logoblog

Cari

Apakah Kota Ini Bisa Menggambarkan Sebuah Perasaan

Apakah Kota Ini Bisa Menggambarkan Sebuah Perasaan

Cerpen Tjak S. Parlan   Kita berhenti di bagian ruas jalan yang kamu pilih. Di sepanjang jalur ini terpacak kursi-kursi taman

Cerpen

ts parlan
Oleh ts parlan
15 Maret, 2019 16:12:06
Cerpen
Komentar: 0
Dibaca: 3383 Kali

Cerpen Tjak S. Parlan

 

Kita berhenti di bagian ruas jalan yang kamu pilih. Di sepanjang jalur ini terpacak kursi-kursi taman yang nyaman bagi persinggahan para pejalan kaki. Di sisi jalan, sebuah taman kecil tertata asri. Kamu duduk di salah satu kursi itu seraya memandang ke sekitar. Udara terasa segar. Beberapa meter di depan kita, pasangan muda sedang mendorong kereta bayi. Lalu satu-dua orang yang berpapasan, tampak saling menyapa dengan ramah. Tiga orang petugas kebersihan, baru saja selesai menyapu jalanan basah. Ini bukan hari libur dan masih terlalu pagi untuk berjalan-jalan. Tapi aku begitu menikmati suasana seperti ini.

“Aku pikir tidak masalah kalau kamu duduk di sini. Kamu mau duduk di kursi ini? Di sebelahku?” tanyamu seraya tersenyum.

Aku berterima kasih padamu atas tawaran itu. Itu mungkin hal yang biasa bagi sebagian orang. Tapi agak merepotkan bagiku—dan aku tidak ingin lebih merepotkanmu lagi. Biar saja aku di kursi ini dulu. Masih terlalu pagi bagimu untuk membopong tubuhku dari kursi roda ini ke kursi yang sedang kamu duduki.

“Kamu kenapa?” tanggapmu seraya tertawa. “Kita dulu pernah sebangku, kan?”

Tentu saja. Aku masih ingat bahwa kita pernah sebangku dalam waktu yang cukup lama. Tapi kota yang berbeda akhirnya memisahkan kita sejak kita lulus SMP. Aku harus meninggalkan kota ini, mengikuti ayahku yang berpindah tugas di Kota P yang berbeda pulau.

“Selama itu, kamu tidak pernah kembali ke kota ini. Atau mungkin pernah, tapi kita tidak sempat bertemu. Apa benar begitu?”

Tidak. Memang tidak pernah. Aku juga tidak tahu mengapa kedua orangtuaku tidak pernah mengajakku menjenguk kota ini lagi. Kedua orangtuaku sepertinya terlalu sibuk di tempat tugasnya yang baru. Sementara, kami memang sudah tidak memiliki kerabat dekat yang masih tinggal di kota ini. Meskipun begitu, kedua orangtuaku tidak mau menjual rumah peninggalan kakekku. Ayahku malah mempercayakan perawatan rumah itu kepada ayahmu, kawan dekatnya sejak kecil dulu. Mungkin, ayahku diam-diam masih memendam keinginan, bahwa kelak akan kembali dan menikmati masa tuanya di kota ini.

“Aku kira kamu akan lebih lama di sini. Berapa hari lagi?”

Sebenarnya aku belum bisa memastikan akan berapa lama lagi berada di kota ini. Kamu tahu, awalnya aku iseng belaka. Tentu saja, tidak bisa dimungkiri bahwa aku juga memiliki rasa kangen pada tanah kelahiranku ini. Sekitar sebulan sebelum bencana itu, aku sempat mengikuti unggahan foto-foto di akun instagram-mu. Foto-foto yang mengingatkanku pada tempat-tempat yang pernah kukunjungi. Ada benteng Lama sehabis direstorasi, ada sekelompok seniman yang mengisi sebuah sore di kawasan Kota Tua, ada beberapa sudut yang instagramable di kawasan City Walk—di bagian ini ada kamu yang sedang duduk santai di sebuah kursi panjang yang terpacak apik di pinggir jalan, ada juga tempat-tempat tertentu yang membuatku pangling pada banyak hal di kota ini.

Tidak ada foto THR— tanggapku dalam sebuah komentar.

Butuh seminggu lebih untuk mendapatkan tanggapanmu. Sampai akhirnya, sebuah nomor yang tidak aku kenal, muncul di layar gawaiku. Aku membalas chat-mu. Lalu kita pun saling bercerita—cukup panjang sore itu. Kamu telah mendapatkan nomor WhatsApp-ku dari adikmu—Seruni— yang kerap terlihat bersamaku menaiki komidi putar pada malam-malam tertentu ketika aku masih kecil dulu.

“Kamu tidak bisa naik komidi putar lagi,” katamu seraya tertawa.

Tapi entah mengapa, ketika aku sedang berusaha memutar kursi roda—dan tersandung bagian paving block yang bergelombang karena desakan akar-akar pohon— agar lebih dekat denganmu, kamu berusaha meralat apa yang baru saja kamu katakan itu.

“Bukan, bukan. Maksudku, Taman Hiburan Rakyat itu sudah ditutup untuk selamanya,” katamu seolah merasa bersalah. “Ada yang bilang mau dipindahkan. Entahlah.”

Aku segera menepuk pundakmu. Beberapa kali tepukan kecil. Pada saat itu aku menduga-duga, mungkin inilah pertama kalinya aku melakukannya—ya, menepuk pundakmu. Atau bisa saja, sepuluh atau lima belas tahun lalu aku pernah melakukannya. Mungkin pada suatu sore, saat aku mengejutkanmu di depan benteng Lama? Apa kamu pernah mengingatnya? Apakah seseorang bisa mengingat hal-hal kecil semacam itu? Aku sendiri merasa bahwa beberapa hal terkadang memang terlintas. Beberapa cukup jelas. Sisanya samar-samar belaka.

“Oh, iya. Kamu masih ingat Jagad?”

Aku berusaha berpikir, mengingat-ingat, apa ada nama seseorang yang kamu sebutkan tadi pada masa kecilku. Samar-samar, aku menemukan sosok anak laki-laki yang paling tambun sekaligus pendiam di dalam kelas. Tapi kalau ingatanku tidak keliru, anak itu pindah ke kota lain setelah lulus SD, sehingga aku tidak pernah mendengar kabarnya sama sekali setelah itu. Ada apa dengan kawan lama kita itu?

 “Dia meninggal sewaktu menjadi relawan di Kota P. Kecelakaan,” katamu lirih.

Lalu kamu menceritakan sedikit perihal kisah duka itu. Kamu juga mengungkapkan penyesalanmu karena tidak bisa banyak membantuku sewaktu bencana itu terjadi. Aku memang telah kehilangan banyak hal. Tapi itu sudah terjadi. Sekarang aku di sini dan masih ingin melanjutkan hidup. Tentu saja, rasa kehilangan itu belum bisa hilang dari diriku. Bahkan aku yakin, perasaan semacam itu tidak akan pernah benar-benar hilang dari hidupku.

“Ya, Tuhan. Harusnya aku tidak perlu menceritakan hal semacam ini kepadamu. Sudahlah, kita nikmati saja kota ini,” katamu seraya mendorong pelan-pelan kursi rodaku. “Kita akan ke mana?”

Aku mengangkat tanganku, dan menyerahkan diriku pada tujuan berikutnya yang akan kamu pilih pagi ini. Aku mengikuti arah yang kamu kendalikan sepenuhnya. Aku tidak ingin menolak apa-apa hari ini. Udara terasa semakin segar—tubuh dan jiwaku terbuka menerimanya. Sesekali aku berusaha memejamkan mataku, seraya meyakinkan pada diriku sendiri bahwa hari ini aku masih ada di kota kelahiranku. Sesekali aku bertanya pada diriku sendiri; apakah ini hanya kunjungan sementara, atau aku harus tinggal selamanya? Apa sesungguhnya yang membuatku harus memilih antara tinggal sementara atau selamanya? Kenangan-kenangan buruk, kenangan-kenangan manis, ataukah ingatan-ingatan lama yang berdesakan dan kerap meminta diterjemahkan ulang?

“Sepertinya kita harus berhenti dulu.”

Tiba-tiba suaramu terdengar begitu dekat di telingaku. Begitu dekatnya, sehingga aku bisa merasakan embusan hangat napasmu. Aku juga bisa mencium aroma tubuhmu: wangi tipis parfum yang menguar dari balik sweater hangatmu. Wangi tipis itulah yang selanjutnya menghadirkan sesosok bayangan di kepalaku. Bayangan itu adalah seorang laki-laki yang paling merasa keberatan ketika harus menerima kenyataan bahwa aku telah kehilangan sebelah kakiku, juga suaraku.

 

Baca Juga :


Bukan hanya itu, aku bahkan harus kehilangan kedua orangtuaku yang jasadnya terjebak dalam reruntuhan sebuah gedung perkantoran. Aku sendiri nyaris putus asa didera kengerian yang luar biasa itu: kaki kiriku remuk terhimpit bongkahan beton dalam sebuah pusat perbelanjaan di mana aku bekerja setiap hari. Tidak ada pilihan lain setelah itu. Kaki kiriku pun diamputasi di sebuah rumah sakit. Di rumah sakit itulah aku pernah bertemu dengan laki-laki itu untuk pertama kalinya, jauh sebelum bencana itu terjadi. Dia adalah seorang perawat yang kerap aku tanyai perihal perkembangan kesehatan tanteku—adiknya ibu— yang pernah menjalani rawat inap selama berhari-hari. Dia jugalah yang kerap menjengukku di saat aku nyaris tidak punya harapan di dalam sebuah kamar rawat inap di rumah sakit itu.

Akhirnya, aku pun harus menerima kenyataan bahwa aku akan menjalani hidup dengan satu kaki. Aku berusaha menerima itu dan mulai terbiasa. Sudah setahun berlalu. Aku bahkan telah membiasakan diriku dengan kruk atau kursi roda pada kesempatan yang berbeda. Tapi ingatan tentang peristiwa mengerikan itu—yang tidak pernah bisa kuceritakan secara tuntas dengan kata-kata—membuatku jadi kehilangan kemampuan berbicara.

“Apa kamu sedang memikirkan sesuatu?”

Aku segera membuka mata dan tersipu manakala melihatmu sedang membungkuk tepat di depanku. Aku mencoba tersenyum, menangkap sorot matamu yang menyelidik ke wajahku.

“Kamu pasti teringat Amri,” katamu kemudian. “Tenang saja, aku sudah berjanji untuk menjagamu di sini. Nanti, kalau dia tidak bisa menjemputmu karena pekerjaannya, biar aku saja yang mengantarmu.”

Iya, aku memang sedang teringat Amri—laki-laki perawat yang pernah kukenalkan padamu lewat video call. Tapi tentu saja, ada ingatan-ingatan lain yang terus berdesak-desakan di antaranya. Tentang obrolan panjangku dengan ayah dan ibumu di hari kedua kedatanganku. Tentang sebuah alasan lain—yang tersirat—agar aku bisa kembali ke kota ini. Bukan. Bukan tentang rencana penjualan rumah peninggalan kedua orangtuaku seperti yang telah kita ketahui bersama. Tapi ada sesuatu yang lain, yang tiba-tiba terngiang-ngiang dalam ingatanku.

“Rumah ini bukan hanya menyimpan kenangan bagimu,” kata ayahmu saat itu, “tapi juga kenangan kita semua. Kita semua tumbuh dan besar di sekitar sini. Kalau ada alasan sedikit saja yang bisa menahanmu, apa kamu mau tinggal di sini?”

Aku tidak bisa menjawab apa-apa ketika itu, selain mengisyaratkan bahwa aku akan mencoba mencari alasannya.

“Kalau ada seseorang yang memang berjodoh denganmu, kamu bisa menceritakan banyak hal tentang kota ini. Ya, siapa tahu dia akan tertarik dan mau tinggal di sini bersamamu,” kata ibumu denga nada bercanda.

Lalu tiba-tiba ayahmu menceritakan banyak hal tentangmu. Tentang apa-apa yang sudah kamu kerjakan selama ini. Tentang kegagalan-kegalanmu dalam menjalin hubungan istimewa dengan seseorang. Tentang pekerjaanmu—yang menurut orangtuamu telah mapan— namun harus kamu tinggalkan karena lebih memilih mengurusi anak-anak berkebutuhan khusus di sebuah yayasan.

“Kadang-kadang, kami merasa iba dengannya. Anak itu sulit menemukan teman perempuan yang cocok. Tapi sejak bisa menjalin kontak denganmu, dia sering menceritakan keberadaanmu. Dulu, sewaktu kecil, kalian memang tidak terpisahkan,” celetuk ibumu dalam sebuah obrolan.

Potongan-potongan percakapan itu semakin berdesakan dalam kepalaku, seolah-olah meminta untuk disimpan dan diterjemahkan ulang.

“Kamu harus diam di sini. Jangan lupa tersenyum. Aku akan mengambil gambarmu.”

Aku tersenyum. Agak canggung. Mengambil jarak di depanku, bidikanmu menangkap obyek dengan apik: seorang perempuan berwajah tirus sedang duduk di sebuah kursi roda, dalam naungan ranting-ranting pohon rindang yang menjalari sebuah kanopi buatan.

“Sejak lulus SMP, aku belum pernah berfoto denganmu lagi,” katamu seraya menyelidik ke sekitar.

Seorang anak berseragam sekolah melintas di dekat kita. Kamu mengucapkan sesuatu dengan nada bercanda seraya menyerahkan sebuah gawai kepadanya. Remaja usia belasan itu tersenyum. Lalu dalam beberapa jenak, tubuhmu membungkuk dan tangan kananmu memelukku dengan lembut dan hangat.

“Apa sebuah foto bisa menggambarkan sebuah perasaan?” tanyamu tiba-tiba.

Cukup lama kita memandangi foto itu. Entah untuk apa. Tapi aku memikirkan pertanyaanmu—yang kamu lontarkan dengan nada bercanda dan sambil lalu. Hingga kamu menepikan kursi rodaku di sebuah kawasan florist, aku masih memikirkan pertanyaan sederhana itu. Aku tidak tahu apa yang kamu katakan pada perempuan paruh baya yang sedang merangkai bunga. Tiba-tiba saja tanganmu sudah mengenggam sebuket krisan merah.

“Ini untukmu,” katamu, seraya kembali mendorong kursi rodaku.

Aku menerimanya begitu saja. Kini, seraya menyusuri jalanan di sepanjang City Walk yang teduh dan tenang ini, aku mendekap krisan merah pemberianmu di dadaku. Aku mendekapnya seraya memikirkan sebuah pertanyaan lainnya: apakah kota ini bisa menggambarkan sebuah perasaan?

Jember, November 2018

(Pernah tayang di ideide.id, 12 Maret 2019)



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 

Artikel Populer

Komentar Terbanyak

 

image

Tipi Kampung

 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan