logoblog

Cari

Kidung Kinanti Di Puncak Rinjani

Kidung Kinanti Di Puncak Rinjani

DI setiap sepuluh atau sebelas langkah aku berhenti lagi. Memuntahkan sengal dan gerutu, entah karena letih atau kesal oleh tanjakan panjang

Cerpen

Pangkat Ali
Oleh Pangkat Ali
30 Juni, 2019 16:14:47
Cerpen
Komentar: 0
Dibaca: 2924 Kali

DI setiap sepuluh atau sebelas langkah aku berhenti lagi. Memuntahkan sengal dan gerutu, entah karena letih atau kesal oleh tanjakan panjang berdebu yang seperti mendekat ke jurang jahanam ini. Aku merapat ke pokok cemara terdekat, menyandarkan tubuh dan meremajakan semangat.

Halimun dingin datang dan pergi, secepat angin yang mebawanya menerobos ceruk – ceruk pegunungan yang tampak begitu dekat. Terik matahari tidak terasa menyengat, terhalang semak yang tingginya hampir setengah pohon cemara tinggi. Atau pupus terdesak dingin yang enggan beranjak dari permukaan kulit. Tidak seperti di bawah sana, di kaki Rinjani yang telah kutinggalkan empat jam lalu, matahari begitu bebas berhamburan membakar savana yang terhampar seluas pandangan mata hingga kering menguning.

Jurang penyesalan, demikian para pendaki dan penduduk sekitar lereng Rinjani ini menyebutnya. Dan aku baru memahami kalau nama ini sungguh tepat adanya. Jalan berdebu ini bagai melintas dalam hikayat para pencari hakikat. Aku bagaikan sukma sang Dewaruci yang jatuh bangun dalam suluk perburuan air kehidupan abadi. Jengkal demi jengkal tanah ini membuatku terhukum karena alfa, bahwa ternyata manusia begitu kecil dan tak berarti dihadapan semesta - Nya, seperti debu yang beterbangan ini.

“Kita sudah memasuki tanjakan terakhir, Cemara Siu!” Yan, yang memimpin tim pendakian ini berteriak ketika kami memasuki rimbunan cemara yang tumbuh lebih rapat.

Cemara Siu berarti cemara seribu. Siu dalam bahasa setempat – yaitu bahasa sasak – berarti seribu. Sebutan yang tidak selalu merujuk kepada jumlah yang sebenarnya. tapi sering digunakan untuk menyatakan banyak atau sangat banyak. Dan Cemara Siu berarti isyarat kalau jurang penyesalan ini akan segera berakhir. Danau Segera Anak dan Gunung Baru Jari akan segera tampak ! Aku mencoba menyulut semangat.

Tapi nyaliku benar – benar telah ciut, pandanganku mulai kabur, dan kurasa kali ini bukan karena terhalang kabut. Sepertinya jantungku sudah tidak kuat lagi memompa darah ke dalam pembuluh – pembuluh organ mataku sehingga sekarang sekelilingku terasa berangsur-angsur menjadi gelap. Dan perlahan dengan sisa kesadaran, kurasakan tubuhku merosot ambruk berkalang debu.

*

Aku masih berdiri dengan sadar, bahkan jauh lebih sadar walau dirundung perasaan aneh. Aku dapat melihat tubuhku yang bermandi debu dan keringat itu tergeletak di antara akar-akar cemara. Aku dapat menatap detail wajah rekan – rekan timku yang cemas menegang. Beberapa orang di antara mereka menekan – nekan dadaku, mengolesi hidungku dengan cairan perangsang dari kotak pertolongan pertama dan dua orang lainnya memijiti bagian – bagian kakiku.

Sebagian mereka ada pula yang melampiaskan cemas atau mungkin perasaan sedih dan absurdnya dengan berteriak – teriak meminta pertolongan. Dan kulihat belasan orang yang tengah tertatih mendaki maupun yang tengah meluncur turun itu mendekati kerumunan, memberi bantuan semampunya, atau ada pula yang sekedar ingin tahu apa yang terjadi.

Mungkin aku telah menjelma menjadi sesuatu yang tak kupahami. Aku menjadi ringan seperti kabut yang bergerak bebas leluasa, tak lagi terhalang pepohonan dan semak – semak, bahkan oleh tebing – tebing tinggi yang tak terjamah. Mungkin aku tengah mengalami proyeksi astral sepeti yang dialami para biksu yang bersemayam di puncak – puncak pegunungan tinggi di Tibet itu. Tapi tubuhku masih tergeletak dikerumuni banyak orang.

Dan beberapa saat berikutnya – dalam keadaan seperti terpaku itu – aku merasakan sentuhan yang sangat berbeda di pundakku. Aku menoleh dan mendapati seorang perempuan di hadapanku. Parasnya teduh, diliputi aura mistis. Perempuan itu berkerudung selendang dengan pakaian mirip pakaian ihrom, semuanya putih. Dan kecuali aura mistis itu, tidak tampak keanehan lain yang menyolok. Beberapa saat kemudian aku merasakan tangannya yang selembut kapas menarik tanganku meninggalkan kerumunan orang – orang yang baru saja menaikkan tubuhku ke atas sebuah tandu.

Sesekali kami melampaui hamparan kabut. Kesadaranku bergerak seperti elang, menukik dan meninggi, mengedar pandangan takjub ke segala penjuru, mengikuti astral misterius itu. Aku dapat melihat landscape Rinjani yang indah itu dengan lebih utuh. Cemara yang meliuk – liuk di sepanjang jalur pendakian Sembalun di sebelah timur dan track Senaru di sebelah barat. Kedua jalur itu memuncak, sama – sama memiliki jurang penyesalan dan berujung di pelawangannya masing – masing. Tenda – tenda terhampar menunggu malam di dua pelawangan itu dan juga di pinggiran Danau Segara Anak yang lebih jauh.

Tebing – tebing tinggi itu tampak menakjubkan bermandi cahaya matahari di ambang senja. Dan danau Segara Anak yang rupawan menggenang tenang seperti air dalam cawan raksasa yang tengadah kearah langit. Tapi aku melihat api yang bergolak, jauh di bawah permukaannya yang sebiru samudera itu. Pergolakan maha dahsyat yang gemuruhnya melampaui seratus suara guruh. Seperti gelisah yang terbendung dalam lintasan kurun yang amat panjang, lalu akhirnya menyeruak ke permukaan sejarah menjadi onggokan Gunung Baru Jari yang selalu menghembuskan api.

Kami bertamasya ke lereng – lereng dan lembah – lembah, mengendus angin yang menghantar belerang dan aroma keringat para pendaki ke segala arah. Membuntuti langkah para pendaki dan menyaksikan fakta tentang manusia yang tengah dimabuk cinta kepada keindahan alamnya. Cinta yang membuat mereka rela bersimbah peluh dan kehabisan tenaga, bahkan mati kelelahan. Atau gelora cinta yang yang telah melampaui panasnya magma pijar yang menjalar ke segala penjuru, yang membakar rerumputan, semak – semak dan pepohonan. Dan kesadarankupun bergetar di sepanjang lintasan hingga tempat – tempat perkemahan, mendengar rintih dan lenguh tanah yang terjejal oleh sampah – sampah yang tak kunjung terurai.

Kami memasuki sebuah ceruk yang cukup dalam dan berpasir tanpa menjejak bumi. Sepertinya bumi memang telah terhijab untukku dalam beberapa saat ini. Kesadaranku seperti berenang dalam dimensi ruang dan waktu yang berbeda, meskipun aku dapat mengendus, melihat dan mendengar segala sesuatu di dalamnya.

“Kawah Segara Muncar!” Aku setengah memekik ketika sampai di dasar kawah yang tak berkepundan itu. Tempat ini begitu melekat di dinding – dinding kepercayaan mistik orang-orang sasak yamg menghuni Gumi Lombok, tak terkecuali aku. Tempat ini bukan saja sulit untuk dihampiri, tapi juga untuk dipahami. Sehingga tak sembarang orang dapat menjamah dinding - dinding ceruk ‘keramat’ ini. Tapi aku mengalaminya, walaupun dengan cara yang tak sepenuhnya aku pahami.

Perempuan itu membawaku ke puncak Rinjani ketika senja telah beranjak lebih tua dan semakin pudar. Di titik zenith setinggi 3726 mdpl. itu – dalam dimensi ruang yang berbeda – kulihat sebuah batu pualam hitam yang indah. Bentuknya oval pipih, mirip meja – meja pualam peninggalan VOC dari abad ke delapan belas yang pernah kulihat. Perempuan itu membawaku turun dan duduk di permukaannya. Aku baru yakin kalau benda meta yang sering dibicarakan oleh para mistikus itu benar – benar ada.

“Tiang sudah mengantar Pelinggih sampai tujuan. Dan sekarang, waktu kita telah hampir usai. Tiang akan mengantar Pelinggih kembali.” Ia berkata sambil memalingkan wajah kepada segumpal kabut yang semakin mendekat. Seakan Ia enggan menatap sukmaku yang diam – diam mulai merasa sangat enggan untuk berpisah.

 

Baca Juga :


Lalu, bak seorang sinden yang tengah menutup sebuah lakon pewayangan, perempuan itu berkidung lirih. Ia melantunkan gatra dan wilangan kinanti dalam bahasa sasak tua yang nginggil. Aku tergetar dan luluh dalam bait – bait tentang suluk manusia yang ia lantunkan. Karena di sana kulihat diriku tengah tersengal melintasi samudera, hutan dan gunung – gunung, untuk menemukan jati diri yang mungkin bersemayam di tempat yang jauh melampaui tingginya Rinjani.

Dan kidung itu menutup lakon yang kuperankan hari ini. Lakon yang kujalani bersama perempuan yang tak kukenal jati dirinya. Apakah ia seorang peri atau malaikat yang tengah menyamarkan diri?

"Nama tiang Kinanti ….” Ia setengah memekik ketika kabut putih itu meliputiku. Tapi aku telah memudar didalamnya, seiring pudarnya warna jingga di cakrawala yang baru saja berganti gelap.

*

Aku membuka mata dan mendapati rekan – rekan timku tengah berkerumun di sekitarku dalam sebuah tenda yang dirembesi embun. Aku masih bingung dan tidar, tidak tahu dengan pasti sedang berada di mana sekarang. Tapi aku masih bersyukur sebab aku dan timku ternyata telah berkumpul kembali. Artinya kami telah melewati malam dengan selamat, walaupun dengan pengalaman yang sama sekali berbeda.

Kabut pagi masih terlihat pekat dari balik pintu dan jendela tenda, dingin menerobos selimut dan lapisan - lapisan mantelku yang tebal, merasuki pori dan menusuk tulangku seperti mata pedang. Tenggorokanku terasa semakin kering, udara dingin yang merasukinya di setiap tarikan nafas terasa bergumul dengan hawa panas di dalam tubuh – bagaikan bongkahan es yang meluruh di dalam tungku – menjadi uap yang meluncur dari mulut dan hidungku, seperti asap sigaret yang terhambur di setiap hembusan nafas.

“Kita terpaksa membatalkan pendakian Semeton, resiko kita terlalu besar jika harus membawa Side melanjutkan perjalanan sampai di Pelawangan. Kami lihat kondisi Side cukup mengkhawatirkan dan kami berpikir hanya ada sedikit kemungkinan untuk dapat meneruskan perjalanan ke Segara Anak, apalagi ke puncak. Akhirnya kami putuskan untuk mundur, membawa Side kembali sebelum gelap. Dan sekarang kita sudah berada kembali di Pos Satu.” Penjelasan ketua timku ini membuatku agak terperanjat dan terkepung oleh rasa bersalah. Artinya pendakian ini telah gagal karena aku.

“Masih ada lain waktu Semeton, toh puncak Rinjani tak akan kemana-mana juga,” ujarnya dengan sedikit bercanda, disusul anggukan setuju dari angggota tim yang lain.

“Kawan-kawan, aku siap meneruskan pendakian yang tertunda ini. Pengorbanan kita tidak boleh sia-sia. Kita kembali ke Pelawangan!” Aku berdiri, mencoba menggugat keputusan yang sarat dengan rasa solidaritas itu.

“Tidak ada pengorbanan kita yang sia-sia Semeton. Kita sudah melaksanakan rencana ini dengan baik. Masalah kita cuma satu. Tuhan belum mengijinkan kita mencapai tujuan. Dan menurutku itu wajar, sangat wajar. Sudahlah, Side tidak perlu merasa terkepung oleh rasa bersalah.” Kali ini kudengar ucapan Yan lebih tegas dan meyakinkan.

Aku mencoba melangah ke luar tenda, diikuti Yan yang belum sepenuhnya bebas dari kecemasan. Rasanya aku ingin segera berkemas dan bergegas kembali menggapai Pelawangan, meski harus kembali menembus dinginnya kabut, harus tersengal dalam sesal, atau menggerutu dalam kepulan debu dan kalah di setiap sepuluh atau sebelas langkah. Aku ingin kembali menemui Kinanti, meresapi getar kidungnya yang melampaui rasa bersalahku ini. Tapi keputusan mereka rupanya telah bulat untuk pulang.

Yan masih membuntutiku ketika aku melangkah agak jauh ke tengah savana, menjauhi jalan setapak yang biasa dilintasi oleh para pendaki. Butiran - butiran embun yang terperangkap di dahan dan daun buluh perindu itu terhisap mantelku. Dari jauh kutambatkan pandangan ke puncak Rinjani, berharap Kinanti muncul dan turun ke sini. Tapi hanya kabut yang datang dan pergi bersama dingin dan…kali ini,…..sepi.

“Bagaimanapun matangnya sebuah persiapan, tapi tetap saja kita tidak bisa melawan alam yang perkasa ini. Mungkin kita akan terhalang oleh cuaca ekstrim, atau tiba-tiba setelah di perjalanan si pendaki ternyata mengidap hypothermia, cidera, keseleo atau sekarat, lalu mati kelelahan.” Yan masih berbicara penuh ekspresi, rupanya ia masih ingin mengamankan keputusannya untuk membawa kami pulang.

“Seperti tiga tahun yang lalu, saya pernah ikut membantu tim SAR mengevakuasi seorang gadis yang mati di tempat itu. Ya, saya baru ingat persis di bawah cemara tempat side terjatuh itu. Gadis itu harus meregang nyawa karena kelelahan. Tapi sebelum meninggal, ia sempat berpesan agar dikuburkan di tempat ini. Rupanya ia sangat mencintai Rinjani, hingga ia ingin jasadnya lebur bercampur debu dan tanah gunung ini.” Yan menyapu pandangan ke sekelilingnya, seperti tengah mencari sesuatu, dan….“Ya, aku juga baru sadar…….dia dikuburkan di tempat ini!”

Kami melangkah ke arah gundukan tanah merah yang teletak beberapa belas meter di hadapan kami. Sebuah kuburan teryata. Dua lempeng nisan dari pecahan batu gunung tertancap di atasnya. Tak ada wangi bunga dari pohon kamboja. Hanya buluh perindu yang tampak tumbuh segan dan matipun enggan. Tapi rerumputan ini agaknya masih setia menanti hujan. Tulisan dari cat minyak berwarna putih masih jelas terbaca di lempengan batu yang sebelah utara. Sebuah nama tertulis dengan huruf kapital: KINANTI.

Nafasku kembali tersengal karena kali ini aku benar-benar terperanjat. Duh! *Lalu Faqih Saiful Hadie



 
Pangkat Ali

Pangkat Ali

Save Our Gumi Paer...LOMBOK Lalu Pangkat Ali, kesehariannya sebagai ASN -Pejabat Fungsional Pranata Humas Permkab.Lobar. Tinggal di Desa Kopang-Lombok Tengah. CP & WA: 081907941070. Fb: Fotografer Kopang & Eliza Agniya

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 

Artikel Populer

Komentar Terbanyak

 

image

Tipi Kampung

 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan