logoblog

Cari

Tutup Iklan

Pemburu Kesedihan

Pemburu Kesedihan

“Menjadi pemburu kesedihan bisa mengangkat derajat keluargamu, Danua.” Itulah yang dijanjikan paman Kianu padaku bertahun-tahun silam, ketika aku masih remaja. Sebenarnya,

Cerpen

Novita Hidayani
Oleh Novita Hidayani
11 Januari, 2018 15:13:30
Cerpen
Komentar: 0
Dibaca: 3272 Kali

“Menjadi pemburu kesedihan bisa mengangkat derajat keluargamu, Danua.”

Itulah yang dijanjikan paman Kianu padaku bertahun-tahun silam, ketika aku masih remaja. Sebenarnya, tanpa embel-embel mengangkat derajat keluarga segala entah mengapa sejak kecil, sejak pertama kali diperkenalkan dengan pekerjaan yang terbilang terhormat di negeriku ini, aku merasa telah lebih dulu memiliki ikatan dengan dunia yang bergelut dengan keputusasaan, air mata, kesakitan, kepesimisan, dan segala macam hal yang merenggut sinar kebahagiaan dari mata-mata pemiliknya.

Pada malam hari, ketika orang-orang tengah terlelap dan para pemburu kesedihan mulai terdengar sayup-sayup berloncatan dari atap rumah satu ke atap rumah yang lain mengumpulkan kesedihan-kesedihan, aku masih terjaga, merasakan jantungku berpacu lebih cepat. Aku merasa lebih hidup. Dan mulai berkhayal menjadi salah satu dari mereka. Mengenakan jubah hitam seperti bayangan orang-orang tentang malaikat pencabut nyawa, dengan tongkat jaring yang dijalin sangat rapi menggunakan akar-akar, dan stoples bening untuk menyimpan kesedihan yang berhasil ditangkap dan menjualnya dengan harga tertinggi pada para kolektor. Begitulah sejak kecil, menjadi pemburu kesedihan adalah mimpiku yang kemudian mengantarkan pertemuanku pertama kali dengan paman Kianu.

Paman Kianu yang pertama kali memberikanku tongkat pemburu dan ia yang pertama kali mengajarkanku cara menangkap kesedihan terpahit dan terpekat, yang benar-benar bersih dari polusi kebahagiaan dan harapan. Aku masih mengingat kesedihan pertama yang kutangkap saat usiaku baru menginjak 15 tahun. Adalah derita dari nenekku sendiri yang mati tak terusus, dengan kakinya yang busuk karena diabetes dan dehidrasi karena lupa diberi makan dan minum selama dua hari. Kesedihan mahluk renta yang terlupakan keluarga.

“Permulaan yang cukup bagus! Kau memiliki bakat, Danua. Ini kesedihan yang sering dilupakan. Mulai besok kau boleh ikut denganku belajar denganku langsung. Dan jadilah pemburu kesedihan yang disegani.”

Sejak itu, aku mulai mengikuti paman Kianu kemanapun ia pergi memburu kesedihan. Dari kesedihan mainstream, seperti jeritan patah hati para pecinta yang menunggu puluhan tahun, dihianati, dipisahkan, atau mati bunuh diri. Kesedihan favoritku adalah mereka yang dibunuh atas nama kekuasaan, hukum, kepercayaan suatu kelompok, dan Tuhan. Ada kebanggaan sendiri saat melihat stoples bening milikku memamerkan tubuh hancur mereka, rasa sakit hati yang lebih sakit dari rasa sakit apapun, dan jeritan tuntutan tertahan pada pemilik kehidupan atau kehidupan itu sendiri. Senang sekali melihat gumpalan hitam itu berdenyut-denyut memamerkan warna-warna yang tak pernah sedikitpun identik satu sama lain. Terlebih saat seorang kurator menawar stoplesku dengan harga yang menggiurkan.

“Mengapa kita menangkap kesedihan? Mengapa ada orang-orang yang menikmati kesedihan dan mau mengoleksinya?” Suatu hari aku bertanya pada paman Kianu sesaat setelah kami baru saja menangkap kesedihan pembantaian kamp pengungsian Sabra dan Shatila. Anyir darah mengukung kami. Tapi apa ada aroma yang lebih disukai oleh para pemburu kesedihan, selain aroma darah dari korban pembunuhan? Terlebih pembunuhan masal orang-orang yang tak bisa melawan seperti ini.

“Kita bekerja untuk keabadian, Danua. Mengabadikan kesedihan. Mengurungnya dalam stoples yang kemudian dinikmati oleh orang-orang tertentu yang menyadari hal yang tak banyak disadari orang lain dan mendengar suara yang orang lain memilih untuk tak mendengarnya. Begitulah, kita menyuguhkan kejujuran.”

Sebenarnya bukan hanya soal tujuan menjadi pemburu kesedihan yang ingin kutanyakan. Sungguh, meski aku tak mengerti mengapa ada pekerjaan memburu kesedihan, aku merasa memang tercipta untuk ini. Aku merasakan jiwaku telah menyatu dengan kepulan asap kesuraman dan nafasku telah berpadu dengan jeritan-jeritan serta air mata. Aku memang hidup untuk ini. Tetapi, belakangan ada yang mengganggu pikiranku. Ada sesuatu yang dengan begitu halus yang membuat tanganku terasa sedikit berat untuk mengayunkan tongkatku menangkap kesedihan.

“Kau memiliki bakat alami Danua. Jika kau terus memburu, aku yakin kelak kau akan menjadi pemburu besar yang disegani. Tepislah segala perasaan tidak penting yang hanya akan menghambatmu. Kalau perlu bunuhlah. Jangan biarkan dirimu larut.”

Seperti megerti apa yang sedang kurasakan dan pikirkan, paman Kianu menepuk bahuku dan lebih dulu terbang meninggalkanku yang masih berdiri mematung di atas sebuah rumah yang hangus terbakar. Matahari merah terlihat perlahan turun dari arah barat dan menghilang dibalik reruntuhan, bersamaan dengan munculnya sesosok wajah perempuan yang menyuguhkan gumpalan putih berwarna-warni yang menentramkan hati di tangkupan kedua tangannya. Aku dengan cepat menggeleng dan menutup mata menepis bayangan itu. Tetapi justru bayangan itu menjadi sosok nyata yang kemudian menarik tanganku.

“Ilana!”

“Sssst....”

Ia terus mengajakku terbang ke sebuah sudut reruntuhan. Aku beberapa kali menoleh ke belakang memastikan paman Kianu tak melihatku tengah bersama seorang pemburu kebahagiaan. Ya! Dialah yang mengganggu pikiranku belakangan waktu ini. Dan bukan menjadi hal baru jika seorang pemburu kesedihan kehilangan kemampuan memburu kesedihannya ketika ia jatuh cinta dengan seorang pemburu kebahagian. Karena para pemburu kebahagiaan, tak hanya memburu dan menjual kebahagiaaan. Mereka juga menanamkannya di hatimu. Dan itu bisa membuat  seorang pemburu kesedihan sepertiku enggan untuk berburu lagi.

“Lihatlah Danua!”

Kami berhenti di sebuah reruntuhan yang setengah hangus. Ilana menunjuk ke sebuah sudut dimana seorang bayi dengan bola mata biru hazle yang lembut terlihat tengah bermain dengan abu-abu yang berterbangan seperti tengah bermain dengan kupu-kupu. Tangan kecilnya bergerak-gerak dan tawa sesekali terdengar. Sementara tak jauh dari itu, dua sosok lelaki dan perempuan dengan usus terburai tergeletak tak bernyawa.

“Sebuah harapan.” Kata Ilana, menunjukan stoplesnya yang berisi gumpalan putih berdenyut-denyut membiaskan warna yang membuatku seperti menghirup padang rumput hijau maha luas. Ilana kemudian perlahan mendekatkan wajahnya ke wajahku. Untuk beberapa saat, aku membiarkan perasaan yang begitu hangat mengaliri dadaku ketika merasakan lidah lembutnya bertaut dengan milikku. Menyadari sesuatu, aku segera melepaskan diri dan terbang meninggalkannya. Aku sempat melihat kekecewa tergurat di wajah Ilana. Tapi aku memilih untuk terus terbang berusaha menepis segala hal yang berkecamuk di pikiranku.

Bersama dengan pemburu kebahagiaan bagi seorang pemburu kesedihan adalah sebuah aib. Itu tak ubahnya seperti seorang anak lelaki yang bercinta dengan ibunya sendiri.Sementara bagi para pemburu kebahagiaan, mampu membuat pemburu kesedihan tak berburu lagi adalah sebuah prestasi. Paman Kianu benar, aku tidak boleh membiarkan diriku larut.Tapi menghapus bayangan Ilana dan segala kebahagiaan yang ditunjukannya membuatku kewalahan. Ia merekat keras di kepalaku. Seperti kerak yang bertahun-tahun melekat pada gigi.

Aku kemudian, diluar kendaliku, tiba-tiba merasa kehilangan selera memburu kesedihan. Entah mengapa aku tiba-tiba begitu sering mempertanyakan makna. Pertanyaan yang terus memantul dan bergaung di kepalaku. Dan semua itu berdampak pada hasil tangkapanku. Kemanapun aku pergi, bayangan Ilana dan warna kebahagiaan yang dibawanya seperti terus ikut berloncatan. Ini tak bisa dibiarkan. Menjadi pemburu kesedihan yang diakui dan disegani adalah mimpiku sejak kecil. Tak akan kubiarkan mati hanya karena pertemuanku yang tak berapa lama dengan seorang pemburu kebahagiaan.

 

Baca Juga :


“Paman Kianu. Maukah kau menangkap kesedihan untukku? Aku akan menunjukannya besok padamu.”

***

Langit berwarna biru lembut dan awan-awan bergumpalan seperti gula kapas,  ketika aku menemui Ilana yang tengah berdiri terpaku di atap sebuah rumah reot yang cerobongnya mengepulkan asap. Dari kaca jendela rumah itu, sebuah keluarga tengah menyantap roti yang dibagi empat dengan penuh suka cita. Ilana tersenyum menyedot kebahagiaan itu dengan tongkatnya ketika aku datang dan menyambarnya.

Aku membawanya terbang menjauh membiarkan tongkatnya dan tongkatku yang terjatuh. Memeluknya dengan erat. Sangat erat. Dan menciumnya hingga terengah-engah. Wajahnya terlihat bersemu, seperti tomat matang di pagi hari. Dan kami melepas segalanya. Tak peduli identitas diri.

Menjelang tengah hari kami berbaring bersisian di sebuah padang. Membiarkan angin mengeringkah peluh di tubuh kami.

“Aku mencintaimu Ilana.” Kataku menatap kedua matanya. Ia tersenyum dan memelukku. Aku mencium keningnya.

“Tapi kau tahu aku tak bisa.”

“Meski kau menginginkannya?”

Kami terdiam sejenak. Membiarkan desau angin memainkan daun-daun ilalang dan rerumputan.

“Kau tak akan berhenti menjadi pemburu kebahagiaan, begitu juga denganku. Tetapi meninggalkanmu hanya akan menghancurkanku sebagaimana ketika kita bersama.”

“Kau akan melakukan itu?”

Aku merasakan nafas Ilana yang begitu halus dan hangat di dadaku. Pelukannya terasa semakin erat.

“Baiklah. Lakukanlah...”

Suara gesekan ilalang, rerumputan, dan daun-daun dari pepohonanterdengar semakin jelas. Juga suara nafas kami yang perlahan melemah. Dengan pandangan yang semakin mengabur, aku masih dapat melihat cairan merah yang merembes dari gaun putih Ilana, dan cairan berwarna hijau pekatdari jubah hitamku, juga langit yang mengabu, dan paman Kianu yang datang mendekat dari kejauhan. Bukankah ini benar-benar menyedihkan? Menyerah dan kalah.

Tapi alih-alih mengayunkan tokatnya dan menangkap kesedihan, paman Kianu terbangmenjauh. Sebelum semuanya benar-benar menghitam, aku melihat sesosok bergaun putih dengan senyum yang begitu mendamaikan terbang mendekat.

Mataram, 19 Maret 2016



 
Novita Hidayani

Novita Hidayani

email: hidayaninovita@gmail.com facebook: Novita Hidayani twitter: @yfoundme

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 

Komentar Terbanyak

 

image
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan