BENCI

KM. Krens Lotim. Cerita ini tidak bermula dari percikan api romantisme, yang berkobar dalam pekat merah asmara.

Cerita ini tidak bermula dari sayup tangisan luka, sendu dan beku, ungu dalam bayang alip yang tegak lurus.

Cerita ini tidak bermula dari perpisahan  pilu dua kekasih yang saling mencinta atau membenci.

Cerita ini juga tak bermula ketika nada harus dimulai dari do re mi end title sang kitaro dan diakhiri dengan sol sol do sang implora.

Tapi ku awali cerita ini dengan mengatakan bahwa aku membenci kamu.

Aku membenci kamu.

Tiada yang paling aku benci di dunia ini.

Selain kamu

Dan biarkan aku menulis, sebab hurup demi hurup akan menjawab segala ceritaku. Bacalah dengan melihat titik dan koma, sebab aku takut kau tak akan melihat di mana letak tekanan kalimatku yang jingga dalam narasi pendek yang aku gambarkan sebagai deskripsi  tua wajah luka Teressa dan  Asia. Sebab Magha dan Sakka adalah sama, sama dalam wacana membangun jalan menuju kelapangan Sorga sentosa. Tapi demikianlah raja yang bermata melihat sebagai orang buta yang aku takutkan kau contek pula sebagai pengganti karma-karma cintamu yang hitam berlumpur  dosa.

Sesungguhnya aku ingin berkata lagi sayang, agar sempurna duka Durga, agar tercapai Moksa, setelah perlakuanmu yang kasar durjana, setelah ejekanmu yang merendahkan penuh cerca, setelah pandanganmu yang lekat menghina bagai mata Rahwana menembus merah Ajna dewi Shinta, kuingat semua tak satu terlupa, sebab aku telah terlanjur menderita dalam sentries Ego, Bravo dan Romeo.

Dan tiada kusesali sedikitpun, biarkan rintik menjadi saksi bagi kerasnya bongkah-bongkah  putih yang terhampar dalam pelukan antartika yang pucat pasi ketika delapan belas pinguin berbaris tersedu sesenggukan.

Terlalu sombong pastinya dirimu jika aku berkata kau adalah segalanya, atau semuanya adalah kepura-puraan belaka bagiku untuk berkata kalau aku membencimu padahal aku merindukanmu. Tapi aku tak mungkin salah akan kalimat yang aku eja dengan perlahan dan kurenungi, kalau betul bahwa aku membencimu.

Sebab aku tak ingin juga mengakhiri cerita ini dengan mengatakan kalau aku ternyata mencintaimu. Itu adalah sebuah kemustahilan yang tak mungkin aku lakukan selagi di awal cerita aku berkata bahwa aku membencimu dan di kemudiannya aku tak konsisten dengan berkata bahwa aku mencintaimu.

Inilah awalnya cerita, inilah awalnya cerita, dan kau tutuplah matamu erat dan lihat dengan segala kejelasan akan segala makna yang aku tunjukkan satu persatu samar dalam  setiap awal, tengah dan akhir kata yang aku rangkai berliku tiada lurus membentuk untaian kalimat  rancu biru tak berkesudahan yang panjangnya delapan yojana agar kau mengerti kalau cerita ini semata hanya untuk menunjukkan betapa aku membenci kamu. Betapa aku membenci kamu. Dan agar kau berpikir mengapa Nian aku membenci kamu bahkan sampai di ketiga masa, melewati Peta dan Asura, Syurga dan Nirwana, Jhana dan Nibbana.

Suatu hari di masa laluku, hadirlah seorang gadis berkulit putih, bibirnya tipis, bahunya terbelah, matanya bening, suaranya mendayu sitar, bagiku ia adalah gadis yang telah lama aku cari-cari. Dan sepertinya memang dialah ciri-ciri menantu yang diidam-idamkan ayah dan bundaku.

Suatu hari di masa laluku, hadirlah seorang gadis berkulit putih, bibirnya tipis, bahunya terbelah, matanya bening, suaranya mendayu sitar, bagiku ia adalah gadis yang telah lama aku cari-cari. Dan sepertinya memang dialah ciri-ciri menantu yang diidam-idamkan ayah dan bundaku.

Aku mengenalnya sebagai gadis manis yang nakal, pintar menggoda,  dan itu pula yang selalu membuatku marah setiap kali mengingatnya, karena aku telah terlanjur mengira dia mencintaku sebab godaanya yang  terus menerus setiap hari, setiap waktu. Dengan sms-sms (Short Message Service) romantis yang mengalir tak hingga seperti aliran Gangga dan Yamuna.

“Nm kk cp, kok kk ganteng cih”.

Itulah sms pertama yang aku terima dari dia, dan sampai sekarang masih tersimpan walau telah berulang kali aku ingin menghapusnya. Membuat aku begitu berbunga-bunga, seolah-olah itu adalah sms yang paling aku tunggu-tunggu dari setahun yang lalu, dan dengan terburu-buru aku menjawab,

“nmk Samsul, adk?

Dan ia menjawab.

“a Nia. A blm px pcr lho…….” (x  dibaca “nya” dalam bahasa sms, pen.)

“Oya.. blm p blm ?

“Px c, tp gak cnt, hbsx dia maksa kmrn”.

“blg za lo sk. Bener kaaaan”?

Begitulah sms mengawali perkenalanku dengan Nia,  seorang  mahasiswa sebuah perguruan tinggi terkemuka di kota kami. Dan boleh dibilang ini menjadi sebuah asal muasal cerita yang pelik dan rumit dalam hidupku, sebabnya dalam hati ini telah ada nama lain yang bertahta lebih dahulu. Tapi adalah sebuah kepastian jika setiap raja pasti akan turun tahta, demikian juga Nia telah dengan segera menurunkan posisi seorang yang meraja dalam hatiku, mencampakkannya jauh ke penghujung ingatan yang membuat aku dengan segera melupakannya, bagai hujan sehari yang menghapus debu setahun.

Pagi itu, ketika aku bangun pada pukul 05.15, seperti biasa aku segera pergi mengambil wudhu, kemudian melakukan solat shubuh, berdoa, kemudian memeriksa buku-buku yang harus aku bawa untuk kuliah nanti, setelah aku rasa semuanya beres, maka segera kuperiksa Hpku (hand phone), di situ aku menemukan dua buah sms, yang pertama berasal dari Irma (pacar aku yang sebenarnya saat itu), yang kedua berasal dari Nia. SMS pertama berbunyi.

“Bgn say, udah subuh, solat dl”. – Irma – 05:00

SMS kedua berbunyi:

“A ign tdr tp a g bs. Krn a mggtm trs (mengingatmu, pen.)”. –Nia—02:27.

Setelah aku membaca kedua sms itu, maka aku putuskan untuk membalas sms Nia.

“Nia, beneran km gak bs tidur?”

“Bener, sungguh, kl blh, ak pgn ktm pd jm 09.00 di bwh phn akasia belakang gedung B, di tmn blkg”.

“OK”. Jawabku. Dan pagi itu penjelasan-penjelasan dosen begitu membosankan bagiku, terasa lama waktu berlalu, aku ingin segera ketemu gadis manis yang selalu jadi rebutan di kampus kami itu. Dan akhirnya waktu yang ditunggu tiba juga.

“Apa kabar”!

“Baik, tapi aku masih sedikit ngantuk, habisnya tadi malam bergadang ampe pagi”.

“Bergadang ngapain?”

“Adda ajjja”. Jawabnya.

Kulihat sebaris giginya yang putih dibalut bibir manisnya yang merah delima, seperti ada sesuatu yang begitu menarik di bibir itu sehingga memaksu aku secara tak sengaja untuk terus melihat pesona itu.

“Kenapa memandangku begitu”, tanyanya.

“Maaf, ga ada kok, aku Cuma kagum melihat bibir indahmu”.

“Lelaki suka memuji, tapi pujian terbaik adalah pujian yang tidak dibuat-buat, pujian yang keluar dari lubuk hati yang paling dalam”.

“Aku memujimu karena kamu memang pantas mendapatkannya”. Dan kembali senyum itu mengembang demi aku selesai mengucapkan kata itu, dan aku melihat ada kilatan-kilatan api dalam tatapan matanya yang kecoklat-coklatan.

“Makasi, O ya, sebenarnya aku Cuma pingin ngajak side (panggilan untuk orang yang lebih tua dalam bahasa sasak, pen) pergi ke internet, entar malam habis magrib, soalnya aku punya tugas dan harus dikumpulin lusa, dan aku gak bisa internet, mau kan?” Tanyanya.

“Pasti mau dong, masa nolak ajakan cewek cantik”.

“Gak ada yang cemburu nih?”

“Pasti ada sih, tapi biarin aja, emangnya aku udah kawin apa.” Kataku kepadanya dengan suara yang sengaja dibikin sedikit lebih merdu biar dianya cepat kelepek-kelepek.

Tiba-tiba saja disambarnya tanganku, dan dipegangnya jemariku lembut.

“Jangan ke GR an ya, aku Cuma pengen lihat kukumu, boleh aku potongin? Habisnya panjang-panjang niii, masa cowok ganteng kukunya panjang”, celotehnya semakin mendekatiku.

Duh… hatiku berdegup kencang, darahku serasa naik ke kepalaku, sebab aku mencium wangi lembut farpumnya yang baunya begitu khas, dan aku belum pernah mencium wangi seperti itu sebelumnya.

“Boleh”. Dan seperti kerbau dicocok hidungnya kuturuti keinginannya, kubiarkan dia memotong kukuku satu persatu, dan setiap sentuhan tangannya memberikan sensasi dan fantasy tersendiri bagiku.

Tangan itu begitu lembut dan seperti mengalirkan energi-energi khusus dalam nadiku, yang membuat napasku semakin berdegup kencang dan keras.

“Tugas apa sih yang mau kita cari itu”.

“Tugas kimia, ada beberapa referensi yang harus aku cari”. Jawabnya sembari terus menerus memegangi tanganku yang sebenarnya kukunya tidak terlalu panjang gitu, yaaa… alasannya aja untuk memotong kukuku, padahal maunya pegang tangan.

Dan kemudian selesailah acara potong memotong kuku itu, ditandai dengan suara merdunya yang bilang.

“Udah selesaaaaaaai”.

“Ooooo. Udah selesai motongnya”.

Aku bertanya sambil memperhatikan bibir indahnya yang sengaja ato gak sengaja telah dia kulum beberapa kali didepanku.

“Udaaah. Nah sekarangkan lebih ganteng dan Macho”.

“Kamu ada-ada aja, kan emang udah ganteng”. Jawabku sambil mengerlingkan sebelah mataku yang sudah cukup profesional, handal  dan terlatih.

“Ih…. Gayanya, siapa tuuuh yang bilang ganteng”, tanyanya dengan nada suara penuh rayuan yang membuat aku semakin tak berdaya.

“Kamu”.

“Aduuuhh, kacian banget, kapan aku bilang ganteng,” Katanya sambil mencubit lengan perkasaku yang tambah perkasa kalo di depan cewek. Dan aku menjawab.

“Tuhh, barusan kamu nyebutnya.” Aku menatapnya dengan tajam.

“Ya sudah, kak Samsul emang ganteng, (tiba tiba ditundukkan wajahnya, seperti ada sejuta penyesalan dimatanya, dan dengan suara lebih perlahan dilanjutkannya.) sayang ada pacarnya”.

“Nia kan juga punya pacar, (Tegasku dengan nada suara yang juga lebih rendah, seperti suara pasangan-pasangan yang sedang berdialog dengan romantis di sinetron-sinetron) jadi fair kan?”

“Ya sudah, (sembari kembali menatap kedua bola  mataku) oya.. udah jam 09.20 nihh.. pasti dosenku udah dateng, aku masuk dulu ya?”

“Ya, pergilah sayang, (Aku berhenti sebentar, sambil melihat reaksi wajahnya yang tiba-tiba memerah sagu) eh  salah ngomong. Nia”.

Dan kubiarkan angin membawanya pergi, dan tanpa aku minta, sederet bonsai, dan sebatang akasia rindang telah menjadi saksi bagi perjumpaan kami yang aku uraikan sejak diawal akan menjadi pertemuan yang begitu rumit, membuyarkan arti tulisanku yang sebenarnya, kalau benar bahwa aku membencinya. Sumpah Bebek. Aku membencinya.

Dan sebelum aku tinggalkan tempat yang indah itu. Kembali sebuah sms masuk di inbox Hpku.

“Aku senang di dekat kakak.”

“Aku juga senang”. Jawabku.

Hari itu seharian aku terus  berpikir, “aku tak boleh jatuh cinta”, kataku dalam hati. Tapi hatiku yang paling dalam sebenarnya berkata:

“Jangan takut jatuh cinta, sebab jika kau takut jatuh cinta, maka kamu akan kehilangan cinta, cinta itu akan pergi, terbang tinggi menjulang, kemudian menghilang, dan seandainya dia tersangkut di puncak rinjani, tentu masih bisa kau daki, tapi cinta tak pernah tersangkut di Rinjani, dan kau pasti akan menyesali, kau pasti akan menyesali…”

Malam itu, langit tak begitu terang, dan begitulah yang aku harapkan (semoga gelap aja gitu), karena cukup jauh juga tempat internet itu dari kosku, sekitar setengah kilo,  dan harus ditempuh jalan kaki, berhubung jalannya melewati gang-gang  sempit dan berliku, jadi no taxy dan juga no bemo dan karena aku nanti akan berjalan dengan cewek idaman, tentu saja ini merupakan kesempatan berlian (bukan kesempatan emas, karena berlian lebih mahal dari emas) yang paling diharap-harapkan, bila perlu jalan sepanjang setengah kilo itu mesti ditempuh selama satu atau dua jam, enjoy aza tentunya kan.

“Gmn, udah hbs mgrb nih, aku tgg di mn?”. Tanya Nia lewat SMS.

“Tgg aja di kosm, biar a yg jmpt ke sn”.

“Ya..  buruaaaaan…” Jawab Nia.

“Sabar, cepat-cepat itu plg g enak, hrs d nkmt donk.” Jawabku sekenanya.

Kemudian dengan semangat membara aku memulai perjalanan ke kosnya, sekitar satu kilo dari kosku (kalo ke kosnya kita harus jalan terus ke selatan, kosku di sebelah utaranya internet, internetnya di tengah-tengah), dan setelah sampai langsung saja ku miscall dari luar.

“kosong delapan satu delapan kosong tiga tujuh lima lima satu tujuh delapan (tanganku memencet keypad handphone tergesa-gesa).

Terdengar nada ringtone Hpnya.

“Halllo”.

“Aku di luar nih, bukain !”

“Ya”. Jawabnya (terlihat pintu terbuka).

”Ayo masuk”. (tampak wajah putih manis dengan sejuta pesona di wajahnya sembari tersenyum manis).

“Gak usah, ayo dah kita pergi, entar keburu malem”.

“Ya daaah, tunggu aku ambil jaket dulu.” Katanya Nia.

Seperti ulasanku sebelumnya, perjalanan rahasia ini sebisa-bisanya harus diperlambat, bila perlu satu ato dua jam, kebayang gak siiiiiih, aku lagi jalan ma gadis yang sempurna banget bagi pandanganku, ya wajahnya, ya bodinya, sedangkan kejiwaannya sedang dalam tahap penjajakan.

“Kita langsung ke Internet ato kita makan dulu di warung jawa II.”

“Eh hampir lupa, iya nih, aku belum makan malam, ayo dah, pingin juga rasanya aku makan lele goreng yang renyaaaah banget…..”. Jawab Nia.

Hanya sekitar sepuluh menit dari kosnya maka sampailah kami di warung jawa II, warung ini merupakan warung terfavorite di wilayah Atletik Gomong Mataram.

”Pesan apa mas?”

“Lele dua.” Kataku pada pelayan.

“Nia minumnya pakai apa?”

“Ikut sama kakak aja dah.”

“Mas, jus apel dua.”

Kemudian aku menarik tangan Nia ke bagian pojok warung. Tampak di depan kami beberapa orang pengunjung yang juga sedang menikmati makan malamnya, ada yang duduk dengan pasangannya, ada juga yang jomblo, dan di tengah-tengah tembok tampak sebuah TV 21 In yang kayaknya menjadi pilihan paling menarik bagi para jombloan yang lagi makan sendiri, sedang yang lain sibuk memperhatikan mulut pasangan masing-masing yang lagi komat kamit baca mantra, eh salah, lagi makan pesanan masing-masing.

“Lo lo lo, kok di samping, di depan donk biar romantis”. Kataku pada Nia.

“Aku gak berani.”

“Kenapa, Takut ma siapa.”

“Aku tak sanggup bertatapan pandang dengan kakak.”

“Ah, aku gak akan melototin kok, tenang aja (“dasar cewek gombal”. Kataku dalam hati walau aku sebenarnya tersanjung juga dengan perkataan itu).

“Beneeeer.”

“Yaaaaaaa.” Maka diambilnya tempat duduk depanku, persis di depanku, sehingga tampak jelas keseluruhan wajahnya yang semakin tampak putih di bawah pantulan cahaya neon yang terang itu. Aku melihat sesuatu di matanya, ada kilatan-kilatan api di sana. Dia menatapku tajam. Tapi adalah salah besar kalau dia mencoba-coba untuk mengukur seberapa mampu aku bisa melawan pandangan matanya (Sejak semester satu dulu aku mempelajari ilmu pandangan matahari, yang harus dilatih dengan cara memandang matahari sejak jam 7 pagi sampai jam 9 pagi, baru kemudian pada sore sejak jam 4 sampai tenggelam matahari). Jelasnya dia pasti kalah besar, dan akan kita buktikan sekarang siapa yang akan gugur dalam perang mata dan degup jantung ini.

Tiba-tiba ditundukkan pandangan matanya (sambil tangannya mengetuk-ngetuk meja dengan lembut), ada sedikit senyum di bibirnya.

“kakak sering makan di sini.”

“Kadang-kadang, tapi biasanya aku ke sini kalau lagi bulan baru.” Jawabku padanya sambil tersenyum juga.

“Aku jarang ke sini, aku lebih suka masak”

“Oyaaaa, adik hobinya makan apa ?”

“Aku paling suka makan Cap Cay.”

“Kalo aku suka makan kerupuk.”

“Waduh, masak sih kerupuk?”

“Bener kok, habisnya itu makanan yang paling murah meriah, malu dong kalo bilang suka roti, entar dikirain sombong lagi, padahal kita kan Cuma anak miskin.”

“Segitunya, biasanya orang kaya itu suka merendah.”

“Lelenya maaaaaaas!” Tiba-tiba pelayan itu datang menghampiri kami.

“Oya.”

“Pelayannya ganteng ya.”

“Gantengan kak Samsul.”

“Masa!”

“Bener (kepalanya sedikit mengangguk seolah meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia tak salah ucap), tau gak kak, tadi malam itu aku gak bisa tidur, (matanya menatapku tajam, dan aku tahu bahwa dia memang tak membohongi aku) kok bisa ya aku mikirin kakaaaaak terus, padahal kita kan kenalnya baru kemarin.”

“Mungkin terbalik faktanya, jangan-jangan aku yang gak bisa tidur tadi malam.”

“Emang gitu. Yakiiiiin”? Tanya Nia kepadaku dengan nada yang seolah benar-benar mengharap agar aku mengiyakannya.

“Yakin.”

“Emangnya kamu lihat tampang aku ini seperti tukang bo’ong”.

“Kali aja.. kan biasa lelaki suka mengobral rayuan.”

“Tapi aku kan beda sama mereka, Ok… nanti kita lanjutin ngomongnya, sekarang kita makan lelenya, pasti enak banget, lagian juga masih hanget, yuuuk.”

Acara makan malam itu terasa begitu nikmat, sesering mungkin aku melirik wajahnya, tampak gaya mengunyahnya sangat menarik, bibirnya bergerak pelan, tertutup tanpa banyak pergerakan  ato bunyi-bunyi aneh, tampaknya Nia memang sangat menjaga gaya makannya, dengan sempurna tangannya memegang sendok dan garpu, tampak alami dan tidak dibuat-buat. Dan kemudian pelayan lainnya mengantarkan kami jus apel yang sudah aku  pesan sebelumya. Dan dengan senyum manis diakhirinya acara makan itu dengan menyapaku.

“Aku sudah selesai.”

“Kok cepat sekali, dihabisin dong lelenya.”

“Aku udah kenyang, jawabnya.”

“Ok deh, di minum jusnya, rasanya enak”.

“Lo, kok gak diminum?”

“……(Nia diam tertegun)”.

“Nia gak minum ?”

“Ayo donk kita minum sama-sama.”

Kembali aku meneguk jusku sambil mengajak Nia minum, sehingga jus ku kini hanya tinggal setengahnya saja. Tapi Nia tetap tak bergerak. Diam seribu bahasa.

”Nia gak suka jus apel?”

”……..”

”Ok deh, gak papa, kalo Nia emang gak suka entar diganti pake yang lain. Gimana. Setuju ?”

Nia tetap diam membisu. Hatiku mulai mengkal.

”Gak usah, ini aja”. Kata Nia tiba-tiba.

Aku buru-buru menghabiskan jusku. Hatiku yang begitu antusias sedari tadi kini berubah dag-dig-dug. Ada rasa marah, jengkel, kesal dan sebal. Sebab Nia yang aku kira akan melengkapi bait-bait puisi ini ternyata hanya pembaca setia. Ditolaknya uluran cintaku dalam bisu. Dan dibuatnya aku malu di depan orang banyak di warung itu. Ya. Di depan orang banyak dia menolak ajakanku.

”Tunggu di sini, aku bayar dulu ya”?

”Sebentar, kan saya belum minum”. Kata Nia mengejutkanku. Aku jadi sedikit emosi, aku mengomel dalam hatiku mengatakan kalo Nia ternyata cewek yang plin plan, karena dari tadi aku mempersilahkan tapi tidak juga mau, eh malah setelah aku mau pergi bayar baru dia mau.

”OK deh, aku tunggu”.

Dan diluar dugaanku, tiba-tiba Nia mengambil sedotan dari gelasku. Dan dengan  santai menyedot jusnya. Matanya bersinar menatapku. Dan kembali aku menangkap percikan-percikan api di mata itu.

”Jusnya enak ya.”

”Mau nambah?” Tawarku padanya, dan hatiku tiba-tiba saja mencair kembali, dan aku merasa begitu tersanjung, karena aku mengira dia menolak untuk melengkapi puisi-puisi ini. Tapi ternyata ia buatkan bait dengan bahasa yang indah, yang membuat aku tersanjung dengan diam-diam. Ya aku tersanjung, sebab dia dengan tanpa jijik sedikitpun telah minum jusnya dengan sedotan yang sama denganku. Bahkan bekas sedotanku.

”Cukup”.

”OK deh, aku pergi bayar dulu sebentar”.

”He e, aku tunggu”. Jawab Nia. Dan setelah acara makan itu selesai kamipun melanjutkan perjalanan rahasia kami menuju internet yang dekat di mata tapi jauh di hati. Aku mengatakan internet itu dekat di mata dan jauh di hati adalah karena internet itu memang letaknya tidak terlalu jauh, namun tidak juga aku mengingatnya. Sedang yang terdekat dihati saat itu memang hanya Nia seorang, hanya Nia seorang.

Di wartel aku sengaja memilih tempat duduk yang agak di pojok. Kayaknya romantis banget buat berduaan, soalnya setiap satu komputer dipisahkan dengan papan pemisah, jadi seolah satu komputer punya ruangan sendiri sehingga tidak memungkinkan bagi pengguna lain untuk saling melihat dengan yang lainnya. Jadi di wartel ini Privacy para user sangat terjaga.

”Judul tugasnya apa”?

”Gak ada”.

”Lo, kan tadi pagi katanya ada tugas kimia yang refernsinya belum cukup”.

”Emang ada siiiihh, tapi malees, aku sebenarnya ngajak kakak ke sini karena pingin berduaan aja dengan kakak, sekalian sambil ngajari aku internet, habisnya aku gak bisa internet”.

”Kamu ini, (ku cubit pipinya dengan lembut sambil tersenyum) aku kira beneran mau ajak cari tugas”.

”Emangnya yang mana yang belum bisa internetnya, (aku angkat sedikit wajahku menatap kedua bola matanya) apakah chatting, browsing, emailing, atau apa”?

”Semua pokoknya. Oya, ajari aku cara mencari informasi aja ya.. soalnya itu kan yang paling sering nanti buat cari tugas”.

”Ok, sekarang kita belajar browsing ya”.

”Yap, tapi ajari aku cara pegang mousenya doong, soalnya aku belum bisa sama sekali nih”.

”Ayo….!” (Ku hulurkan tanganku, menggenggam tangannya bisu, Tangan itu terasa hangat, dan rasanya seperti ada jutaan strum yang mengalir dari tangan itu langsung menyerang ke ujung jantungku sehingga mau tidak mau detak jantungku bertambah kencang dan kencang).

”Pertama-tama, kita kelik Shotcut Internet Explorernya, lalu, kita tulis nama web yang mau kita pakai mencari, contohnya , kita tunggu sebentar, setelah muncul web sitenya, lalu kita ketik apa informasi yang ingin kita cari di search boxnya”.

”Kakak, sekarang informasi yang mau kita cari sebagai contoh apa ya?”

”Gimana kalo ’puisi cinta’, soalnya aku seneng baca puisi”.

”Ogah, gimana kalau ’trik-trik agar dicintai laki-laki’, Oke?”

”Boleh, emangnya Nia lagi naksir sama siapa”.

”Kan sama kakak”. (sambil menatapku dengan senyum termanisnya)

”Jangan bilang naksir, entar aku juga naksir lo”.

”Naksir aja, biar kakak yang ganteng ini jadi milik Nia”.

”Lo, kan Nia udah punya pacar, Kakak juga udah punya pacar”.

Tiba-tiba wajah Nia memerah, ditundukkan wajahnya.

”Ya dah kalo kakak emang gak mau”.

”Bukan gitu, kakak boleh aja jadi pacar Nia, tapi kan semua harus melalui proses, tidak sim salabim, Nia mengerti kan?”

”Ya, Nia ngerti.”

Begitulah kejadian-kejadian dan kesan-kesan pertama yang mengawali perkenalan ku dengan Nia. Perkenalan yang seharusnya tidak terjadi atau juga harus terjadi. Aku tak mengerti.

Sebab seperti yang aku katakan padamu pada awal ceritaku, bahwasanya aku sangat membenci gadis putih itu, sampai ke tulang sum-sumku. Dan tak mudah untuk melupakannya secepat aku melupakan mimpi-mimpiku bersamanya.

Tapi terus terang aku katakan kepadamu, aku mencoba menulis cerita ini seindah-indahnya, seindah cerita itu sendiri, yang indah pada permulaan, juga indah pada pertengahan, dan indah pula pada akhirnya. Agar kelak, jikalau beruntung, semoga Nia sempat membaca goresan ini, yang aku tulis pada lambaian lembut daun-daun cerita, daun-daun kenangan dan daun-daun rindu yang terus bersemi di semua musim dan waktu.

 

*****

 

Malam itu aku awali menulis diaryku dengan kalimat :

 

Jika kau merindukan aku

Maka bacalah smsku 3 kali

Dan jika kau masih merindukan aku

Bacalah smsku 3 kali lagi

Dan jika kau masih juga merindukan aku

Maka biarlah aku yang akan  sms kamu 3 kali

 

Dan setelah selesai menulis di diaryku, aku memutuskan untuk meng es em es Nia.

”lihatlah langit tua, padanya berjejer bintang-bintang. Dan bulan sendiri tak berkawan”. Demikian bunyi sms yang aku kirim pada Nia. Tak lama kemudian iapun membalas smsku.

”Sudah ditakdirkan bintang berjejer dengan bintang, sayang matahari masih enggan menyapa bulan”.

”Sungguh matahari tiada enggan menyapa bulan, tapi matahari harus datang pada waktu yang tepat, matahari tak menginginkan gerhana”.

”Gerhana telah berlalu, biarlah bulan naik matahari naik”. Balas Nia.

”Jangan, biarkan bulan sendiri, karena kalau ia berkawan, maka ia akan menjadi bintang-bintang”.

”Biarlah ia menjadi bintang-bintang, bulan sudah bosan sendiri”.

”Jangan kau keraskan hatimu, biarlah bulan tetap bulan, biar aku panggilkan matahari menemanimu. Biarlah gerhana, karena gerhana toh tak akan menyentuhmu.”

”Lalu kau biarkan bumi kita jadi korban? Dan menjadikan langit sebagai penebus dosa kita?”

”Tentu tidak, langit tak akan mau mengambil resiko itu, langit tak akan mau menjadi ban sirep, langit tak akan mau menggantikan posisi matahari,  langit tak akan menikahi bumi karena tak ada cerita bumi bersatu dengan langit”.

”Kenapa tidak, memang begitu  kata pujangga lama, tapi pujangga baru mengatakan bahwa langit dan bumi sesungguhnya selalu bersatu, buktinya sekarang langit mencium bumi pada ciuman lembut bibir cakrawala, dan tak seorangpun dapat memisahkannya”. Balas Nia.

”Baiklah, kalau begitu biarkan bulan naik matahari naik, dan biarkan pula langit dan bumi tetap bersatu pada ciuman lembut bibir cakrawala”.

”Sekarang langit dan bumi telah bersatu, dan langitpun telah mengecup bumi pada bibir cakrawala. Kini Bulan telah  naik dan  mataharipun telah naik. Dapatkah bulan meminta maskawinnya?”

”Jika bumi mendapatkan ciuman lembut bibir cakrawala, maka biarlah Bulan mendapatkan pelukan hangat gelap gerhana.”

”Tapi itu belum cukup sebagai maskawinnya”.

”Jika bulan menginginkan maskawin yang terlalu mahal, itu artinya bulan tak tulus mengharapkan mataharinya”.

”Bulan selalu tulus, tapi disamping maskawin, dia juga menginginkan resepsi dengan pesta dansa yang meriah”.

”Bulan akan mendapatkan resepsinya, biar aku undang seluruh anggota keluarga, Merkurius, Venus, Mars, dan semuanya tanpa ketinggalan untuk menari di pesta dansa itu.”

”Resepsi yang meriah bukanlah jaminan bagi bulan, bulan juga meminta bulan madunya”.

”Bulan akan mendapatkan semuanya, Matahari akan membawanya berkeliling ke segenap sudut Bima Sakti. Bahkan jauh sampai di ujung utara, sampai di gugusan bintang-bintang Andromeda.”

”Terima kasih, semoga bulan dan matahari dapat bersatu selamanya, tapi …… sekarang Aswin kembar (Fajar) telah datang, tiba saatnya bagi bulan untuk pamit undur diri”. Balas Nia.

”Terima kasih kembali, Senja juga telah datang, mataharipun hendak mendapatkan mimpinya. Selamat tidur Bulanku….”.

”Selamat tidur matahariku”.

Itulah serangkaian SMS yang menyempurnakan rangkaian-rangkaian cerita ini. Dan hampir semua malam-malam sunyi aku habiskan untuk bersms ria dengan Nia.

Namun terlepas dari semua SMS terdahulu, sebagaimana bayang mengikuti badan, sesungguhnya setelah sms pertama itu berlalu, datang pula sms-sms lain menyusul, seperti ramainya jamur setelah hujan berlalu. Dan sms itu seperti bernyawa mengikuti aku kemana aku pergi, membayangiku ketika aku terlena, dan mengingatkanku ketika aku terlupa.

Inilah, inilah  akan aku babarkan SMS nyata dan menyingkap pula tabir gelap sms rahasia yang telah kami sepakati di malam yang lain.

”Inilah malam sunyi, seandainya aku bisa mendapatkan semuanya!” Bunyi SMSku pada Nia.

”Tidaklah Rama mendapatkan Sita melainkan dengan perjuangan berat mengalahkan Rahwana. Demikian juga Sang Tagatha, harus berperang dengan Mara semalam suntuk untuk mendapatkan Penerangan Sempurna”.

”Tapi akupun telah berjuang, telah kuarungi dua belas samudra, meninggalkan dunia dengan bunga-bunganya. Dan telah aku katakan ini berulang kali. Mengapakah keraguan selalu muncul dalam hatimu”.

”Keraguan tentu selalu ada, seribu jalan membentang, dan apabila ada lebih dari satu jalan, maka keraguan akan selalu bertahta.” Balas Nia

”Tapi bukankah semua jalan mengantarkan kepada satu tujuan.?”

”Jalan selalu mengantarkan kepada tujuan, tapi orang suka memilih jalan yang berbeda”.

”Jadi sekarang kau ingin memilih jalan yang berbeda?”

”Aku tak tak tahu, ini adalah jalan yang sulit, tapi kau tak meyakinkan aku akan kereta yang kita pakai, sehingga keraguan itu muncul dalam hatiku”.

”Sayang, ini adalah kereta Arjuna dengan Krisna sebagai sais, ikutlah denganku. Semoga selamat sampai tujuan”.

”Aku akan ikut denganmu, sedari dahulu aku ingin ikut denganmu. Tapi ku mohon turunkanlah penumpang yang lain itu, karena kereta ini sesungguhnya hanya cukup untuk kita berdua”.

”Jadi itu masalahnya, mengapa tiada kau utarakan sedari dahulu”.

”Nelayan yang pintar adalah nelayan yang bisa melihat bintang, bisa melihat situasi, aku hanya memilih waktu yang tepat untuk mengatakannya.”

”Baik, berikan aku waktu. Tapi kamu juga harus merelakan pengantarmu pulang, karena kereta ini seperti yang kau bilang hanya cukup untuk kita berdua”.

”Baik, aku tunggu keputusanmu di malam anggoro kasih (Malam Selasa Kliwon), datanglah, aku menunggu untukmu.”

”Aku akan datang, karena raja telah lama menunggu kita di pulau, siapkanlah perbekalan, selamat tidur sayang.”

”Selamat tidur juga. Mimpi yang indah”. Balas  Nia

Semalam itu aku tak bisa tidur, karena aku harus mempertimbangkan baik buruk mimpi-mimpi yang sedang aku bangun ini.  Dan sekarang aku harus memutuskan semuanya. Antara memilih Nia dengan Irma. Dan keputusan itu harus segera aku berikan. Nia menungguku di Malam Anggoro Kasih. Dan aku harus datang.

 

*****

 

 

Di malam yang lain, ketika rinduku begitu menggebu pada Nia, maka aku menulis rentetan perasaanku pada diary lusuhku.

Rasa

Ada sebuah rasa

Yang mungkin tiada pernah engkau rasakan

Dan kau tak akan mengerti

Kecuali mendengar yang sama dan melihat yang sama

 

Tiba-tiba saja sesuatu rasa menggigit tulang

Tiba-tiba saja air menggenang dari kelopak mata

Tiba-tiba saja terasa sulit untuk bernapas

Tiba-tiba saja suara menjadi bergetar

 

Dan kemudian rasa itu terus mengalir

Mengisi relung-relung waktu

Dalam lubang-lubang kejora senja

Yang pudar dalam wajah gulita

 

Dan kemudian tersentak-sentak

Badan yang tertiup angin Cemara

Lunglai melayu sendu

Terisak dalam dekapan Rindu

Terpaku

Biru

Ungu

 

Sekali lagi kau tak akan mengerti

Ataupun bila bulan menarik wajahku

Dan aku tengadahkan mukaku

Ku lihat wajah mu beku

engkau mencoba mengelak dalam ragu

Melupakan arti tangisan sunyi

Tangisan rumput dan bunga-bunga bersemi

Yang selalu takzim sujud memuji..

Aku rindu

Aku rindu

Aku rindukan kamu.

 

*****

“Ambil semuanya (keluar dari kamar tidur sambil melemparkan beberapa lembar kertas dan dua buah foto serta dua buah jaket cantik), aku tak membutuhkannya lagi, pergilah, aku muak melihat kakak”. Kata Irma.

”Irma (sambil berdiri), dengarkan aku, dengarkan dulu penjelasanku”.

”Aku tak butuh penjelasan, sudah jelas kakak menghianati cinta aku, semua teman-teman sudah tahu semuanya”.

”Baik kalau begitu maumu, jangan salahkan aku jika kamu menyesal”.

”Aku tak akan menyesal, masih banyak laki-laki lain yang mau sama aku”.

”Daaaar..” (Irma menutup pintu kamarnya dan menguncinya dari dalam).

”OK… Jangan menyesal Irma, jangan menyesal”. Akupun segera keluar dan menghidupkan motor pinjamanku pergi, tanpa menoleh kebelakang lagi langsung saja aku pulang ke kost dan masuk kamarku kemudian mencari-cari surat-surat Irma, beberapa foto dan kemudian dengan kemarahan yang meledak ledak akupun membakar semuanya.

”Cewek egois, sok cantik,  kamu tak akan mendapatkan aku”. Umpatku sambil membakar semuanya.

”Iwan ! Iwan !” Panggilku pada teman kostku. Tolong belikan CTM 2.

 

****

Besoknya di Kampus aku sempat ditertawain sama teman-teman. ”Diputusin ni ye ….”. Ejek mereka. Awas si Irma itu, dia benar-benar kurang ajar, berani-beraninya dia cerita-cerita ma teman-teman, emangnya cuman dia aja cewek apa…

”Hei Samsul”! Mizan menyapaku.

”Aku denger kamu diputusin ya ma Irma”.

”Gak juga, kita sama-sama putus sih”. Emangnya dia cerita apa     saja ?

”Aku sih kurang jelas, karena aku juga dapat   cerita ma Ian, tapi maaf nih Sul, bukannya aku mau mencampuri urusan pribadi kamu, tapi sebagai teman yang baik, aku bisa kok kamu percaya”.

”Ya.. sini deh kita duduk di bawah ki hujan biar lebih nyaman”. Kataku sambil menggandengnya.

”Aku sih sebenarnya menyayangkan kok kalian itu  bisa putus, padahal kan udah lumayan lama pacarannya, Sayangkan ?

”ya juga sih, tapi aku udah gak tahan ma dia sebab dia terlalu egois”.

”Egois gimana ?”

”Pertama dia mau menang sendiri, kedua dia gak mau diperintah ma aku,  ketiga   dia gak   berani berkorban untuk aku.”

”Bisa diperjelas sedikit?”

”OK, kenapa aku bilang dia mau menang sendiri, dia itu gak pernah mau menghargai pendapat pendapat aku, terus kalau aku perintah untuk hal hal yang sepele aja  dia gak mau, misalnya hanya untuk sekedar masak nasi di kost kalau kebetulan dia datang, itupun aku yang akan bantu tapi ia tetap gak mau dengan alasan nanti kalau udah jadi isteri aja baru dia mau, trus aku sudah kasi dia semua yang dia minta tapi ia gak pernah berani berikan apapun juga ke aku”.

”O jadi gitu, sekarang aku bisa mengerti kenapa kalian putus, aku gak mau berkomentar, tapi yang jelas apapun yang terjadi pasti itulah yang terbaik untuk kalian”.

”Ngomong ngomong kamu udah punya calon pengganti buat Irma?”

”Emang ada sih, tapi masih belum jelas amat. Baru dalam tahap penjajakan.”

”Siapa namanya?”

”Nia, kamu pasti kenal kok kalau udah lihat wajahnya”.

”Ya sudah, aku mau ke kantin dulu, aku mau sarapan”.

 

****

Rasanya begitu lama malam anggoro kasih itu datang, aku menunggu dengan perasaan beerdebar-debar. Sms pun semakin gencar tak henti-henti. Saling puji dan saling sanjung membuat aku terbawa dalam perasaan cinta yang semakin membakar.

Begitu juga dengan Nia, aku merasa bahwa dia juga begitu bersemangat dengan suasana yang sengaja atau tidak sengaja sebenarnya kami dramatisir untuk menjadi berbau  lebih  romantis  dan lebih mesra.

Aku pernah selama beberapa hari hanya melulu tok ingat ma dia, bayangkan, aku gak bisa tidur, gak tenang kerja, gak tenang kuliah, yang ada di mata Cuma dia seorang, sampai sampai aku replek panggil teman dengan nama dia. Dan yang lebih menjengkelkan lagi suatu hari aku pernah dipanggil sampai lima kali tapi aku tetap gak dengar dengar sebab aku terlelap dalam lamunan menghayalkannya. Emang gila yang namanya cinta. Sehari serasa setahun, aku ngerasa sangat tersiksa, makan gak enak, dan aku menjadi lebih sensitif, aku jadi mudah marah hanya karena hal-hal yang sepele, dan yang paling menjengkelkan masa aku nangis setiap subuh saking kangennya ma dia , malu gak siiiiih. Tapi ya, memang itulah yang namanya cinta. Bisa ngebuat seseorang berubah seratus delapan puluh derajat. Dan emang wajar bukaaaan ? Manusia juga lelaki, eh salah…. lelaki juga manusia. Ada saatnya ketika ia harus menjadi seorang pelindung, ada saatnya ketika ia harus menjadi seorang pengayom, ada saatnya ketika ia juga bisa menjadi sosok pahlawan agung, dan ada juga saatnya ketika ia harus menjadi raja yang harus tunduk pada dekapan ratunya, merengek-rengek, dan menangis-nangis ketika datang rasa rindu itu, eh… jadi bela diri nih.. Jadi gak enak….Tapi maklumlah, karena saat cerpen ini aku tulis pikiranku juga masih terbelenggu ma wajah si brengsek Nia, pikiranku terus terpokus pada pigurnya, nah, nah, bayangannya terus datang, lihatlah, waduh…. dia melambai kepadaku, nah, nah,  dengarlah, dia juga memanggilku, ya Tuhaaaan, dia juga menarik tanganku. Adakah kau merasakannya? Aku terlena, lupa akan segala kata yang mesti aku tata, lupa akan segala bait yang mesti aku rakit.

Aaaaaaaaaaaaahhhhhhh. Kenapa aku mesti begini, kemanakah sejuta kata yang telah aku persiapkan tadi, mengapa sepasang mata itu mengikuti terus gerakan tanganku yang menulis pelan pada kertas-kertas lusuh ini. Dan mengapa aku jadi,……..ahhhhhh.

Lupakan kawan, aku hanya terlalu terbawa perasaanku. Aku terlalu mengingatnya. Mengingat mimpi-mimpi yang telah berlalu itu. Dan aku telah salah…… Aku telah salah…..

 

*****

 

”Sayang ? Jadi gak besok malam itu ?”  Aku bertanya pada Nia lewat SMS.

”Ya, aku tunggu abang sayang, aku merindukanmu, nanti kakak akan terkejut kalau ngelihat aku, sekarang aku kurus, bener kok kak”.

”Adik sakit ya?”

”Oh Kakak ganteng, aku sakit, aku sakit gak bisa melupakan kakak, aku gak bisa makan hanya mikirin kakak, aku gak bisa kuliah terus mikirin kakak, aku gak bisa baca, terus mikirin kakak, aku rasanya gak kuat lagi, kakak, datanglah sekarang juga, bawa aku pergi kemana saja, aku gak bisa jauh dari kakak, aku gak bisa”.

”Sabarlah sayang. Tunggulah aku besok malam, jika adik sudah yakin, jika adik sudah bulat niatnya, untuk apa berkata-kata lagi karena cinta bukan kata-kata. Cinta mengerti apa yang tak dikatakan.  Karena cinta memang bukan kata-kata. Tunggulah, kakak akan datang untuk adik, kakak akan datang untuk adik”.

****

”Sul, Irma titip pesan sama aku, dia mau ketemuan katanya entar malam, ia nyuruh kamu ke rumahnya, dan kamu harus datang katanya.” Kata Mizan padaku pagi harinya. Kemudian malam itu aku dengan masih sedikit emosi pergi juga ke rumah Irma, langsung saja aku mengajak Irma bicara panjang lebar untuk menyelesaikan masalah kami.

”Maafkan aku, kemarin itu aku terlalu emosi”. Kata Irma padaku.

”Tidak ada yang perlu dimaafkan”.

”Apa kakak masih marah?”

”Untuk apa aku marah, tapi seperti yang kamu bilang kemarin, bahwa kamu sudah muak dengan aku, jadi sebenarnya tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, kalo kamu sudah muak dengan aku, itu artinya kamu sudah nggak suka ma aku, kalau kamu udah gak suka, itu artinya kamu juga gak cinta, kalo kamu udah gak cinta, ya artinya kita bubaran saja.. bukankah begitu juga kamu cerita ma teman-teman, kalau kita sudah putus?” Dan tiba-tiba saja Irma menunduk, air mata membanjiri wajahnya, dan bibirnya bergetar.

”Aku tak menyangka, secepat itu kakak melupakan janji-janji kita. Bilang saja kalau aku sudah tak cantik lagi”.

”Kamu tetap cantik, kamu masih seperti yang dulu, tapi kamu sudah terlanjur memutuskan hubungan kita secara sepihak. Aku ya Cuma terima saja.”

”Oke, kalo memang kakak bersikeras kita mengakhiri hubungan ini, aku terima, tapi tolong kamu kasi tahu aku kesalahan aku, jika sekarang sudah tak ada kesempatan lagi untuk memperbaikinya, mungkin kelak bisa menjadi pelajaran bagiku”.

”Baiklah, Aku akan hitung kesalahan kamu, biar kamu puas, aku juga puas dan tidak menyalahkan perpisahan ini, yang pertama, kamu tidak taat kepada aku, contohnya aku suruh kamu potong rambut kamu gak mau, yang kedua, kamu bohong tentang wanita yang mendatangimu di kampus dan bilang bahwa wanita itu mengaku pacar aku. ”

”Aku gak bohong!”

”Beranikah kamu Bersumpah bahwa  ibumu akan mati jika kamu bohong?” Nia terdiam dan menunduk.

”Yang ketiga, kalo aku menghitung dari dulu sejak pertama kita berpacaran kira-kira ada delapan kali kamu ngajak aku putus, dan saat itu aku selalu mengalah demi mendapatkan cintamu, tapi sekarang aku sudah tak tahan lagi, kesabaran ada batasnya. Dan aku juga punya harga diri, aku sudah lelah merayu kamu, aku sudah bosan mengemis cintamu.”

”Kak, maafkan aku, berilah aku kesempatan sekali lagi, aku berjanji tak akan mengulanginya”.

”Yang ke empat aku sudah terlalu banyak berkorban untuk cinta kita ini, aku telah mengorbankan waktuku, aku telah mengorbankan pikiran dan perasaanku, tapi sekali-kali kamu tak pernah menghargai perjuangan cintaku, aku sudah terlalu lelah dengan semua ini. Kamu terlalu egois, sekarang berpacaranlah dengan ke egoisanmu itu. Dan seperti yang kamu bilang, kamu sudah muak dengan aku.  Ya… apa boleh buat, perpisahan memang jalan terbaik bagi kita. Ambillah jalanmu sendiri”.

”Baiklah, jika kakak memang sudah bertekad bulat tentang perpisahan ini, dan tak ada jalan kembali lagi bagi aku, aku hanya minta maaf atas semua kesalahanku selama ini”.

”Aku juga minta maaf, mungkin selama ini aku terlalu sok memerintah kamu”. Irma terdiam seribu bahasa, ia mengusap air mata yang mengalir di wajahnya. Terlihat nada penyesalan di wajah itu, tapi aku sudah bertekad bulat untuk mengakhiri saja semuanya. Dan Irma memang sudah terlambat. Karena memang begitulah jiwaku, aku selalu berlemah lembut pada siapapun, untuk awalnya aku selalu mengalah, terus mengalah, dan terus mengalah, tapi jika kesabaranku sudah habis dan aku terlanjur kecewa, maka aku tak akan pernah bisa baik kembali, seperti kaca retak yang tak akan pernah bisa disatukan kembali, sama saja mengharap pasir menjadi beras. Dan itulah satu-satunya watak warisan dari kakekku, yang kemudian turun juga ke semua anak cucunya, termasuk aku.

”Pulanglah”. Kata Irma padaku..Kemudian aku meninggalkan rumah itu, rumah yang begitu sering aku kunjungi, dan aku tahu bahwa aku tak pernah menjejakkan kembali kakiku di rumah itu, tapi aku tak pernah menyesalinya, ya, aku memang tak pernah menyesalinya.

 

 

****

”Nia !  Nia ! Bukain pintu dong !” Kata seseorang dari luar pintu sambil mengetuk-ngetuk pintu.

“Ya.. Sabar dooooong”.  Kata Nia.

“Aduh… temenku ini, habis sakit ya… matanya cekung, pipinya kempes, kok gak ngasi aku kabar sih kalau Nianya udah sakiiit.”.

“Salah tao’ yang bener aku lagi jatuh cinta nih, bayangin, ada cowok super keren, matanya tajaaam banget, dan tatapannya bikin aku damai, kehadirannya di dekatku membuat aku merasa terlindungi, pokoknya cowok itu begitu heboh, dan ini nih akibatnya, aku jadi kurus, kasi resep donk agar aku gak terlalu tenggelam dalam kerinduan tak berujung ini.”

“Aduh aduh…. Kayak apa sih cowok itu, dia temen kampus ato dari mana sih ?”

“Dia temen kampus,  teman setingkat sih”.

”OoooooOo, Nia.. boleh gak ikutan tau lebih banyak  tentang cowok tu, mugkin dengan mengetahuinya aku bisa memberikan sedikit pertimbangan-pertimbangan tentangnya, aku kan sudah banyak pengalaman, mungkin itu berguna bagi kamu..”

”Boleh!”

”Dia punya pacar gak?

”Ya, tapi demi bela-belain perkenalannya dengan aku, dua minggu yang lalu dia mutusin pacarnya itu”.

”Ah masa demi sebuah perkenalan dia rela melepaskan pacarnya, Nia, kamu itu kan belum jelas mau nerima dia apa nggak, masa dia udah berani mutusin pacarnya, hati-hati lo Nia, ini kayaknya ada yang gak bener, biasanya gini nih ciri-ciri playboy cap Digatal”.

”Kok cap Digatal sih”.

”Iya, sekarangkan pakai kabel udah gak  level, semua udah serba Digital, jadi ya cowok Cap Digatal gitchu.”

”Ah masa sih, kayaknya dia tulus mau sama aku”.

”Nia, aku ini udah pengalaman, udah berapa puluh lelaki yang sudah aku pacari, kesimpulanku dari semuanya, ternyata lelaki semuanya buaya”.

”Gak, tapi kayaknya kakakku yang satu ini beda. Dari pandangan matanya aku percaya dia tulus mau ma aku”.

”Nia…. pandangan mata bisa dibuat-buat, mau dibikin kayak tukang hipnotiskah matanya, mau dibikin kayak orang lugu kek, atau kayak mata orang yang tuluuuuuus banget,  aduh lucu banget deh kalau kamu masih percaya sama itu mata”.

”Aku gak tahu sih sebenarnya, tapi aku hanya mengikuti kata hatiku, aku terlalu mencintainya walau memang belum ada komitment di antara kami, dan aku menikmati saat-saat merindukannya, walaupun itu sebenarnya siksaan berat bagi aku, bayangkan Li’, aku gak bisa tidur, aku gak bisa makan, sehari serasa setahun, aku rasanya ingin saja mengantarkan diriku padanya, yang penting aku bisa di dekatnya”.

”Nia, rupanya kamu sudah terhipnotis ma mata tu cowok. Nia dengarlah aku, sesungguhnya cinta datang dari mata, bayangkan seandainya kamu gak pernah melihatnya, kamu pasti gak akan jatuh cinta pada dia, maka aku hanya menyarankan, sebelum kamu jadi tambah kurus, kamu masih punya kesempatan untuk menjauh dari dia, kamu usahakan gak melihat dia terlalu sering, maka lambat laun kamu  akan melupakan dia. Nia, hati itu rapuh, bisa bergerak ketika angin berhembus, aku gak yakin kamu sudah sejauh itu terperangkap dalam dendam cinta sama tu cowok, kamu pasti bisa melupakannya”.

”Li’, aku gak bisa, aku dah terlanjur cinta ma dia”.

”Kamu pasti bisa, bayangkan, matahari yang bersinar terang, seterang apapun sinarnya, kalau kita membelakanginya, maka kita gak akan silau olehnya, begitu juga cinta.”

”Li’, kamu sadar gak sih, apa untungnya bagi kamu untuk menyuruh aku menjauhi tu cowok”.

”Lho.. kok redaksinya lain sih, aku gak bermaksud apa-apa, aku hanya memberi peringatan, karena  aku gak mau temen dekatku jadi korban lelaki mulut buaya, tapi kalau kamu mencintai dia, juga gak salah, aku justru senang lihat temanku bahagia, semoga dia memang lelaki terbaik”.

”Gitu donk, dari tadi ngeledekin orang yang paling aku sayang di dunia ini (suara Nia bergetar), aku mencintai dia walaupun dia belum ngucapin kata itu ma aku, aku bahagia mengenalnya, dan aku menikmati kepedihan karena merindukan dia, aku yakin, dia akan menjadi milikku”.

”Amiiiin, ya dah, semoga kalau kamu jadian, dia bisa jadi bapak dari anak-anakmu kelak….”

”Amiiiiiin”.

”Siapa namanya?” Tanya Lily pada Nia.

”Samsul, mantan pacar si  Irma”.

”Ooooooo, aku kira siapa, rupanya jadi kamu es em es in dia”.

”Jadi doonk..” Terlihat wajah Lily sedikit kecewa, tapi Nia tak pernah tahu akan arti dari semua itu. Juga akan arti kehadiran Lily dalam cerita ini. Dan sampai sekarang aku juga belum sempat untuk menceritakan apa peran si Lily dalam kehidupanku selanjutnya pada Nia, biarlah tangan-tangan rapuhku akan menggores lembar demi lembar cerita ini  untuk menjadi cerita yang utuh dalam kesatuan kalimat-kalimat merah dengan lengkungan-lengkungan gemulai dan lenggok yang indah dari  hurup-hurup jalan yang kutulis dengan rapi seperti semut berbaris di tali-tali jemuran.

 

****

”Assalamu’alaikum”!

”Wa ’alaikum Salam !”

”Duduk kak”.

”Ya”. (Mataku berkeliling melihat beberapa lukisan di dinding kamar itu, kamar kostnya memang lumayan gede, ditambah ada dapur plus toilet di kamar belakang).

”Duduk kak, maaf berantakan”.

”Gak… udah rapi kok….”

Begitulah sederet kata-kata pembuka jumpa kami di malam anggoro kasih itu. Semenit, dua menit, tiga menit dan gak kerasa 7 menit berlalu, tapi kami berdua tetap membisu.

”Kok adik diam aja”. Sapaku. Aku melihat matanya, tapi aku terkejut, yang aku lihat adalah tetesan air mata yang mulai mengalir deras di kedua pipinya, ia mulai menyeka air mata itu dengan jari-jari lentiknya. Ia mencoba tersenyum padaku, tapi air mata itu terus mengalir.

”Adik kenapa, kenapa adik nangis”. (Nia hanya menggelengkan kepalanya.)

”Ngomong dong biar jelas, apa masalahnya?”. Nia tetap membisu, kini ia tak bisa lagi mengangkat mukanya, air mata terus mengalir membasahi pipinya, dan tiba-tiba ia mendekat, kemudian tiba-tiba ia merangkul aku, dibenamkannya wajahnya di dadaku.

”Kakak, maafkan adik, kita memang belum sempat ngomong, tapi adik tahu, sejak pertama kali kita bertatapan mata, bukankah sudah ada perjanjian cinta di antara kita, adik yakin kalau adik gak bertepuk sebelah tangan, adik sayang kakak, adik gak bisa jauh dari kakak”. Tangisnya. Dia semakin erat merangkulku. Aku membiarkannya menenangkan perasaannya. Dan tak terasa hidungku juga mulai mampet, alias mau nangis juga. Dengan suara bergetar, aku menjawab perkataannya.

”Adikku sayang, kakak juga merindukan adik, mungkin kakak lebih lagi dari adik. Terima kasih atas kepercayaan adik itu. Sekarang semuanya sudah jelas. Seperti yang adik  bilang, telah ada perjanjian cinta di antara kita, kakak akan memegang kata itu. kakak mencintai adik”.

”Adik juga”.

Kemudian aku merenggangkan rangkulannya, Dan aku kecup keningnya dengan kecupan sayang. Kemudian kembali aku memeluknya, mataku terpejam, mencoba menikmati kedamaian bersama orang yang selama ini aku mimi-mimpikan.

Tiba-tiba seperti tersadar, dia melepaskan rangkulannya dan duduk disebelahku.

”Maaf kak, kakak jangan tersinggung, adik takut nanti ada orang lewat yang ngeliat kita. Nanti kita dikira ngapa-ngapain”

”Ya”.

Nia menghapus sisa-sisa air matanya.

”Adik yakin dan  siap menjadi kekasih kakak?”

”Ya, adik yakin”.

”Nia, kusir memegang kendali, nahkoda memegang kemudi, dan sepasang kekasih memegang janji. Apa janji adik sama kakak”.

”Adik berjanji akan selalu setia, mencintai, dan menyayangi kakak dengan sepenuh jiwa Adik, tapi adik juga minta, jangan pernah menyia-nyiakan cinta adik, jangan pernah menduakan adik, jika kakak kelak merasa bosan, maka katakan, jangan pergi tanpa berita”.

”Kakak berjanji, kakak juga akan selalu setia sama adik, dan akan menjaga adik semampu kakak, asalkan adik selalu percaya dan selalu yakin dengan kakak, kita akan perjuangkan hubungan ini, semoga sampai tujuan”.

”Amiiiin. Kak, mungkin kakak udah makan, tapi tadi adik sengaja masak banyak yang khusus untuk kakak, biar kakak juga tau bagaimana rasa makanan yang dimasak sama calon isterinya, benar kan kak calon Isteri ?”.

”Ya”. Kataku menganggukkan. Nia kemudian pergi ke dapur, mengambil makanan yang memang sudah disiapkan, ada tahu, tempe bacem, sayur bening dan kerupuk.

”Kakak kan katanya suka ma kerupuk, makanya tadi sengaja beli’in kakak kerupuk, Ayo kak, anggap saja kost sendiri, jangan sungkan.”

”Ya”.

Aku mengiyakan, kemudian dengan santai menikmati makan malam bersama.

Sesungguhnya ini adalah makan malam yang istimewa bagi aku. Karena perkenalan ini sesungguhnya tidak begitu aku mengerti. Karena tiba-tiba saja kami menjadi begitu akrab seolah seperti sepasang kekasih yang sudah bertahun saling kenal mengenal. Aku mencoba memahami jalan pikiran Nia kekasih baruku ini.

Ato mungkin saja jalan pikiran kami sama, sehingga pertemuan ini begitu cepat menjadi akrab. Dan aku berharap kelak hubungan ini akan sampai ke jenjang yang memang menjadi impian semua pasangan kekasih. Sehidup semati. Menjadi suami isteri.

 

*****

 

”Cyg, bgn dnk.. udh pagi..” Bunyi sms nia padaku pada pagi harinya.

”Ya.. kk udh bgn kok.. say.. entar kita ketemu di kampus ya..”

”Ya..Cyg.. dadaaaaahhhh”.

Pagi itu dengan tergesa-gesa aku berjalan menuju kampus.

”Hari ini pasti sangat istimewa, karena aku akan ajak Nia pergi Foto bareng”. Kataku dalam hati.

”Samsul !”

Seseorang memanggilku dari belakang.

”Eh Mizan, gimana kabarnya nih”.

”Justru aku yang nanya, katanya kamu udah jadian ya ma Nia?”

”Begitulah, dan hari ini aku berencana ngajak dia pergi foto bareng.”

”Wah, asyik banget donk, nanti kalau kamu peluk dia di tempat foto jangan lupa niatkan aku ya, soalnya pingin tahu gimana sih rasanya meluk cewek”.

”Dasar pikiran kotor, ya dah, nanti aku niatkan, Oke deh, sampai sini dulu ya, soalnya aku terburu-buru karena udah janjian ma Leo untuk diskusi tentang tugas kami….”.

”Ya… ya.. Eh, bilangin sama Leo kalau ketemu, aku mau pinjam wangnya tiga puluh ribu, gak ada ongkos pulang nih….”

”Ah ellooooo, pinternya jadi tukang sindir… Nih lima puluh ribu, salam sama bapak ibu di rumah”.

”Siiiiip, nanti aku bawain belinjo dua kilo, soalnya lagi musim belinjo di rumah..”.

Begitulah sederet percakapan aku sama Mizan pagi itu, Mizan adalah temen dekatku, biasanya kami selalu bersama-sama, kebetulan kost kami juga berjarak sekita seratus meter. Jadi kalo kebetulan kami ada jam kuliah bareng, pasti pergi dan pulangnya juga bareng, Mizan juga adalah teman senasip sepenanggungan, kami pernah selama satu bulan makan donat saking bokeknya gak ada duit. Ato kami pergi ke pantai ampenan dari ashar sampe jam dua malem, sekedar jalan-jalan ngukur jalan. Ato kami pergi ke perpustakaan daerah sehabis kuliah sampe perpusdanya nutup. Ato  aku ajak si mizan nemenin aku di internet sampai lima atau enam jam. Jadi begitulah, kami sudah begitu saling  kenal antara satu dengan yang  lainnya.

Dan sehabis aku diskusi’in tugas sama Leo, kemudian aku pergi menemui Nia di ruangannya.

”Nia !” Panggilku, beberapa teman nia menoleh, ada yang tersenyum ada juga yang mencibir-cibir bawang.

”Jam berapa pulangnya”?

”Masih sayang, entar jam sebelas habis mata kuliahnya. Tungguin ya ampe abis”.

”Ya daah.. Kalo gitu kakak mau kuliah juga nih, soalnya ada tugas yang mesti dikumpulin.”

”He eee”. Nia mengambil tanganku dan kemudian menggenggamnya mesra, tak berkedip matanya menatap mataku, aku melihat ada sejuta kerinduan yang tak terungkap di sana.

”Nanti aku tunggu di Puskom (Pusat Komputer) aja”.

Dan setelah itu akupun pergi ke ruanganku, tapi kini hatiku menjadi lebih lega, karena rasa rinduku telah sedikit terobati walaupun tadi malam kami juga telah bertemu. Dan pagi itu setelah selesai kuliah aku dengan setia menunggu Nia di Puskom sampai jam sebelas.

”Duh…. abangku yang ganteng.. udah lama nunggunya sayang”. Nia mengambil tanganku kemudian menggenggamnya erat, matanya tak berkedip memandang wajahku. Akupun memandangnya dengan tatapan rindu dan dendam cinta yang membara, seolah ingin menelannya bulat-bulat.

”Gak, barusan aja kok, aku kan habis kuliah juga, suntuk, dosennya membosankan”.

”Suntuk karena dosen atau apa?”

”Bener kok suntuknya karena dosen, tapi yang lebih benar lagi aku berdebar-debar nunggu adeeeeeekk”. Bersinar mata Nia mendengar kata itu, ada sedikit rona merah di wajahnya, Nia tersenyum manis, saaangat manis, dan kelak dikemudian hari senyum inilah yang membuat aku menderita, membuat aku menderita.

”Kakak mau ngajakin aku ke mana sih”?

”Aku mau ngajak Nia pergi foto bareng, agar kalau aku rindu sama Nia yang caem, aku bisa ngobatinya dengan melihat foto itu. Gimana, mau kan say…”

”Gimana ya, maaf deh say, aku lagi gak mood, mungkin nanti di laen waktu aja, gimana”. Mendengar penolakan Nia itu wajahku langsung memerah, dalam hatiku berkata bahwa seandainya Nia betul mencintai aku pasti dia akan menuruti segala keinginanku.

”Sayang, jangan marah gitu donk, pleaseeeee, aku sayang kakak, semua keinginan kakak pasti aku akan turuti, tapi untuk kali ini aku mohon soalnya aku lagi gak moood banget nih”. Nia menggenggam tanganku lebih erat.

”Ya dah gak papa, nanti aku ajak kucingku aja maen foto-fotoan”.

”Kaaakak cepatnya ngambek, please jangan marah donk, yaaaa”. Nia mengangkat tanganku dan mengecupnya mesra.

”Gak, aku gak marah, bener kok, ya udah, kalau gitu, aku langsung anter adek pulang, gimana”.

”Kaaaakaaak, aku tahu kakak marah kok, tuuh, wajahnya masem terus.”

”Gaaaak, beneran kok aku gak marah, ya dah sayang, yuk kita pulang”. Aku menggandeng tangan Nia sambil bercerita A I U sampai di kostnya, aku berusaha menyembunyikan rasa jengkel di hatiku dengan tetap tersenyum semanis-manisnya. Tapi dalam hatiku sebenarnya terasa amat sakit, maklumlah aku sebenarnya termasuk cowok tipe sanguinis, jadi perasaanku sangat halus dan emosiku bisa sangat cepat  berubah.

Begitu banyak kata terucap dari Nia pada siang itu, merayu aku dengan segala kelemah-lembutan, tapi seperti yang aku bilang tadi, seolah Nia hanya membangun rumah di atas pondasi berlumpur, maka sia-sialah perjuangan Nia merayu aku pada siang hari itu karena bagaimanapaun juga hatiku telah terlanjur mengkal, pedih seperti disiram cuka.

Setelah sampai di kostku kuputuskan saja untuk tidur, kepalaku serasa sakit, dan begitu cepatnya aku tertidur sehingga aku tak sempat untuk menyalakan kipas angin di suhu yang begitu panas pada siang hari itu. Memang kebiasaanku kalau aku merasa gak mood maka aku biasanya tidur berhari-hari, bangun hanya makan dan solat, dan setelah perasaanku baik barulah aku beraktivitas lagi.

Jam empat sorenya aku terbangun, dan ketika aku melihat handphoneku ada beberapa misscall yang terdaftar di sana, Nia misscall sampe sembilan kali. Dan ketika aku buka inbox Hpnya ada tiga pesan di sana.

”Kak, entar malam dateng yaaa ?” Sms Nia yang pertama.

”Kak, kok sms Nia nggak di bales sihhh….”. Sms Nia yang ke dua setelah setengah jamnya.

”Kak, please, kakak marah ya… Kakakku sayang, kan Nia udah Minta maaf…, Ya udah, kakak mungkin lagi tidur jadi gak baca sms yayangmu ini, Celamat bobo cayang… Entar malem datang ke kost ya.. Nia tunggu”. Bunyi sms Nia yang ke 3 kalinya 15 menit setelah itu.

Sebenarnya jujur saja dalam hatiku masih ada luka tersisa, namun aku gak boleh terlalu mempermasalahkan masalah yang sedikit, nanti itu bisa saja menjadi bumerang bagiku sendiri, yakni kehilangan Nia, dan aku gak ingin kehilangan gadis yang baru mulai aku cintai ini, bagaimanapun sakit di hatiku, aku harus memaafkannya. Atau Nia punya alasan lain yang lebih kuat sehingga menolak ajakan aku tadi pagi, atau juga karena satu hal lainnya lagi. Dan aku harus memaafkannya. Aku berjanji pada diriku untuk pergi mengunjunginya nanti malam.

 

****

Nia, bukain pintunya sayang, abang ada di luar nih…”

”ya sebentar kakakku”. Tidak berapa lama kemudian pintu kost itu terbuka seperempatnya, kemudian aku masuk dan duduk di sisi barat, sisi yang paling jauh dari pintu dan gak terlihat oleh mata-mata orang yang lewat, biar lebih aman…dan aku mengambil bantal yang terletak di kasur kemudian menaruhnya di punggungku, supaya duduknya jadi lebih empuk seraya aku selonjorkan ke dua kakiku.

”Kakak, senyum yang manis donk, masak masih marah sih…” Nia mengambil tempat duduk di sebelahku kemudian menyandarkannya kepalanya di bahu kiriku.

”Maaf smsnya gak aku bales tadi siang, aku ketiduran ampe jam empat, habisnya capek banget.”

”Ya gak papa, aku sudah mengira kakak lagi tidur, makanya aku bilang di sms itu kalau mungkin kakak lagi tidur.”

Kemudian aku mengambil wajah Nia, dan menghadapkannya ke mukaku, Nia menurut saja dengan tatapan yang begitu menyerah, tapi aku kemudian berkata kepada Nia dengan suara lembut dan sedikit bergetar.

”Bener Nia cinta ma aku?”

”Ya”.

”Bener Nia juga sayang ma aku?”

”Ya”. Jawab Nia.

”Tapi kenapa Nia hanya sekedar foto bareng aja gak mau ma kakak, bagaimanapun wajah Nia saat kita difoto, itulah wajah Nia yang asli, kakak gak suka wajah yang dibalut-balut, seandainya jika hanya gak mood itu yang menjadi alasan Nia, tentu kakak gak bisa menerimanya.”

”Sayang, sebenarnya bukan gak mood itu yang menjadi alasan sebenarnya”.

”lalu apa sayang”.

”Sayang, kamu tahu gak sebuah foto, foto adalah sebuah media untuk mengenang sesuatu yang telah berlalu. Aku hanya tak ingin jika kakak melihat foto aku, kemudian kakak merasa bahwa aku hanya bagian dari sesuatu yang telah jauh, sesuatu yang hanya tinggal kenangan”.

Aku terpana mendengar jawaban Nia, jawaban yang sangat tepat.

”Apalagi?”

”Dan sebenarnya merindukan adalah lebih indah bagi sepasang kekasih, jadi seharusnya kita bisa menikmati penderitaan saat merindukan seseorang. Dan ketika  kita merindukan seseorang, walaupun sebena

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru