logoblog

Cari

Potret Pasar Dan Jejak-jejak Kaki

Potret Pasar Dan Jejak-jejak Kaki

  Sudah lama laki-laki itu tidak ke pasar. Sejak dia masuk sekolah menengah sampai lulus dari sekolah  tinggi, baru kali ini

Cerpen

Wahyu Azis Faradi / WAZIDI
Oleh Wahyu Azis Faradi / WAZIDI
24 Januari, 2019 00:12:57
Cerpen
Komentar: 0
Dibaca: 4284 Kali

 

Sudah lama laki-laki itu tidak ke pasar. Sejak dia masuk sekolah menengah sampai lulus dari sekolah  tinggi, baru kali ini dia datang ke pasar lagi.
 Pukul 10 pagi bukan waktu yang terlambat untuk datang, barang dagangan para penjual itu masih banyak yang utuh. Beda halnya dulu, memasuki pukul sepuluh para pedagang sudah mulai menghitung uang hasil jualan.
Laki-laki itu memakai kaos oblong, celana pendek, dan kaos jepit. Tampak santai berjalan setelah memarkir motor maticnya di depan halaman pasar yang sedikit tak tertata. 
Langkahnya berjalan pelan di antara lalu lalang para ibu-ibu yang berbelanja.
Laki-laki itu mengamati barisan lapak pedagang yang ada. Matanya mencari sesuatu yang perasaannya ingin dan butuhkan.
Dia sudah lupa jalur mana yang harus dia lalui di pasar itu jika ingin membeli jajanan basah tradisional.
Sampai akhirnya dia menemukan lapak seorang tua yang menjual klepon, bubur, lupis, apem, dan beberapa jenis lagi kue basah.
Tersenyum bibir laki laki itu. Dia menatap kue basah itu dengan begitu ceria. Tak di dengarnya penjual kue basah itu yang bertanya kepadanya.
" Mau jajan yang mana, nak?"
Sambil duduk di lapak itu, laki laki itu lantas mengeluarkan uang 20 ribu. Dibelinya sambi menunjuk 4 jenis kue basah yang ia suka, 5 ribu untuk perkebunan.
Sembari nenek tua itu membungkukkan pesanannya, ia rupanya tak sabar mencicipi klepon yang sangat ia suka. Dan baru kali ia mencicipi klepon lagi setelah sekian lama melupakannya.
Setelah selesai membeli kue basah, laki-laki itu pulang dari pasar itu dan memakan kue basahnya di rumahnya yang bersih, diatas karpet Persia sembari memainkan smartphone.
*****
Tukang parkir di depan pasar itu pasti akan menghitung uang hasil parkirannya jika sudah jam 11. Dihitungnya 50 ribu lebih (uang logam). Kemarin 70 ribu lebih. Tapi dia tidak hanya sendiri menjadi tukang parkir sisanya. Dua rekannya yang lain Juga menghitung uang. Hasilnya lebih banyak ketimbang yang dia dapati.
Tidak masalah berapapun yang ia dapati. Sebab dia memiliki gaji tetap. Digaji oleh pemerintah sebesar 1,5 juta perbulan. Lumayan baginya. Kerja dari pagi sampai siang. Setelah itu istirahat di rumah. 
Ia bersyukur menjadi tukang parkir resmi pemerintah. Lebih baik ketimbang jadi kuli bangunan. Kerja dari pagi sampai sore. Dan sangatlah memang membuat telapak tangan menjadi kasar.
Tukang parkir itu membeli es kelapa muda 5 ribuan. Sambil merokok, tak sabar ia menunggu jam 12 siang, setoran lalu pulang makan, sholat, dan istirahat.

*****
Seorang tua penjual kue basah itu berkemas untuk pulang. Daganganya sudah habis terjual. Dia mengajak seorang wanita paruh baya penjual sayur disebelahnya untuk pulang.
 Wanita paruh baya itu selalu kesal, barang dagangannya selalu saja tersisa. Selalu beruntung baginya jika besok pagi bisa dijual kembali.
Dan seorang tua penjual kue basah itu, setelah sampai rumah, pasti akan selalu disibukkan kembali untuk membikin adonan kue basah lagi untuk dijual besok pagi.
****

Laki-laki itu masih menikmati kue basah yang ia beli di pasar. Tiba-tiba datang seorang kawannya mengetuk pintu.
Ia membuka pintu mempersilahkan kawannya itu masuk.
'" Gimana hasil jualan?"
Tanya laki-laki itu ke kawannya penjual baju di pasar.
Kawannya itu menjawab dengan nada bosan sambil memakan klepon di ruangan rumah itu.
'' Pasar Sepi......". 

 

Baca Juga :


Sekian



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 

Artikel Populer

Komentar Terbanyak

 

image

Tipi Kampung

 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan