logoblog

Cari

Tangisan Gunung Rinjani

Tangisan Gunung Rinjani

Tangisan Gunung Rinjani (Sebuah Catatan Pilu Pulau Seribu Mesjid )   Agustus 2018, ketika itu saya sedang melaksakan program

Cerpen

Tangisan Gunung Rinjani


Hendrawansyah (SIMON)
Oleh Hendrawansyah (SIMON)
18 Januari, 2019 02:47:20
Cerpen
Komentar: 0
Dibaca: 7395 Kali

Tangisan Gunung Rinjani

(Sebuah Catatan Pilu Pulau Seribu Mesjid )

 

Agustus 2018, ketika itu saya sedang melaksakan program Kuliah Kerja Partisipatif (KKP) di Desa Loyok Kecamatan Sikur Kabupaten Lombok Timur. Waktu itu kami yang beranggotakan 19 orang dan saya sendiri sebagai ketua kelompok, dua di antaranya adalah mahasiswa di luar pulau Lombok, satu orang dari perwakilan IAIN Madura dan satu orang lagi perwakilan dari IAIN Ponorogo, sisanya adalah mahasiswa UIN Mataram. Kami adalah peserta KKP Nusantara dari kampus IAIN/UIN di Indonesia.

Setelah program KKP berjalan beberapa minggu, suatu ketika jum'at siang yang tidak seperti biasanya saya rasakan, di ujung langit Desa Kotaraja terdengar lantunan adzan yang sangat menggema seolah ada pesan tuhan yang telah terlupakan. Entah hanya perasaan saya saja atau memang itu suatu kesadaran spiritual sebagai umat beragama. Saya langsung segera bergegas untuk menghadap panggilan-Nya setelah lantunan Adzan dikumandankan melalui perantaranya di salah satu mesjid yang terletak di wilayah Kelurahan Kotaraja. Kotaraja adalah salah satu desa yang ada di Kecamatan Sikur Kabupaten Lombok Timur NTB dan masih satu kecamatan dengan Desa tempat di mana saya melaksanakan program KKP.

Setelah berwudhu dan melaksanakan sholat sunnah dua rakaat, simbolitas para waliyullah memberi ketenangan sedalam hati menghayati. Wajah alam hari itu tidak seperti biasanya kupandang, keteduhan langit gelap mendung yang menyimpan sebongkah makna seolah tidak berseri dan Alam layak seorang gadis yang tengah merintih karena dijamah kesuciannya. Dingin angin siang itu seakan menyampaikan kabar duka alam raya membisik halus pada renungan yang dalam. Sedu sedan cakrawala meneteskan air sepanjang hari seolah-olah mewakili rintihan alam semesta. Petuah dan tokoh Agama di sana meyakini fenomena tersebut menandakan gunung 'Rinjani tengah menangis dan meratap lantaran kesucian yang telah dinodai oleh tangan-tangan nakal manusiawi dan tidak sedikit dari mereka beranggapan bahwa gempa yang menggoncang pulau Lombok kala itu adalah gemuruh 'tangisan' gunung Rinjani.

Seribu masjid megah yang berdiri kokoh nan tegap retak dan sebagianya hanya tinggal reruntuhan. Gemuruh alam diiringi air mata, kelaparan, haus, dan jeritan tangis tampa suara sepanjang jalan kupandang dan ratusan mayat yang berserakan tertimbun bangunan tempat masyarakat berteduh. Kakiku tak mampu lagi untuk berdiri tegak, terasa lemas setiap langkah. Pikiranku melayang bersama lamunanku "Sekiranya apa yang ingin Tuhan sampaikan lewat bencana alam yang menggoncang pulau seribu masjid para waliyullah kala itu?. Mungkinkah berupa teguran Tuhan lantaran tuan-tuan bersorban putih terlalu asik dengan jabatan kekuasaan sehingga lupa akan tugas dan tanggung jawab utama yang disandang sebagai seorang pemimpin?"Entahlah!

 Hujan air mata di bulan Agustus kemarin memberikan banyak pelajaran berharga serta lembaran hikmah bagi kami semua lebih-lebih untuk para korban. Bulan yang penuh dengan ketakutan, ketegangan, tangis, duka yang mendalam karena gempa datang secara bertubi-tubi mengguncang pulau Lombok dengan kekuatan 7,0 skala ritcher pada Minggu 5 Agustus 2018 hingga akhirnya meluluhlantakkan ribuan bangunan dan menelan korban jiwa lebih dari 100 orang meninggal dan ratusan lainnya luka-luka serta 200 ribu lebih jiwa yang mengungsi di tenda sederhana. Kita tidak sepenuhnya bisa merasakan seperti apa yang di alami oleh mereka, yang terlihat hanyalah wajah bersinar pada gelap malam serta jiwa yang lapang dalam sempitnya ruang. Tentu saja, musibah ini adalah sebuah ujian yang sangat berat. Air mata kesedihan dengan tatapan kosong terpancar dari raut wajah yang tak mampu mereka sembunyikan. Terlalu berat untuk dirasakan, yang saya pahami terhadap mereka adalah cinta tanpa kata, sayang yang tak terungkap lewat rasa oleh siapapun yang berada di tengah-tengah mereka. Walaupun sebenarnya kita tidak ingin siapapun yang menjadi korban di balik bencana tersebut, tetapi harus terima dengan lapang dada dan penuh kesabaran karena kehidupan akan tetap berjalan sesuai dengan apa yang manusia kerjakan. Dan bencana bukanlah suatu pilihan melainkan sudah menjadi ketetapan dan ketentuan dari sang pencipta dan kita tidak tau kapan musibah datang menghampiri. Namun apakah kita harus larut dalam kesedihan dengan tatapan kosong penuh tanya “Kenapa kami yang menjadi korbannya?” pertanyaan-pertanyaan seperti itu sangat wajar muncul dalam pikiran mereka. Betapa tidak, situasi kelam yang terjadi pada rabu 09 september ba’da isya pukul 19.00 itu telah mengubur impian dan harapan sebagian besar masyarakat Lombok untuk kelangsungan hidup dan kebahagiaan anak dan cucu-cucu, serta sanak keluarganya.

Bencana alam ini kembali mengingatkan kita pada sejumlah bencana serupa yang pernah menimpa Indonesia, seperti bencana gempa dan tsunami di Aceh pada tahun (2004), dan Pidie Jaya tahun (2016) silam yang juga merenggut banyak korban jiwa. Tetapi, di balik bencana pasti ada hikamnya seperti halnya bencana yang menimpa saudara kita di Lombok tidak sepatutnya dirasakan sepenuhnya oleh mereka sebagai korban, akan tetapi duka mereka adalah duka kita juga sebagai warga setanah air dan sebangsa. Secara tidak langsung bencana tersebut juga dialamatkan kepada kita semua untuk mengukur sejauh mana nilai-nilai kemanusiaan yang kita miliki, sebagaimana makhluk sosial kiranya uluran tangan kepada saudara-saudara kita yang terkena musibah patut diutamakan. Dalam kehidupan dan keadaan seperti ini setidaknya kita dapat membangun kesadaran agar kita kembali meningkatkan nilai-nilai sosial pada saat sistem materialistik tengah menggerogoti nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan yang modern ini.

Dalam peristiwa bencana Alam yang terjadi di Indonesia sepanjang sejarah banyak berbagai pihak dari kalangan yang terlibat, baik secara langsung maupun tidak langsung seperti halnya bencana gempa Lombok ada banyak pihak yang ikut terlibat dari beberapa komunitaas di Iindonesia khususnya komunitas dalam skup NTB yang banyak memberikan bantuan secara (fisik) hingga memulihkan truamatik orang lain (Non-fisik) itu sudah menjadi hal umum dilakukan oleh para relawan untuk memenuhi panggilan kemanusiaan. Berbagai cara yang dilakukan untuk membantu mengurangi kesedihan serta penderitaaan korban dan salah satu komunitas yang terlibat aktif dan banyak memberikan kontribusi baik bantuan secara fisik maupun non-fisik untuk Lombok adalah komunitas KALIKUMA.

Kalikuma adalah salah satu komunitas yang bergerak pada bidang pendidikan berbasis literasi dan kemanusiaan (Literacy and Humanity) komunitas di bawah payung Alamtara Institute yakni lembaga yang fokus pada kajian kebudayaan dan pendidikan. Di dalamnya terdapat sejumlah kalangan dari  berbagai latar belakang. Mulai dari kalangan cendekiawan, akademisi, aktivis, mahasiswa, hingga para penulis-penulis hebat dari berbagai daerah berkumpul dalam satu tempat sebut saja ‘cangkang’ yang dinamakan Uma Kalikuma. Yakni tempat bagi kalangan mahasiswa untuk berekspresi dan melakukan banyak hal dengan semangat perubahan yang sangat berapi-api.

 

Baca Juga :


Kalikuma Volunteer terbentuk pada tahun 2014 yang terbentuk dari hasil kegelisahan dan keprihatinan oleh pasangan suami-istri putra-putri terbaik asal Bima yakni Dr. Abdul Wahid., M.Ag.,M.Pd dan Atun Wardatun PhD kepada generasi-generasi bangsa yang akan datang, yang keduanya sekarang berprofesi sebagai dosen tetap di Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram.

Sejak gempa kedua menggoncang pulau Lombok, Kalikuma Volunteer langsung bergerak dan terlibat untuk melakukan penggalangan dana (fundraising)  mulai dari turun ke jalan sampai membuka rekening donasi sebagai upaya tahap awal keterlibatan. Tidak membutuhkan waktu yang lama beberapa hari kemudian dana yang terkumpul cukup banyak karena sumber dana berasal dari donator dalam Negeri sampai donatur luar Negeri juga turut ikut membantu bahkan bermitra dengan Kalikuma Volunteer untuk korban gempa Lombok. Setelah team sudah dibentuk dengan struktur yang terorganisir barulah masuk pada tahap kedua untuk memberikan bantuan secara fisik seperti penyaluran Logistik. Dengan modal semangat dan berkerja secara kolega-kolektif para relawan kalikuma dapat menyalurkan logistik ke 25 desa di wilayah Kabupaten Lombok Utara dan Kabupaten Lombok Timur serta pengobatan gratis untuk para korban yang dilakukan dalam kurun waktu selama satu bulan. Di samping melakukan penyaluran logistik dengan intens, dana yang masuk ke rekening donator setiap harinya tetap bertambah begitupun dengan bantuan berupa logistik dan beberapa kebutuhan lainya hampir setiap hari masuk di posko utama Kalikuma Volunteer yang ada di Wilayah Kota Mataram yang jaraknya ratusan kilo dengan wilaya di titik pusat sentra gempa. Dengan banyaknya barang bantuan yang masuk akhirnya Kalikuma Volunteer membangun dua posko demi mempermudah melakukan penyaluran barang untuk para korba. Lokasi pembangunan posko kedua tepatnya di Desa sesait kecamatan kayangan kabupaten Lombok Utara di wilaya yang menjadi titik pusat gempa waktu itu.

Di Sesait kami disambut dengan penuh riang gembira dan rasa kekeluargaan yang begitu hangat oleh masyaraktnya. Dan salah satu keluarga dari sekian puluhan ribu keluarga yang menyambut kami dengan hangat yakni keluarga besar Pak Ahmad. Beliau adalah guru olahraga di SDN 1 Sesait, Desa Sesait Kecamatan Kayangan Kabupaten Lombok Utara yang telah banyak membantu semua kebutuhan para relawan yang ada diposko depan halaman rumahnya selama menjalani tugas kemanusiaan. Tidak hanya itu, salut yang terpatri dalam lubuk hati yang dalam terhadap pak ahmad, walaupun beliau adalah salah satu korban dengan kondisi rumah rata dengan tanah dan istri, anak, serta cucunya mengalami trauma yang cukup hebat, beliaupun semangat untuk turut ikut membantu menyalurkan barang bantu bersama relawan untuk korban lainya.

Setelah satu bulan Kalikuma Volunteer berjibaku dengan tumpukkan logistik selama tahap tanggap darurat dan telah turun di beberapa titik pusat gempa para relawan masih semangat untuk menyalurkan dana bantuan, kini saatnya kalikuma masuk pada tahap ke tiga untuk memberikan terapi tarumatik (trauma healing)  untuk para korban gempa yang mengalami trauma pasca bencana gempa. Dari sekian banyaknya organisasi yang memberikan bantuan pasca bencana alam gempa yang melululantahkan pulau Lombok, yang terlihat mungkin hanya berupa bantuan fisik, seperti bantuan makanan, penampungan, baju dan jenis bantuan logistik lainya yang terbilang penting. Tetapi selain itu, para korban sebetulnya juga membutuhkan bantuan kesehatan mental sangat di perlukan oleh korban gempa Lombok karena trauma yang timbul dari bencana alam gempa yang berskala besar. Trauma healing sangatlah penting melihat banyaknya korban mengalami trauma dan ketakutan yang berlebihan. Trauma healing yang dilakukan oleh kalikuma volunteer diutamakan pada anak-anak, yang biasanya mengalami trauma paling kuat, baik stres maupun depresi. Trauma healing ini juga harus dilakukan secara teratur agar dapat membangun kembali mental para anak-anak, seperti program trauma healing yang telah di rancang dalam kurikulum Sekolah Kalikuma Terlibat (SKUTER) untuk Lombok Bangkit dengan dua metode pendekat pertama, trauma healing berbasis pendidikan dengan dibentuknya Sekolah Kalikuma Terlibat (Skuter) Untuk Lombok Bangkit yang bersifat non formal. kedua, trauma healing berbasis kearifan local budaya (local wisdom) yang masih satu paket dan dibungkus dalam kurikulum Sekolah Kalikuma Terlibat (Skuter) Untuk Lombok Bangkit. Di Dalam rancangan Kurikulum SKUTER terdapat beberapa kelas seperti kelas seni dan kebudayaan, mendongeng dan bercerita (storytelling), game dan olah raga, keagama dan mata pelajaran umum lainya. Trauma healing yang diberikan pada anak-anak bertujuan agar mereka mampu melupakan kejadian-kejadian yang terjadi pada masa lampau, sehingga membuat mereka lebih siap apabila bencana alam datang kembali. Apalagi untuk melakukan pemulihan dan kebangkitan untuk daerah Lombok dari bencana gempa yang terjadi tergantung bagaimana psikologi sosial masyarakat yang tertimpa oleh Bencana.

Sebelum kegiatan belajar mengajar sekolah kalikuma terlibat (SKUTER) aktif, sebelum itu Kalikuma Vulunter bersama komunitas literasi lainya seperti Asosiasi Pegiat Literasi Bima, Mbojo Tana’o, dan Kambuti, juga sempat melakukan trauma healing dan pembagian 1000 paket perlengkapan sekolah untuk anak tangguh Lombok berupa alat tulis, buku, meja, serta seragam lengkap sekolah. Kegiatan ini dilaksanakan di tujuh titik. Hari pertama berlokasi di sekolah darurat SDN 2 dan SDN 5 Sigar Penjalin Tanjung. Hari kedua di SDN 2 Selengan, SDN 1 Dangiang, dan Desa Persiapan Pansor Kecamatan Kayangan. Sedangkan hari ketiga dilaksanakan di perbatasan KLU dan Lombok Timur tepatnya di Desa Loloan Kecamatan Bayan. Trauma Healing dan pembagian 1000 paket sekolah untuk anak tangguh Lombok ini sebagai upaya pemulihan psikologi anak. Juga untuk menjaga dan meningkatkan minat serta motivasi belajar kepada anak korban gempa bumi. Seperti ungkapannya Nelson Mandela “Dari pengalaman tentang sebuah bencana kemanusiaan luar biasa yang berlangsung begitu lama, harus lahir sebuah masyarakat yang membuat semua umat manusia bangga"

Dari awal gempa sampai sekarang kondisi terakhir pulau Lombok belum pulih dan masih membutuhkan banyak perbaikan. Salah satu hal yang paling mendesak ialah pemulihan di sektor pendidikan. Dari data yang didapat di Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menyebutkan gempa bumi di Lombok menyebabkan kerusakan 534 sekolah dari tingkat SD hingga SMA. Kondisi ini juga dibenarkan oleh Kepala Dinas Pendidikan Lombok Utara, Fauzan.“Ini memang musibah, tetapi meski dalam kondisi bagaimanapun pendidikan harus tetap berjalan, karena tidak mungkin kita biarkan 42.000 siswa yang aktif  masa depannya hancur karena musibah.

Setelah rancangan sekolah semuanya sudah matang barulah masuk pada tahap selanjutnya yaitu Rehabilitas Rekonstruksi Sekolah Kalikuma Terlibat (Skuter) Untuk Lombok Bangkit. Sekolah tersebut dirancang dengan menggunakan pendekatan 5 W 1 H seperti What: sekolah bernama Sekolah Kalikuma Terlibat (SKUTER) Untuk Lombok Bangkit. Where: Sekolah Kalikuma di laksanakan di desa Pansor (desa persiapan) Kecamatan Kayangan Kabupaten Lombok Utara. When: September (Persiapan) Sekolah berjalan selama 2 bulan (Oktober-Nopember). Tiga hari seminggu di sore hari (Jum'at, Sabtu, Minggu). Who: Koordinator, tim Kalikuma. Dan Pelaksana sekolah adalah lembaga Alamntara Institute sebagai payung komunitas Kalikuma beserta komunitas lain yang ingin bergabung. Sedangkan guru-guru yang mengajar dan membimbing siswa adalah dari kalangan pemuda-pemudi lokal di desa tersebut dan tentunnya juga dibantu oleh  para relawan dengan jumlah murid sebanyak 50 0rang dengan kapasitas dua kelas mulai dari tingkatan kelas 1-3 SD. Why: Sekolah ini diberi bentuk sekolah alternatif dan bukan sekolah formal untuk mengisi materi yang mungkin luput diajarkan di sekolah formal tetapi penting. Ringan tetapi berimbas besar. Santai tetapi menanamkan nilai. How: Sekolah itu juga memiliki struktur organisir yang terdiri dari kepala sekolah, koordinator perlengkapan, tim rekrutmen, tim akademisi, tim konsumsi dan akomodasi. Untuk menunjang keberhasilan pembangunan sekolah alternative yang akan mengisi ruang-ruang kosong bagi anak-anak korban gempa.



 
Hendrawansyah (SIMON)

Hendrawansyah (SIMON)

Nama Lengkap Hendrawansyah Ds, Lahir tahun 1996, Status sebagai Mahasiswa di salah satu perguruan tinggi Islam Negeri Mataram, jurusan Sosiologi Agama, Fakultas Ushuludin.

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 

Artikel Populer

Komentar Terbanyak

 

image

Tipi Kampung

 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan