logoblog

Cari

Tutup Iklan

Lelaki Yang Belum Pernah Berciuman

Lelaki Yang Belum Pernah Berciuman

/i/ Malam ini dingin sekali. Di sebuah warung kopi pinggiran kota Mataram. Sukun membiacarakan rasa penasarannya perihal ciuman, kepada Bibi Sum

Cerpen

Nam
Oleh Nam
23 September, 2018 20:54:26
Cerpen
Komentar: 0
Dibaca: 2244 Kali

/i/
Malam ini dingin sekali. Di sebuah warung kopi pinggiran kota Mataram. Sukun membiacarakan rasa penasarannya perihal ciuman, kepada Bibi Sum ia berbisik, “Bagaimana rasanya berciuman, Bi..?” Padahal, malam sedang dingin-dinginnya. Barangkali, sebentar lagi malam akan larut. “Di sana ada warung remang-remang, Aku mencari rejeki halal, Nak. Jangan kau rusak niat baikku.” Bibi Sum mengusir Sukun. Sukun akhirnya pergi.

/ii/
Sukun. Lelaki yang belum pernah berciuman. Masih penasaran bagaimana rasanya berciuman. Di beranda alam bawah sadarnya, ia didatangi seorang wanita dengan bibir yang merah. Dengan pakaian seadanya, ia melingkari lengannya di badan Sukun. Di atas ranjang sudah ada kelopak-kelopak mawar yang sengaja dirontokan. Basah ingatan Sukun jika membayangkan itu. Namun kenyataan yang terjadi adalah Sukun hanya lelaki yang ingin berciuman. Dan masih pernasaran bagaimana rasanya berciuman.

/iii/
Sukun. Lelaki yang belum pernah berciuman. Tidak sengaja ia bertemu Rangga, teman sebangkunya ketika SD. Lagi-lagi ia tanyakan bagaimana rasanya berciuman. Rangga, lelaki seribu pesona, sejuta pengalaman, memberitahu Sukun bagaimana menaklukkan wanita. Sukun merasa ini adalah reuni yang menguntungkan. Diajaknya Rangga menuju warung remang-remang di dekat warung kopi Bibi Sum. Sukun bertemu orang yang tepat, di tempat yang tepat. Rangga berbagi pengalamannya menaklukkan hati wanita sehingga ia mendapatkan ciuman berkali-kali; di kening, di pipi, di bibir, di leher, dan bagian sensitif wanita. Sukun menelan ludah. Rangga berpamitan. Sukun membayar empat gelas kopi malam itu. Sukun rugi finansial, untung ide nakal.

/iv/
Sukun. Lelaki yang belum pernah berciuman. Kini tahu bagaimana cara berciuman. Bukan, menaklukkan hati wanita tepatnya. Ia mencari-cari sesuatu atau seseorang yang diberitahu Rangga tadi malam. Dalam hati, Sukun bersimpuh, “Aku masih belum terlalu yakin. Tapi, tak apalah, hanya sekali.” Sukun menemui salah satu kepala proyek pembangunan jembatan di dekat tempat tinggalnya. Sukun memberitahu, ia sedang butuh uang dan pekerjaan. Sebab, yang diceritakan oleh Rangga tadi malam adalah, wanita tertarik dengan uang. No money, no women, itu prinsip Rangga. Namun, Sukun adalah manusia yang tidak memiliki keterampilan. Ia hanya tahu minum kopi dan merokok. Masalah skill, ia buta. Barangkali, dengan menjadi kuli bangunan, ia akan mendapatkan sedikit penghasilan. Dengan penghasilan itu, ia bias membayar seorang wanita dan bisa menciumnya di kening, di pipi, di bibir, di leher, dan bagian sensitif wanita. Sukun kembali berpikir, gaji kuli bangunan itu hanya sedikit, ia tidak bisa mendapatkan itu semua. Sukun mundur untuk menjadi kuli bangunan. Lagipula, itu bukan keahliannya. Sukun memang payah.

/v/
Sukun. Lelaki yang belum pernah berciuman. Semakin bingung bagaimana caranya agar bisa berciuman. Sukun menelpon Arman, teman lamanya ketika SMA. Sukun ingin bertemu dengannya. Ia tahu, Arman hobi membaca. Barangkali, Arman tahu cara menaklukkan wanita tanpa harus tajir. Mereka bertemu di sebuah kedai terdekat. Dekat dengan tempat tinggal Sukun, begitu juga dengan Arman. Kali ini, Arman yang traktir. Arman membawa tas jinjing, terlihat seperti karung semen, berisikan beberapa buku. Mereka mengobrol. Arman mulai menunjukkan beberapa buku tips dan trik jitu menaklukkan wanita. Sukun semakin tersiksa. Ia tidak bisa membaca dan menulis. Sukun menyuruh Arman untuk membacakan satu buku saja. Yang menurut Sukun, sampulnya bagus. Arman mengiyakan permintaan Sukun. Hitung-hitung ia membalas budi kepada Sukun yang telah mengajarkannya merokok bagi pemula tanpa batuk ketika. Sukun tersenyum mendengar trik terakhir, nomor sebelas, “Beri wanita pujian. Sebab, wanita diciptakan untuk dipuji.” Sukun berterima kasih kepada Arman. Tanpanya, ia tidak akan tahu bagaimana memperlakukan wanita.

/vi/
Sukun. Lelaki yang belum pernah berciuman. Hari ini bangun lebih pagi. Sukun segera menuju kamar mandi dan bersiap-siap menuju rumah baca-tulis bagi lansia. Sukun cukup menyesal di usianya yang sudah berkepala tiga tidak bisa membaca dan menulis, apalagi berciuman. Ia merasa malu, dirinya tak pantas berciuman jika tidak bisa memuji wanita. Jangankan untuk memuji, untuk menyapa dengan ucapan manis pun ia tidak bisa. Sukun bertekad untuk belajar baca tulis bersama orang-orang yang sudah berbau tanah. Dimulainya pelajaran mengenal huruf. Dalam lamunannya, Sukun kembali memutar pikirannya. Apa saja yang ia lakukan ketika di bangku sekolah dulu? Anehnya, Sukun bisa lulus SMA, tapi buta huruf. Bagaimana sekolah tersebut bisa meluluskan homo-sapiens seperti Sukun? Yang ia ingat ketika SD adalah pertama kali ia belajar merokok. Masa SMP adalah masa di mana Sukun menjadi bandel dan menjadi perokok aktif di saat teman-teman lainnya asyik bermain layangan dan kejar-kejaran. Jangan ditanya apa yang Sukun lakukan ketika SMA. Itulah kenapa Sukun belum pernah berciuman.

 

Baca Juga :


/vii/
Sukun. Lelaki yang belum pernah berciuman. Sudah hampir tujuh bulan belajar di sana. Kini Sukun sudah bisa membaca, lancar dan cepat. Perubahan yang sangat pesat untuk ukuran paruh baya sepertinya. Setahun berlalu, Sukun diangkat menjadi pengajar di sana. Dua tahun berlalu, ia resmi menjadi direktur di rumah baca bagi lansia tersebut. Sukun sangat disukai oleh murid-murid tuanya. Sukun juga sudah berhenti merokok. Ia juga berencana akan mengembangkan rumah baca-tulis ini. Yang awalnya hanya berisikan orang-orang lanjut usia, namun sekarang Sukun juga menerima anak-anak  yang kurang mampu untuk membayar sekolah. Bahkan, ia berencana membangun sebuah panti asuhan. Sukun kembali berpikir, tidak ada usaha yang akan ia lakukan untuk mencerdaskan anak bangsa selain meregenerasi mereka dan menjadikan mereka sebagai aset Negara.

/viii/
Sukun. Lelaki yang dulunya belum pernah berciuman, kini sudah menulis banyak puisi. Sukun, sekarang disukai banyak wanita, tidak perlu bekerja sebagai kuli bangunan atau rajin membaca buku tips dan trik menaklukkan wanita. Lewat puisinya, ia berikan pujian kepada wanita. Sukun tidak akan pernah lupa akan satu hal, “Beri wanita Pujian. Sebab, wanita diciptakan untuk dipuji.” Dengan pujian, Sukun bisa mendapatkan ciuman berkali-kali; di kening, di pipi, di bibir, di leher, dan bagian sensitif wanita. Apakah Sukun puas dengan itu semua? Tidak ada yang tahu kecuali ia sendiri. Terima kasih Bibi Sum. Terima kasih Rangga. Terima Kasih Arman. Terima kasih juga kalian telah membaca sampai akhir.

_Lombok, 2018



 
Nam

Nam

Guru honor, pengasuh Pesantren, Mahasiswa anti mainstream.

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan