logoblog

Cari

Secercah Kisah Sang Tangguh

Secercah Kisah Sang Tangguh

Secercah Kisah Sang Tangguh Resah hati menggerogotiku saat ini. senja yang merah masih nampak begitu indah. Namun, senja indah yang biasanya

Cerpen

Secercah Kisah Sang Tangguh


Alfiana Ayuan Sari
Oleh Alfiana Ayuan Sari
21 November, 2018 16:20:36
Cerpen
Komentar: 0
Dibaca: 3587 Kali

Secercah Kisah Sang Tangguh

Resah hati menggerogotiku saat ini. senja yang merah masih nampak begitu indah. Namun, senja indah yang biasanya berhasil teduhkan hatiku, kini menjadi trauma bagiku. Bukan hanya aku, ya, semua, semua masyarakat pulau kecil ini. akankah kejadian pagi tadi akan tetap berlanjut? Ataukah tidak? Tidak bisa diprediksi begitu saja bukankah pagi tadi menyapa dengan senyum cerahnya? Azan magrib telah berkumandang 2 menit yang lalu. Aku bergegas menghimbau keluarga untuk segera mengambil air wudlu dan menunaikan shalat.

“Allahuakbar” ucapku seraya mendekapkan tangan

Entah mengapa, pikiranku berkecamuk, egois sekali rasa ini. penuhi lubuk hati kecilku. Kejadian tadi pagi selalu terbayang dibenak, seakan-akan melekat erat dibayangan.

Berkumpul hangat dengan keluarga, moment yang sangat langka bagiku,yang memang jarang ada waktu untuk berkumpul, dan sekarang tanpa batas. Gempa pagi tadi menjadi topic yang popular untuk diperbincangkan. Tak lama berbincang, tawa demi tawa kian pecah di ruang tengah yang cukup luas ini. Namun, tak bertahan lama.

Drrrrrrr drrrrr....

Teriakan lafaz istigfar dan shalawat berhasil membuat sekujur badanku merinding. Hanya kiamat yang mengisi pikiranku saat ini, saat dimana pulau kecilku diguncang dahsyat. Hamburan orang-orang menjadikan suasana semakin mengerikan, bukankah di dalam al-quran juga mengatakan hal serupa? Manusia bagaikan kupu-kupu yang bertebaran. Ya, tepat pada surah Al-qariah ayat 4.

7,0 SR, skala yang besar dengan kedalaman yang dangkal mengguncang pulau kecil ini. Namun, informasi BMKG yang menyatakan guncangan itu tidak berpotensi tsunami, menjadi ketenangan tersendiri bagi kami. Sedikit kelegaan yang menyejukkan benak. Hujan malam itu seakan ikut merasakan kesedihan, ketakutan, dan trauma yang sedang di hadapi penduduk pulau ini.

Bangunan demi bangunan kian ambruk, jalanan pun terbelah, beberapa jiwa melayang. Dalam malam yang kelam, demi ketenangan batin kami tidur di luar rumah. Dinginnya hembusan angin malam bukan menjadi masalah. Bahkan tidur lelap penuh kewaspadaan.

Keesokan paginya, keadaan tidak terlalu dicemaskan masyarakat, mungkin karena suasana yang cerah bagai tak pernah terjadi bencana apapun. Isu-isu tentang kejadian guncangan yang akhir-akhir ini sering terjadi tak asing lagi diindra.

“bagaimana ini bisa terjadi?” kata salah satu tetangga

“katanyasih, rinjani mau meletus” sambung orang yang berada didekatnya

“bisa jadi sih, ada juga yang bilang rinjani bergeliat” jawab seseorang yang baru datang, namun telah mengetahui perbincangan para tetangga itu.

 

Baca Juga :


Hari demi hari dihampiri guncangan-guncangan susulan yang tak terhitung. Besar kecilnya magnitudo yang tidak teratur menjadikan semua harus diiming-imingi ketakutan dan kewaspadaan yang sangat siaga. Begitu malangnya pulau ini, pulau yang dijuluki seribu mesjid, pulau nan indah wisata alamnya. namun kini, alam sedang menggertak pulau kecil ini. begitu isak derita penduduk kala itu, rumah-rumah hancur, cuaca pun tak menentu. Seakan alam tak bersahabat dengan kami.

Sungguh pilu apa yang dirasa. Sedih? Ku rasa sangat amat sedih, ya, bagaimana tidak, rumah yang telah dibangun dan mungkin memiliki kenangan tersendiri, roboh. Keluarga  yang kurang karena nyawa melayang?! Sesak. Tidur tak nyenyak selalu dihantui guncangan tengah malam yang mengerikan!, tidur beratapkan terpal biru?! sekolah yang tertunda? dan bermacam kisah pilu lainnya.

“nak, shalat dulu gih. Nanti keburu gempa.” Kata wanita paruh baya yang ku yakin dalam keadaan trauma

“ya bu” jawabku singkat

“shalatnya ditenda ya, ayo ibu tunggu” lanjutnya sambil duduk di depan pintu untuk menungguku.

Begitu besar efek psikis gempa ini kepada penduduk pulau kecilku. Datangnya guncangan yang tiba-tiba, selalu melekat dibenak semua orang. Cepat keluar rumah, hmm ya, itu kalimat yang tak bosan dituturkan.

Sepanjang jalan dipenuhi deretan tenda-tenda besar. Haru kurasa melihat semua ini, julukan seribu mesjid kini seribu tenda. Apa daya para pengungsi disana? Dipusat guncangan itu. Menunggu uluran tangan dari mereka, ya, uluran tangan mereka yang tak merasakan nikmat yang snagat besar ini. senyum semeringah menyambut datangnya sumbangan-sumbangan, tanda syukur tulus dapat sambung hidupnya, hidup istri dan anak anaknya.

Bencana besar tak menjadikan kami patah semangat bahkan kami menikmati detik demi detik sejarah yang kian kami alami. Hanya bersyukur masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri dan masih dapat menghirup udara segar Gumi Selaparang ini. Trauma? Memang semua orang merasakan hal itu. Namun, apakah dengan berlarut dalam trauma semua akan menjadi lebih baik? Sangat tidak bisa merubah keadaan, bahkan hanya dapat memperbanyak tekanan.

Semua itu tak menghalangi kami untuk beraktivitas lagi, meski beratap terpal biru, meski tidur yang tak pernah tenang dan semua ketidak nyamanan itu, dan meski guncangan menghampiri sekalipun, kurasa kami sudah kebal akan hal itu. Ketangguhan para penghuni tenda-tenda itu menjadi kebanggan tersendiri bagiku. Bangga? Ya, bagaiman tidak bangga melihat orang yang tak pernah mengeluh dan tetap tegar menghadapi musibah besar.

Dalam renung, dalam tatap kosong betepi, mungkin semesta menginginkan penduduk pulau kecil nan indah ini tangguh dengan guncangannya. Wujud cobaan dari yang maha kuasa, ataukah bentuk rinduNya kepada umat yang tak jarang lalai akan perintahnya. Kuasa menguji hambanya sesuai kadar kemampuan dan semua musibah pasti ada hikmahnya, ya, hanya berfikir demikian yang mampu tenanggkan hati, bangkitkan semangat yang terkubur .

#LombaNTBKita



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 

Artikel Populer

Komentar Terbanyak

 

image

Tipi Kampung

 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan