Kertas Putih

Lama waktu berlalu meninggalkan sejuta kenangan pilu hari-hari yang seakan terbuang percuma. Dan kini kecemasan rasa sedih selalu menghampiri di sepanjang memory yang bisa teringat. Kenapa semua bisa terjadi seperti itu? Sungguh tiada yang menyangka,bahwa orang sebaik Renal akan mempunyai nasib seperti demikian. Sebuah hal yang menakjubkan jika di muat di kabar berita harian ataupun mingguan. Atau mungkin Renal sengaja ingin membuat sensasi baru seperti ini, untuk membuat masyarakat geger dengan apa yang ia lakukan.

Seminggu sebelum kejadian Renal bersama Moldi pergi bersama untuk jalan-jalan ke pantai, meikmati sore hari yang cerah dan juga angin lautan yag menyegarkan.Renal masih seperti biasa, tidak ada yang berubah, dia masih santun,polos,dan penuh dengan kasih. Namun pada malam kejadian, Sabtu pukul 20:00 wita, iblis mana yang merasuki dirinya hingga ia berani senekad itu membunuh teman perempuannya. Lili terkapar tak bernyawa dengan 7 tikaman di bagian perut dan dada di rumahnya. Dan pada malam itu dengan jelas ibu dan bapak lili melihat dengan mata telanjang anaknya di tikam oleh Renal.

Renal berlalu pergi melarikan diri,luput dari sergapan bapak lili dan kejaran masyarakat. Setiap masayarakat menjadi panik dan kalang kabut melihat kejadian itu. Malam yang mencekam penghuni kampung dengan kejadian berdarah di rumah lili. Renal di cari-cari di sudut kampung,dan ibu-ibu berjaga di rumahnya masing-masing megawasi siapa tau renal bersembunyi di rumah mereka.

Dalam susasana berkabung, renal menjadi bahan pembicaraan yang menarik bagi setiap orang di kampung.Di tengah acara pemakaman jenazah Lili, Renal sudah di laporkan ke polisi. Keluarga besar renal sangat terpukul berat hatinya dan merasa nama baik mereka telah tercoreng oleh arang yang di lempar ke wajah mereka oleh Renal. Mereka hanya bisa menyampaikan maaf dan membantu biaya pemakaan dan juga meminta supaya pihak kepolisian menangani permasalahan ini.

Setelah acara pemakaman selesai, Pak Amat, ayah Lili bertanya dan mengintrogasi Moldy.

“Moldy coba katakan  kepada bapak sebenarnya apa yang terjadi ? Bukankah kamu teman dekatnya Renal ?”

“ iya pak, saya sudah lama berteman dengan Renal, dan saya tidak habis pikir  kenapa Renal sampai berbuat seperti itu”. Jawab Moldy sambil tertunduk lesu dengan suara yang lemah.

“ Bapak juga sebenarnya tak habis pikir kenapa Renal seperti itu, Hati bapak sakit nak, anak saya setega itu di bunuh oleh orang. Tapi begini Moldy apa kamu tau penyebabnya ?”. Tanya pak Amat lagi kepada Moldy dengan semakin penasaran.

“Sejauh yang saya lihat pak, mereka berpacaran jarang sekali bertengkar. Bahkan beberapa saat sebelum kejadianpun mereka berdua masih sms-an dan Telponan tanpa masalah. Nah setelah pulang dari pantai itu saya kurang tau apa yang sebenarnya terjadi sehingga Renal Memubunuh Lili”. Moldy berusaha menerangkan dengan baik kepada Pak Amat.

“Ya,ya, Kalau begitu, nanti kita lihat bagaimana penyelidikan dari pihak kepolisian”. Jawab pak Amat seraya berdoa dalam hati semoga permasalahan ini cepat di proses dan di selesaikan.

Renal sudah menjadi buronan Polisi. Pihak kepolisian telah mengerahkan pasukannya untuk mengidentifikasi tempat kejadian,memeriksa barang bukti dan menyerap informasi dari para saksi. Renal telah menjadi Tersangka. Pencarian gencar di lakukan kemana-kemana. Termasuk ke rumah-rumah keluarga dan teman-teman Renal.

Renal masih di persembunyian. Entah dimana ia bersembunyi atau apakah ia juga bunuh diri, Masyarakat kampung masih penasaran tentang dimana keberadaan Renal. Banyak muncul kabar-kabar burung di Masyarakat yang mengatakan Renal membunuh lili karena Renal sedang tak sadarkan diri atau kesurupan. Ada juga yang mengatakan bahwa Renal membunuh lili karena lili telah hamil dan tak mau menggugurkan kandungannya. Namun itu semua hanya kabar burung yang tentu saja kemungkinan salahnya lebih besar dari pada kebenaran kejadiannya yang ada. Dan tentu Renal-lah yang lebih tau seperti apa kejadian sebenarnya.
Seminggu telah berlalu, belum ada kepastian dimana renal berada. Jejak yang sangat sedikit dan pihak kepolisian masih terus mencari ke luar daerah. Dari pihak keluarga Lili, Pak amat melihat kondisi yang semakin sulit dan masih tidak jelas membuat iya mencari bantuan ke dukun. Pak amat mendatangi dukun yang terkenal sakti di kampung sebelah. Kata orang dukun ini dapat melihat jejak keberadaan manuisa dan juga bisa lebih dari itu. Melihat apa yang di lakukan Pak Amat, beberapa masyarakat ada yang mengecam. Mereka mengatakan bahwa dengan pak Amat ke Dukun berarti dia telah berbuat syirik yaitu menyekutukan Tuhan dan jelas bertentangan dengan hukum agama. Seharusnya pak Amat harus bersabar dan bertawakkal, menyerahkan segala sesuatu kepada Tuhan dan memohon kepada Tuhan agar permasalahannya cepat di selesaikan. Namun pak Amat tdiak menghiraukan, baginya ini adalah salah satu bentuk ihktiar dan syarat kepada Tuhan yang harus di lalui agar supaya permasalahan ini cepat di selesaikan.

Pak Amat tanpa mengindahkan apa yang masyarakat katakan akhirnya datang ke rumah Pun Udin yang terkenal sebgai Dukun sakti. Tak lupa Pak Amat membawa syarat-syarat  yang di biasa butuhkan oleh pun yaitu satu ekor Ayam jantan berwarna putih dan dua buah kelapa.

“Ada hajat apa sebenarnya bapak hendak kemari” Tanya Pun Udin kepada Pak Amat.

“ Begini pak, mungkin bapak sudah tau bagaiman kejadian seorang pemuda membunuh pacarnnya itu beberapa minggu lalu di kampung Emas Mulia” Tanya balik Pak Amat.

“ Oh yang itu, ya pak saya sempat dengar , lantas bagimana ?”

“ Kebetulan korbannya itu adalah anak saya”

“o itu anaknya bapak ya, sekarang bagaimana kelanjutannya, apakah sudah di hukum pelakunya?” Pun Udin sontak terkaget dan ingin tahu bagaimana peneylsaiannya.

“Nah sampai sekarang pelauknya belum di temukan pak. Masih di buru oleh pihak kepolisian namun sampai sekarang belum ada kepastian, Oleh karena itu saya ingin meminta bantuan bapak untuk mengetahui dimana keberadaan pelakunya” Jawab pak Amat seraya meminta bantuan kepada Pun Udin.

“Baiklah kalo begitu, saya akan mencoba. Namun bapak harus ingat bahwasanya ini semua dapat terjadi karena bantuan Tuhan, Saya hanya berusaha untuk membantu saja.”

Akhirnya Pun Udin melakukan ritual dan membaca beberapa kalimat yang keluar dari bibirnaya sembari tangannya menaburkan bunga-bunga di baskom yang berisi air. Pak Amat hanya diam terpana dan bingung melihat apa sebenarnya yang di lakukan oleh Pun Udin. Dan setelah itu maka air yang di baskom itu berubah menjadi sebuah gambar visual. Terkejutlah Pak Amat melihat apa yang di depan matanya. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi karena inilah kali pertamnya dia melihat kejadian semacam ini. Jelas tampak di baskom itu wajah Renal yang sedang duduk taffakur di masjid bersama para jamaah tabligh. Dan terlihat di sana masjid itu berada di tengah kota Mataram.

Pak Amat tidak menyangka bahwa selama ini Renal bersembunyi di dalam masjid dan menyamarkan penampilanya seperti seorang da’i  dalam komunitas jamaah tabligh. Dan tentu ia tidak akan kelaparan karena di masjid itu sendiri selalu menyediakan makanan untuk para jamaah. Dan dari anggota jamaah tabligh pun  tak satupun yang mengenal latar belakang Renal. Sehingga ia sampai detik ini bisa bertahan disana.

Pak amat setelah itu berpamitan kepada Pun Udin, namun pun udin memberikan saran terlebih dahulu kepada paka amat bahwa segala sesuatu yang terjadi tak lepas dari kehendak sang pencipta. Pak amat mencoba untuk meresapi apa yang di sampaikan Pun Udin walau sebak dan perih dari kejadian yang ia alami masih ia rasakan.

Keesokan harinya Pak Amat langsung melapor ke kantor Polisi. Seketika itu para polisi langsung bergegas untuk mengintai keberadaan Renal ke tempat yang di perkirakan. Akhirnya Renal langsung di dekap dan di tangkap di masjid itu. Para Jamaah merasa ke heranan kenapa salah satu anggotanya di tangkap namun tidak sampai kejadian itu membuat gaduh suasana karena penangkapan di lakukan dengan sopan dan beradab.

Keluarga Renal mengetahui penangkapan itu langsung bergegas ke kantor  polisi untuk menjnguk anaknya. Berlinanglah air mata ibunya dan memeluk anak kesayangannya.

“kenapa kamu sampai demikian anakku” isak tangis ibunya menyamrakan ucapan yang keluar.

“Maaf ibu,maafkan Renal bu,saya tidak tau sebenarnya semua kenapa bisa terjadi”

Jawab Renal tidak tega melihat ibunya menangis seperti itu.

Sebenarnya apa yang terjadi. Pak Amat merasa bingung renal tak merasa bersalah. Lantas jika demikian, siapakah dalang sebenarnya yang bertanggung jawab atas kejadian yang menimpa anaknya?

Penghuni kampong kini sedikit dapat tercerahkan namun tak sedikit juga dari mereka yang kasihan melihat betapa sedihnya juga keluarga Renal. Mereka banyak yang elum percaya orang sebaik Renal akan melakukan hal sekeji itu, Apalagi kepada pacarnya yang ia sayangi. Mungkin dia di jebak atau di fitnah atau entahlah. Banyak isu atau gossip yang berkembang di masyarakat.

Akhirnya sampailah di hari persidangan yang dan nanti-nanti. Pak amat beserta keluarga hadir. Begitu pula keluarga Renal beseta masyarakat banyak yang hadir bahkan sampai berdesak-desakan di ruang persidangan. Pak amat hadir menjadi saksi begitu pula moldi dan perwakilan masyarakat yang mengejar Renal pada malam itu.

Sudah jelas dan sanksi hukuman sudah di depan mata untuk Renal. Tiba giliran Renal yang berbicara dan member keterangan atas pertanyaan Pak Hakim. Namun sebelum itu dengan di sumpah terlebih dahulu sebagaimana saksi lain.

“ Jujur pak hakim, demi Allah saya sangat menncintai lili dan sedikit pun saya tidak pernah berpikir untuk membunuhnya, Bagaimana mungkin seorang yang saying kepada seseorang membunuh orang yang di sayanginya itu. Saya sangat terpukul ketika mengtahui lili sudah tiada dan terlebih lagi yang membunhnya itu adalah saya, saya tidak menyangka. Pada malam itu saya benar menikam, namun orang yang saya tikam itu bukanlah lili, saya melihat sesosok hantu yang akan menyerang saya,dan oleh karena itu saya menikamnya.” Terang Renal dengan polos dan meyakinkan.

Para penghuni sidang terkejut, namun pak Hakim sedikit tertawa atas keterangan yang di sampaikan. Karena tanpa ada alas an yang cukup kuat dan juga bukti dan saksi sudah cukup jelas akhirnya Renal jatuhi hukuman selama 15 tahun penjara.

Betapa sedihnya keluarga Renal melihat anaknya yang akan di penjara. Pak amat melihat dan mendengar penjelasan dari Renal itupun terpikir,apa benar Renal telah di tutupi matanya oeh kekuatan ghaib shingga yang dia lihat hantu bukan lili. Masyaakat juga menganggap apa yang di sampaikan Renal masuk akal, mungkin ada orang yang telah mengguna-guna Renal. Ada salah satu yang menyarankan kepada pak amat untuk menyusuri sebenarnya yang terjadi siapa dalang yang tega berbuat seperti itu.

Sesampai di rumah, Pak Amat terpikir untuk mennyakan masalah ini ke Pun Udun, dukun yang sakti itu. Akhirnya malam itu Pak Amat memutuskan untuk pergi ke rumah Pun Udin  dan tidak lupa membawakan ayam putih polos dan nyiur kelapa sebagai sayaratnya.

Sesampai disana Pak amat di sambut oleh Pun Udin dan menceritakan bagaimana masalah yang ia hadapi.

“Memang hal itu bisa di lakukan, menggunakan kekuatan ghaib untuk menyamarkan mata manusia” Pun Udin membenarkan.

“ Lantas begini Pun, Kira-kira siapa yang telah menyamarkan mata Renal ini sehingga dia bisa seperti”. Tanya pak Amat.

Sejenak Pun Udin berpikir dan berkata “ Jadi begini untuk mengetahuinya supaya tidak menjadi fitnah dan bisa kita saksikan bersama siapa sebenarnya yang telah melepas guna-guna ini kepada renal, Saya minta besok pagi semua keluarga dikumpulkan,ajak masyarakat dan juga pihak kepolisian untuk menyaksikan di rumah bapak”.

“o boleh pak, biar lebih baik dan menjadi pelajaran kita bersama”Jawab pak Amat.

“ baiklah, malam ini saya akan persiapkan kebutuhan untuk besok”.

Paka meminta pamit kepada pun udin untuk segera pulang memberitahu segenap keluarga,masyarakat,dan pihak kepolisian dan juga memperisapkan keperluan besok.

Masyarakat sudah banyak berkumpul,pihak keluarga renal tak lupa juga hadir disana. Pihak kepolisian datang untuk menyaksikan pembuktian sebenarnya. Masyarakat antusias tanpa rasa ragu meyakini siapa dalang pembunuhan yang sebenarnya melalui perantara Pun Udin.

[

“Bapak-bapak dan ibu-ibu yang saya sangat hormati, izinkanlah saya berusaha atau berisyikharah kepada Tuhan yang maha kuasa agar supaya kita semua di sini di bukakan tabir kebenaran atas masalah yang menimpa keluarga pak Amat”. Terang Pun Udin sebelum memulai sebagai pembuka.

Masyarakat pun mempersilahkan agar di lakukan ritual yang Pun Udin sendirilah yang sebenarnya memahami itu. Akhirnya pun Udin memulai. Di mintanya kepada Pak Amat  selembar kertas putih dan di taruh di atas wewangian yang ada. Pak amat mengambilkan selembar kertas putih polos yang di saskiskan oleh masyarakat sendiri. Setelah itu Pun Udin melipat kertas itu dan menaruhnya di atas wewangian. Pun Udin memulai ritualnya. Ia menutup mata. Tak seorangpun yang berani ribut berbicara. Semua dengan tertib menyaksikan apa yang di lakukan oleh Pun Udin. Pihak kepolisian pun hanya terdiam penasaran.

Pun Udin telah selesai. Dia  membuka matanya dan menyampaikan beberapa patah kata kepada masyarakat yang hadi.

“Alhamdulillah saudara-saudara sekalian, mari coba kita saksikan bersama. Semoga setelah ini kita dapat mengetahu titik terangnya.”. Ujar Pun Udin sembari ia mengambil lembaran kertas dan perlahan membukanya.

Terkejutlah segenap orang yang hadir di tempat itu. Termasuk pak polisi yang terdiam takjub melihat apa yang terjadi. Selembar kertas yang tadinya kosong polos, kini tiba-tiba berisi tulisan. Dan di tulisan itu termaktub keterangan mengenai siapa dalang atau actor di balik terbunuhnya Lili.

Pun Udin membacakan tulisan yang di kertas itu bahwa memang benar Renal pemuda yang baik itu telah di guna-guna. Kertas itu bertuliskan ; Nama Moldy ,melepas guna-guna penyamaran mata melalui minyak. Minyak berasal dari luar pulau. Di gunakan kepada korbannya pada hari sabtu pahing baqda ashar.

Masyarakat yang menyaksikan itu tak menyangka lagi pembunuhnya Moldy, begitu pula pak Amat, hanya terdiam seribu bahasa tak mengira sampai sejauh ini Moldy melakukan itu. Moldy memang sejak lama di ketahui menyukai Lili, Namun Lili Lebih memilih Renal.

Oleh karena itu mungkin Moldy tidak hadir di tempat itu untuk menyaksikan ritual yang di lakukan Pun Udin. Masyarakat segera mencari dan melihat Moldi, akhirnya moldy di ketemukan oleh warga di rumahnya. Dan langsung di seret kepihak kepolsian. Pihak kepolisian hanya menuruti apa kata masyarakat untuk membawa Moldy dan sesegera mungkin melepaskan Renal, walau logika dari pihak kepolisian masih tetap mereka ingin gunakan. Namun kekuatan dorongan dari masyarakat membuat polisi tak bisa berbuat apa-apa.

Pak Amat dan pihak keluarga Renal berterima kasih kepada Pun Udin atas perannya yang telah memberikan titik terang atas permasalahan yang terjadi. Namun Pun Udin selalu rendah hati dan berkata; “ Beterima kasihlah kepada Tuhan yang maha kuasa, karena atas petunjuknyalah semua bisa terang seperti sekarang ini”.

 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru