Kacui dan Cere Nanga

Kisah dua ekor burung bernama Kacui (burung pleci) dan dan Cere Nanga. Meski kedua jenis burung tersebut berwarna sama, yakni kuning. Tapi, pada hakekatnya berbeda spesies dan karakter. Kacui adalah pejantan yang rendah hati dan suka menolong. Berbeda dengan Cere Nanga yang meski cantik jelita, memesona setiap burung jantan yang melihatnya. Namun sayang, ia adalah sosok burung yang sangat angkuh. Suatu ketika, Cere Nanga mendapati Kacui yang terbang tertatih-tatih karena hujan lebat. Lalu, ia pun mengejeknya,
"Dasar burung payah! Berkicau sulit, terbang pun nggak becus. Makanya jangan sok nyama-nyamain spesies kami...!" "Pulang sajalah kau. Sebentar lagi akan terjadi badai. Berbahaya untuk burung gadis sepertimu," ujar Kacui memperingati.
"Jangan sok menasehati. Pikirkan saja cara agar kau sendiri bisa terbang lincah melawan badai nanti. Hahaha...!" balas Cere Nanga dengan nada tinggi nun angkuh.
"Terserah kau saja."
Tanah Keli semakin basah. Dentuman bening menghunjam sampai ke akar-akar tumbuhan liar di kaki Doro Karii. Badai telah terjadi. Semua burung berteduh di pepohon rindang. Kecuali Cere Nanga yang masih asyik terbang menantang badai, tuk memperlihatkan bahwa dirinya adalah sosok burung yang paling tangguh diantara bangsa burung. Lalu, tiba-tiba petir menyambar ranting pohon bidara. Ranting tersebut mengenai sayap kiri Cere Nanga hingga lebam.
"Awww...," pekik Cere Nanga kesakitan. Kacui melihat hal tersebut. Dengan keterbatasan daya terbang yang ia miliki. Ia berusaha menolong Cere Nanga yang sedang kesulitan.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Kacui santun. "Bukan urusanmu!" ucap Cere Nanga kemudian terbang meninggalkan Kacui begitu saja.
*** Sehari kemudian. Cere Nanga mendatangi kediaman Kacui. Cere Nanga datang dengan kicauan angkuhnya, "Keluar kau burung lemah. Aku menantangmu adu terbang!"
"Untuk apa? Sebaiknya sayapmu diobati dulu. Jangan paksakan untuk terbang yang tidak perlu," balas Kacui.
"Jangan sok peduli! Aku sudah bosan mendengar nasihatmu. Terima tantanganku atau akui kelemahanmu di hadapan seluruh bangsa burung!" seru Cere Nanga, masa bodoh dengan ucapan Kacui.
"Baiklah. Aku terima tantanganmu." Sekilas keduanya beradu kebolehan di udara. Kicauan burung lain menyemangati keduanya tuk meramaikan suasana. Meski Kacui kewalahan menyalip Cere Nanga. Namun, ia tak menyerah begitu saja.
Dengan sekuat tenaga ia terbang menyamai Cere Nanga, untuk mengangkat derajatnya yang selama ini tertindas.
"Ayo salip kalau mampu. Jangan payah melulu!" teriak Cere Nanga sombong.
TEKKK... TEKKK... TEKKK... Bertubi-tubi suara senapan mengudara mengikuti arah terbang kedua burung yang tengah beradu itu.
Sedang burung-burung lain telah terbang berhamburan saat mendengar suara tembakan pertama. Suara senapan itu berasal dari pemburu liar yang memang sengaja mengincar burung-burung di sekitar Doro Karii. Akibat sayap kirinya yang masih terluka. Cere Nanga lengah hingga tak mampu lagi terbang. Begitu arah senapan difokuskan ke Cere Nanga oleh si pemburu liar. Dengan kekuatan terbang yang masih tersisa, Kacui cepat-cepat menyakar mata pemburu. Si pemburu refleks, teriak kesakitan hingga arah tembakan meleset.
"Ayo kita segera pergi dari sini! Kamu burung yang tangguh, kibaskan sayapmu yang kuat itu. Kamu pasti bisa!" seru Kacui menyemangati. Seperti mendapatkan kekuatan dari langit. Cere Nanga terbang meninggi merangkul Kacui.
"Terima kasih. Lagi-lagi kau menolongku dari ancaman maut. Seandainya kau tak melakukan itu. Mungkin kali ini aku sudah benar-benar...."
"Sssttt... tak usah berterima kasih. Wajar aku melakukan itu. Meski kita berbeda spesies, tapi tetaplah satu bangsa. Bangsa burung," urai Kacui menatap mata tajam Cere Nanga.
"Kau baik sekali. Maafkan atas sikap burukku selama ini."
"Aku sudah memaafkanmu."
"Maukah kau melamar dan menikahiku?"
"Apaaa?!" tanya Kacui kaget, tak percaya.
"Aku serius!"
"Jika benar begitu. Apa kau bisa terima syarat yang akan aku ajukan?" tanya Kacui.
"Tentu. Katakan apa syaratnya?"
"Kau harus menjadi Kacui sepertiku!"
"Caranya?" tanya Cere Nanga penasaran.
"Pejamkan matamu, dan menunduklah!" perintah Kacui.
*Tamat*
Sumber gambar: Burung-pleci.jpgmanuk.info (Syaidinil Aksa) - 01

 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru