawa kecil. Pasangan kupu-kupu kuning yang dilihatnya tadi terbang menjauh bersama ingatannya tentang legenda kupu-kupu. Terbang menjulang ke daun-daun pohon trembesi yang ada di sana. Ia menyelipkan rambut pendeknnya di belakang telinga dan mengerahkan seluruh tubuhnya menghadap Moza.

“Iya, aku sengaja datang lebih cepat. Aku suka taman ini, jadi kupikir tak ada salahnya jika aku datang sedikit lebih cepat. Jadi kamu mau cerita apa?“

Moza menghela nafas panjang sebelum laki-laki berkulit putih pucat itu mengeluarkan laptop dari ranselnya. Ia pun segera melakukan hal yang sama. Keheningan mengukung sesaat, ketika laptop keduanya menyala.

“Aku jengah dengan istriku, Tan.” Moza menghela nafas panjang. Tania tersenyum.

“Anna merajuk lagi?”

“Tidak. Kali ini bukan soal merajuk. Mungkin aku sekarang jadi terbiasa dengan sifatnya yang sering merajuk, jadi itu bukan masalah lagi.”

“Trus kenapa?”

Moza memasukkan sebuah flashdisk ke laptopnya dan mulai mengirim beberapa file. Statistik pengiriman berwarna hijau di layar laptopnya bergerak malas-malasan. Seperti seorang pria obesitas. Tania memperhatikan bagaimana lengan Moza yang ditumbuhi bulu-bulu halus itu bekerja.

“Kali ini dia selalu bercerita hampir setiap malam. Aku serasa raja timur tengah yang didongengi kisah 1001 malam itu.”

“Cerita?”

“Iya. Jika ia bercerita tentang kesehariannya atau diceritakan dongeng sungguhan mungkin aku tak masalah. Tapi ini, dia bercerita tentang pertikaian-pertikaian pasangan. Dimulai dari pengalaman orang tuanya yang bercerai, pertikaian teman-temannya, lantas berlanjut ke pertiakaian-pertikaian yang dibacanya di majalah keluarga.”

“Pertikaian seperti apa?”

Oh meski membicarakan Anna membuatnya merasa tak enak hati. Seperti seluruh saluran pernafasannya disumbati sampah-sampah buangan dari saluran lain. Asal Moza bercerita, ia akan bersedia mendengarkan apa saja.

“Seperti teman lelakinya yang jatuh cinta dan berhubungan dengan perempuan lain tanpa sepengetahuan isterinya atau seorang teman dari temannya yang merelakan dengan sadar suaminya berhungan dengan perempuan-perempuan lain.”

“Maksudmu tentang perselingkuhan?”

“Iya. Anna menjejaliku dengan cerita-cerita seperti itu, Tan. Bisa kau bayangkan bagaimana perasaanku.” Moza menghela nafas panjang dan meregangkan tubuhnya seakan-akan ia telah duduk berjam-jam di depan laptopnya.

“Jika sudah bercerita, ia tak kenal waktu dan tempat. Saat menghadiri undangan pernikahan, sarapan, atau ketika aku ingin tertidur di sampingnya sehabis, kau taulah. Ia akan bercerita seolah-olah, dialah korban dari cerita itu dan aku telah menjadi salah satu dari laki-laki yang diceritakan. Sangat menjengkelkan sekali.”

“Oh isterimu memiliki ketakukan-ketakutan itu rupanya. Dulu saat aku baru pertama kali menikah dengan mantan suamiku, aku juga memiliki ketakutan-ketakutan itu. Aku takut menjadi perempuan yang diceritakan perempuan lain. Dan firasat perempuan itu memang kadang bisa lebih tajam dari sebilah pisau.”

Keduanya menarik nafas panjang. Suara deru kendaraan yang tadi tersamarkan oleh keriuhan hati dan kepentingan-kepentingan kini terdengar, juga suara-suara pengunjung taman yang lain. Kikik tawa anak-anak yang bermain ayunan, junkit-junkitan, atau pelosotan, kehebohan anak-anak muda yang membuat keloni-keloni di pinggir jalan, atau hilir mudik langkah tubuh-tubuh yang tak muda lagi di atas jalan-jalan setapak taman. Tania mengelus pelan tangan Moza dan menggenggamnya. Rasa hangat menjalari perasaannya. Moza menatapnya penuh tanya.

 

Baca Juga :


“Tapi firasat tetap saja firasat. Jadi, bagaimana kau akan menyikapinya kali ini?”

Moza berfikir sejenak, membiarkan tangannya merasakan kehangatan genggaman tangan Tania.

“Sepertinya, aku akan membuat cerita juga.”

Ia melepas pelan tangan Tania, mencabut flashdisk di laptopnya dan menyerahkannya. Tangan kekar berbulu halus itu bergerak seperti sebuah alat yang memindahkan barang-barang berat dalam sebuah proyek pembangunan. Tania mengambilnya seperti gerak leher Flaminggo dan memasukkannya ke dalam laptopnya sendiri.

“Cerita tentang seorang laki-laki yang selalu dijejali cerita-cerita perselingkuhan oleh istrinya yang memiliki ketakutan-ketakukan untuk menjadi salah satu tokoh dalam cerita yang diceritakannya itu.”

“Sudah, sampai situ saja?”

“Ya.”

“Kupikir kau akan membuat laki-laki itu mewujudkan ketakutan-ketakutan isterinya itu dengan berselingkuh juga.”

“Tidak, Tania. Karena cerita itu juga telah diceritakannya juga. Dan aku sepertinya tak bisa melakukannya. Aku mencintai isteriku.”

Tania tertawa. Kali ini karena benar-benar merasa ingin tertawa. Tawa yang terdengar anggun dari seorang perempuan cantik berambut pendek. Ia kemudian menegakkan duduknya, mengusap kedua pahanya di balik gaun one pice vintage selutut yang dikenakannya.

“Oh kalian manis sekali. Aku juga jadi ingin bercerita. Kau pernah dengar legenda kupu-kupu? Tentang mengapa ada sepasang kupu-kupu yang selalu terlihat berdua kemanapun tak terpisahkan?”

“Mungkinkah mereka adalah ruh sepasang kekasih yang meninggal?”

“Bukan hanya itu, pasangan kupu-kupu yang selalu terlihat terbang berdua kemanapun adalah cinta-cinta tak sampai, yang hilang begitu saja digerus waktu. Adalah cinta-cinta terlarang yang tersembunyi. Adalah cinta-cinta yang terpisahkan. Mereka semua atau sekedar keinginan seorang saja untuk bersama yang tak dapat terwujud karena satu dan lain hal, potongan jiwanya akan hidup menjadi pasangan kupu-kupu itu.”

“Ya, tapi bukan hanya itu, pasangan kupu-kupu itu, yang selalu terlihat terbang berdua kemanapun adalah mereka yang cintanya tak dapat menyatu, yang cintanya terlarang dan bersembunyi lalu hilang digerus waktu dan menjelmalah mereka menjadi sepasang kupu-kupu agar bisa terus bersama. Karena cinta sejatinya tak pernah terlewat.”

Keduanya mengitarkan pandangan, melihat beberapa pasangan kupu-kupu kuning dan putih yang terbang bersisian kesana kemari. Kemudian, sebuah potongan jiwa disuatu tempat mulai membentuk sepasang kepompong.

“Bisakah aku menjadi kupu-kupu itu?” Tanya Tania menggantung.

Cerpen Novita Hidayani juga terbit di nusantaranews

 

 



 
Novita Hidayani

Novita Hidayani

email: hidayaninovita@gmail.com facebook: Novita Hidayani twitter: @yfoundme

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan