Bule Jepang & Pengangguran

Seorang Turis dari negara Jepang berkunjung ke Nusa Tenggara Barat, pertama menginjakkan kaki di Bandara Internasional Lombok yang dikenal dengan BIL, si Bule Jepang tersebut sudah dikejutkan oleh pemandangan yang tidak biasa dilihat di Bandara-Bandara internasional yaitu pedagang Asongan dan Warung Nasi di dalam areal Bandara.

Tidak berhenti sampai disitu, si Bule Japang tersebut berjalan-jalan ke beberapa objek wisata yang ditemani oleh seorang Gaid yang sudah dipesannya ketika memutuskan berlibur ke Nusa Tenggara Barat.

Kali ini Gaid membawa tamu Jepang tersebut ke wisata Pantai Senggigi, dalam perjalanan si Bule Jepang merasa ada yang aneh dengan apa yang di lihatnya di jalan-jalan menuju senggigi dan rasa penasaran itu memuncak ketika diprapatan Ampenan yang sangat ramai dan macet itu masih terlihat.

Akhirnya si Bule Jepang meminta untuk turun sembari berjalan kaki melintasi perapatan dan meninggalkan supir yang sedang berjibaku dengan kemacetan, setelah mendapati apa yang dilihatnya aneh bin ajaib itu maka si Bule pun bertannya melalui Gaidenya tersebut kepada salah seorang lelaki muda yang sedang duduk di depan gang.

Ternyata keanehan yang dilihatnya tersebut memang belum pernah dilihatnya di daerah lain karena pertama kali menginjakkan kaki di Indonesia yaitu di Lombok, keanehan yang dimaksud Bule Jepang tersebut adalah, pemuda-pemuda yang seharusnya sibuk bekerja di perusahaan, dipabrik di tempat-tempat bekerja lainnya malah duduk santai dimulut-mulut gang.

Percakapan antara bule dengan pemuda Ampenan tak terelakkan lagi,

Bule; selamat pagi

Pemuda; “pagi”

Bule; “Apa kabar”

Pemuda; “Kabar baik”

Bule; “mau bekerja ke mana”

Pemuda; “saya tidak bekerja”

Bule; sudah sarapan

Pemuda; “sudah”

bule jepang pun makin heran, dan melanjutkan pertanyaan melalui gaid.

Bule; “sudah beristeri dan punya anak”

Pemuda; “ya sudah”, singkat

Bule; “ oooo hebat” lanjutnya

Bule; “anak bersekolah”

Pemuda; “Ya sudah sekolah di Sekolah dasar”

Bule: “Terimakasih banyak dan sampai jumpa lagi”

Pemuda; “sama-sama” sambil melanjutkan aktivitas duduk di gang sambil minum kopi.

Keheranan bule dibungkusnya, perjalanan dilanjutkan ditengah perjalanan sambil termenng dan bergumam dalam hati, “ koq bisa ya, dari mana pemuda tadi dapat uang untuk menghidupi keluarganya dan menyekolahkan anak, lurar biasa kehidupan di sini(Lombok) tidak bekerja tapi dapat makan dan menyekolahkan anak, jauh berbeda dengan di Jepang.

Orang Jepang ketika masih muda dan energik masa itu dipergunakan untuk mencari uang sebanyak-banyaknya di kenal dengan Masa Produktif, berbeda dengan di Lombok, masa muda itu masa untuk santai dan berfoya-foya, hingga menjelang menikah untuk membayar maskawin saja orang tua yang membayar.

Semoga survei yang dilakukan orang jepang tersebut dapat menjadi introspeksi diri bahwa masa muda adalah masa untuk bekerja-bekerja dan bekerja, tentunya setelah lulus dari sekolah. [] - 01

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru