logoblog

Cari

Malam Panjang Di Banjar Sari

Malam Panjang Di Banjar Sari

 " Dari mana datangnya cinta, dari mata turun ke hati" Demikianlah pantun pribahasa yang sejak dari dulu berkembang dan terdengar akrab

Cerpen

Wahyu Azis Faradi / WAZIDI
Oleh Wahyu Azis Faradi / WAZIDI
16 November, 2018 23:43:54
Cerpen
Komentar: 0
Dibaca: 3468 Kali

 " Dari mana datangnya cinta, dari mata turun ke hati" Demikianlah pantun pribahasa yang sejak dari dulu berkembang dan terdengar akrab di telinga masyarakat. Begitu pula berlaku pada kawula muda jaman sekarang, seperti Janwar, bujang belia dari kampung Jati Dewa. Pepatah itu begitu mengena dalam dirinya. Dari beberapa detik pandangnya kepada Wardah, entah kenapa ia bisa jatuh hati.
Janwar beberapa minggu yang lalu di undang oleh temanya di Banjar Sari untuk menghadiri acara maulid. Janwar selalu suka ketika bulan maulid atau rabiul awan tiba. Seluruh pelosok kampung di penjuru pulau Lombok memperingati bulan maulid selama sebulan secara bergantian. Satu sama lain saling mengundang, satu sama lain mengunjungi rumah, juga hiburan gambus dan kasidah yang begitu meriah di masji-masjid berdendang relijius.
Lepas isya waktu itu, Janwar telah berada di rumah sahabat setianya yang bernama Jami.
" Ayo jan, kopinya di minum, itu juga makanannya jangan ditonton"
" Ya, Jam, ini sudah kenyang"
Janwar terlebih dahulu di jamu makan malam oleh kawannya. Satu dulang makanan dengan nasi yang disertai piring-piring lauk kari ayam, sate bakar, rendang sapi, juga kacang-kacangan dihidangkan oleh kawannya. Ini salah satu alasan utama yang selalu disukai oleh janwar di bulan maulid. Setelah itu kopi dan jajanan tradisional satu dulang dihidangkan sebagai cuci mulut dan pengiring pembicaraan pada perjamuan maulidan.
" Jan, nanti kita ke masjid ya, ada hiburan gambus disana."
"oh menarik itu Jam, ayo aja ayo"
"Tapi nantilah jam, kalu sudah mulai, kita slow saja dulu".
Selang bebapa waktu suara penyanyi kasidah itu bersenandung merdu. Janwar dan Jami bergegas pergi ke arah sumber suara. Tepatnya di halaman parkir masjid.
Biasanya para tamu selepas menyantap hidangan di perjamuan rumah-rumah kerabatnya di kampung itu menyempatkan diri ke masjid guna menonton kasidah. Terutama sekali yang muda-muda. Tetapi bukan hanya yang diundang saja, pemuda dari kampung sebelah juga hadir untuk menonton kasidah . Kerap mereka berharap bertemu dengan kawan lamanya di kampung itu agar di ajak masuk atau mampir menikmati suguhan hidangan bulan maulid.
Janwar tampak asyik menonton pertunjukkan, namun tiba-tiba pandangannya tersandera oleh sesosok perempuan yang seusianya.
" Jam, kamu kenal ndk gadis itu, yang berjilbab hitam itu ?" Janwar penasaran.
" Oh, itu anak kampung sini, namanya Wardah"
"Kenalin dong, Jam !"
"oh, Gampang itu bro, siap saya jadi mak comblang asal kamu serius!" Jami rupanya menantang.
Selang beberapa saat di momen yang menguntungkan. Jami menghampiri Wardah. Jami rupanya mengantar salam dari Janwar untuk wardah. Wardah melihat ke arah janwar dengan tersipu. Keramaian orang membuat mereka tak bisa bertegur sapa atau melakukan PDKT sebagaimana mestinya.
Acara telah selesai di malam itu, Janwar minta izin pulang ke sahabat setianya. Jami hendak menyiapkan oleh-oleh maulid kepada Janwar. Tapi janwar menolak. Cukup nomer HP wardah oleh-oleh yang berarti untuknya.
Janwar pulang, istirahat, tidur, bangun, dan telpon menelpon selama tiga minggu berturut-turut dengan Wardah. Sampai akhirnya dia kembali berkunjung kerumah sahabat setianya, Jami, dalam rangka pembicaraan dan pergerakan yang serius.
" Jam, saya ingin melarikan Wardah ini, bagaimana menurutmu ?"
" Wah bagus tu, Jan. Kapan maumu?"
" hari sabtu malam minggu, Jam !"
Pembicaraan mereka masih berlanjut dalam rangka merumuskan strategi. Harinya telah di sepakati. Kini tinggal langkah seperti apa yang perlu di ambil. Yang jelas, Malam H wardah telah bersedia untuk dilarikan.
Rute gang kampung rumahnya Wardah hanya Jami yang faham. Strateginya adalah, di pertigaan dekat kandang sapi itu, mereka berdua akan menununggu Wardah, lalu membawanya kabur menggunakan motor. Yang penting, HP selalu aktif.
Hari sabtu malam minggu tiba. Janwar dan Jami sudah berada di lokasi pertigaan gang kampung dekat kandang sapi yang sepi. Janwar mengirim pesan ke Wardah, bahwa dia telah siap di tunggu.Wardah rupanya membalas, tunggu tinggal tiga puluh menit.
Jami, rupanya hendak minta izin sebentar untuk mengambil hpnya yang tertinggal. Ditinggalkanya Janwar sendiri di pertigaan itu. Janwar masih harap2 cemas menunggu sampai ia memutuskan untuk buang air kecil terlebih dahulu, biar lega.
Janwar melihat sekitar, dan memutusakan kencing di parit, tepat di belakang kandang sapi. Jaraknya tidak begitu jauh dari motornya. Belum dia selesai membuka resleting celananya, tiba-tiba ada suara dari kandang sapi itu berteriak, " Maliiiiing !!!". Sontak janwar terperanjat, lalu melihat seseorang keluar dari kandang itu berteriak dan membawa pedang ke arahnya.
Tak sempat bagi Janwar menjelaskan dirinya yang sebenarnya, ia berlari kabur ketakutan menuju ke arah motornya. Dengan sigap ia mengambil kunci di celananya, namun apes, kuncinya terjatuh ke tanah. Ia melihat orang mengejarnya begitu dekat dan hendak menebasnya. Janwar tanpa rasa ragu berlari meninggalkan motornya.
Masyarakat berhamburan keluar membawa pedang, klewang, dan senjata tajam. Beruntung bagi Janwar sigap berlari meninggalkan orang pertama yang mengejarnya yakni seorang kakek yang menjaga kandang sapinya. Namun janwar masih dalam posisi berbahaya, dilihatnya orang-orang berkelompok di belakang mengejarnya, janwar langung berlari ke arah perkebunan belakang rumah warga dan coba mencari semak-semak atau apa saja untuk bersembunyi, namun sayang perkebunan itu memebus persawahan.
Janwar berlari di persawahan, menginjak tanaman semangka warga atau melewati pematang sawah janwar tidak peduli. Satu hal yang terlinas di pikirannya dia harus kerumah kadus kampung sebelah, sebab kadus tersebut adalah kawan bapaknya.
Orang-orang berkeruman membawa senter jelas masih dilihat oleh Janwar ketika dia menoleh ke belakang walapun jaraknya agak cukup jauh. Namun jejak kaki janwar sangat jelas dan bisa dilacak .
Lampu-lampu rumah kampung sebelah tampak nyata dilihat oleh janwar, dari pematang sawah, ia memotong jalan ke arah jalan aspal menuju kampung itu.
Tapak kaki bekas lumpur melekat di aspal jalan. Entah dimana janwar melepas sandalnya, bagaimana nasib motornya, atau bagaimana wardah, tidak dipikirkannya lagi, yang penting ia selamat.
Janwar sudah tersengal-sengal berlari. Sebentar lagi ia sampai di kampung sebelah. Tampak ia melihat sekerumunan warga berkumpul di rumah warga dekat gerbamg kampung sebelah.
Janwar berencana meminta bantuan kepada mereka atas kesalah pahaman yang terjadi, Namun sial, kerumunan warga itu ternya bergegas berlari ke arah janwar dengan membawa senjata tajam. Kabar tentang percobaan pencurian sapi itu telah menyebar ke kampung sebelah, tentunya lewat HP. Lagian malam masih terlalu pagi, belum lewat pukul sepuluh.
Janwar, langsung berhenti dan berlari ke arah kanan menuju persawahan. kembali secepat kilat dia harus berlari menghindari tebasan-tebasan pedang, tusukan-tusukan keris, dan amukan warga yang geram karena setiap waktu banyak diantara mereka yang telah menjadi korban pencurian.
Dan rupanya, malang bagi Janwar, kakinya tersandung diantara tanaman semangka warga. Dia terjatuh, lalu mencoba bangkit, namun sayangnya dia merasa sudah tidak kuat, tenaganya sudah habis. Nafasnya sudah tersengal-sengal setengah mati. Dan kini ia sudah pasrah. Ini mungkin akhir perjalanannya, bagaian dari nasib badannya, hendak menuntut bahagia namum duka yang di dapat.
Di tengah sawah tanaman semangka itu, ia membalikkan badan, melihat ke arah jalan yang jaraknya lima ratus meter. Nampak orang-orang semakin ramai. Masyarakat dua kampung sudah mengetahui jejaknya. Di jalan itu rupanya banyak warga yang memakai motor berdatangan.
Dari sinar lampu motor itu. Ramli dengan jelas melihat kilatan cahaya pedang dan kelewang yang dibawa warga yang berjalan masuk ke sawah menuju ke arahnya.
Janwar telah pasrah, berdiripun ia sudah tidak kuat. Kini, tubuhnya yang kurus terbaring kaku menanti bagaimana akhir dirinya di antara buah-buah semangka yang sebentar lagi di panen. Dengan segala kegetiran dan kelelahan yang ia rasakan, matanya sayu melihat ke arah orang-orang yang berjalan ke arahnya semakin dekat, semakin dekat sampai mata janwar tertutup, lalu pingsan.
"Jan,Jan,Jan, Janwar, ayo bangun, bangun !" ucap Jami sembari menepuk pipi Janwar, sahabat setianya itu.
Perlahan katup mata Janwar, kembali terbuka. Di tatapnya dengan heran sahabat setianya itu dan bertanya kebingungan.
" Saya dimana Jam, apa yang terjadi?" tanya Janwar kepada Jami sembari melihat sekitar.
Ingatan janwar masih belum normal. Ia melihat sekitar, dia berada di gazebo atau berugaq rumah Jami, sedang banyak orang yang mengerubunginya. Disana di lihatnya ada pak kadus, juga pak kadus kampung tetangga sebelah.
Janwar juga melihat penampilannya yang lusuh, kakinya yang berlumpur, juga celananya yang bau kencing. Sampai beberapa saat ingatannya berangsur normal sembari sehabat setianya menjelaskan kepadanya apa yang tengah terjadi.
" Jadi gini pak kadus, ini memang sahabat saya ini, dia bukan maling." pak kadus tertegun mengiyakan dan berkata " ya, ini salah paham, Dek"
Pak kadus sebelahpun menjelaskan bahwa dia mengenal Janwar, anak sahabatnya dari kampung Jati Dewa kepada warga.
Beruntung sesaat ketika tengah ramai orang mengejar Janwar, Jami berhasil meyakinkan warga dan juga pak kadus bahwa janwar bukan maling, itu salah faham belaka. Ditambah pihak keluarga Jami juga mendukung.
Celakanya beberapa warga yang mendengar waktu pengejaran berlangsung, langsung menghubungi kampung sebelah untuk menghadang. Beruntung dengan gesit pak kadus beserta Jami langsung menuju kampung sebelah menggunakan motor janwar yang ia tinggal, lalu melihat orang-orang sedang berlari ke arah Janwar dengan jarak lima puluh kilometer hendak menyergap Janwar.
Janwar akhirnya mengingat kejadian yang terjadi dan akhirnya dapat bernafas lega. Dilihatnya wardah berada di sampingnya. Janwar lalu tersenyum ke arahnya dan berkata,
"Lain waktu ya, Dek.."
Ucapan Janwar itu rupanya di dengar oleh warga yang mengerubunginya gazebo itu, lalu tertawa kecil namun hangat.
" Sudah-sudah, ini namanya salah malam, sekarang mandi dulu, setelah itu nanti Jami kamu antar kawanmu pulang besok pagi! " Ucap pak Kadus Banjar Sari, memberi saran dan mencairkan suasana di malam yang panjang itu.

Painting Cover By Brian Van Der Grue.

 

Baca Juga :




 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 

Artikel Populer

Komentar Terbanyak

 

image

Tipi Kampung

 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan