logoblog

Cari

Tutup Iklan

Wangsit Dari Batua

Wangsit Dari Batua

KM. Sukamulia – Gempa Lombok betul-betul menggemparkan nusantara, bahkan menggemparkan dunia. Yaa.. bagaimana tidak, konon Gempa Lombok 2018 ini adalah gempa

Cerpen

KM. Sukamulia
Oleh KM. Sukamulia
04 Oktober, 2018 20:00:13
Cerpen
Komentar: 0
Dibaca: 5287 Kali

KM. Sukamulia – Gempa Lombok betul-betul menggemparkan nusantara, bahkan menggemparkan dunia. Yaa.. bagaimana tidak, konon Gempa Lombok 2018 ini adalah gempa terpanjang dalam kurun waktu dua abad terahir ini. Banyak korban nyawa, korban material juga tidak kalah banyaknya dan yang paling parah adalah korban goncangan jiwa alias trauma yang hampir menghinggapi seluruh otak dan dada warga Lombok dan Sumbawa. Bukan hanya, itu Gempa Lombok adalah awal dari bencana-bencana lainnya yang terjadi diberbagai belahan bumi, termasuk Gempa dan Tsunami yang memporak-porandakan Palu, Sigi dan Donggala di Pulau Sulawesi.

Dahsyatnya Gempa Lombok ini mengingatkan saya pada syair tembang yang kami dengar sayup-sayup saat berada di Puncak Gunung Batua pada 4 hari sebelum Lombok diguncang Gempa 6.4 SR yang mengamuk di sekitaran Kecamatan Sembalun, Kecamatan Sambelia Kabupaten Lombok Timur dan Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara. Yach… sesaat setelah terjadinya Gempa 6.4 SR itu, saya teringat bunyi alunan tembang itu, “Gumi, Api, Angin”, demikianlah bunyi lantunan suara perempuan tua yang kami dengar sejak bakda isya hingga menjelang pagi. Dan pagi itu-pun (Minggu, 29 Juli 2018) saya yakin bahwa suara tembang itu adalah wangsit yang menggambarkan Bencana Lombok yang dimulai dari Gempa bersekala 6.4 SR. Pagi itu pula saya yakin bahwa kata GUMI yang dimaksud dalam tembang itu adalah bencana yang berasal dari bumi, seperti Gempa, Longsor dan lainnya.

Gunung Batua, demikianlah masyarakat Lombok menyebut sebuah yang berlokasi di wilayah administratif Desa Madayin Kecamatan Sambelia Kabupaten Lombok Timur. Di Gunung Batua terdapat Pondasi Masjid Kuno yang disebut dengan nama Masjid Kuno Gunung Batua. Konon masjid itu adalah masjid kuno pertama dan merupakan cikal bakal dari rentetan Masjid Kuno yang ada di wilayah Lombok Utara dan tiang soko gurunya dijadikan sebagai tiang soko guru Masjid Kuno Bayan. Bukan hanya itu, Gunung Batua juga disebut-sebut sebagai tanah bertuah yang aura mistiknya sangatlah tinggi sehingga puncak gunung teersebut kerap dikunjungi oleh para petapa dana tau para penelusur mistis guna melakukan meditasi.

Malam itu, Rabu tanggal 25 Juli 2018. Kami berkemah di puncak Gunung Batu. Malam itu adalah malam kedua perjalanan kami dalam rangka menelusuri mistikus Gunung Batu. Banyak pertanyaan yang muncul dari perjalanan itu, termasuk fenomena alam yang kami temukan pada malam kedua di puncak gunung yang disebut-sebut sebagai gunung bertuah oleh para penelusur mistik itu. Dan empat hari kemudian, fenomena tersebut terjawab jua dan ternyata fenomena alam yang kami saksikan malam itu adalah wangsit akan terjadinya bencana alam yang kini menyebabkan nusantara dan dunia dirundung duka.

Pada malam itu suasana agak berbeda, angin bertiup agak pelan dan dingin. Bintang-bintang terlihat ramai di pelataran langit. Rembulan juga demikian, sinarnya benderang menyusup dari sela-sela daun pepohonan yang menjulang di belantara Gunung Batua. Bakda magrib, yaaa saya masih ingat fenomena aneh mulai kami lihat setelah kami selesai menunaikan shalat magrib di dalam pondasi Masjid Kuno Gunung Batua yang rumornya merupakan masjid tertua di Gumi Sasak Wilayah Utara. Pondasi Masjid tersebut juga disebut-sebut sebagai cikal bakal dari rentetan Masjid Kuno yang ada di sekitaran wilayah Sembalun dan Bayan.

Usai menunaikan shalat magrib, kami berkumpul di depan tenda yang kami bangun di sebelah utara pondasi Masjid Kuno Gunung Batua. Diantara waktu magrib dan isa, kami berlima duduk di beranda tenda sambil menikmati kopi hangat dan garam tembakau untuk melawan rasa dingin yang begitu menusuk tulang. Di saat itu, kami mulai merasakan hal yang berbeda dari malam sebelumnya.

Bintang dan bulan terlihat sedu sedam. Angin yang behembus pelan membawa hawa dingin yang menusuk tulang. Di sebelah barat, kami melihat awan gelap selimuti puncak Rinjani. Sesaat pohon-pohon terlihat diam membeku, seolah mereka tengah dirundung duka. Serangga malam sepi, seolah mereka tahu bahwa dunia akan dilanda bencana. Sepertinya tuhan sudah berfirman kepada semesta tentang bencana yang akan menimpanya.

Malam semakin meninggi. Sayup-sayup suara adzan isya terdengar di linag telinga. Kami bergegas melaksanakan shalat isya. Kami melaksanakan shalat berjamaah di dalam pondasi Masjid Kuno Gunung Batua. Usai melaksanakan shalat isya, kami berdzikir bersama. Dikala itu, suasana aneh semakin terasa. Pondasi masjid kuno itu terasa sesak, bagaikan dipenuhi oleh jamaah dari dunia astral. Bulu halus di seluruh badan kami terasa berdiri dan kami memutuskan untuk keluar dari pondasi masjid tersebut.

Di depan tenda kami berkumpul sambil saling beertanya tetang apa yang kami rasa. Dan kami berlima merasakan hal yang sama. Suasana rami dan sesak di dalam pondasi masjid tua. Sambil menikmati suasana itu, kami memutuskan untuk segera makan malam supaya segera kembali melanjutkan agenda yang telah kami sepakati. Tafakur di dalam pondasi masjid, demikianlah agenda yang harus kami selesaikan malam itu.

Cepat-cepat kami santap hidangan makan malam yang kami siapkan lalu bersiap untuk betafakkur di pondasi masjid tua tersebut. Suasana terasa semakin ramai, dari arah gunung Rinjani kami melihat banyak sekali bayangan yang berbondong-bondong menuju tempat kami. Kami saling tanya mengenai hal itu dan ternyata kami berlima melihat hal yang sama. Bayangan berkelibatan di depan kami. Mereka berjalan beriringan memasuki pondasi masjid tua itu.

Kami tercengang dan memutuskan untuk tetap duduk di depan tenda. Suasana hening, tidak ada satupun suara serangga malam yang terdengar. Dingin malam juga terasa sangat berbeda. Tiba-tiba gerimis halus menyirami tempat itu. Suasana terasa mencekam dan kami berkumpul di dalam tenda. Seketika, kami mendengarkan suara tembang beriring suara gending yang agak mengerikan. Suara tembang itu dilantunkan dengan nada kesedihan. Kami saling bertanya mengenai suara tembang tersebut dan suara yang kami berlima dengarkan adalah sama, yaitu suara seorang perempuan tua dengan nada sendu. Alunan tembang itu hanya melafalkan tiga kata, “Gumi (Bumi), Api, Angin”. Tiga kata itu terus diulang. Semakin lama, suaranya semakin menyedihkan. Sementara bayangan terus saja berkelibatan di depan tenda kami. Bayangan-bayangan itu terhenti di pondasi masjid tua. Kami terheran-heran menyaksikan fenomena itu.

Rembulan semakin meninggi. Jam menunjukkan pukul 11 wita. Salah seorang diantara kami mengambil tempat di sekitaran pondasi masjid tua. Dia (ketua komunitas Jelajah Goib Lombok) itu berdzikir guna mencoba mengikuti kegiatan orang-orang astral yang berkumpul di dalam pondasi masjid itu. Kami berempat hanya memantau dari dalam tenda, sedangkan suara tembang itu masih saja menyusup di liang telinga kami.

Sekitar 30 menit kemudian, saya dan Saepul beranjak dari tenda yang ditempati oleh Gafur dan Katua Komunitas Jelajah Goib Lombok itu. Saya dan saepul berniat untuk beristirahat (tidur) di dalam tenda yang kami dirikan di sebelah tenda mereka. Saya masuk ke dalam tenda yang saat itu pintunya sedang terbuka lebar. Tidak ada orang di dalam tenda. Ketika saya masuk, saya terkejut karena sada duduk di atas pangkuan Ketua Jelajah Goib Lombok yang tengah melaksanakan semedi di dalam tenda itu. Namun demikian, beliau masih khusuk dalam konsentrasinya. Beberama saat kemudian, Saepul masuk ke dalam tenda dan ia menabrak sosok bertubuh gemuk yang akrab kami panggil pak haji itu.

Saepul kaget, seperti kagetnya saya ketika masuk tenda tadi. Saya dan Saepul tertawa terbahak-bahak dan Pak Haji pun terbangun dari konsentrasinya. Sumpah, kami tidak melihat beliau yang sedang bersemedi di dalam tenda itu. Beliau kemudian bercerita bahwa saat bersemedi, beliau menggunakan mantra panglimunan sebab itulah kami tidak sedikitpun melihat sosoknya.

Ketua Jelajah Goib Lombok itu beranjak dari tempatnya dan ia berkisah mengenai pengelamnnya saat konsentrasi dalam waktu sekitar 30 menit itu. Beliau berkisah bahwa ia tidak bisa mendengarkan apa yang dibicarakan oleh orang-orang astral yang memenuhi pondasi masjid kuno itu. Ia hanya  diberi melihat sebuah tongkat mistik yang saat itu tidak bisa diambilnya. Mendengar pengisahannya, kami hanya terdiam dengan berjuta kebingungan. Rasa penasaran juga berkecamuk di benak kami.

Kami berlima keluar dari dalam tenda lalu berkeliling di hutan sekitaran lokasi kami mendirikan tenda. Tujuan kami berkeliling adalah untuk mencari sumber suara tembang itu. Namun, kami tidak menemukan apa-apa. Hanya suara tembang dengan gendingnya yang terdengar mengerikan itu yang terus menghiasi liang telinga kami. Sementara bayangan yang memenuhi pondasi masjid tua itu satu-persatu kelihatan beranjak meninggalkan tempatnya.

 

Baca Juga :


Dalam suasana yang membingungkan itu, kami memutuskan untuk tidur saja. Sebelum tidur, ketua Jelajah Goib Lombok yang mejadi ketua tim perjalanan kami waktu itu meminta untuk saya bangunkan pada pukul tiga dini hari. Katanya ia hendak melanjutkan semedi. Saya meng-iakan permintaannya. Selaku tour guide dalam perjalanan uitu, saya mengajak mereka untuk turun dari puncak gunung bertuah itu esok di pagi buta. Yaaa, kami sepakat untuk cek out dari sana setelah menunaikan shalat subuh.

Saya dan Saepul Hakkul Yakin kembali ke tenda kami yang bersebelahan dengan tenda yang ditempati oleh Ketua Jelajah Goib Lombok beserta daa orang anggotanya. Saya mencoba untuk terlelap, namun suata tembang itu masih saja mengganggu pendengaran saya. Sementara Saepul yang berbaring di sebelah saya terlihat tertidur lelap. Pak Haji dan dua orang temannya di tenda sebelah juga terdengar ngorok yang berarti bahwa mereka tengah tertidur lelap.

Saya tidak bisa tidur dan di benak saya tersebrsit berbagai pertanyaam. Saya bertanya kepada diri, nikmat apa yang akan dikirim ilahi untuk penghuni dunia, kapan nikmat itu akan diturunkn-Nya, apa bentuk dan dimana nikmat tersebut akan diturunkan-Nya. Pertanyaan itu terus saja berkecamuk dalam benak dan otak saya.

Suasana malam sangatlah sepi. Saya mengambil handpone yang saya taruh di dalam kantong tenda. Di alayar handpone itu saya lihat jam sudah menunjukkan pukul 02.36 wita. Saya beranjak dari dalam tenda untuk membangunkan pak haji yang rencananya akan melanjutkan semedi. Beberapa kali saya memanggil namanya, namun beliau tidak jua terjaga dari lealpnya. Hanya Gafur yang menyahut panggilan saya, “biarin saja dia bang, pak haji sedang ngorok mungkin beliau capek”, kata Gafur.

Mendengar jawaban Gapur, saya-pun berhenti membangunkan pak haji. Saya melangkah menuju belakang tenda dengan tujuan membuang air kecil. Ketika saya henda membuang air kecil, tidak sengaja pandangan saya terarah ke upuk barat dan sayapun melihat sebuah fenomena alam yang cukup langka. Di upuk barat saya melihat cahaya yang menyerupai komet (bintang berekor). Bintang itu terlihat memancarkan cahaya merah dengan kepala di sebelah selatan dan ekornya menjulur ke arah utara.

Semakin lama, cahaya yang menyerupai komet itu semakin besar dan ekornya bercabang ke berbagai arah. Melihat fenomena alam tersebut, rasa ingin buang air kecil yang saya rasa tadi seketika hilang. Saya hany terdiam sambil memandang cahaya itu. Entah itu adalah komet atau entah itu adalah cahaya mistik yang telihat oleh mata saya. Namun saya yakin, itu bukanlah ilusi sebab saya melihatnya dalam waktu yang cukup lama.

Cahaya yang bersumber dari bagian ekor bintang itu berwarna kuning kemerah-merahan dengan cabang ke berbagai arah. Ekor-nya terlihat seperti pancaran petir. Tidak terasa, saya sudah cukup lama dan tidak sedikitpun saya bermiat membangunkan 4 orang tim saya yang saat itu tengah terlelap dalam buaian dingin malam. Jam sudah menunjukkan pukul 04.47 wita, cahaya yang menyerupai meteor itu berlahan pudar dan sekitar pukul 05.00 wita, cahaya itu lenyap tanpa jejak. Saya kembali memasuki tenda dan membaringkan tubuh di dekat Saepul.

Saya termenung berselimut kebingungan. Saya kembali bertanya kepada diri, nikmat apa yang akan dikirim ilahi untuk penghuni dunia, kapan nikmat itu akan diturunkn-Nya, apa bentuk dan dimana nikmat tersebut akan diturunkan-Nya. Pertanyaan itu terus saja berkecamuk dalam benak dan otak saya.

Sekitar pukul 05.18 wita, Saepul terbangun dari lelapnya dan kami membangunkan tiga orang lainnya supaya segera melaksanakan shalat subuh agar kami segera cek out dari tempat itu. Kami bergegas melaksanakan shalat subuh, kemudian menyempatkan diri untuk membuat kopi untuk menghangatkan badan di pagi itu. Sekitar pukul 05.50 wita, tenda kami bongkat dan segera bergegas untuk turun dari puncak gunung bertuah itu.

Sepanjang perjalanan, kami membahas mengenai fenomena yang kami saksikan tadi malam. Saya juga menceritakan kepada mereka mengenai fenomena cahaya seperti bintang berekor yang saya lihat. Mendengar hal itu, tim kami yakin bahwa akan ada bencana yang akan melanda, namun kami belum tahu bentuknya apa, kapan dan dimana terjadinya. Yang jelas, kami hanya bisa menyimpulkan bahwa fenomena yang kami sasksikan itu dalah wangsit semesta yang memberikan peringatan kepada kami bahwa semesta akan berduka. Bumi akan dilanda duka oleh bendaca yang bersumber dari bumi, entah bentuknya longsor, banjir, gunung mletus ataukah apa. Yang jelas kami juga yakin bahwa bumi akan dilanda oleh bencana yang bersumber dari api dan angina.

Wangsit semesta itu menjadi pertanyaan besar bagi saya pribadi dan 4 orang teman saya menjelajahi Gunung Batua itu yang akhirnya pertanyaan itu mulai terjawab setelah empat hari kami menerima wangsit atas fenomena tersebut. Pagi buta di hari Minggu tanggal 29  Juli 2018, kami merasakan guncangan yang begitu hebatnya (gempa) yang kemudian kami mendengarkan kabar bahwa gempa tersebut memporak-porandakan wilayah Desa Sajang dan Desa Bilok Petung Kecamatan Sembalun, Desa Madayin dan Desa Obel-Obel Kecamatan Sambalia Kabupaten Lombok Timur dan Desa Sambik Elen, Desa Loloan dan desa-desa lainnya di sekitaran wilayah Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara.

Hari itu, satu dari pertanyaan kami terjawab. Ternyata kalimat “Gumi (Bumi)” pada tembang yang beralun malam itu bearti bencana yang berasal dari bumi, yakni dimulai dari gempa. Dan kami-pun yakin bahwa bencana itu akan panjang sebab suara itu terdengar cukup lama, demikian juga dengan cahaya yang menyerupai bintang berekor itu yang terlihat dalam durasi waktu yang lumayan panjang.

_By. Asri The Gila_



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan